
Mengabaikan apa yang masih dirasakannya, ia segera membaringkan tubuh yang lelah ke atas kasur, walau tidak seberapa empuk namun cukup untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah banyak mengeluarkan tenaga.
Dimanapun asal nyaman, sekalipun berbaring di atas lantai yang keras, seorang Danie bisa tidur dengan nyenyak.
Lampu minyak yang remang menghiasi kamar sementaranya, menatap langit-langit kamar sembari mengingat memori barusan, rencana demi rencana yang disusunnya.
Ponsel juga sudah berada ditangannya kembali.
Sebelumnya ia serahkan pada Cathrine pada saat sebelum keluar dari benteng bagai kastil.
Ia menyerahkan ponsel tersebut karena ia memiliki firasat yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
Flashback On.
" Dengar aku menitipkan ini, aku percayakan padamu "
" Benda apa ini ?" Membelek benda tipis yang di pegangnya.
" Tidak ada waktu menjelaskannya. Setelah kabur dari sini, aku ingin kamu tetap waspada. Tetap awasi desa mu, tekan ini- " Danie sedikit menjelaskan maksud dari tujuan ia menitipkan smarthpone nya pada Cathrine.
" Ada gambar di layar ini, jika ada orang yang mendekatiku dan seperti orang yang mecurigakan, bidik sasaranmu dari benda ini dan tekan 1 - 3 kali "
Cathrine lumayan paham dan tidak, tapi intinya dirinya harus memperhatikan orang sekitar jika ada seseorang yang mencurigakan, apabila ada maka harus menekan layar dari smarthpone yang di pegangnya sesuai dengan gambar yang ada disana.
Sedikit penasaran, membuat Cathrine ingin menyentuh dan mencoba tuhas yang harus dijalankannya, tapi dengan cepat Danie menghentikan tangan Cathrine dan menggeleng pelan.
" Kamu harus mengingatnya "
Cathrine menggangguk iya.
Flashback Off.
Alasan yang didapatinya karena sepanjang awal perjalanan Danie mendapati hal aneh, dari anak panah, monster, lalu penculikan, jadi kemungkinan terbesar pastinya ada seseorang yang membuntutinya, jadi seperti itulah kenapa ia merencanakan rencana cadangan ke orang yang memusuhi dirinya secara misterius, dan pasti selalu memperhatikannya dari belakang.
Berfikir keras seperti itu membuat Danie perlahan memejamkan mata dan tak lama kemudian akhirnya dia tertidur.
Ke esokan harinya.
Seluruh warga berkumpul di tengah jalan, 5 buah peti dan gunungan berisi kayu di letakkkan di tengah-tengah lapangan terbuka.
Di hari ini akan diadakan pembakaran mayat, mengingat daerah Desa Jacilky adalah wilayah bersalju maka tidak memungkinkan untuk menguburkan mayat disitu sebab tidak akan pernah membusuk (rusak) karena temperatur dingin yang akan membuat tubuh mayat tetap terjaga dengan baik.
Suasana di acara itu ditangisi oleh sanak saudaranya yang tidak rela ditinggalkan oleh orang tercintanya.
Kehebohan yang dibuat kemarin sangat membuat para warga terpukul, walau waktu tidak bisa di putar balik agar semua orang terhindar dari pertarungan itu tapi tetap saja bencana itu ternyata sama mengerikannya dengan ratusan orang yang di jadikan budak.
Entahlah....bagaimanapun, sekarang semuanya sudah terjadi.
Yang sudah terjadi biarlah terjadi.
Lalu kalau diingat kembali, kelompok Black Foxy juga sudah pergi dari desa itu dengan membawa benda yang di incarnya yaitu batu meteorit, walaupun pada awalnya ada perdebatan besar dengan pemimpin kesatria Nikhil Knights sampai beradu mulut dan aura membunuh dari kedua orang yang sama-sama pemimpin, namun akhirnya ada kesepakatan kecil, dan kesepakatannya itu adalah tidak boleh ada penyusupan untuk kedua kalinya dari kelompok manapun dari wilayah Bahamut, lalu jika barang yang diambil dari wilayah kekaisaran Linstone itu justru digunakan untuk menyerang wilayahnya maka kekaisaran juga tidak akan tinggal diam, selain berperang juga akan memusnahkan semua siapapun yang masuk ke dalam kelompok Black Foxy.
Setelah upacara bela sungkawa itu, semuanya mulai berbenah membereskan sisa puing-puing dari rumah yang rusak, lalu setelah itu Danie pun pergi ke loteng dimana ia menempatkan senjatanya disana, mengemas alias merombaknya menjadi bagian-bagian kecil sehingga dapat ia bawa dengan mudah.
