Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 28 ( Mencegah )


__ADS_3

Eldania 28


" Erkk.....! " tercekat hebat, karena pelukannya begitu erat hingga dirinya susah untuk bernafas.


" Emhh....meski bau, tapi baumu memang unik. " sambil mengusel-usel wajahnya ke leher Everst.


" Lep...lepas...lepaskan.. "


" Ho~...kenapa aku harus melepaskanmu?, bukannya kau sangat ingin dipeluk olehku?. Hmm?....hmm?....hmm?... " ucap Dania dengan agresif, saat wajahnya masih mengurung di dalam sayapnya Everst.


Entah gerangan apa yang sedang merasukinya, Everst sudah tidak tahan lagi dengan pelukannya karena membuatnya sesak. Everst berusaha untuk menjauhkan wajahnya Dania dari dirinya dengan sayapnya, setelah agak jauh Everst segera memberikan sebuah hadiah yaitu..


PLOK....


Telapak kakinya mendarat tepat di wajahnya Dania.


Tapi perempuan yang tidak kehilangan akalnya, memiliki cara lain untuk membuat Everst menurutinya dan tidak bertindak semau jidat yang tiba-tiba bertingkah senonoh dengannya.


Karena tangannya yang panjang, Dania akhirnya menjauhkan tubuh Everst dengannya, namun yang jadi cara ampuhnya ketika melawan hewan bersayap adalah dengan mencengkram dan menyatukan kedua sayap itu ke belakang dalam satu cengkraman tangan.


Sehingga posisinya seperti seorang penjahat yang kedua tangannya ditahan di belakang tubuh dan di borgol.


{ Kau menyiksanya. } kuda hitam yang merasa prihatin burung berwarna coklat itu.


" Aku hanya memberinya pelajaran. " menjawab ucapan penuh rasa prihatin dari kuda itu.


" Lalu jika mau memelukku aku akan memelukmu dengan begitu erat, bagaimana?. " tanyanya kepada burung nahas itu, sekarang tubuhnya di temteng seperti habis menangkap binatang buruan.


Kwak... \= { Lepaskan. }.


" ................. " tanpa sepatah kata lagi, Dania akhirnya melepaskan cengkramannya dan membiarkan Everst kabur.


SYUHTT..... --------------->


Tepat sesaat melepaskan Everst dari tangannya, satu panah melesat dengan cepat melewati wajahnya dan tersadar saat panah itu menancap di batang pohon, ternyata pergelangan tangannya sempat terserempet ujung panah itu.


NGIIKK......


Kedua kuda itu kaget sehingga membuat suasana menjadi heboh.


100 m dari tempat Dania berdiri, di sebelah selatan ada dua orang sedang tengkurap dengan satu senjata yaitu crossbow ada di tangannya.


" Ah sial, meleset. " decih orang ini, hasil tembakannya meleset jauh.


" Tinggal nembak saja sampai meleset jauh, sepertinya matamu itu sudah mulai rabun. " tutur orang di sebelahnya.


" Jangan menyalahkan mataku, dianya yang banyak bergerak. " jawab pria ini.


" Tapi aku ingin menangkap gadis itu. Dia terlihat unik, jika aku jual pasti laku besar. " ujarnya.


" Kita cari kesempatan lagi nanti, sekarang tempat ini sudah tidak aman. " tuturnya, lalu memimpin teman kerjanya untuk pindah ke tempat yang lain.


SRINGG......


Pedang yang mengkilap dan dingin itu langsung datang dan menyentuh lehernya.


" Jadi kalian berdua adalah pedagang manusia?. Tidak usah basa-basi lagi, aku akan membereskannya. "


Dua orang pria berusia 35 tahunan itu membelalakkan matanya melihat laki-laki muda yang rupanya adalah Arhes langsung mengayunkan pedangnya dan...















__ADS_1






















A


A


R


G


H


H


H


H


!
















