Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Awal Yang Berakhir


__ADS_3

Suasana benar-benar hening selain gemuruh hujan dan petir yang sedari tadi datang tanpa henti.


Dia yang awalnya terpejam, mulai membuka matanya kembali.


Seperti yang di kira, di sisinya kini seseorang sedang terbaring tanpa rasa waspada sama sekali.


Dengan punggung yang kecil itu, perempuan ini sudah melakukan banyak hal yang bisa di ampu tubuh itu.


" Hahhh.... " Dania merubah posisi tidurnya jadi telentang dan termasuk dengan tangannya yang bergerak hampir menimpa kepalanya Everst.


Jika tidak segera menghindar, kepalanya pasti sudah di jadikan bantal tangannya.


[.......................] Everst masih menatapnya dengan taapan datar, sebuah wajah damai terukir di depan matanya, kepolosan yang tidak akan pernah orang lain lihat selain dirinya, sekalipun beberapa waktu lalu manusia bernama Erich itu tak terkecuali juga.


[ Wanita keras kepala. ]


Dengan ujung bulu sayapnya, dia segera mengusik perempuan yang sedang tidur ini dengan menggelitik bagian hidung itu.


Yang menjadi korban, langsung menggerak-gerakkan mulutnya, sampai-sampai mengerucutkan bibirnya, di akhiri sebuah lengan tangan kiri yang langsung bergerak, mengusap hidungnya yang gatal itu.


Burung ini terlihat menikmati keusilannya sendiri, mengerahkan kejahilannya lagi dengan menggelitik bagian telinga.


" Eh....." tangan kanannya segera terangkat, sampai akhirnya...


GREP............


Menangkap tubuh itu masuk ke dalam dekapannya lagi dengan erat.


" UHH......!. " Tapi Dania yang merasakan rahangnya di tekan dengan kuat, membuatnya langsung tersadar dari tidur lelapnya.


Everst yang tidak ingin di peluk dalam posisi tidur itu, melawan dengan merentangkan sayap sebelah kanannya ke bagian rahang gadis ini.


Sontak, Dania membelalakkan matanya.


" Apa...yang kamu lakukan?. "


masih berusaha melirik ke bawah, tapi tidak bisa, sebab rahangnya terus di tekan ke atas.


[ Apa lagi, jika bukan menghalangimu memelukku dalam tidurmu. ]


[...................]


" Salah...sendiri, mengganggu..tidur-ku. "


jawab Dania sembari menahan kuatnya tekanan dari sayap burung ini.


{ ......................} Everst yang tidak dapat menyanggah, terdiam sambil menunggu gadis ini melepaskan pelukan itu, atau......


Punya banyak akal agar bisa melepaskan diri dari pelukannya, sorotan matanya diam-diam menatap ke arah lain.


PLUK......


"...............! " Seketika itu wajah Dania sedikit tersipu merah setelah melihat salah satu kaki dari burung ini mendarat ke sisi dadanya sebelah kanan.


" Ah...! " Menahan sedikit suara desahannya, tangan kanannya segera mendorong tubuh Everst dengan kuat hingga....


BRAKK...


Everst yang terdorong ke belakang hendak menabrak lemari yang berdiri di sebrang kasur, ke dua kakinya segera bereaksi mendarat ke permukaan pintu, meski mengakibatkan suara yang sedikit mengusik telinga, tapi dia tetap berakhir selamat dengan kesigapannya selepas mendaratkan tubuhnya ke atas lantai.


Dan lain hal dengan Dania yang malah memasang ekspresi melongo dengan ke dua pipi yang sebenarnya sudah tersipu, sambil menyilangkan ke dua tangannya, di depan dadanya dalam artian untuk tidak menyentuhnya. Dia menatap burung coklat yang sedang berdiri di depan lemari.


" Ka-kakimu itu...." Dania langsung menahan kata-katanya.


