
" