Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertempuran Danie dan pedang misterius


__ADS_3

Menginginkan jumlah?-----------------------


Tambah 1 orang lagi cukup bukan?.


...................................................................


Jika iya, akulah orangnya.























































__ADS_1

















Danie berlari untuk mengambil tas miliknya, tapi harus melewati orang-orang yang sedang beradu pedang itu.


Sesekali harus menundukkan kepala dan melompati mayat yang tergeletak ditanah.


Alasan tidak mau meninggalkan tas nya adalah, karena didalamnya ada baju miliknya, jika tidak ada baju bagaimana ia harus mengganti bajunya coba?.


SRETTT.............


Sebuah pedang ada tepat didepan lehernya,


"Bukannya kabur, malah datang kesini?"


".............."


"Pendeta cantik harusnya ada di tempat suci saja"


"..............."


💧[ Apa dia melihat wujud asliku? ] detik hati Danie. Melihat prajurit beysil menghalangi jalannya. Kalau mau membunuh dirinya, juga tidak perlu banyak bicara tinggal ditebas saja, tapi karena orang itu seperti mengulur waktu untuk menggertak dirinya, maka ia juga tidak sungkan untuk...


Lari menghindar!, dengan menundukkan kepalanya ia dapat langsung melewati pedang yang menghalangi jalannya, yang hampir menikam lehernya itu.


Tetapi rupanya tangan prajurit tersebut juga gesit, sehingga dapat menangkap tangan kanannya dengan mudah.


"Mau lari kemana ka- "


Belum sempat menyelesaikan ayatnya, prajurit tersebut mengeluh kesakitan di bagian perut.


Spontan tangan Danie yang tadinya dicengkram kuat bisa terlepas dengan mudah.


Prajurit tadi kesakitan karena ada anak panah kecil menusuk hingga ke perutnya.


Anak panah tersebut merupakan salah satu senjata yang ia buat dengan size kecil, sehingga dapat di pasang di lengan tangan kanannya.


Itu adalah senjata yang ia pesan dari tempat pandai besi ORBELL.


"Ka..kamu"


"Harusnya langsung bunuh aku, tanpa perlu menarik tananganku_ , jadi yang salah adalah kamu sendiri"ucap Danie pada orang tersebut.


Namun ternyata dia masih mampu memegang kembali pedangnya, walau luka diperutnya juga sudah parah.


Kemudian Danie sedikit melirik kebelakang ia tahu di belakangnya ada orang yang bersiap untuk menghunuskan pedangya, jadi sebelum itu terjadi, Danie segera menghindar dan menangkap lengan musuhnya. Karena gerakannya cepat, dia mengarahkan orang dibelakangnya maju kedepan sehingga bilah pedang itu menusuk/membunuh temannya yang sedang berjongkok.


Di akhir peristiwa, keduanya saling menusukkan pedang ke tubuh orang didepannya.


BRUKKK.......


Satu kesatria tumbang tepat disebelahnya, kamudian Danie menoleh kesamping dan mendapati prajurit yang telah mengalahkan salah satu kesatria nikhil knights yang sudah lemah, hendak dia bunuh.


CTAKKK.....


Segera ia bantu dengan mengeluarkan anak panah dari senjata di lengan tangan kanannya.


Tapi dapat dia tangkis, dan dari yang dilihatnya kecepatan tangkisannya itu sama dengan kecepatan anak panah yang ia lepaskan.


[ Jangan-jangan dia sudah tingkat master] fikirnya.


"Mainan anak kecil seperti itu tidak ada gunanya"


[Ini bukan mainan bodoh!, teknologi!, efisiensi!, karya seni senjata kau bilang mainan!] Marah Danie dalam hati.


Karena karyanya diejek oleh salah satu prajurit Beysil, Danie menjadi marah karena ada juga yang menghina senjatanya sendiri.


Danie mengangkat pedang yang tergeletak ditanah, tapi ternyata..


[Beratt...!]


"Angkat pedang saja tidak mampu.!!!"langsung menyerang kembali Danie, namun dapat ia hindar dengan baik.


