
"Hhhhh.....,lelahnya"membaringkan diri di atas rumput hijau,dan kantung kertas berisi daging bakar yang tadi di kasih dari paman yang ia tolong.
Disela-sela tidur siangnya,karena angin kala itu sengatlah sejuk,apatah lagi berteduh di bawah pohon dan beredekatan dengan sebuah danau pinggir hutan,seekor burung yang sedari tadi mengumpat alias bersembunyi di saku baju milik Danie akhirnya mengeluarkan diri dari sana. Kemudian terbang bebas ke angkasa meninggalkan sosok manusia yang beberapa hari lalu menolongnya.
Dalam waktu 1 jam,rupanya burung kecil itu terbang kembali dengan membawakan sebuah batu kecil berwarna biru yang didapatinya di hutan yang ia kunjungi hari ini yaitu Hutan Malam.
Batu itu seukuran kulit kacang,ia bawa dengan paruhnya,kemudia ia mendarat tepat di atas salah satu lengan yang kebetulan digunakan untuk menutupi kedua mata Danie.
Kelakuan burung itu tidaklah sopan,karena kebetulan juga mulut Danie sedikit terbuka saat tidur ,kesempatan itu ia guanakan untuk memasukkan batu kecil tersebut masuk kedalam mulutnya.
"Arhmmm...."
Kletak.....kletuk.....kletak.....kletuk....
Suara yang mengerikan ketika Batu itu dikunyah dengan gigi,namun benar-benar hancur dan justru tanpa disadarinya malah ditelan habis.
Burung tadi sedikit menggigil karena suara yang nyaring lagi menggelikan.
Karena keseimbangannya tidak terjaga,ia terjatuh dan tubuh burung yang mungil itu menghempap menyentuh hidung dan bibir Danie.
"Hachhuumm...!"bersin karena hidungnya yang gatal.
Disaat yang sama burung Everst terpental ke belakang,namun segera mengembangkan kedua sayapnya,setelahnya langsung pergi terbang tinggi.
"Ha..chhummm...."bersin untuk yang kedua kalinya terus langsung bangun karena sudah tidak bisa tidur lagi.
Namun tekak dia terasa gatal seperti sudah memakan serbuk maupun kerikil dan ada yang masih menyangkut di tenggorokannya,kebeutulan karena didepannya ada danau,dia meminum air danau itu.
[Ahh...segar,pemandangannya memang indah kalau disore hari]
Karena untuk sebuah kenangan,jadi dia mengeluarkan smartphone nya untuk mengabadikan momen yang jarang ia lihat. Hanya bisa melihat dari sela-srla rumah bangunan merupakan hal yanh sering ia lihat,jadi karena sekarang kebetulan ada di twmpat yang pemandangannya indah jadi ia tidak akan sungkan lagi untuk memotret dirinya.
Kemudian setelah itu ia berniat untuk pulang,walaupun..
[Huhm....sudah habis?]
Entah ada yang mengambilnya atau tidak,Ayam bakar yang dibawanya sudah tinggal tersisa kantong kertas yang kosong.
Hanya meninggalkan tulang saja.
__ADS_1
Ia abaikan saja apa yang terjadi hari ini,sekarang yang dipikirannya adalah pulang.
Ketika pulang Danie sengaja mampir ke toko butik.
"Selamat datang tuan?,apa ada yang bisa saya bantu?"sambut salah satu pelayan toko.
"Apa ada gaun model terbaru?"
"Wah..,ada pelanggan baru"dari atas muncul seorang perempuan cantik dengan gaun berwarna hitam bercorak mereah,sama halnya lipstik yang digunakannya juga warna merah sedangkan topi yang dikenakannya berwarna merah juga namun ada bunga sebagai aksesoris berwarna hitam di campur manik-manik berwarna putih silver. Tidak lupa dengan kipas lipat yang dipegangnya,mengesankan wanita cantik dan anggun.
[ Madam atau Lady ]Danie tahu dengan melihat gaya pakaian yang seperti itu,maka beliau sering dipanggil seperti itu.
