
Hari masih terlihat gelap, kerena masih menunjukkan pukul 4 pagi dini hari.
" Ehmm....? " membuka matanya.
[ Mimpi buruk lagi. ] Dania mengeluh karena bermimpi buruk lagi.
Lalu satu telapak tangan besar menutupi matanya agar tidak memaksa dirinya ( Dania ) untuk membuka mata.
" Jangan di paksa bangun, apa kamu butuh air? " Tanya Archduke.
" Ini jam berapa? "
" Dini hari, sudah 3 hari sejak kepulanganmu. " Jawab Archduke, tangannya masih menutupi sepasang matanya Dania agar memejamkan matanya.
" Tampaknya kamu sangat memaksakan diri, kamu langsung sakit setelah keluar dari kereta kuda. Aku belum pernah merawat orang sakit, yah..tapi dokter menyuruhku melakukan ini. " sabungnya lagi
CURR..... ( Memeras handuk yang tadi di letakkan di dahinya Dania. )
" Terima kasih. "
" Sudah jadi tanggung jawabku, padahal waktu itu aku hanya memanfaatkanmu, tapi masih bisa mengucapkan terima kasih, ya?."
Archduke, kembali menyeka tangannya Dania untuk menghilangkan keringat.
Tok...tok....tok....
Terdengar ketukan pintu kaca yang ada di balkon.
"..........? "
Archduke menoleh ke kebalakang, seekor burung dengan paruhnya lah ketukan kecil tadi.
Archduke membukakan pintunya, lalu memberikan jalan agar burung coklat tersebut masuk.
KEPAK...
Everst langsung masuk dan mendarat di atas ranjang.
" Apa yang kamu bawa itu?. " Tanya Archduke dengan tatapan menyelidik.
Di antara cakarnya, Averst mencengkram sebuah batu dan letakkannya di samping tangannya Dania, maksudnya batu besar itu diberikan untuk Dania.
" Semoga cepat sembuh. " tutur Everst kepada Dania sebelum akhirnya terbang pergi.
Mungkin ini baru pertama kalinya bagi Archduke mendengar burung itu bersuara layaknya manusia, meski sudah pernah bertemu.
Sambil mengangkat salah satu alisnya, Archduke bertanya kepada Dania.
" Apa dia satu-satunya sahabatmu yang mengucapkan kesembuhanmu? "
" Ah...bisa dibilang begitu. " jujur saja, kalau Everst pula yang saat itu menjaganya dan kali ini menjenguk dirinya karena sudah ada orang lain yang merawat dirinya.
" Tapi apa tadi bicara seperti itu?. "
" Ya, kamu pandai memilih hewan peliharaan, sampai bisa bicara juga. "
" Berarti tadi bukan halusinasiku?. Aku rasa aku baru pertama kali mendengar suaranya langsung. "
Dan suaranya terasa familiar baginya, siapa?.
_______________
Lalu 3 hari telah dilewati.
Saat itu keadaannya sudah membaik, dan setidaknya memiliki nafsu makan yang besar. Beberapa piring bisa dihabiskan anak ini, padahal baru saja sembuh..
" Tidak akan ada yang merebut makananmu. " ucap Archduke, memperhatikan anak asuhnya makan dengan lahap.
" Aku hanya ingin bertanya, kenapa aku jadi tanggung jawabmu sampai seperti ini?. " Merawatnya, memberikannya makan, lalu meberinya pakaian juga.
[ Sejak kapan dia bicara kasual denganku?. ]
Archduke pun memyunggingkan senyumannya,dan menjawab.
" Aku hanya tidak menyangka, anak kecil yang aku temukan di dalam hutan, ternyata manusia berusia 17 tahun. Aku cuma ingin mengerjakan suatu hal yang lain dan tidak membosankan. "
__ADS_1
" ............."
[ Apa-apaan dengan jawabannya itu.? ]
" Tapi....... " Sengaja menggantungkan kalimatnya.
"......tapi? "
" Apa kamu tidak pernah berpikir untuk mencari keluargamu? " lanjutnya lagi.
" Aku belum berkeluarga, kenapa harus mencarinya?. " jawab Dania dengan tatapan datar, sambil mengunya makanannya lagi dan menelannya.
" Pfft..., pandai melawak juga rupanya. " Archduke jadi terkekeh geli ketika mendapatkan jawaban yang sedikit masuk akal.
Tapi maksud dari pertanyaannya tadi sebenarnya bukanlah itu.
" Tapi kalau mau berkeluarga, bisa pertimbangkan aku juga?. "
PLUK.....
( Macaron yang dimakannya tak sengaja terjatuh. )
".............?! " Dania tercekat dengan penawaranyya itu, jadi secara refleks pandangannya memperhatikan Archduke dari atas sampai ba..wah-------...
" A...aku tidak berpikran untuk hal semacam itu.! " Langsung memasukkan macaron baru ke dalam mulutnya untuk sekali lahap.
[ Dia...dia terlalu besar. ] BLUSHH......
" Hahahaha.....ada sisi imutnya juga, tapi maksud pertanyaanku tadi adalah ayah atau ibumu. Itulah keluarga yang aku maksud. "
"............"
