
Tidak sampai 5 menit, mereka semua mulai berjalan bersama ke daerah perbatasan sebelah barat.
[ Sepertinya ini akan menjadi perjalanan mudah? ] Fikir Danie.
Dirinya berjalan bersama orang-orang yang tidak ia kenal karena di sekitarnya adalah pendeta dari tempat suci yang lain.
Sudi atau tidaknya, Danie lebih mementingkan berjalan mendahului pendeta lain.
Hanya saja yang tidak pernah ia pikirkan adalah, semua pasukan harus melewati barisan gunung berbahaya di perbatasan barat yang terbentang ratusan puncak gunung.
Danie mangatur alur nafasnya sembari berpikir kalau dirinya.
[ Sekarang ini aku sedang pergi ke medan perang atau kamp latihan? ]
6 jam kemudian.
Satu persatu, bebatuan di lereng ia injak demi menadaki gunung.
" Cih...sial, sial " Danie mulai merutuki dirinya.
" Walaupun aku tahu ini terjal, tapi aku tidak menyangka akan seterjal ini ! "
《 4 hari menuju medan perang ( Baru gunung ke dua) 》
Selain perjalanan di gunung, semua berjalan dengan lancar. Setelah naik gunung mereka semua beristirahat di benteng wilayah perbatasan.
Para kesatria memeriksa keadaan dari tempat itu sebelum pergi ke medan perang, lalu....
MERAMPAS BENTENG ITU KEMBALI!
Lalu setelah serangan mereka di lancarkan, yang terluka hanya dua orang saja, jadi tidak perlu khawatir.
Danie melihat kedua kesatria suci yang terluka dari sisi lain.
[ Ternyata lebih mudah menang dari perkiraanku? ] fikirnya lagi sembari minum air.
4 Hari berjalan sebaik itu. Lalu terus, terus dan terus naik gunung.
Melewati lembah yang terjal dan berbahaya, walaupun tidak ada yang mengeluh, namun pada nyatanya hati mereka semua kesal akan lelah perjalanan yang harus menaiki puluhan gunung.
" Hahh.... " Danie menghela nafas untuk kesekian kalinya.
[ Sepertinya keadaan ekonomi Beysil sangat buruk, sampai mereka memutuskan untuk menyebrangi pegunungan berbahaya seperti ini dan berperang?. Di saat tidak memiliki uang sama sekali, masuk akal memilih untuk menyerang benteng pertahanan di sebelah mereka yang lengah. Tapi sayang sekali, kenapa mereka harus menargetkan Linstone?. Padahal sudah 100 tahun, Linstone tidak bisa di taklukkan. Apakah mereka sungguh bodoh, memilih menggali lubang kuburannya sendiri? ]
Lalu Danie tiba-tiba menepuk dahinya sendiri.
[ Apa-apaan ini,apa karena tidak ada kerjaan lain selain naik gunung, aku bahkan sampai mengkhawatirkan kerajaan lain juga ]
" Ada apa denganmu? " Tanya Keylin pada Danie.
" Aku hanya berpikir, kapan perang ini akan selesai. "Padahal bukan itu yang sedang di pikirkan Danie.
" Baru 5 hari. Apa kamu sudah ingin pulang? "
" Tentu saja. "
" Wah...sepertinya kamu tidak memikirkan 300 emas itu, kenapa tidak mundur saja saat pendeta agung bertanya siapa yang tidak ingin pergi "
" Ini adalah perintah khusus padaku, yang tidak bisa sembarangan di tolak dengan alasan punya uang atau apapun itu "
[ Tapi karena ini adalah perintah raja sendiri ] sambung Danie di dalam otaknya.
《 Seperti apa pekerjaan Healer ketika ikut berperang?. 》
Menungu sampai para prajurit kembali setelah mengecek keadaan di depan.
" Selama ini kita melakukan apa saja? " Tanya Danie pada Keylin.
" Jalan-jalan? " jawabnya sembari duduk menunggu para kesatria.
__ADS_1
Mengobati para prajurit yang sudah kembali.
Tetapi karena biasanya Healer dari Abnert yang melakukan pengobatan pada para prajurit, membuat para pemdeta dari tempat lain merasa canggung.
Setelah perjalanandi depan di pastikan aman, semuanya mulai bergerak bersama.
Begitulah keseharian para Healer ketika ikut berperang.
" Katanya sampai gunung ini, pengintaiannya tidak begitu sulit. Tapi mulai gunung berikutnya akan lebih susah " Beritahu Keylin pada Danie, karena hanya dia satu-satunya orang yang dekat dengannya walaupun Danie terkdang bersikap acuh.
" Begitu, sepertinya selain terjal, juga banyak gua tersembunyi disana " Jawab Danie sambil memeluk tas gendongnya.
[ Dan berarti kali ini sudah harus mulai waspada jika ada serangan mendadak ]
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya mereka semua beristirahat di tenda darurat.
" Hari ini pun pendeta Abner terlihat kompak ya " tutur salah satu orang jauh di belakang Danie yang edamg duduk sendirian di batang pohon yang terjatuh.
[ Masuk akal jika mereka kompak karena satu geng ]
Lalu tidak sengaja Danie melihat pendeta yang dulu pernah mengobati dirinya ketika di akademi kesatria suci,yaitu pendeta Barsi.
Orang yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun.
*****
Keesokan harinya.
" Hoammhh..... " Menguap besar setelah bangun dari tidurnya.
" Hari ini juga tinggi sekali "
[ Dibanding ikut perang dengan kesatria, ini jauh lebih masalah untukku ] Baru keluar dari tenda sudah di hadapkan puluhan gunung yang menjulang tinggi, untuk semingguini, hal ini sudah menjadi bagian dari makanan sehari-harinya.