Baru 4 hari setelahnya barulah mereka mengurusi beberapa masalah sebelum bertolak balik ke ibu kota.
[ Itulah tragedi demi tragedi yang aku jalani selama misi pertama sebagai pendeta?...yah...aku masih tidak menganggap diriku itu adalah pendeta. Setidaknya itulah yang aku yakini saat ini ]
" Lalu....tanganku sedikit kebas "
Memegang tangan kanannya yang sedikit nyeri. Faktanya karena baru pertama kali melawan orang dengan pedang, apatah lagi melawan beberapa kesatria, jadi secara dasar karena tingkat kebiasaan kesatria yang melawan dengan pedang dengan dirinya yang baru pertama kali menggunakan pedang, maka itulah yang terjadi. Perfelangan tangannya nyeri, ya...walaupun bisa ia obati sendiri.
Setelah menyelesaikan berbagai urusan yang ada di desa Jacilky, mereka semua kembali ke istana.
Dalam perjalanan mereka hanya terdiam tanpa ada pembicaraan apapun.
Tidak ada pergerakan dari musuhnya Danie, itu adalah kebruntungannya sendiri setelah lelah menyelesaikan tugasnya selama seminggu di luar ibu kota.
Setelahnya, sehari setelah mereka sampai, semuanya di beri libur selama sehari.
Setidaknya sebelum menghadap raja kembali, mereka sudah dalam keadaan semangat yang bagus.
" Tidak sia-sia aku mengutusmu, semua masalah langsung selesai walaupun pendeta Doutevs terbunuh oleh pendeta Danie. "
Tutur raja, lepas memanggil beberapa orang seperti Duke, Danie, Karl, dan Alan.
" Bagaimana caranya kamu membunuh seorang pendeta kepercayaanku? "
Tatapan mata dari raja mengarah langsung ke tempat dimana Danie berdiri.
" Maafkan saya yang mulia, saya benar-benar tidak mengingat rinci kejadian saat saya dikendalikan oleh sihir itu " Jawab Danie dengan sopan.
__ADS_1
" Begitu...." suasananya seketika hening, namun keheningan itu menentukan apa yang harus dilakukan rajanya pada Danie yang membunuh pendeta kepercayaannya walaupun itu adalah hal yang tidak disengaja.
" Baiklah, aku putuskan kamu tinggal di tempat suci Abner. Aku tidak mempermasalahkan kesalahanmu kali ini, setidaknya tidak untuk yang kedua kali. Beberapa bulan lagi merupakan perang Beysil, dengan keberadaanmu aku rasa akan memperkecil kematian para kesatria. Yah aku harap itu tidak terjadi, setidaknya dengan adanya kamu maka tingkat untuk menyembuhkan para kesatria yang terluka akan semakin cepat "
Danie hanya bisa mendengarkan apa yang raja itu katakan, setidaknya untuk kali ini tidak ada hukuman yang diterimanya.
[ Setidaknya selamat tinggal kesatria-kesatria tampan ]
Jujur saja, sebagai Danie yang merupakan perempuan...selama ini dirinya hanya bisa mengagumi orang-orang yang menjadi kesatria.
Jubah yang menawan, postur yang terlihat gagah sangat menggambarkan kalau mereka itu kuat, serta wajah yang tampan itu sangat nyaman untuk di pandang lama-lama..ya kan?.
Penilaian Danie terhadap para kesatria tentu sangat tinggi , bagaimana tidak...kesatria digunakan untuk melindungi daerah kekuasaan sehingga memiliki integritas serta kemauan dan keyakinan yang kuat. Jadi mereka memiliki pengetahuan dari berbagai aspek seperti bela diri, insting yang kuat, dan lainnya dan penilaian Danie pada dirinya yang dulu sangat bertolak balik, memiliki seonggok anak buah yang hanya memiliki bela diri tingkat dasar, menggertak lawan dan hanya bisa menarik pelatuknya saja, tentu hal membosankan dan terlihat menyedihkan bukan?.
Hanya memiliki kemauan kuat ikut bergabung sebagai mafia?...tidak ada gunanya juga jika tidak memiliki kemampuan yang tinggi, hanya mengandalkan hati yang dipaksakan demi secercah uang kertas yang bisa dibakar dengan mudah...itu adalah hal yang naif jika pada akhirnya bisa mati dengan mudah hanya sekali tembak.
Baiklah, ketepikan masa lalunya itu, karena sekarang ia berada di tempat yang sangat jauh berbeda dengan dunianya yang dulu.
**********
Di perjalanan, seorang gadis yang memiliki penampilan layaknya pria namun menawan itu, dikirim ke tempat suci Abner di ibu kota, tempat yang sama dimana markas kesatria suci juga ada di ibu kota.