{ Tuanku cantik juga }


[Diamlah..Sejak kapan kau disini!]


{Dari pada menanyakan itu, bukankah tuan harus melawan manusia didepanmu?. pakailah buluku ini}


Entah sejak kapan Everst terbang di atasnya, dia menjatuhkan bulunya, walau bulu burung itu dijatuhkan dari langit, tapi bulu tersebut langsung jatuh ke bawah bahkan tidak melayang kamana-mana saat ada angin bertiup.


Danie dapat menangkapnya dengan mudah.


"Anda berkata jika tadi adalah mainan?, mainan anak kacil?."tuturnya,


Bulu yang digenggamnya tiba-tiba berubah menjadi pedang berwarna hitam,sesuai bulu yang diberikan oleh everst.


"Lihat dengan benar!,apa ini juga mainan anak kecil!?"sambung Danie lagi.

__ADS_1


Ia mengayunkan pedangnya dan mulai melawan prajurit tingkat master didepannya.


Walau kelihatan antara dirinya dan dia kemampuannya tidak seimbang, ternyata itu diluar dugaan.


TRANG..!!!(Suara dentingan dari kedua pedang yang saling berbenturan)


Keduanya bertarung untuk saling mengalahlan, Danie tidak ada waktu berlama-lama melayani musuh didepannya, karena temannya


(tuan kesatria yang sudah dianggap menjadi teman) sudah dalam keadaan sekarat.


[Siapa pendeta ini!?,kenapa bisa menggunakan pedang dengan baik?]cemas dengan pendeta yang memiliki ilmu berpedang di depannya.


[Padahal aku baru pertama kali menggunakan pedang sebagai media bertarung, tapi kenapa selain pedangnya ringan, seringan bulu ini aku bisa menangkis pedangnya dengan mudah] tanya Danie pada Averst.


{ itulah kemampuan dari buluku, selain ringan karena buluku sendiri, setelah memegang pedang yang terbuat dari buluku, maka tuan akan dengan mudah menangkis dan menyerang musuh tuan karena pengetahuan tuan sendiri juga mengalir kedalam pedang yang tuan pegang itu. Anggap pikiran anda dan pedang itu menjadi satu-kesatuan yang bisa saling bekerja sama hanya saja-.....tidak aakn bertahan lama }


"Penjelasanmu terlalu panjang"ucap Danie pada Everst


💧"apa kau bilang?!"


[Dia kira aku sedang berbicara denganmu?]


"Tidak"sambungnya didetik itu juga.


CTANGGG..!!!


Keduanya masih mempertahankan kekuatannya masing-masing.


Sampai di pertarungan puncaknya,Danie sedikit terpojok,lalu pedang yang dipegang terlempar ke udara karena serangan telak itu.


Disisi lain...


Ada tiga orang sedang bertarung,dalam artian dua lawan satu.


Pemimpin kesatria Nikhil Knights Karena kemampuan satu orang itu lebih tinggi dari dua orang di depannya, maka dapat dia kalahkan dengan mudahnya.


Menyayat isi perut kedua orang tersebut dan akhirnya tumbang.


Disaat yang sama, ia mendapatkan insting ada yang sedang menuju kearahnya, namun asalnya dari atas.


Ketika mendongak ke atas, ia menemukan benda panjang dan itu adalah pedang, segera ia tangkis dengan pedangnya sendiri, dan berakhir mendarat di sebelahnya.


JLEBB.....!! (Menancap ke tanah)


[Siapa yang melempar pedang kearah ku]


Fikirnya, namun beberapa saat kemudian pedang tadi mengjilang seperti pasir yang tertiup angin.


lepas memutar tubuhnya kebelakang, barulah tahu kalau seseorang yang ia kenal lewat pakaian yang dikenakan itu adalah pakaian pendeta dan sedang dalam keadaan terpojok akan dihabisi oleh prajurit dari musuh.


"Dia?" Walau jauh tapi dapat melihatnya dengan baik, wajah yang familiar.