[ Tadi...itu...sangat menggelikan. ] wajahnya segera muram, dia kesal dengan tindakan Everst yang tidak terduga itu, sampai-sampai dirinya ( Dania ) kembali merasakan sensasi geli aneh itu. Jika kakinya bergerak sedikit lagi, suara ******* menggoda tidak akan keluar, karena justru akan tergantikan dengan suara tawa geli yang keras.


{ Ada apa dengan kakiku?. } Everst yang pura-pura tidak tahu, membuat ekspresi burung polos, sambil mengangkat satu kaki sebelah kiri dan melihat kakinya sendiri sambil membuka tutup jari-jari dengan cakar tajamnya itu secacra perlahan.


[ Bu-burung ini..........!. ] tidak bisa berkata-kata dengan tingkah Everst yang tidak merasa bersalah dan tidak tahu malu itu, Dania langsung turun dari kasur dan berusaha untuk menangkap lagi burung coklat ini.


Secara....emosinya jadi terpancing dengan perbuatannya Everst.


Tapi keberadaan dua sayap itu lah membuat burung ini susah untuk di tangkap meski berada di dalam kamar.


Sampai akhirnya......


Ke dua pintu kaca, terbuka lebar.


" Jangan pergi!. " Pintanya, tapi sayangnya Everst sudah terbang pergi darinya.


{ Aku ada urusan mendesak. }


Kata terakhirnya sebelum kehilangan sosoknya, diantara gerimis yang masih terjadi walau sudah dini hari.


"....................."


Dania yang hanya menggapai angin kosong, hanya menatap ke dua pintu yang masih terbuka itu.


Dia secara tiba-tiba di tinggal pergi lagi!.


" Kenapa.... " tuturnya dengan nada lirih.


Entah kenapa, rasa kesalnya menghilang dan justru langusng tergantikan dengan rasa rindu yang berdampingan dengan kesepiannya lagi.


Padahal belum lama bersama, tapi lagi-lagi di tinggal dengan alasan kesibukannya sendiri.


*********


Di suatu tempat yang jauh, dengan lokasi tempat yang tidak banyak di ketahui oleh orang banyak.

__ADS_1


" Apa sudah hampir selesai?. " tanya pria berusia awal 40 tahunan ini kepada seorang wanita yang sedang duduk di balik meja kerja, tepat di depan sana.


Dan tepat di bawah, depan meja kerjanya itu sudah terjejer 10 kotak dengan tumpukan amplop coklat dengan sebuah cap stempel berwarna merah.


" 100 nama lagi. " jawabnya, dengan tangan kiri tidak berhenti mengerjakan tugasnya untuk menulis, menggoreskan tinta di atas kertas tersebut.


Menuliskan nama yang dia dapatkan dari daftar nama yang tersusun di kertas lainnya.


Setelah selesai, kertas tersebut di tumpuk di sebuah kotak, lalu pelayan yang dari tadi berdiri di sampingnya, lngsung mengambil kotak tersebut dan membawanya ke depan pria yang tengah duduk di sofa.


Pria itu memasukkan tiap kertas yang dia ambil ke dalam sebuah amplop dan menutupnya dengan sebuah cap stempel.


" Sepele, tapi melelahkan juga. " ucap laki-laki ini sambil menghela nafas pelan. Dia melakukan pekerjaan ringan tapi harus di penuhi kesabaran besar.


" Kamu pikir aku tidak lelah?. Tanganku sudah mulai gemetar gara-gara surat sebanyak ini. " keluhnya. Wanita ini meskipun berwajah datar, tapi usahanya untuk terus menulis masih ada sekalipun bukti nyatanya tangan kirinya gemetaran.


" Oh...ya, ku dengar tahun ini akan lebih menarik dari pada tahun-tahun sebelum. Aku jadi tidak sabar, melihat keberadaan murid baru dari ras manusia dan iblis di jadikan dalam satu tempat yang sama. Apa mereka bisa akur atau terus bermusuhan?. " ucapnya lagi, dari pada hanya berada di keheningan, dia lebih suka berbicara mengenai topik yang berkaitan langsung dengan surat yang sedang dia masukkan ke dalam amplop.


