Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pengamatan


__ADS_3

Eldania, setelah tahu bahwa dirinya memanglah orang, sekaligus tersangka atas dirinya masuk sembarangan ke kamar orang lain tanpa Izin, dia langsung di sambut ucapan terima kasih banyak oleh ke dua orang tua Erich setelah menyelamatkan mereka bertiga sekaligus rumahnya dari tsunami.


Setelah itu, kebersamaan yang tidak begitu lama itu di isi oleh Margel dan Sonia yang menceritakan kisah sebenarnya kepada Erich.


Erich duduk di sofa, tepat di sebarang Erich duduk.


" Erich....ayah tidak pernah meninggalkan ibumu. Jika kau beranggapan ayah mencampakkan ibumu, itu salah besar. " Margel berusaha untuk menjelaskannya secara pelan-pelan pada Erich.


Tapi Erich hanya terdiam, dia menyimak penjelasan ayahnya.


" Waktu itu ibumu sakit-sakitan, jadi ayah membawanya ke Mostigal, disana ada pendeta agung yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Tapi sayangnya, untuk bertemu pendeta agung secara langsung, butuh waktu 1 bulan. Bukan karena apa-apa, tapi bukan hanya ibumu yang membutuhkan pengobatannya, kau hausnya paham. " ucap Margel panjang lebar.


Margel tahu, bahwa ceriita ini akan menjadi cerita panjang, demi menjelaskan apa yang terjadi dan meluruskan akan kesalahpahaman yang Erich buat sendiri.


Dari situ Eldania ikut mendengarkan kisah cerita di antara mereka bertiga.


Sebuah fakta baru, yang membuat Erich terlihat antara percaya dan tidak percaya.


Bahwa Sonia adalah reinkarnasi ibunya Erich yang asli setelah meninggal karena penyakitnya sekaligud karena di terjang tsunami yang melanda wilayah Mostigal setelah terdampak gempa besar.


Dan kebetulan juga, di tempat yang tidak jauh yaitu kampung halamannya ibu kandungnya Erich, Sonia mengasuh adiknya Erich yang masih berumur 4 bulan itu, dan kemalangan yang sama membuat mereka berdua ikut nahas karena tsunami itu sendiri.


Hanya saja keajaiban hanya terjadi untuknya saja, roh ibu kandungnya Erich memasuki tubuh Sonia yang sebenarnya, si Sonia sendiri sudah meninggal, tapi tubuhnya masih memungkinkan untuk di tolong, dan rohnya pun masuk ke dalam tubuhnya Sonia.


Tapi, yang lebih mengejutkan, saat sudah merasuki tubuhnya Sonia, Sonia meninggal dalam keadaan memeluk Richa. Yang notabennya bukanlah siapa-siapa, tapi merelakan nyawanya demi melindungi tubuh Richa, meski pada akhirnya Richa tidak selamat juga.


Itulah...alasan kenapa, Sonia yang sekarang ada di depan mata mereka, mempunyai trauma buruk tentang tsunami, juga karena di hari itulah Richa juga meninggal. Karena orang ini, sudah mengalami langsung situasi di terjang tsunami besar, dan membuat sahabatnya sekaligus anak ke duanya meninggal.


Dania jadi mengerti, kenapa Margel benar-benar tidak ingin meninggalkan Sonia. Karena di dalam tubuh Sonia adalah roh dari istri sahnya, dan sekarang Sonia juga sudah jadi istrinya juga, jadi beranggapan untuk berpisah dengannya.....


Margel akan sangat menentangnya, meski akhirnya hal itu jadi pertengkaran hebat dengan Erich.


[ Ahhh.....kenapa aku tiba-tiba bersimpati dengan ceritanya?. ] Dania menggeleng cepat, membuat 3 orang ini menatap Dania dengan bingung.


" Kamu pasti tidak percaya juga kan?. " tanya Sonia dengan tersenyum masam.