Keduanya saling berhubungan, dan setiap peperangan yang terjadi, maka pendeta dari Abner juga tidak ketinggalan untuk ikut serta dalam peperangan tersebut untuk menolong kesatria yang terluka.
Hari dimana Danie menuju ke tempat suci Abner, dia malah didampingi oleh Elvin.
Yang entah kenapa mau turun tangan sendiri mengantarkan Danie ke tempat suci.
Keduanya jalan bersama melewati pasar serta puluhan gedung pemerintahan, awalnya mereka berdua diam saja, lagi pula apa yang harus dibicarakan?, Danie juga malas mencari topik pembicaraan karena terkadang berbicara panjang lebar itu tidak ada gunanya.
Walaupun begitu, dalam pikirannya kini ia bertanya-tanya kenapa pemimpin kesatria suci mengantarkan dirinya secara langsung.
Beberapa kali Danie melirik kesamping, melihat sosok laki-laki idaman semua wanita, bagaimana tidak, Elvin mungkin satu-satunya orang yang bisa disebut paling menawan karena selain tampan, Elvin juga memiliki hati yang baik dan selalu berpikiran positif pada orang yang disekitarnya, menjunjung tinggi nilai keadilan, seorang putra mahkota lalu dari pada itu orang penting nomor dua yang memiliki kekuasaan serta harta yang melimpah.
Jarang-jarang menemukan pria seperti ini di zaman modern, terkadang seorang menteri saja sudah bersikap angkuh dan sombong namun sebagai pewaris takhta kerajaan, Elvin adalah sosok yang sempurna, semua yang ada di dalam dirinya Elvin itu ada, dan pantas menduduki takhta selanjutnya.
Karena Elvin sadar Danie miliriknya untuk beberapa kali, Elvin pun akhirnya bersuara walaupun pandangannya menatap kedepan.
" Apa ada sesuatu di wajah saya? "
Tutur Elvin dengan bahasa formal.
" Tidak "
[ apa sudah puas melihat wajahku yang tampan? ] , tentu hal ini tidak biasa, yah...untuk beberapa alasan, Danie berani memuji Elvin.
[ Kenapa ada pria seperti dia di sini (lebih tepatnya 'pria tampan disampingku') ]
Tapi pada akhirnya, dalam hati serta pikirannya hanya mengagumi sosoknya yang kelewat sempurna itu.
Hati untuk memilikinya tentu ada, namun terkadang hanya dengan mengagumi saja sudah lebih dari cukup sebagai objek penghibur diri dan pencuci mata.
" Kenapa anda yang mengantarku? "
".......? , apakah pendeta keberatan? "
" Uhm...tidak, tapi- " Walaupun Danie berkata tidak, namun sebenarnya iya, karena keberadaan Elvin brrsamanya dan apatah lagi brrjalan di tengah-tengah masyarakat, tentunya hal itu menarik perhatian orang sekitar. Banyak pasang mata yang melihatnya walaupun mereka mencoba menghiraukannya.
Tentu saja mereka semua tahu siapa Elvin, tapi bagi mereka sosok Elvin sebagai pitra mahkota maka tidak ada yang berani mengusiknya. Inilah satu pertanyaan kenapa?...biasanya jika seorang idola berjalan tepat didepan mereka maka dengan agresifnya mereka akan mengejar buruannya, namun yang satu ini justru tidak.
" Musim dingin akan datang dua bulan lagi, apa yang akan pendeta lakukan? "
" Lakukan?...tentu bekerja sebagai pendeta kan? "
" Maksud saya, ketika musim dingin tiba semua pekerjaan dilakukan selama setengah hari, apa yang akan ada lakukan di tiap waktu luang anda? "
" Itu.... "
[ Kenapa menanyakan hal seperti itu? ]
" Entahlah....lagi pula waktu masih lama, jadi saya belum berpikir sampai kesitu "
" Apa anda tidak senang dengan titah dari raja?. Memindahkan pendeta ke tempat suci Abner. "
Pertanyaan itu sekejap membuat Danie menghentikan langkah kakinya.
" Hh..saya sudah mengatakan dari awal, sebenarnya saya tidak menginginkan menjadi seorang pendeta "
Elvin ikut menghentikan langkahnya, lalu sedikit menoleh ke arah Danie.
" Kenapa, apa alasannya? "
__ADS_1
" Alasannya........, hanya tidak suka "
Jawab Danie secara terang-terangan.
"Lalu kenapa anda menerimanya begitu saja?" Tanya Elvin sekali lagi, sambil mendongakkan kepalanya ka atas.