"Terima kasih atas sambutan dari nyonya"
"Perkenalkan saya adalah Ellora Chalian,panggil saya Lady Ellora" Lady Ellora berjalan mendekat ke arah Danie berdiri,lalu berkeliling memutar untuk memperhatikan Danie dari depan sampai belakang,lalu dari atas sampai bawah.
"Saya pemilik butik ini,apa gaun yang kamu inginkan itu untuk kekasihmu?"
[Err....apa aku setampan dan mirip seperti pria beneran?]
"Bukan,saya ingin menghadiahkannya sebagai hadiah ulang tahun"
"Ambilkan beberapa gaun yang terbaru"
"Ta.."
Tak selang beberapa lama ada 5 jenis gaun yang indah namun terlalu glamor(berlebihan).
"Pilihlah.."
"Maaf Lady Ellora,hanya saja saya ingin mendesainnya sendiri. Apakah bisa?"
Semuanya terkejut,baru kali ini ada pelanggan yang ingin dibuatkan gaun hasil desainnya sendiri.
"Oh...boleh,sangat bisa.Fina..ambilkan kertas dan pensil"
Setelah menerima alat tulis,Danie menggambarnya hanya berdasarkan intuisi.
Hanya dalam waktu beberapa menit saja,dia sudah selesai dan menyerahkan pada Lady Ellora.
__ADS_1
"Ini....ini...hasil yang sangat bagus!,sangat berbeda dengan trend saat ini.tuan memang berbakat. Tapi...ukuran dada,lingkar pinggang dan pinggul ini,apa kamu ini jenis pria yang sering memyentuh perempuan?"puji dan tebak Lady Ellora setelah meneliti gambar yang dilihatnya.
"Emm....itu hanya perkiraanku saja" Dengan malu menahan tawa,Danie memalingkan wajahnya ke tempat lain sembari menutup bibirnya dengan jari telunjuk seperti orang berpikir.
"Ini...sekalian baju musim dingin"menyerahkan selembar lagi pada Lady Ellora,walau pandangannya bukan tertuju pada Lady Ellora.
"Pfft..baiklah,desain milikmu sangat bagus,bolehkah aku membuatnya masing-masing dua setel untuk toko milikku?. Mungkin saja ada yang berminat"
"Terserah Lady,saya tidak begitu memikirkan hal seperti itu"
[Karena di zamanku,desai seperti itu ada banyak,jadi aku tidak peduli]
"Hohoho.....anda tuan yang pemalu yah?,dalam seminggu pasti sudah jadi. Tapi...aku harus memanggilmu siapa?"tanyanya lagi.
"Danie,saya bekerja di istana. Jika setelah seminggu saya tidak kunjung kemari,bisakah Lady mengirimkan seseorang untuk mengantarkannya?"
"Tentu,kehormatanku bisa memiliki pelanggan baru yang memiliki potensi yang tinggi bisa mendesai baju untuk sahabat sendiri." Lady Ellora memberikan sketsa tadi pada asistennya yang sudah membawa sebuah dokumen,lalu dia menyerahkannya pada Danie untuk tanda tangan sebagai tanda pemesanan serta pelanggan khusus untuk Lady sendiri.
"Untuk harganya?"
"Bisa dipikirkan ketika sudah siap"menerima kembali dokumen yang sudah ditandatangani Danie.
"Oh...bisakah tuan Danie ini tinggal disini sebantar,menemaniku minum teh bersama?"
"Terima kasih,sepertinya lain waktu saja"
[Saat menggoda pria,dia lebih mengerikan ketimbang penyihir di hutan 3 hari yang lalu]
Danie berundur kebelakang.
"Yahh...,sampai jumpa satu minggu lagi sayang"melambai-lambai pada Danie sembari salah satu tangannya mengibar kipas lipatnya lagi untuk menutup setengah wajahnya.
[ Akhirnya aku bisa keluar ] menghela nafas lega,lalu yang selanjutnya adalah..
"Eh...dimana burung Everst itu?"
[Mungkin sudah kabur,ya sudahlah]mengendikkan bahu tidak mau tau.
*****
__ADS_1