[..............! ]


" Tidak, aku percaya dengan semua ceritanya. Tapi aku harus pergi sekarang. " tutur Dania, sekaligus membuat alasan agar bisa pergi.


Sonia langsung sedikit berteriK.


" Oh....ya!. Betul juga, semalam tidak pulang pasti banyak orang yang khawatir padamu. Apa lagi seorang gadis tidak pulang semalam, jika itu mereka, pasti hanya berpikiran negatif tentangmu!. "


" Kalau sudah mengerti, sudahi pembicaraan ini. " celetuk Erich dengan ucapannya Sonia. Erich berdiri dan di ikuti oleh gadis di sampingnya.


" Kapan-kapan datanglah ke sini lagi, pasti kamu sangat penasaran dengan apa yang ada di sini kan?. " ucap Sonia, memberikan tawaran dengan cuma-cuma.


" Ya. "


" Dia tidak mau imbalan?. " bisik Margel melihat kepergian ke dua pemuda itu.


" Tidak, sebagai ganti imbalan yang harusnya dia terima, dia lebih memilih untuk belajar semua teknologi yang ada di sini. " jawab Sonia pada Margel dengan berbisik juga.


" Tapi kita tetap membuatkan hadiah untuknya kan?. "


Sonia tersenyum, dia pastinya tahu bahwa ucapan terima kasih saja tidak akan cukup.


" Tentu saja. Dialah yang menyelamatkan rumah dan sebagaian besar wilayah selatan ini. Dia adalah gadis yang tangguh, pastinya dia memilih hal yang lebih menarik ketimbang hadiah uang dan gelar kehormatan yang bisa saja dia dapatkan dari yang mulia raja. "


*******


" Apa kau percaya dengan cerita ayahmu?. " Dania bertanya pada Erich yang ada di depannya, yang sedang membuka pintu, dan langsung membawa mereka berdua ke tempat yang berbeda, yaitu di atas sebuah loteng dari menara jam.


" Aku percaya. "


" Semudah itu?. "


Dania berjalan ke depan, lagi-lagi berada di bawah sebuah lonceng besar. Pertemuan pertama mereka berdua.


Erich yang terdiam mengingatkan bahwa Dania ikut mengira bahwa itu terjadi karena Erich sendiri...


[ Sepertinya orang yang bereinkarnasi juga. ] fikirnya. Dania kemudian menatap ke depan sana, pemandangan kota yang di riuhkan oleh hiruk pikuk orang dengan suara tangisan, dan rintihan.


[ Seberapa banyak orang yang bisa bereinkarnasi?. ]


Tidak ada data pasti alasan kenapa seseorang bisa be-reinkarnasi, selain jiwa mereka yang menginginkan kehidupan layak untuk ke dua kalinya.


" Mereka terlihat menderita. " tiba-tiba Etich bersuara.


" Ya.. " Dania menjawabnya dengan cepat, sambil merotasikan pandangannya dari sudut 180 derajat.


Tidak ada yang berbeda, selain derita mereka karena rumah dan bangunan banyak yang rusak.


" Hmm... " Dania menutup matanya, sambil bersender ke tiang panyangga.


" Kalau seperti ini, perayaan pesta ulang tahunnya pasti batal. "


Erich bingung, sambil memiringkan kepalanya dia bertanya dengan heran.


" Sesenang itu?. "


" Tentu saja. Aku tidak suka pesta, hanya menghambur-hamburkan uang, dan menyambut umur yang berkurang, bukannya malah sangat menyedihkan?. " jawabnya dengan nada datar tak berminat sama sekali.


Dia sangat membenci pesta, pesta dari perkumpulan orang-orang yang hanya datang untuk tidak lebih dari sekedar menjilat ke orang lain.


" Itu.......benar juga. " tidak ada yang salah dengan ucapannya, Erich hanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal itu.


[ Dia tidak suka pesta, aku kira...dari tampangnya...dia tipe orang yang suka tempat yang mewah dan meriah. ] tapi pemikirannya terus saalh. Lagi-lagi karena tampang gadis itu.


