Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pencarian buku


__ADS_3

Pukul 11 malam.


" Yang mulia, apa anda tidak khawatir dengan tuan muda? " Benjamin dan Marsha sudah mulai risau sebab tuan muda nya belum kunjung kembali setelah pergi dari pagi tadi.


Apa lagi hanya ditemani satu pengawal dan hari juga sudah mulai malam.


" Ada Claporth, kesatria yang sudah lama menjagaku selama aku kecil. Siapa yang meragukan kemampuannya? "


KRIEETTT......( Suara pintu yang terbuka )


Semua orang mengalihkan pandangannya ke bawah yaitu lantai satu, terlihat ada dua orang masuk dan berjalan bersama.


Kedua orang itu sudah memiliki raut wajah yang begitu letih.


Marsha bergegas turun kebawah untuk menyambut kepulangan mereka berdua.


" Tuan muda, apa anda mau makan malam? "


" Terima kasih nenek, tapi aku ingin tidur " jawab Eldania dengan nada yang lirih bagai kehilangan tenaga untuk bicara.


[ Selera makan ku sudah menghilang dari tadi ]


Langkahnya pun sudah berat ditambah dengan kantuknya yang sudah di tingkat maksimal.


" Kalau begitu nenek siapkan air mandi saja, tubuh anda perlu rileks " Marsha


" Baik nek "


Dengan buru - buru Marsha pergi ke lantai dua untuk menyiapkan air mandi di ikuti Eldania.


Lepas keduanya pergi barulah Claporth berjalan melapor pada Archduke yang dari tadi memperhatikan dirinya dan mereka semua yang dilihatnya.


" Apa kamu suka jalan-jalan dengannya? " mencoba menyindir temannya sekaligus kesatria kepercayaannya.


Claporth melipatkan kedua tangannya di depan dada sambil bersender pada tiang penyangga istana lalu berbicara..


" Hhhh.....jalan-jalan apanya" mulai mengacak rambutnya sendiri yang berwarna merah.


" Adik angkatmu lebih seperti penggila buku sihir. Semua buku di rak nomor 11 dari lantai satu sampai 3 sudah selesai dibaca semua, aku sampai sedikit menggila juga mengembalikan buku-buku itu "


Archduke menjawab


" He... biasanya kamu mengambil nyawa manusia tapi hari ini mengembalikan nyawa buku. Sangat menarik kan? " kepalanya mendongak ke atas memperhatikan lampu kristal berwarna putih, dan itu terpantul alias terlihat jelas di manik matanya.


[ Memang gila, sayangnya aku tidak melihatnya langsung. Melihat dia membaca puluhan atau ratusan buku, apa wajah kesal atau wajah mengantuk saking bosannya ]


" Besok sepertinya kamu harus menemani dia lagi "


" Apa?, sebenarnya anak itu siapanya kamu sampai orang luar sipertinya diberi gelar "


" Dia....adalah orang yang unik, tidak akan menarik jika membiarkan pemeran utamanya pergi dari skenario yang sudah berjalan sepertujuh naskah yang sudah diperankannya"


[ Sudah 15 tahun dengannya, tapi tetap saja aku masih belum mengerti jalan pikirannya ]

__ADS_1


Dari kecil berumur 6 tahun sudah bersama dengan Archduke, maka dari itu dirinya sudah menganggap Arch seperti saudaranya sendiri walaupun sebenarnya dia adalah majikannya, maka dari itu bahasa seperti tadi sudah seperti bahasa keseharian, setidaknya ketika di dalam istana saja.


******


[ Apa yang terjadi dengannya?, aku tidak bisa merasakan auranya yang biasanya. Hanya sedikit saja yang bisa kurasakan. Aku harus kembali ke rumah itu ]


Satu hewan terbang lebih tinggi dari yang biasanya, tinggi dan lebih tinggi dari gumpalan awan yang membawa setumpukan salju yang dingin. Di atas sana ada terik matahari yang bersinar dan berbanding terbalik dengan yang ada di bawah, dimana semua daratan tertutup salju putih.


Kedua matanya yang tajam menjeling ke berbagai tempat, untuk menemukan orang yang dicarinya.


[ Terpaksa harus meninggalkan wilayahku lagi, ini sudah melebihi waktu yang sudah aku perkirakan. ]


Jam demi jam dia tempuh, dan sudah 4 hari Everst terbang mengarungi angkasa, lalu hari ini adalah hari ke limanya ia terbang, terbang kembali ke sisi tuannya sekaligus rival, itu yang dikatakan tuannya.


