
Di dalam rantai kehidupan selalu ada cinta dan kasih sayang. Kasih sayang adalah bagian yang tidak akan bisa di pisahkan dari kehidupan, seseorang yang berharga yang pantas di lindungi adalah salah satu contoh umum, banyak yang melakukannya. Lalu cinta ?, cinta adalah bentuk dari rasa suka yang perlahan tumbuh pada hati seseorang, ingin melindungi dan tidak mau berpisah walaupun sesaat dan sesuatu yang akan membuat orang tersebut merasa senang jika kekasihnya ada di dekatnya, tapi perasaan cinta yang berlebihan akan menjadi petaka dari orang yang dia sukai, kenapa?.
' Terkekang ', perasaan cemburu yang tinggi akan membuat kalimat terkekang adalah hal yang paling tepat, karena akan membatasi pasangannya dalam bertindak.
Dalam perjalanan pulang, untuk mengisi rasa kosong di perutnya, ia mampir ke sebuah restoran. Restoran yang memperbolehkan hewan masuk dan ikut bersama dengan majikan masing-masing.
Tatkala menunggu makanannya datang, ia diperlihatkan oleh beberapa pasang kekasih yang terlihat sedang berkencan lalu menggandeng tangan dan mengutarakan perasaan sayangnya pada pasangannya itu.
Dengan salah satu tangannya menyangga dagu, ia berkata sembari menatap orang yang sedang bercinta itu.
" Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian. Beberapa orang, menjalin cinta adalah hal yang merepotkan. "
[ Apa-apan bocah ini?, malah mengatakaan cinta-cinta diusianya yang baru segitu ]
" Apa anda perlu sesuatu yang lain? "
" Tidak " ketusnya, tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Tak berapa lama kemudian sang pelayan restoran datang dengan membawa semua pesanan yang tadi sudah di pesan.
" Maaf menunggu lama, silahkan dinikmati "
Meletakkan satu-persatu piring dan mangkuk ke atas meja.
" Terima kasih " jawab Claporth.
Dengan sepenuh hati pelayan tadi menunduk hormat sebelum pergi.
Claporth hanya duduk memandang dua makhluk di depannya, yang satu sedang berdiri dengan menyantap spageti dan yang satunya lagi menyantap daging sapi yaitu steak.
[ Aku baru melihat pemandangan seperti ini ]
Merasa di perhatikan Claporth, ia menghentikan makan dan bertanya.
" Apa kesatria tidak ingin makan juga? "
" Tidak, saya hanya merasa burung itu terlihat
akrab dengan anda "
Kata akrab lantas membuat Everst berhenti makan lalu melompat dari meja ke pangkuan Claporth.
{ Orang ini sedang mengagumi sosok ku yang menawan ini } tatap Everst dengan mendongakkan kepalanya ke atas lalu memiringkan kepalanya.
" Dari pada itu sepertinya dia suka dengan kesatria " jawab Dania.
{ Apa!, mana mungkin!. }
Sebelum satu elusan telapak tangan Calporth mendarat di atas tubuhnya, Everst segera menghindar dan naik ke meja kembali.
Kata-kata tadi berbanding terbalik dengan yang sekarang didapatinya.
[ Anak ini memang benar ada hubungan dengan burung ini ]
" Justru sebaliknya, dia tidak menyukai saya " jawab dengan sopan.
" Begitu, oh ya....apa kesatria punya kekasih? " tanyanya tanpa merasa bersalah.
Bagaimana juga restoran yang sedang di kunjunginya adalah restoran yang dimana hari ini pengunjungnya rata-rata adalah pasangan kekasih, namun di sisi lain justru ketua dari kesatria Efran malah duduk bersanding dengan budak kecil dan seekor burung.
" Seperti yang anda katakan beberapa saat lalu, cinta itu memang merepotkan dari pada mengurusi wanita yang banyak maunya lebih baik menjalani lekerjaan saya menjadi kesatrua" sebenarnya dari awal dirinya memang belum pernah memiliki kekasih layaknya orang normal, walau begitu lagi pun baru berusia 22 tahun jadi menikmati pekerjaannya menjadi kesatria di bandingkan mencari pasangan adalah hal yang memang masih wajar.
Satu hal lagi kalau pun masih jomblo tapi kenapa seorang anak kecil malah membawa dirinya ke jamuan makan yang kebanyakan sedang berdua-duaan dan bermesraan.
[ Aduh, kenapa harus di saat seperti ini ] perasaan yang tidak bisa ditahankan, yaitu ingin kencing.
" Bisakah anda tunggu disini "
" Tenang, aku bukan anak kecil yang akan berkeliaran tanpa arah. Selama itu tidak ada hubungannya denganku, aku tak kan menyia-nyiakan tenagaku untuk ikut campur " karena menunggu adalah hal yang biasa, dan lagi pula sedang makan enak, jadi siapa yang mau meninggalkan macam-macam hidangan yang sudah ada di depan mata?.
[ Ucapannya memang tidak sesuai dengan umurnya ]
" Saya pergi dulu " Claporth berlalu pergi.
" Hmm. " masih memasukkan sesuap daging ke dalam mulutnya.
[ Kenapa Archduke menyuruhku menjaga anak ingusan itu lagi. Satu hal lagi tingkah lakuknya tidak sesuai dengan umurnya, sangat mengganggu ] fikir Claporth selagi melangkah menjauh menuju toilet.
4 menit kemudian.
" Jika dia memang bertingkah layaknya orang dewasa dan menepati janjinya untuk tidak merepotkanku, dia harusnya masih di tempat yang sama " gumam Claporth di tengah-tengah perjalanannya kembali ke tempat awal.
Beberapa pengunjung mulai keluar karena urusannya selesai, sehingga tempat juga sudah agak sepi.
Di tempat dimana kedua makhluk tadi sedang makan.
Mereka berdua nyatanya sudah mulai menghabiskan makanannya masing-masing, lalu tidak sengaja di bagian belakang atau lebih tepatnya kursi di belakangnya ada dua orang sedang asik bencengkrama antara laki-laki dan perempuan.
Laki-laki tadi menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna ungu dengan garis berwarna emas pada wanita tersebut.
Dengan raut wajah penasaran sekaligus senang terpancar dari orang yang di duga kekasihnya itu, ia dengan ragu-ragu menermia pemberian dari orang yang ada di depannya.
Setelah di buka, rupanya berisi sebuah kalung dengan bandul yang merupakan jenis kristal Amber.
" Ini kan mahal? "
" Tidak ada yang terasa mahal kecuali dirimu, aku bantu pasangkan " tutur pria tersebut, lalu berdiri dan menghampiri wanitanya dengan salah satu tangan mengambil kalung tadi dan mulai memasangkan kalung tersebut pada sang kekasih.
" Sangat cantik " tersenyum tulus.
Si wanita itu pun merasa bahagia bisa dihadiahkan sebuah kalung mahal bagai orang yang tidak pernah mendapatkan kalung tersebut vahkan jika bekerja seumur hidupnya.
Lalu pria itu mengambil sebuah kotak kecil lagi dari dalam sakunya.
[ Apa orang di belakangku akan menembak kekasihnya? ] karena penasaran sebab dari tadi hanya bisa mendengar uantaian kalimat mesra, maka dari itu Dania memutar kepalanya ke belakang.
" Apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku untuk selamanya? " tutur sang pria, menembak kekasih hatinya.
"...............................-..........., A....aku mau " jawabnya dengan wajah malu.
Lepas ucapan kalimat menerima ajakan dari sang pria, pria itu mengambil satu cincin dan ia pasangkan di jari manis kekasihnya.
[ Seumur hidup baru pertama kali bisa melihat momen sedang menembak pasangannya ]
" Hmmmm? " tiba-tiba salah satu alisnya terangkat karena menemukan hal tidak terduga.
{ Jangan membuat senyum jahat }
Tiba-tiba Everst bersuara sebab Dania mengukir senyuman yang tidak karuan.