" Aku pulang dulu. " ucap Dania sambil melambaikan tangan, lalu berjalan ke arah pintu kayu.


" Tunggu, kau akan berjalan kaki?. Aku bisa mengantarmu. " Erich mencoba menawarkan diri.


Dania memberhentikan angkahnya sebentar, menoleh ke arah kiri, dia yang sempat melihat sesuatu, segera menjawab tawaran yang di berikan Erich.


" Jika kau mengantarku, bisa saja kekuatanmu itu malah diam-diam di gunakan untuk menyelinap masuk ke kamarku kan?. "


" He?. Apa dari sudut pandangmu, aku orang yang menyelinap masuk kamar perempuan?!. "


Itulah, hal yang harus di perhatikan di sini, mengingat kekuatan Erich bisa pergi ke segala tempat selama ada pintu yang pernah dia lewati. Berarti ada satu waktu, jika kali ini dia menerima tawarannya Erich, Erich pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam istananya Archduke.


Atau sama saja dengan memasukkan orang asing ke dalam rumah.


" Mana tahu kan?. Jujur, aku mau-mau saja....tapi, walaupun niatmu baik, tapi kekuatanmu itu cukup berbahaya juga. Aku hanya mengantisipasi hal yang tidak perlu. " Jelas Dania, lalu membuka pintu itu dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata lagi.


Erich di tinggal pergi sendirian, oleh perempuan tersebut. Padahal baru saja menutup pintu kayu itu, tapi orangnya sudah ada di bawah?!.


" Waspada sekali dia. " Erich padahal hanya berniat baik, tapi jika sudah di ingatkan seperti itu, ada kalanya kalau tawarannya tadi Dania terima, Erich sudah pasti...memang akan masuk ke dalam istana Scneider.

__ADS_1


KWAK....


Tapi dikala Erich tidak mendapatkan apa-apa dari gadis itu, dia menerima suara..


[ Burung!. ]


" ..............! " Erich langsung mundur menoleh ke samping kanan, ada seekor burung sudah bertengger di atas dinding pembatas.


Namun warnanya hitam, lain dari burung yang terakhir kali dia ingat.


Sejak kapan burung itu ada di sana?.


Erich tidak tahu pasti.


Raya memiringkan kepalanya, melihat manusia di depan sana seperti sedang di luputi rasa cemas.


KWAK...?.


Erich yang tidak mau mendapatkan momen buruk dengan seekor burung lagi, langsung berjalan cepat ke arah pintu kayu dan..


JBRET....


[ Ada apa dengan manusia itu?. ] Padahal Raya dari tadi memang sudah bertengger di situ, tapi Erich-nya saja yang tidak sadar. Dan yang paling di buat takut, malah orang itu sendiri.


[ Apa aku semenakutkan itu?. ] Raya terbang mendekati lonceng berwarna emas yang masih berkilauan itu, dia bercermin dan apa yang dia lihat, adalah dirinya sendiri.


[ Tampan dan gagah begini, apa yang ditakuti dariku?. ]


TENG.....TENG......!


KEPAKK......


Jam 9 tepat, lonceng itu tiba-tiba berbunyi dan mengagetkan Raya. Sehingga dia langsung beranjak dari sana.


***********


Suara lonceng yang sangat keras menggema ke segala penjuru di pusat kota.


Dia berjalan meninggalkan menara jam, dan ketika mendongak ke atas, dia melihat seekor burung berwarna hitam baru saja terbang.


Dania tiba-tiba tersenyum geli.


Dia sebenarnya tahu kalau di sampingnya Erich sebenarnya dari awal sudah ada seekor burung sedang bertengger di sana, mungkin karena warna bulunya yang hitam, di lihat dari sudut mana pun terlihat seperti patung, jadi Erich tidak begitu menyadari keberadaannya.


Dan suara keras pintu yang tertutup tadi, sudah pasti Erich langsung pergi menghindarinya.


Pusat kota.