Tapi yang sekarang dilakukannya adalah melindungi satu pendeta itu, setelah menyuruh pendeta yang sebelumnya lari, kini ternyata ada satu yang masih ada di pertengahan pertempuran.


Selagi menyingkirkan beberapa lawannya, ia berusaha untu pergi ke tempat dimana pendeta itu terdiam membeku di tempatnya, ketika ayunan pedang tersebut akan berakhir di tubuh menebas sang pendeta, ada satu pedang lagi yang menghalangi dari terbunuhnya Danie, sehingga dia berakhir dengan selamat.


Selamatnya si pendeta karena bantuan pedang misterius tersebut karena memiliki warna dan bentuk yang berbeda dengan yang tadi ia gunakan.


Yah...pedang berwarna hitam tadi berhasil membunuh prajurit itu dari belakang sebelum benar-benar pedang yang di genggam (prajurit Beysil) memotong kepala pendeta.


[Sebenarnya siapa dia?]fikirnya lagi, melihat pendeta itu terlihat tidak terkejut sama sekali ketika ada orang terbunuh didepannya, justru tatapannya begitu tenang, berbeda dengan satu pendeta yang sebelumnya Caver selamatkan karena kaget ketika ada satu anak panah hampir membunuhnya.


Kembali ke tempat dimana Danie berada.


"Mati?"


Bisik Danie, lalu ia segera menyelamatkan kesatria yang sudah mulai sekarat tadi.


Dengan cepat dia segera mengeluarkan kekuatan sucinya.


Setelah beberapa saat, kesatria itu bisa bangun walau masih dalam keadaan lemah.


Setelah selesai mengobati, Danie pergi untuk mengambil pedangnya.


Dan ia mencabutnya tanpa perasaan dari punggung seorang manusia yang tertusuk pedang itu.


Danie merasakan tatapan si Kesatria yang ia tolong.


Tapi dia segera bangkit, karena dibelakangnya ada yang hendak menyerangnya, Danie juga tidak ingin membiarkan prajurit dibelakang dirinya sendiri mendapatkan kesempatan untuk membunuh dirinya juga.


CRASSHHH.......... ( Sekali ayunan terbunuh juga. )


Saat si Kesatria menoleh ke belakang, pendeta yang tadi menolongnya sudah menghilang dan sedang berlari ke arah pohon di ujung sana setelah itu pandangannya teralihkan untuk berusaha menyerang sang musuhnya, mengabaikan kejadian yang barusan.


****


Di tempat dimana tas itu berada, Danie sudah berada disana, namun ia hanya berdiri pasrah karena.....


"Ternyata separuh berada didalam lumpur, dan satu lagi, kenapa diatasnya ada....."


[Ulat bulu]😧


Ulat bulu berwarna hitam itu membuat dirinya geli setengah mati, menatap lama-lama ulat bulu itu sudah terasa menggelikan ke seluruh tubuh, intinya tidak bisa diungkapkan kata-kata lagi.


Ia mencoba menyingkirkannya dengan pedang yang di bawanya sedari tadi, walau matanya ia pejamkan tapi masih sedikit mengintip.


Perlahan dia buat ulat bulu itu menempel dan terangkat, setelahnya ia langsung lempar jauh-jauh.


[Hahhhhh........]menghela nafas dengan kasar.


"Sebaiknya aku keluar dari situasi ini du- "


SRETT......(Menghindar dengan cepat)


Satu anak panah menancap ke pohon.


[Sudah begitu lamanya,masih ada serangan anak panah?]


Satu persatu anak panah melesat kearahnya, dengan tangkas ia menangkisnya dan membuat anak panah mereka terpotong sekali ayunan pedang.


Dia berusaha memberesi masalahnya sendiri.


Dengan sisa tenanganya yang ada,ia berusaha keluar dari arena pertempuran.


Ia berjalan keluar hutan sendirian,langit yang hampir menjelang sore.

__ADS_1


Diperkirakan dari warnanya dan posisi matahari itu sudah menunjukkan pukul 3 sore.


__ADS_2