[ Apa ada yang salah dengan perkataanku? ]
Danie mulai menimbang-nimbang apa yang salah dengan dirinya sehingga Elvin bersikap seolah-olah tidak puas dengan jawabannya.
" Karena beliaulah, maka bukannya saya harus menurutinya? "
[ yah..tidak juga sih, ada manfaatnya jika aku masuk ke tempat suci sebagai pendeta, setidaknya bisa berlatih mengobati diri sendiri ]
" Apa karena status maka anda tidak berani menolak perintah raja? "
" Mengenai ini, Raja sendiri yang menaruh harapan pada saya agar bisa menjadi pendeta untuk melatih kekuatan suci, dan karena beberapa bulan lagi akan ada perang Beysil, bukankah saya yang juga turut andil dalam perang tersebut maka saya juga harus bisa membantu para kesatria yang membutuhkan pertolongan dari kekuatan 'Heal' dari para pendeta dan termasuk saya? "
" Jadi, setelah perang itu, anda tidak akan menjadi pendeta lagi ? "
" Kenapa anda berkata begitu? "
" Raja bilang menempatkan anda di tempat suci Abner, setidaknya untuk melatih kekuatan suci milik pendeta karena perang yang sebentar lagi akan berlangsung, berarti pendeta hanya ditugaskan untuk diperang Beysil saja? "
[ Hmm.....dia berusaha memahami ucapan raja sampai kesitu? ]
" Mungkin iya "
".............."
[ Apa-apaan dengan raut wajah yang tidak suka itu? ]
"..............?"
Danie mulai frustasi, bagaiamana tidak frustasi coba, kedua orang yaitu Duke dan Elvin sama-sama orang yang sulit dipahami.
Berbicara dengan mereka berdua sama saja seperti melewati labirin.
Karena pikirannya yang melayang kemana-mana, tanpa sadar Danie menggeleng-nggeleng kepalanya.
" Kami mengandalkanmu pendeta " tetibe Elvin tersenyum ramah, senyuman yang membuat orang disekitarnya menjadi sejuk.
" Ah...ya "
" Kita masuk "
[ Ah ..rupanya sudah sampai ]
Dari situlah Danie masuk ke tempat suci Abner dan kebetulan bisa bertemu dengan pendeta agung disana.
Selagi menunggu Elvin dan pendeta agung selesai berbicara ia mencoba melihat pemandangan si sekitar halaman di sekelilingnya, karena ia baru pertama kali menginjakkan ke tempat suci.
Bangunan bernuansa seperti museum di eropa, pilar yang tinggi lagikan besar berdiri dengan kokoh disana, sudah seperti istana abad pertengahan.
Ada taman yang hijau tepat di depan bangunan, selain itu banyak orang-orang berlalu lalang khas dengan baju pendeta yang mereka kenakan.
" Terima kasih pemimpin kesatria, saya sangat terhormat dengan kedatangan anda kesini " ucap pendeta agung abner.
" Kalau begitu saya pamit dulu "
Setelah mengundurkan diri dari hadapan pendeta agung, Elvin berjalan mendekat ke arah Danie.
" Pendeta sudah bisa tinggal disini, semua biaya sudah ditanggung kami. Jika ada waktu luang anda bisa mampir ke tempat kesatria suci berlatih "
" Kenapa anda menawarkan hal semacam itu pada saya? "Tanya Danie..
" Bukankah ketika di istana, pendeta sering melihat para kesatria berlatih di tempat latihan? . Karena sekarang pendeta sudah tidak berada di dalam istana, anda bisa mengunjungi tempat latihan kami yang ada di ujung jalan sana " Elvin menunjuk ke sebuah bangunan yang lebih tinggi dari pada bangunan lainnya, melihatnya saja sudah tahu tempatnya dimana karena dapat terlihat dengan jelas.
Kalau dari samping saja terlihat itu adalah bangunan semacam hotel, berarti itu adalah asrama untuk kesatria.
Bagaimanapun jumlah kesatria itu banyak, sehingga tidak hanya ada di dalam istana saja, namun diluar istana pun ada juga. Anggap saja itu adalah cabang dari markas utama.
[ Kenapa dia bisa tahu? ]
" Baiklah, terima kasih atas tawaran anda "
Jawab Danie secara singkat.
Setelah kepergian Elvin, Danie di panggil oleh pendeta agung yang tadi.
Ia mengantarkan Danie secara langsung kamar yang akan ditinggalinya itu, serta diberi buku yang berisi peraturan di tempat suci itu.
__ADS_1
Karena hari pertama masuk, maka ia masih bebas untuk berkeliling agar lebih mengenal dengan suasana barunya.