Yang biasanya di penuhi orang yang berlalu lalang untuk mencari kesenangannya sendiri, sekarang yang ada adalah pemandangan kacaunya kehidupan mereka yang di di iringi tangis, putus asa, dan kemarahan.


Rasa tidak terima, banyak masalah datang dalam kurun waktu yang begitu dekat.


Sebenarnya, setelah berada di kehidupan ini, dia benar-benar tidak mempunyai aturan yang terikat dengan begitu mutlak, jadi dia bebas melakukan apa saja, termasuk membantu mereka.


Dengan kekuatannya, sihir yang di milikinya, kekuatan sucinya pula, banyak hal yang bisa dia lakukan, seperti menyembuhkan, dan membantu perbaikan bangunan yang baginya, sekarang itu cukup mudah dan sepele.


Tapi ada satu aturan prinsip, baik itu prinsip hidupnya maupun prinsip dari alam.


Bahwa....


[ Mereka harus berusaha membantu dirinya sendiri dengan tangan dan usahanya sendiri. ] itulah yang dikatakan dalam hatinnya.


Jadi hal apa yang akan dia dapatkan ketika berjalan di antara para pemilik bangunan yang sedang sibuk memerintah kepada seorang penyihir maupun kuli bangunan yang sedang memperbaiki bangunan alias kedai mereka?.


" Kapan selesainya!. Ini sudah hampir setengah hari, pekerjaan kalian sangat lambat sekali. " marah nyonya ini pada para kuli bangunan yang baik ada di atap, maupun di dalam toko, mereka sedang membersihkan, merapikan, sekaligus memperbaiki yang perlu di perbaiki.


" Jika anda berisik terus, lebih baik kami berhenti. " sahut proa yang sedang ada di atap.


" Oh..!, kalau kalian berhenti di sini, aku tidak akan membayar kalian berempat loh. " dengan nada mengancam, wanita ini terus berupaya agar mereka semua tetap menuruti kemauannya, karena upah yang di bayar hari ini adalah 2 kali lipat.


" Kak...jangan begitu. " pujuk pemuda yang ada di sebelahnya, membujuk kakaknya agar tidak mengambil keputusan seperti itu.


" Lalu kalian berdua. " menatap ke depan, di mana dua orang wanita sedang membersihkan pecahan kaca yang ada.


" Kenapa malah bengong!. Cepat....gerakkan tangan kalian, dan jangan sekali-kali mencuri perhiasanku. " peringat wanita ini lagi kepada dua orang perempuan muda di sana.


" Dari pada mendapatkan upah 2 kali lipat, tapi ujung-ujungnya kena protes, terus di potong karena salah satu dari kalian membantah ucapannya, tidak di beri makan, bukannya lebih baik berhenti saja?. "


Tiba-tiba sebuah kata pujukan penuh realitas menyadarkan mereka berempat untuk berhenti dari aktivitas mereka untuk sesaat, demi melihat siapa orang yang sudah berbicara demikian?.


" Siapa kau?!. " terkejut, tiba-tiba saja ada seorang perempuan sedang berdiri di sebelahnya.


[ Kapan datangnya?. ]


" Kenapa mencampuri urusanku!. "


" Aku hanya menasihati mereka berempat. " Kata Dania singkat. Dia kembali mendongak ke atas, karena sedikit silau, tangan kananya dia letakkan di atas kedua alisnya agar bisa lebih leluasa melihat mereka berdua secara bergbergan, lalu melihat ke 2 perempuan di depan sana. Mengabaikan reaksi nyonya di sampingnya, Dania berbicara lagi.


" Blok 5, restoran Lotus, mereka membutuhkan 4 orang. Pergilah ke sana. Makan, dan upahnya cukup untuk kalian. Dari pada di sini makan ocehannya. "


Pemuda ini mengangguk setuju.


" Betul kata kakak di sana. Kita juga sudah lapar kan?, bagaimana jika coba dulu?. "


" Bagaimana jika dia berbohong?. " bisiknya, kepada adik laki-lakinya.