[ Jangan mengganggu, aku baru menemukan pemandangan yang langka. Lihat, mereka berdua sedang berciuman ] melirik ke Everst sebentar sebelum kembali ke tempat dimana ia menemukan pemandangan orang sedang berciuman, Everst sendiri akhirnya langsung menghabiskan makanannya yang tadi dan segera memutar kepalanya ke tempat yang di maksud.
{ Rhm.., apa kamu pernah melakukannya juga? }
Tanya Everst selagi memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Namun tidak ada jawaban yang diterimanya, maka dari itu Everst kembali melirik orang yang tadi ia tanyai dan rupanya, yang dilakukan rivalnya itu sekarang adalah berdiri menggunakan lututnya di atas bangku dan memandang kedua mempelai yang sedang berciuman tepat di depannya ( kebetulan posisi kedua orang itu ada di belakang meja makan Dania pesan )
[...............]
" Rhmm.......ciuman yang bergairah " ucap Dania namun dengan satu telapak tangan menutup mulutnya sendiri, karena sedang menahan sanyum dan tawa geli.
__ADS_1
Mendengar kalimat tadi, lantas kedua orang tersebut kaget dan melirik ke tempat dimana orang tadi mengatakan
' ciuman yang bergairah '. Mereka mendapatkan sepasang mata berwarna ruby tengah memperhatikan dirinya beserta kekasihnya.
" A..ah..maaf " kata wanita tersebut sebab merasa bersalah, membuat pemandangan tak senonoh tepat di depan anak kecil.
" Kamu mengganggu sekali " tapi lain hal dengan pria ini, ia merasa terganggu karena tidak dapat memuaskan sedikit nafsunya.
" Dari pada itu, kakak yang cantik, sebaiknya anda berhati-hati dengan abang ini, saya hanya berasumsi mungkin saja abang ini seudah punya pendamping hidup " mencoba memperingatkan sembari tangan kirinya menunjuk pria di sebelah wanita itu.
" Apa maks- "
Sela pria ini dengan cepat.
" Jangan berbicara aneh-aneh, sayang jangan dengarkan anak kecil ini. Dia hanya berbicara seenaknya saja "
[ Yah...sebagai sesama perempuan aku hanya tidak enak dengan wanita ini yang masih polos. Tapi dari pakaiannya juga bukan seorang wanita dari kalangan miskin-miskin juga, hanya saja pria ini... ] tatap Dania pada kakak cantik di depannya.
" Baiklah, saya tidak akan mengganggu anda berdua tapi berhati-hatilah " Danie kembali duduk dengan sopan sambil mengambil secangkir teh, namun tidak dengan Everst.
{ Aku pergi }
[ Pergi ya pergi, toh nanti akan ketemu kembali ] jawab Eldania dengan tenang tanpa mempedulikan Everst.
Toh sudah tau jawabannya akan seperti apa, Everst pun terbang tanpa sepatah kata apa pun meninggalkan rivalnya sendirian, lagi pun dirinya melihat Claport sudah berjalan kembali.
Eldania yang merasa aneh dengan perilaku Everst pun ia biarkan, dan masih menikmati teh hijau yang dipesannya.
Namun di saat menyeruput sejumput air teh dari cangkir tersebut, tiba-tiba...
BYURRRRR.............
" DASAR LAKI-LAKI TIDAK BERGUNA!, AKU PIKIR KAMU PERGI KARENA URUSAN PEKERJAAN. JADI PEKERJAANMU SEPERTI INI! " Teriak satu wanita yang tadi menyiram laki-laki yang duduknya berada tepat dibelakang bangku yang Eldania duduki.
" DAN KAMU!, WANITA MURAHAN!, BERANI-BERANINYA BERKENCAN DAN...WAH...JADI KAMU YANG MEMOROTI HARTAKU! " Langsung menarik kalung yang dipakai wanita tadi.
" Arghhh.. " lumayan sakit jika kalung di tarik paksa dari lehernya.