Tat kala dirinya menikmati angin yang bergerak menyentuh semua bulunya saat terbang, tidak sengaja dirinya melihat seseorang yang sangat dikenalinya. Aura, bau, dan karakteristik yang sangat ia ketahui siapa pemilikinya, secara langsung Everst terbang lebih rendah dan terus rendah.


[ Apa aku tidak salah lihat? ] ditatapnya secara tejam ke arah bawah, dua orang sedang berjalan menuju suatu bangunan yang memiliki size lebih besar ketimbang bangunan di sekitarnya.


Satu orang dewasa dan satunya lagi anak kecil.


Ketika ada satu angin yang menerjang mereka bertiga, secara mengejutkan bagi Everst yaitu melihat seorang yang memakai tudung kepala yang berwarna biru tua itu terbuka dan menampakkan wajah aslinya dan itu adalah.


[ Eldania?. Kenapa menjadi anak kecil? ]


" Sebaiknya kita cepat masuk " pinta Claporth pada Eldania.


Akhirnya keduanya berjalan lebih cepat masuk ke dalam perpustakaan.


Hari ke dua baginya, berkunjung ke perpustakaan.


[ Tatapan mereka sangat menekanku ]


Eldania berjalan menuju Lift, seperti lift yang pernah ia gunakan sewaktu ketika dahulu di kehidupan sebelumnya, hanya saja perbedaan antara yang dirinya rasakan sekarang adalah lift kali ini menggunakan sihir teleportasi. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Scarlet akan menemani dan membantu semua yang diperlukan pengunjung VIP kali ini.


Sekarang lantai yang akan di kunjunginya adalah lantai 7.


Seperti sebelumnya...


[ Membaca semuanya, ternyata walau hanya membaca sekilas aku bisa memahami isinya juga ] Atau hanya dengan memukul bukunya ke kepala maka semua isinya langsung masuk ke dalam kepala juga, hanya bercanda karena tidak terjadi juga.


[ Rak nomor 11 baris ke 10 warna abu-abu?. Warna abu-abu, kalau begitu aku sepertinya sedikit menemukan petunjuk ] seketika buku yang dibacanya langsung di tutup. Scarlet yang meengetahui tuan muda itu berhenti membaca, dirinya berjalan mendekat dan mencoba bertanya karena tidak biasanya menghentikan aktivitas membaca ketika belum menyelesaikannya ke halaman terakhir.


" Apa ada yang diperlukan lagi? "


" Aku hanya ingin tanya satu hal "


" Ya? " Scarlet penasaran, selain rasa heran yang tidak masuk akal karena tuan muda berusia 6 tahunan itu bertingkah layaknya orang dewasa, kini dirinya merasakan hal yang tidak enak.


" Apa gedung ini hanya memiliki 9 lantai? " masih menundukkan kepaalanya.


Claporth tidak tahu mau berkata apa, jelas-jelas dari sudut manapun perpustakaan Muzelan memang memiliki 9 lantai, tapi tuan muda berkata seolah-olah gedung tersebut memiliki lebih dari 9 lantai.


" Benar, apa ada masalah? "

__ADS_1


" Bisakah anda membawaku ke loteng? "


" Lo..loteng?, untuk apa anda pergi kesana?, di..sana tidak ada a..papun " jawab Scarlet dengan gugup, dan raut wajah yang cemas.


Justru ekspresi seperti itulah Jawaban untuk dirinya.


Walaupun Lady Scarlet mengatakan tidak tapi justru sebaliknya.


Namun Eldania hanya memberikan tatapan datar tanpa mengatakan apapun, membuat Scarlet merasakan perasaan tidak enak dan menjadi tertekan.


" Tuan duke sudah memberiku izin " Mengeluarkan kalung dari baju dan memperlihatkannya kepada Scarlet.


" Baiklah " dengan pasrah tanpa mencoba menghalanginya lagi, Scarlet mau menuruti perintah pemuda kecil ini, karena dari barang yang dibawanya saja sudah menunjukkan bukan sembarangan orang.


Beberapa hal harus diberitahu seperti tidak bisa membawa buku keluar dari loteng itu sendiri karena siapapun pasti menginginkan buku itu sendiri, dan kedua jika ingin mempraktekkannya maka sudah ada ruang khusus sendiri namun sihir yang digunakan juga harus disetujui oleh scarlet adakah percobaan sihir itu akan membuat celaka orang atau pun tidak, dan satu hal lagi adalah tidak boleh memberitahu siapapun. Apatah lagi Scarlet tidak percaya jika ada satu orang yang tahu keberadaan satu tempat yaitu loteng, padahal jika bangunan perpustakaan dilihat oleh orang biasa maka yang mereka lihat adalah gedung 9 lantai tanpa atap, namun..