TAK.....


Menempelkan stempel di atas lilin merah dan hasilnya lilin tersebut langsung mempunyai pola yang sesuai dengan stempel itu sendiri.


Setelahnya, dia meletakkan surat itu ke dalam kotak lagi.


" Dan menariknya, meski mereka di tampung di tempat yang sama, seragam yang mereka gunakan akan menjadi indentitas mereka sendiri. " lanjutnya.


" Ck..sistem yang tidak berguna. " perempuan ini berdecih tidak suka.


Apa yang tidak suka dari ucapan laki-laki di depan sana adalah, bahwa di tahun ini ada tambahan seragam baru, dan seragam baru untuk murid kali ini adalah berwarna putih.


Warna yang menunjukkan perbedaan status mereka selain dari ras dan kasta mereka.


Tapi sekalipun seragam menjadi penentu status mereka saat sudah masuk ke Academy, hanya saja kemampuanlah yang paling di utamakan.


Semua itu...benar, surat yang dia tulis ini ada hubungannya dengan pembicaraan tadi. Surat undangan yang di peruntukan untuk para kandidat sebuah Acadmy.


" Tarse. "


" Ya nyonya. " menoleh ke belekang dan segera pergi menghadap wanita yang sedang menulis itu.


" Bawa semua surat ini, dan mulai lakukan pengantaran ke alamat semua kandidat, gunakan burung itu sebagai burung pengantar pesan. "


" Baik nyonya. " menuruti keinginan atasannya, perempuan ini mulai melakukan tugasnya.


Dan dalam 1 jam itu, 100 surat yang tersisa akhirnya selesai. Menyusul semua surat sebelumnya.


Di antar ke alamat tujuan sesuai nama yang sudah tercantum di dalam surat.


Sang burung hantu pun harus bekerja ekstra keras.


KUU~.......


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


CTANG...............


" Arrghh.......!. "


" Hah.....hah......hah......" Menatap lawannya dengan ekspresi tidak tertarik, membiarkan lawan tandingnya terkapar di tanah dengan cedera di beberapa bagian tubuh, perempuan ini berkata.


" Bagaimana bisa kalian masuk sebagai kesatria keluargaku jika kemampuan kalian saja lemah seperti ini?. " tanyanya dengan nada dingin. Dia kemudian menoleh ke belakang dan melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


" Apa penyeleksiannya selonggar ini?. Aku jadi punya aturan baru untuk kalian semua, jika tidak ada yang bisa mengalahkanku, artinya tidak lulus!. "


" Apa.....nona?!. Anda tidak bisa seperti itu, semua kandidat yang terpilih ini adalah keputusan yang sudah di ambil oleh tuan besar. " sela pria berseragam butler ini kepada nona muda. Nona yang sudah berhasil bertanding mengalahkan 9 orang pria sekaligus dalam ayunan pedang.


Kesal dengan kalimat yang terlontar dari mulut butler pribadinya, gadis muda ini berkata lagi.


" Apa yang di lihat oleh ayahku?!, mereka semua lemah, dan kalah dari aku yang seorang perem-..........." kata-katanya langsung terhenti, dan kembali menatap mereka semua yang sudah terkapar di tanah.


" Atau kalian menahan diri hanya karena aku perempuan?!. "


Semua orang terdiam.


Tentu saja....iya, mana mungkin mereka bisa menyakiti nona muda ini.


Tetapi, itulah yang membuatnya semakin kesal dengan mereka semua yang ada di sana, dan langsung membuang pedangnya ke sembarang tempat.