Dari nada tinggi yang dikeluarkannya saja sudah diketahui bahwa kali ini adalah kasus perselingkuhan antara suami istri.
Istri yang diam-diam memergoki suaminya berselingkuh du belakangnya dan bahkan sampai memberikan kalung dan cincin mahal pada wanita selingkuhannya.
Istri dari pria itu sangat marah dari menyiram wajahnya dengan jus dan menamparnya hingga pipi pun pasti tidak lama lagi akan membengkak.
Malangnya saat istri dari suami tersebut menyiramkan jusnya, secara langsung ternyata bisa pria itu hindari dan akhirnya jus tadi mengenai baju serta rambut Dania bagian belakang bahkan sampai mengotori meja makannya yang tadi sudah kotor oleh Everst kini di tambah kotor dari air jus tersebut.
" Kamu!, berbohong padaku! " sebuah perasaan menyesal sudah melanda hatinya, dengan perasaan yang tidak karuan itulah dengan kasar langsung melepaskan cincinnya dan langsung melemparkannya ke tepat di wajah si pria penipu itu.
Dengan kepala masih menunduk tiba-tiba suara cekikikan terdengar dari mulut Eldania
" Kekk...kekk...kekkk.....kekk..." Eldania mengangkat tangannya sebagai kode untuk memanggil pelayan.
" Saya minta tisu "
" Ba..baiklah " dengan buru-buru si pelayan restoran segera mengambil permintaan tadi.
Ia segera pergi dan mengambil tisu, di saat hendak berbalik tiba-tiba secara tidak sengaja malah menabrak seseorang yang tingginya jauh lebih tinggi dari dirinya.
" Ma..maaf tuan kes- "
" Apa yang terjadi disana? " Dan pria itu adalah kesatria Claporth yang sedang bertanya pada si pelayan.
" Itu...ada suami yang terlibat perselingkuhan dan ketahuan oleh istrinya. Maaf...saya pergi dulu "
Cĺaporth melihat pelayan tadi bergegas pergi ke arah tempat makan yang di pesannya dan itu adalah tuan mudanya, terlihat tepat di belakangnya adalah pertengkaran tiga orang.
Dengan wajah serius Claporth berjalan kembali ke mejanya, tidak...tapi berjalan ke arah wanita yang sedang memarahi suaminya itu.
" Detik ini!, kita cerai!. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumahku! "
" Sepertinya kalian tidak punya sopan santun di belakang anak kecil "
Semua orang pun yang tadinya berbisik dengan pergaduhan sepasang suami istri segera terdiam sebab suara datar nan aura dingin keluar dari tubuh seorang kesatria yang memang sekarang sedang ada di tengah-tengah mereka semua.
" Eh...aku baru sadar kalau di belakangnya ada anak kecil "
" Mereka memang tidak punya sopan santun, bisa-bisanya bertengkar di sini "
" Kasihan dia, aku tadi melihat jus itu langsung menyiram anak itu padahal tadinya ditujukan langsung ke suaminya gara-gara bisa menghindar "
" Yah...mereka bertiga melakukan hak yang salah "
" Dimana manajer kalian?, bawa kesini dan tahan mereka berdua disini sampai bawahanku datang untuk menangkap mereka karena membuat baju tuan muda kotor " ucap Claporth pada salah satu pelayan disitu.
[ Sialan, aku tidak sengaja berurusan dengan tuan muda dari kesatria ini. ]
" Ti..tidak, jangan menangkapku, biarkan pria ini yang ditahan karena mengkhianati saya dan memulai pertengkaran duluan, biarkan saya yang bertanggung jawab pada tuan muda anda dan akan bertanggung jawab pada semua pengunjung disini karena kesalahan saya sudah membuat kalian semua tidak nyaman. " karena di aturan para kesatria Efran akan membawa dan memberikan sanksi pada siapapun yang membuat kerusuhan di ruang publik tanpa pandang bulu sekalipun itu bangsawan, jadi mau tidak mau lebih baik mengakui kesalahannya sendiri sekalian dan bertanggung jawab sepenuhnya karena tadi sempat menyiram air jus pada anak itu.