[ Jadi aku salah paham?. Sial, akujadi tejebak lawakannya juga. ]
" Tapi, jika aku mencari keluargaku, berarti aku akan menyiakan waktuku untuk hal yang belum pasti dimana keberadaannya. jadi menganggap diriku sebagai yatim piatu adalah solusi terbaikku. "
" Tapi bagaimana jika kamu tahu keberadaan mereka?. "
" Aku akan seperti orang yang memaksa masuk ke kehidupan mereka demi mencari keuntungan, cara berpikir manusia memang seperti itu. Jadi begini saja juga sudah bagus. Lagi pula perempuan itu adalah *******, jadi aku adalah anak haramnya, banyak keluarga yang tidak menerima anak haramnya masuk ke kehidupan mereka. Jadi aku akan tetap di anggap orang asing dan pastinya diperlakukan berebeda meski bisa masuk ke dalam keluarga nya. "
[ Perempun yang dimaksudnya itu adalah ibunya?, jadi seorang *******?. ]
" Seorang wanita ******* tetap saja *******, dan aku akan tetap menganggap bahwa diriku anak haram, cara rasionalku memang seperti itu. Toh aku bisa hidup sampai sekarang saja sudah bagus, bisa bebas walau hidup itu harus berjalan dengan keras. "
" Aku seperti mendengar, kamu membangganggakan dirimu sebagai yatim piatu. "
".............! "
[ Iya juga yah?, tapi aku kan dari awal memang yatim piatu, jadi sudah terbiasa hidup bebas seperti ini tanpa ada yang mengkekang apa yang ingin aku lakukan. ]
" Beberapa hari lagi ada festival, jadi kamu perlu keluar untuk refresing. " pujuk Archduke sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar yang di tinggali Dania.
[ Festival?, aku belum pernah sekalipun datang ke festival. ] fikirnya sambil meminum jus jeruk.
{ Sepertinya kamu sudah sembuh. }
Dania celingukan mendengar suaranya Everst yang datang lewat pikirannya.
Ketika menoleh ke arah pintu jedela, memang terbuka dari awal, tapi..
{ Sedang mencariku?. }
Suaranya berasal dari belakangnya, jadi Dania kembali memposisikan kepalanya menghadap ke depan. Everst baru saja naik ke sofa,..
[ Bukankah cakarnya bisa merusak sofanya? ] memperhatikan kaki dengan cakar kuat yang dimiliki Everst.
Merasa di perhatikan, Evers pindah posisi ke atas meja.
PRANKK..
" Ekormu memubazirkan makananku.! " tebelak melihat ekornya Everst yang panjang membuat dessert yang tertata rapi di mejanya malah jatuh.
Everst menoleh ke belakang dan menjawab dengan santainya.
{ Tenang. }
__ADS_1
Dengan kekuatannya, Everst dapat membuat makanan yang terjatuh di lantai itu terbang alias melayang di udara, dia menempatkannya lagi ke atas piring dan menggunakan sihirnya lagi agar lantai kotor kembali bersih.
{ Kamu agak kurusan nak. } tutur Everst sambil merentangkan sayapnya kedepan untuk mengangkat kedua tangannya Dania, Dania pun terbawa suasana karena tiba-tiba mengangkat kedua tangannya kesamping.
" Siapa yang anakmu, jangan memanggilku seperti itu. " Marah Dania di panggil nak oleh se ekor burung ini.
Setelah memperhatikan samping kanan kiri, atas sampai bawah, dimana Dania sedang menggunakan piyama berwarna putih, Sekarang mata tajamnya menatap ke depan tanpa berkedip pun.
" Apa yang sedang kamu lakukan?. "
Dania jadi memiliki firasat buruk akan hal ini.
{ Seperti awal kita bertemu. }
Seperti mumpung di posisi yang menguntungkan, Everst tidak akan melewatkan kesmpatannya, dimana ia...
Menarik sayapnya ke arahnya, dimana posisinya saat itu Dania sedang dalam jangkauan..
P
E
L
U
K
K
A
N
N
Y
A
"..........!, kamu..!. " wajahnya seketika menjadi merah padam ketika tetibe di peluk, dimana sekarang kepala burung ini berada di pelukannya sekarang ini, yang berarti menyentuh dadanya.
{ Aku sudah banyak membantumu. Berikanlah aku pelukan sebentar. }
" Aku merasa kamu seperti manusia, merajuk minta di peluk. "
JLEB....
Kalimatnya langsung menusuk ke dalam kepalanya.
{. ...........! }
[ Dia manusia yang cukup pintar juga, tapi bukan seperti itu juga. ] Fikir Everst.
Usek...usel....usel....
" Ge..geli ****.! " mendorong Everst selagi langsung mundur ke belakang.
{ Dadamu kecil juga. }
" A..apa?!. " terpegun mendengar ayat tak masuk akal dari burung mesum ini.
[ Bukannya bagus, dadaku jadi tidak membebani tubuhku. ] fikirnya di samping amarahnya sedang mulai naik.
{ Apa ukuranmu B cup. }
" What!. , burung sialan. "
{ Apa A cup?. }
Amarahnya jadi kian membara, bagaimana seekor burung tahu apa.
{ Tapi ukuranmu sudah cu- }
" Cukup apa.!!?. Dari mana semua kalimatmu itu berasal.! "
__ADS_1
Dan sekali lagi, di pagi itu mereka berdua bertengkar.
Pertengkaran yang sudah lama tidak mereka lakukan.