Sampai-sampai ujung pedang itu menancap ke tanah dan hampir membuat pria yang duduk di tanah karena kalah tanding dengan nona muda tadi, langsung kelabakan untuk sedikit mundur ke belakang dan melebarkan ke dua kakinya, sebelum pedang itu mendarat, dan benar-benar memotong juniornya!.


[ H-hampir saja. ] batin pria ini, sambil menjadi bahan pusat perhatian mereka semua.


Sang butler ini pergi mengejar nona muda, mengekori gadis yang sedang marah tanpa sebab itu.


" Nona!. " panggil butler ini kepada nona yang ada di depannya.


" Pergilah, jangan mengikutiku!. " teriaknya.


Dan terus saja membuat langkah cepat dan lebar, menuju bangunan megah itu.


SYUHT........


Sebuah bayangan cepat, melewati kepala mereka berdua.


Ketika mendongak ke atas, sayangnya mereka kalah cepat dengan makhluk tadi.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


Di lantai dua mansion, seorang pria sedang berdiri di dekat tiang, sambil melihat anak perempuannya bertindak seolah sedang mengamuk. Dan pelampiasannya adalah para kesatria baru yang belum lama pria ini kerjakan.


" Dia menuruni gen ibunya. " mulutnya bergumam, melihat anaknya marah kepada orang lain yang tidak bersalah itu.


[ Hanya karena kalah darinya, bukan berarti mereka semua lemah. Aku memperkerjakannya karena mereka punya kemampuannya masing-masing, dan sisanya hanya perlu melatih mereka lebih ketat. Tapi.......... ] Pria ini merenung, anak ke duanya itu lebih keras kepala. Hanya memandang seseorang dari sebelah mata saja.


KEPAK.........


Laki-laki ini langsung menarik kembali segala pemikirannya setelah seekor burung hantu mendarat di sebelahnya.


Melihat ada surat di paruhnya, dia segera mengambilnya dan hal yang pertama kali dia lihat adalah cap stempel itu.


Dahinya mengerut penasaran, sebuah cap stempel yang sangat langka karena hanya pernah melihatnya ari gambar yang ada di buku yang pernah dia baca, dia dapatkan dari surat yang di bawakan oleh burung hantu ini?.


Menghapus rasa penasarannya itu, dia segera mengambil sebuah belati yang sering dia bawa di belakang pinggangnya.


Menggunakan belati itu untuk membuka lilin yang melekat di atas penutup amplop itu.


Setelah terbuka, lantas dia keluarkan kertas tersebut dan mulai membacanya.


".........................."


[ Ini...........]


Sebuah pertimbangan besar langsung menghantui pemikiran dari laki-laki ini. Tak sengaja melihat anaknya yang sudah muncul dan berada di ujung lorong, dia segera memasukkan lagi kertas itu ke dalam amplop dan memasukkannya ke dalam saku jas nya.


Dan burung hantu itu bergegas pergi dari tempatnya.


[ Anak seperti dia, bisa mendapatkan kesempatan seperti ini?. ]


Fikirnya. Tepat di jarak 20 meter, dia segera memanggil gadis itu, yang tidak lain adalah anaknya.


" Berna. " panggilnya.


Si empu langsung memberhentikan langkahnya, melihat sang ayah tiba-tiba memanggil namamya dengan sedikit keras.


Sangat jarang namanya di panggil, tapi kali ini......tatapan serius dari pria yang notabennya adalah ayahnya, menjadi sebuah jawaban untuk gadis berambut orange ini, bahwa apa yang hendak di sampaika oleh ayahnya, pasti adalah suatu hal yang sangat penting.


" Ikutlah ke ruanganku. " lanjutnya.


Meski belum tahu apa itu, tapi gadis yang di panggil Berna ini, segera pergi menuju tempat yang di maksud ayahnya itu.


Meninggalkan butler itu sendirian di tengah koridor, sampai tak sengaja butler itu melihat seekor burung hantu sedang menatap tuan dan nona dengan mata bulat berwarna kuning itu.

__ADS_1


__ADS_2