" Ini tidak masalah " Kata Dania.
" Tapi!- "
" Yang salah tetap salah, membuat keributan disini bukankah hal yang sangat tidak sopan bagi kamu bangsawan yang di hormati rakyatnya? "
" Bi..biar saya yang bertanggung jawab atas baju tuan muda "
[ aku tidak mengira jika dia ini tuan muda dan kesatria itu penjaga dari anak ini ]
Wanita yang menjadi selingkuahan pria tadi pun akhirnya bersuara dan berniat bertanggung jawab pada Eldania.
Claporth hanya menunggu jawaban dari tuannya dan jawabannya diberikan dengan sebuah anggukan kecil.
Dania turun dari kursinya lalu berlalu pergi meninggalkan restoran tersebut di ikuti Claporth dan satu orang lagi.
**********
" Perkenalkan saya Erista Crocus, sebelumnya saya berterima kasih kepada tuan muda... " ucap Erista , wanita selingkuhan yang tadi juga terlibat masalah diantara pasangan suami istri.
" Anda bisa menyebutnya Navi. Tapi kenapa anda berterima kasih padanya? " Claporth pun juga tidak tahu mengapa wanita yang merupakan bangsawan dari keluarga Crocus bisa mengucapkan terima kasih pada tuan mudanya.
" Ini sebab peringatan yang diberikan kepada saya untuk berhati-hati pada pria tadi yang sebelumnya saya anggap akan menjadi kekasih seumur hidupku namun ternyata dia sudah menipu saya. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Navi bisa mengetahui kalau Lewis sudah memiliki istri? "
Rasa penasaran memang ada di dalam pikirannya, karena pria bernama Lewis tadi tidak akan ia sangka kalau dia sudah memiliki istri dan berhasil menipu dirinya(Erista), namun disisi lain anak kecil bernama Navis itu hanya baru kali pertama bertemu malah sudah bisa tahu dan berhasil memperingatkan dirinya.
Claporth juga jadinya memiliki pemikiran yang sama dengan Erista karena tiba-tiba ucapan terima kasih tadi ditunjukkan untuk Navi karena sudah membantunya padahal hanya untuk sebuah peringatan kecil, sepele, namun memiliki nilai yang besar.
Merasa tidak enak di pandangi oleh dua orang yang sama-sama memiliki rasa penasaran yang tinggi, akhirnya ia sedikit bercerita.
" Itu hanya asumsiku saja, di bagian pipi kanannya ada sedikit bekas lipstik yang kemungkinan besar dia dicium oleh seorang wanita, namun karena tahu di pipinya meninggalkan bekas bibir wanita itu, maka dengan pikiran pendeknya dia mengelapnya dengan lengan jas yang kebetulan berwarna ungu. Tentu akan sedikit meninggalkan bekas juga di lengannya, walau samar tapi masih tetap terlihat "
" Bisa saja wanita itu adalah temannya atau siapapun dan bisa saja saya yang menciumnya " ungkap Erista, karena wanita itu ada banyak, maka mana mungkin bisa menbaknya secara garis besar itu adalah perbiatan istrinya.
" Heh?, lipstik milik kakak itu berbeda karena kakak masih muda maka anda juga menggunakan lipstik yang sedikit muda agar tidak mengesankan wanita yang sudah berumur. Mengenai aku bisa tahu kalau dia istrinya tentu saja ada pada jari manisnya. Siapapun yang sudah menikah pasti akan menggunakan cincin di jari, hanya saja dia hanya akan melepas cincin pernikahannya dikala akan bertemu dengan wanita selingkuhannya agar terkesan masih lajang "
Jellas dengan panjang lebar, yang tadinya ingin menjelaskannya dengan singkat tapi malah menjalar panjang.
" Wahh....Navis memang pintar " Erista mengelus-elus kepala Eldania dengan senangnya.