" Dari pada di sini terus?, kita hanya dapat omelan tidak berguna. "


" Aku tidak ada alasan untuk membohongi kalian, upah perhari hanya 40 perak, di kali 2, berarti 80. Kalian berempat, totalnya 320 perak. Tapi pasti di potong, jika aku membohongi kalian, kalian bisa mendatangiku ke sini. " melempar sebuah kantung kecil ke atas, dan langsung di tangkap oleh salah satu dari mereka.


Mereka berdua mengangguk iya setelah membuka isinya dan mengembalikan kantong itu ke gadis di bawah sana.


Dan setelah berkata seperti itu, Dania melangkah pergi, tapi dia langsung di cegat.


" Hei!, apa-apaan denganmu!. Tunggu. " wanita ini berteriak, dan berlari, menghentikan langkah perempuan itu agar tidak pergi, dan dia berhasil menangkap bahunya.


" Kau sudah menghasut mereka?!, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!. "


Mendengar kata itu, dia segera menghentikan langkahnya, dan melirik ke arah bahu yang pegang seenaknya saja.


" Memangnya mau apa?. " dengan nada dingin, sorotan matanya langsung melirik ke arah wanita di belakangnya.


Sontak membuat nyonya tersebut tersentak terkejut, secara tidak terduga mendapatkan aura dingin yang kuat seolah-olah menusuk tubuhnya.


Padahal dia hanya meliriknya sekilas, dan itu berhasil membuat tangan itu melepaskan cengkramannya dari bahunya.


" Memberikan sebuah pilihan secara bebas, mereka punya hak memilih yang terbaik di antara yang....terburuk, kan?. "


[ Ke..kenapa kakiku tidak bisa bergerak?. ] sebagian darinya merasakan merinding saat mendengar suaranya dengan jelas, apatah lagi di tambah dengan sorotan mata yang begitu tajam, jelas-jelas itu tertuju ke arahnya, tapi sekilas dia juga merasa kalau itu adalah mata yang bisa membunuh orang kapan-pun dia mau, hanya dalam sekali tatap itu.

__ADS_1


" .............. " Melihat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia beranjak dari situ, menungalkannya dalam kondisi separuh ketakutan, separuh khawatir.


" Ayo.....kak, kau sudah melihatnya kan?, kita hanya tinggal datang menemuinya lagi di sana jika dia berbohong. " anak muda ini melompat begitu saja dari ketinggian 4 meter, lalu di ikuti kakaknya.


Dua orang perempuan di dalam sana yang awalnya memegang penyapu, menghampiri mereka berdua, dan mengangguk setuju atas saran yang di berikan oleh perempuan tadi, agar pindah pekerjaan.


" Kami pergi dulu nyonya. " salam dua perempuan kakak beradik ini ada nyonya yang sekarang sudah menjadi mantan majikan.


Setelah mereka berempat pergi, dan satu orang perempuan tadi pergi dengan arah yang berlawanan, barulah dia bisa bergerak dengan leluasa, kalimat yang harusnya dia lontarkan tadi, akhirnya terlambat untuk di ucapkan pada mereka berempat.


Wanita ini menghentak-hentakkan kakinya, marah dan frustasi.


" Aarhh..!, kenapa seperti ini!. Toko ku....belum selesai di perbaiki tapi mereka sudah pergi!. Bahkan mereka tidak peduli aku tidak membayar mereka!. " teriaknya. Lalu berjalan masuk ke dalam tokonya lagi, dia berjalan sambil mengigut jari dan berpikir.


[ Siapa tadi...kenapa dia tiba-tiba ikut campur?!. Padahal aku sudah susah payah membawa mereka ke sini dengan upah sedikit seperti itu, tapi perempuan itu mengacaukannya!, bagaimana bisa tahu aku membayar upah mereka perhari ini adalah 320 perak!. ]























Kembali ke Dania, dia entah mengapa di dalam lubuk hatinya terus mengatakan bahwa ini salah dan itu benar.