" Cepat, Cepat..panggil Pendeta! "
Teriak salah seorang prajurit.
" Di sini! "
" Di sini, pendeta ! "
" Di sini juga! "
Bertambah 3 orang lagi dan lagi.
[ Sudah kuduga, akan ada serangan
mendadak ]
Danie mulai bekerja tanpa perlu di panggil, karena tidak akan ada yang memanggil nama orang dari pendeta itu sendiri kecuali yang memang sudah terkenal seperti...
" Dimana pendeta Barsi! "
" Pendeta Basi tidak ada di tempat, karena ada urusan lain "
" Pendeta lain cepat kesini! "
Teriak orang-orang yang sudah mulai kalang kabut melihat temannya terluka parah sebab serangan dari pihak musuh.
" Tolong minggir!, biar saya yang- "
Tiba-tiba Barsi muncul dan berteriak.
" Pendeta Renesha! " Satu suara yang Danie kenal yaitu pemimpin kesatria suci ( Elvin )
__ADS_1
Membuat semua orang terdiam, dan Barsi juga turut diam setelah mendengar nama yang disebutkan Elvin.
" Ya? "
" Tolong obai dia, pendeta " Pintanya pada Renesha yang merupaka pendeta dari tempat suci Elnur.
" Pe, pemimpin..saya bisa mengobatinya " Seru Barsi.
" Iya, tentu pendeta Barsi juga bisa mengibatinya, namun akan lebih efisien jika pemdeta Renesha yang mengobatinya "
Ok...sepertinya sosok Danie menjadi angin lalu disana, dan hanya mendengar rintihan kesatria yang terluka.
Danie tidak menganggapnya serius, toh raja hanya menyuruhnya ikut dan membantu, jadi Danie hanya melakukan tugasnya tanpa harus mendapat permintaan dari kalangan pemimpin atau seseorang yang mengetahui dirinya juga memiliki kekuatan suci yang besar.
Gosip pun mungkin akan beredar,karena Renesha yang merupakan dari Elnur dimintai oleh Elvin untuk mengobati bawahannya yang terluka.
Tapi Danie tahu kalau Barsi yang merupakan orang yang sering ikut berperang dengan kesatria, memiliki pengalaman lebib banyak di banding orang lain, dan merupakan sosok yang menjadi pusat perhatian banyak orang, kini di permalukan oleh pendeta dari tempat kecil.
Harga diri yang dimiliknya pasti terluka.
[ Bagaimanapun, Barsi merupakan orang genius, tapi kalau bersama dengan 20 orang genius lainnya, si genius hanya akan jadi orang biasa saja ]
Fikir Danie, setelah melihat raut wajah Barsi setelah di tolak oleh Elvin si pangeran tampan itu.
" Pendeta Danie, terima kasih " ucap sang kesatria yang barusan disembuhkan oleh Danie.
" Hm..bukan masalah, jangan sungkan panggil namaku langsung " jawab Danie memberikan kode pada orang di depannya untuk memanggil namamya ketimbang julukan
' pendeta '
Setelah mengobati semua kesatria yang terluka, akhirnya ia bisa makan.
Boleh dikatakan kalau dirinya seorang yang lebih suka menyendiri, lepas mengambil jatah makanan, Danie langsung pergi menjauh dari geng Abner yang hanya mementingkan kawannya sendiri.
" Apa mereka tidak berpikir kalau perbuatannya itu sangat kekanak-kanakan? "
Bagaimana tidak?, melihat orang dari tempat yang sama( Abner) melakukan tindakan
' pemalakan ' pada orang lain dari tempat lain yaitu Renesha. Mengambil jatah roti milik orang lain, itu hanya akan menjadi olok-olokannya sendiri.
Hanya karena masalah permintaan Elvin pada Renesha untuk mengobati, para pendeta dari Abner tidak ingin tinggal diam dengan membalaskan dendam dengan cara seperti itu.
Di nampannya hanya ada sup dan roti juga, walau tidak sebegitu enak tapi harus dimakan juga.
Makanan yang paling sederhana setelah meninggalkan kota.
KRAUKK....KRAUKK...KRAUKK....
Lalu datanglah Keylin, duduk bersama dengan Danie yang sedang memakan..
" Dari mana kamu mendapatkan apel? " Tanya Keylin melihat Danie sedang memakan apel merah dengan nikmatnya, padahal Keylin merasa tidak ada pohon apel di gunung yang sudah mereka lewati bersama.
" Mau? " Mencoba menawari temannya apakah mau makan apel juga atau tidak.
Mana ada orang yang tidak mau makanan lain ketika menu makanan yang disediakan tidak membuatnya berselera makan.
Jadi Keylin mengangguk iya, lepas meletakkan nampannya di atas pahanya.
Beberapa saat Keylin hanya melihat Danie mengayunkan telapak tangan kanannya ke atas dan ke bawah lalu..
PLUKK....
" Nah " memberinya satu buah apel yang sama besar dengan yang dimankannya.
Keylin terbengong tidak percaya, seolah-olah tadi itu adalah sihir, namun karena kedatanagn sang apel dari atas, jadi Keylin mendongakkan kepalanya ke atas dan hanya ada burung yang terbang pergi.
" Mau atau tidak?, jika tidak akan aku ma- "
" Jangan...jangan, sudah seminggu ini tidak makan yang enak, ini jauh berharga " Langsung merebut Apel dari tangan Danie.
[ Apa burung tadi yang memberikan Apel pada orang ini? ] tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya barusan.
Tapi setidaknya sekarang ada buah yang enak untuk dimakan.
__ADS_1