Namun segera ia ketepikan tangan yang sedikit mengganggu itu.
Tapi hal itu tidak mengendurkan senyuman kagum dari wajah Erista.
__ADS_1
Setelah mengganti baju untuk tanggung jawab atas kesalahan yang di perbuatnya sehingga melibatkan orang lain, Erista akhirnya mengantar Navis sampai ke kediaman..
[ A...Archduke?, jadi kesatria ini mendampingin tuan muda Navis dan berasal dari kediaman istana Archduke? ]
Setelah menurunkan keduanya tepat di depan pintu gerbang, Erista lebih memilih untuk pulang.
*********
Setelah kepulangan dua orang ( Dania dan Claporth ) yang lebih cepat dari perkiraan, Eldania meminta untuk menemui Archduke.
Namun nyatanya tadi saat sebelum masuk, Everst ternyata sudah bertengger di pohon lebih dulu dan hal itu membuktikan kalau Everst sudah menunggu kepulangan tuannya.
Sehingga ia membawanya masuk juga dan sama-sama berhadapan dengan Archduke.
Tapi ketika di dalam ruang kerja Archduke, nyatanya sampai 3 menit berlalu tidak ada pembicaraan apapun lagi alias membuat suasana canggung.
" Dari tadi memandangiku, apa aku sudah membuatmu terpesona? " kata Archduke saat memperhatikan satu ekor burung di atas mejanya namun sedar dirinya terus di tatap oleh anak kecil jadi sengaja menggodanya.
"................"
[ Satu lagi, memandangi wajah tampan dia memang asik, tapi hanya sekedar mengagumi sosoknya ini. Percaya diri laki-laki memang tinggi ya? ] buktinya memuji diri sendiri.
[ Wanita ini, apa dia tipe orang yang suka melamun?. ] arah fokusnya sekarang ke budak kecil di depannya, seberang meja. Selama beberapa saat memang menatap dirinya serius jadi terpaksa membuka suaranya kembali.
" Rghmm....., jadi alasanmu datang kesini setelah pulang dari perpustakaan karena ingin kembali ke hutan itu? "
[ Kalau begitu berarti dia sudah menemukan jalan keluar dari permasalahannya sendiri? ]
" Bagaimana caramu menemukan buku itu? " Tanya Archduke kembali pada Nia.
Memang diluar perkiraan belum sampai 5 hari tapi sudah menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang dialami Eldnaia.
Hanya kurang dari waktu dua hari sudah menemukan buku tersebut.
" Hanya insting "
[ Insting?, bagaimana mungkin. Tapi menarik.]
" Bagaimana jika berangkat saja besok. Claporth dan Vidal akan menemanimu. "
" Tapi mereka tidak bisa membantu. " Ketus Nia, alasannya sederhana yaitu tidak bisa membantu dirinya melewati kabut di wilayah air terjun karena permasalahannya adalah melewatinya dari bawah naik ke atas, dan itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan rival nya yang sedang berdiri di atas meja, jadi sia-sia saja jika membawa orang dan satu hal lagi yaitu suhunya juga akan lebih dingin ketimbang tadi.
" Tugas sebagai kakak adalah melindungi adiknya "
Sela Eldania dengan cepat
" Tapi kamu bukan kakak ku " menganggap kakak adalah hal yang tidak mungkin, karena dia seperti
[ justru seperti Ayah?, ayah muda.....hahahah.....aku tidak menyangka dua akan menyebut dirinya sendiri sebagai kakak dari seseorang yang belum dikenali beberapa lama ini. Tapi dari pada itu...... ] riak wajahnya berubah serius, untaian imajinasi dari suatu kemungkinan yang ada dari permasalahan seorang Archduke memberikan gelar pada dirinya( Eldania ) mulai muncul.
[ Mulai lagi ]
" Jika aku bukan kakakmu, dimatamu aku dianggap siapa? "
" Seorang pemuda yang memiliki kekuasaan "
Yah...Sebagai penguasa yang memiliki jabatan tinggi, sepatah dua patah kata bisa menentukan nasib seseorang dengan mudahnya bagai membalikkan telapak tangan, hanya saja orang didepannya itu tidaklah seserakah bangsawan lainnya.