__ADS_1









Kwak....Kwak....Kwak....Kwak...


Beberapa burung gagak terbang berhamburan di angkasa.


Dania menoleh ke arah jam 3 dari tempat ia berdiri, teriakan yang memilukan, dia menanggapi teriakan itu dengan tenang.


Bahkan Everst yang baru saja di lepaskan kembali terbang ke arahnya dan memeluknya.


Seekor burung memeluk lehernya, terlihat kelakar karena tubuhnya jadi menggantung.


" Kenapa balik lagi?. " Dania bertanya karena heran.


{ Kau harus di obati. } peringat sang kuda coklat.


Kwak...kwak... \= { Aku akan menjagamu. }


Dania jadi teleng, apa kepalanya baru saja terbentur?. Ada 3 hewan di sampingnya yang sangat baik dan perhatian, jika di lihat orang lain mungkin Dania adalah gadis yang tidak waras karena berbicara dengan binatang di sekitarnya.


Tapi memang sekarang ada satu orang sedang memperhatikan tingkah Dania yang aneh itu, yaitu Arhes, ia baru saja kembali dari misi lecilnya yaitu menangkap ikan dan menangkap penjahat.


" Apa kamu mau memasak burung itu?. "


Kwak....! \= { Apa dia bilang!. }


Pekik Everst.


Yang di ajak berbicara ( Dania ) langsung melirik ke bawah dimana Everst masih menggantungkan tubuhnya di lehernya.


" Maaf, dia peliharaanku. " jawabnya.


" Tapi kalau mau tambahan makanan lagi, dia punya solusinya. " melepaskan pelukan Everst dengan paksa dan menunjukkannya ke Arhes.


' Wajah penuh percaya diri '


Kwak... ! \= { Kau- !. }


" Katanya kamu mau menjagaku kan?. Bawakan makanan untukku. " tepat di ayat terakhirnya, Dania langsung melemparkan Everst terbang ke atas.


KWAKK.....! \= { DASAR!. }


"..............."


[ Dia terlihat seperti harus makan obat penenang. ] kata Arhes di dalam hatinya yang terdalam, sangat miris melihat perempuan muda yang terlihat kurang waras.


" Mereka membuat tanganku kotor. " menggerutu pelan saat mengurusi pergelangan tangan kirinya yang berwarna merah segar karena perban yang terlilit itu menyerap langsung cairan merah tersebut.


" Lukamu harus diobati. " peringat Arhes saat melihat darah itu.


" Apa tanganku terlihat harus diobati?. " mengintip sedikit di balik perban yang sedikit robek itu.


" Bagaimana jika di ujung anak panah tadi ada racun?. "


" Kamu mengkhawatirkanku?. " tanya lagi Dania sambil memiringkan kepalanya ke kanan.


" Tidak, aku hanya harus menjagamu tetap utuh sampai tempat tujuan bahkan saat sampai kembali. "


" Itu sama saja. "


" Tidak. " sangkal Arhes.


" Terserah. " mulai malas mendengar sangkalan dari Arhes yang tidak kunjung berhenti.


" Intinya bagaimana harus mengobatinya jika sudah terlambat?. " tanyanya lebih pada Arhes, dan langsung mengantongi kedua tangannya masuk ke dalam saku mantel-nya.


"............."


Akhirnya pertanyaannya tadi sukses membuat mulut Arhes tidak dapat berkata-kata lagi.


Dania tersenyum penuh dengan kemenangan.


" Aku akan mencari kayu bakar. "


Sekarang hanya tinggal Arhes seorang dengan di temani kedua kudanya yang dari radi memandang dua manusia itu secara bergantian.

__ADS_1


[ Aku sudah memeriksa sisa panah milik orang bar-bar itu, memang ada tercium bau obat. Tapi apa dia tidak apa-apa?. ] Arhes yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi seorang perempuan hanya harus memperhatikannya dari jarak yang cukup saja.


"..................."


__ADS_2