Itu yang mengharuskan dirinya mengutarakan pendapatnya pada mereka, memberikan solusi untuk orang yang terlihat membutuhkan bantuan berupa pemikiran terbaik.


Kakinya lagi-lagi berhenti melangkah, melihat 3 orang perempuan paruh baya dengan keranjang rotan di tangannya sedang berekspresi cemas.


Dia pergi menghampirinya.


" Taruh sedikit cuka ke dalam air, tempat menyimpan bunga. Maka bunganya akan bertahan sedikit lebih lama. "


" Apa itu benar nona?. " tanya salah satu di antara mereka bertiga, baru kali ini ada sebuah solusi mudah dengan harga murah hanya untuk mempertahankan bunga yang di jualnya.


" Jika penasaran, kenapa tidak di coba?. "


" Terima kasih sarannya. " ke 3 orang tersebut berterima kasih dengan sopan, entah apa pun penampilan orang yang mereka temui, mereka akan tetap menghormatinya.


Dania merasa sedikit senang bisa membantu walau sedikit.


" Sama-sama. " dan kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke istana Scnaider, walaupun masih jauh.


Meski bukan membantu dalam hal kekuatan yang melanggar takdir hukum alam, tapi tidak ada salahnya membantu dalam hal berbagi pengetahuan, juga solusi.


Dalam tiap perjalanan, yang dia temui, dia bantu.


Meembuatnya berpikir.


[ Ada apa dengannya hari ini?. ] fikir pria bersurai emas ini, dia sedang duduk dengan kaki kiri lurus ke depan dan kaki kanannya dia tekuk, untuk meletakkan tangan kanannya di atas lututnya.


Dari atap bangunan perpustakaan kota, tempat tertinggi ke 3 setelah istana dan menara jam, dia melihat perempuan di depan sana, sedang berjalan sendirian, namun ketika ada orang yang kesulitan dalam menangani masalah, dianya akan membantu hanya dengan ucapannya saja, yang dalam seketika langsung di setujui.


[ Apa dia sudah ingat masa lalunya?. ] Caster mengernyitkan matanya.


Ada satu cara untuk membuka kembali masa lalu yang sudah terkubur jauh, yaitu dengan cara mencium orang yang bersangkutan, tetapi....


[ Dia tiba-tiba yang jadi agresif. ] Caster tertawa sendiri jika mengingat kejadian semalam.


Semalam dirinya hanya ingin melihat iris mata wanita itu dengan lebih jelas, kenapa warnanya harus merah, kenapa bukan warna yang lyai seperti coklat atau violet.


Tidak ada niatan bahkan untuk menciumnya, apa lagi di kondisi separuh sadar seperti itu.


Dia tidak akan melakukannya sedetik pun.


Caster hanya ingin melihatnya lebih dekat, tapi yang ada malah ada inisiatif sendiri dari wanita itu.


Caster menatap telapak tangan kirinya.


[ Ingin mendapatkan bibirku?, kau harus berusaha lebih keras lagi. ] dan yang di tatap itu adalah telapak tangan yang dia gunakan untuk menghalangi sebelum bibir itu mendarat untuk mencium bibirnya ( Caster ).


" Untuk sekarang aku membiarkannya saja dulu. Jika waktunya habis, mungkin itulah saatnya...."


SRHAAAAA.........


Angin yang berhembus tiba-tiba, membuatnya menoleh ke belakang dan melihat ada taburan kolap bunga berwarna pink seperti sakura.


Salah satu kelopak bunga itu pun Dania tangkap.


[ Seperti bunga sakura......., tapi disini tidak ada pohon dari bunga ini. ] dari mana arah datangnya, itu seperti dari bangunan itu, atap dengan cat berwarna biru. Gedung perpustakaan.


" Sepertinya ada yang terus mengawasiku. " gumamnya.


Pagi yang kian terlewati, Dania menatap kosong perpustakaan itu. Tempat terakhir seseorang yang baru saja mengawasinya dari sana.

__ADS_1


Tapi siapa?.


__ADS_2