" Tidak kurang dan tidak lebih "
" Bahasamu seolah mengatakan kamu lebih tua dariku ya " sebab dari sudut manapun kalimat ' pemuda ' ditujukan pada orang yang lebih muda dari orang yang mengucapkannya, dan itu ada di depannya, lalu sekali lagi itu adalah hal yang pertama kali ia dengar dari mulut seseorang, karena tida ada satu pun yang mengucapkan kata 'pemuda' untuk dirinya.
".............."
[ Kenyataannya memang begitu ] fikir Dania.
Karena dirasa Eldania tidak ingin ber basa-basi jadi lebih baik mempersingkat waktu permbicaraannya.
" Baik...baik, sepertinya kamu bisa mengurusi permasalahanmu sendiri. Seperti yang pernah aku katakan, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tidak ada yang melarang jika ingin pergi sendirian. Tapi setidaknya aku bisa memberikan ini untukmu bukan?. Baju ini akan menyesuaikan ukuranmu nanti, karena sudah dipasangi sihir jadi setidaknya tidak akan membuat kejadian beberapa hari lalu " tutur Archduke dengan memberikan satu setel baju ke hadapan Eldania.
Yah, lantas kejadian beberapa hari lalu adalah kejadian yang tidak terduga dan itu malah memunculkan memori Eldania yang tadinya sudah mulai ia lupakan namun nyatanya sekarngg tidak bisa.
" Terima kasih "
" Jangan mengatakan terma kasih terus. Pergilah jika ingin pergi sekarang, aku masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan. Tapi satu hal, setidaknya Claporth mengatarmu sampai di pinggiran hutan, Jangan menolak, karena ini perintah "
[ Pada akhirnya dia menggunakan statusnya sebagai alasan agar aku tidak menolaknya. ] detik hati Eldania, jadi dalam beberapa jam kedepan dirinya akan di temani oleh kesatria Claporth.
Walaupun sebenarnya tidak membutuhkannya, tapi karena perintah dari atasannya maka Claporth sendiri tidak bisa mengabaikan kewajibannya itu.
Pada akhirnya setelah perbincangan tadi, setengah jam kemudian dirinya berangkat dengan menggunakan kereta kuda, perjalanan yang dirasa lambat bagai kura-kura atau bahkan lebih tepatnya seperti siput.
Keberadaan kereta kuda sangatlah penting di dunia ini, dari pedagang tingkat rendah hingga seorang bangsawan tingkat atas, namun sebagian besar hal yang paling sering dilakukan oleh para bangsawan tinggi adalah menggunakan teleportasi karena bermanfaat sebagai pengefesiensi waktu perjalanan walaupun harus mengeluarkan jumlah uang yang banyak.
Dari pada itu sekarang, tataplah masa depan jalan menuju kedepan, sebentar lagi kehidupan seorang anak kecil akan berakhir.
Set baju yang tadi di kasih oleh Archduke sudah ia pakai.
Perjalanan hanya di isi dengan memandangi pemandangan di pinggiran jalan, Claporth juga diam karena di dalam aturan bangsawan jabatan yang lebih tinggi lah yang memiliki wewenang untuk berbicara terlebih dahulu.
Walaupun Claporth tau atau lebih tepatnya sadar kalau Navi yang dikenalnya bukanlah bangsawan, tapi dirinya hanya menghormatinya saja.
2 jam kemudian di pinggiran hutan Fronder.
Claporth kembali ke asalnya alias pulang ke ibu kota, sedangkan ke dua makhluk yaitu manusia dan rivalnya berjalan masuk ke hutan untuk mendapatkan kehidupan normalnya.
Hanya saja permasalahannya yang kali ini adalah bukan perasaan takut pada hutan itu, namun kaki pendeknya itu membuat waktu perjalanannya bertambah lama dan hari juga hampir malam.