[ Orang yang bisa melihat ada satu lantai lagi yaitu loteng yang merupakan atap perpustakaan ini sendiri, pasti bukanlah manusia biasa. Apa dia ini penyihir? ]


Beberapa prosedur sudah di lewati dan akhirnya mereka berdua bisa berada di depan pintu kayu berwarna coklat yang terlihat sudah tua, Claporth sendiri berjaga di lantai 9.


[ Aku hanya mengiranya saja tapi, ternyata benar-benar ada satu tempat lagi ]


Setelah membuka pintu tersebut, nampak ada 20 rak buku lebih berbaris dengan rapi dan urutannya sesuai angka juga tidak ada yang lainnya lagi seperti yang ada di lantai bawah yang dimana setiap satu angka akan ada angka yang sama dengan abjad yang berbeda( A-Z ).


Setelah berjalan menelusuri mana rak bernomor 11, akhirnya rak tersebut bisa di temukan dengan mudahnya, namun yang menjadi masalahnya hanyalah setelah menemukan buku yang di jumpainya, letak buku tersebut ada di paling atas.


Scarlet membantu mengambilkan buku yang ditunjuk anak muda itu, dengan menaiki tangga buku berwarna abu-abu namun saking lamanya disimpan dan tidak ada seorang pun yang menyentuhnya maka dari itu banyak debu yang menempel di sisi buku itu.


" Terima kasih untuk selama ini " menerima buku yang diberikan Scarlet.


" Sudah menjadi kewajiban saya disini. "


Setelah mendapatkan buku itu, ia langsung segera membaca isi dari buku yang berjudul Misteri hutan fronder, hutan yang ternyata adalah tempat dirinya dulu tinggal, hutan misteri yang merupakan wilayah bebas.


1 jam kemudian.


Saking tebalnya buku, ratusan halaman yang sudah dibaca ternyata masih menyisakan sisa ratusan halaman lagi, bisa dibilang baru seperempat halaman yang sudah Eldania baca.


Isinya hanya bercerita tentang sejarah kenapa hutan tersebut menjadi wilayah netral dari semua kerajaan atau pun kekaisaran di sekitar, lalu ada mitos jika di dalam hutan ada satu hewan yang tinggal disitu dan hewan tersebut adalah hasil kutukan dari seorang penyihir.


Karena tidak ada yang pernah lihat sosok dari wujud hewan tersebut, maka tidak ada gambar yang tergambar di kertas. Puluhan lembar sudah berlalu ia baca lalu lembaran baru ia buka dan mendapatkan petunjuk penting.


Di situ ada satu gambar yaitu lukisan sebuah air terjun.


[ Air terjun di hutan Fronder? ] disitu mengisahkan kalau tempat dimana air yang terjatuh dari ketinggian akan selalu memiliki percikan air yang menyebar ke sekitar dan yang menjadi inti dari isi bacaan tersebut kalau air terjun itu selalu di kelilingi kabut putih yang tebal, bagai awan yang terjatuh dari langit dan terperangkap disitu selamanya.


[ Dingin, putih, sejuk, hati terdalam dari manusia sejati yang inginan merasakan kisah kehidupan saat kecil bisa terulang dengan melewati ku. ] Dirinya mulai berfikir dan sedikit menemukan jawaban alasan kenapa tubuhnya menjadi anak kecil, alasannya sepele yaitu karena melewati awan dari air terjun yang ada di hutan Fronder.


Kebetulan sebab dirinya terjatuh ke sungai maka dari itu ia hanyut sampai ke hilir sungai.


[ Jadi untuk mengembalikanku ke ukuran normal maka..........] jari telunjuknya terus bergerak lurus ke kanan dan turun ke bawah, kedua matanya menatap semua kalimat dengan serius agar tidak ada yang terlewat walaupun satu kata saja, setelah puluhan detik berlalu akhirnya jarinya terhenti dengan sebuah kalimat..


" Pergi ke arah berlawanan?. "

__ADS_1


[ Jadi..maksudnya aku harus kembali kesana dan caranya harus melewanti awan itu dari arah sebaliknya dari bawah ke atas? ]


" SAJA?! "


__ADS_2