Jadi satu hal yang bisa mempersingkat urusannya adalah memerintahkan agar dirinya dibawa terbang oleh temannya(Everst).
Boleh boleh saja Everst menerima permitaan tuannya, lagi pula kini dengan ukurannya yang bisa di sesuaikan, ia bisa mengangkat tubuh mungil milik tuannya dan satu hal lagi yaitu...
{ Lebih ringan }
[ Apa itu sebuah sindiran? ] Tanya Eldania pada piaraannya yang sedang membawa dirinya di atas tubuhnya Everst.
{ Aku hanya mengatakan fakta }
[ Oh...ya, urusan mendesak apa sampai 3 bulan baru kembali? ]
[ Heh..kadang-kadang dia memiliki pertanyaan yang polos ]
{ Sudah aku bilang, urusan wilayah kekuasaanku }
Sedikit perbualan yang tidak berarti, hanya untuk mengisi kekosongan dari pertanyaan yang terkadang muncul.
Tidak butuh waktu 10 menit mereka berdua sampai di tempat dimana kabut itu berada. Sesuai perkiraan sebab beberapa hari ini salju sudah turun, suhu di dalam hutan tersebut juga turun drastis. Yang harus dipersiapkan adalah mental dan keyakinannya sendiri, sebab ketika Everst terbang turun dan masuk ke dalam kabut yang ada di atas sungai, kabut tersebut memiliki suhu yang dingin dibawah 0 derajat dan tebakannya adalah 4 derajat celsius.
{ Bersiaplah, aku tahu kondisi dari kabut ini. Apa pun suara itu, jangan pernah menoleh ke belakang } sebuah peringatan ia berikan pada tuannya demi keselamatan. Kabut yang sedang dilaluinya ini ia tahu betul, dari yang diketahuinya kabut ini akan membuat semacam ilusi, siapapun yang melewatinya demi membuat tubuh yang awalnya terkena sihir sehingga menjadi kecil namun ingin kembali normal maka amaran yang ada di kabut ini adalah jangan pernah menoleh kebelakang.
Suatu kenangan dan momen yang tidak dilupakan dari diri seseorang akan menjadi target, suara yang membuat orang tersebut sangat familiar dan terasa persis dengan orang yang di sayaginya namun sebenarnya sudah meninggal atau ditinggal akan menjadi buaian sebuah penggilan agar targetnya menoleh ke belakang, jika itu terjadi maka nahas sudah, kalian akan terjebak di dalam kabut selamanya hingga mati dan tidak akan pernah bisa ditemukan walaupun sudah menjadi mayat atau bahkan menjadi tulang belulang sekali pun.
Maka dari itu, untuk mengantisi pasi hal tersebut yang dilakukannya sekarang adalah fokus ke depan dan berpikir tidak ada seorang pun yang ada di dalam kecuali dirinya dan Everst.
Putih, nan dingin menjadi temannya sekarang. Uap dari nafasnya saja tidak kelihatan apatah lagi pepohonan yang ada di di sekitaran sungai, tidak satu pun yang terlihat sehingga dirinya bagaikan berada di tempat yang luas tanpa adanya penghalang.
Karena tidak ada yang dirindukannya, tidak ada suara aneh yang terdengar.
Tapi itu tadi, karena sekarang suara itu yang menjadi tantangan bagi dirinya untuk menoleh kebelakang sudah mulai bermunculan.
Ok... sebab pikirannya yang ia gunakan sebagai logika penuntun hidupnya hari ini dan detik ini, ia tidak akan bisa terpengaruh.
__ADS_1
Nama yang mereka panggil, rayuan sebuah rintihan meminta pertolongan ataupun bisikan kutukan dari orang-orang yang pernah ia buat sekarat terngiang di telinganya, walaupun berisik tapi logikanya sekarang adalah mereka sudah mati!.
" Mati!, aku tidak akan bisa terpengaruh! " detik hati Eldania sekarang demi meneguhkan hati dan pikiran untuk tidak terkecoh.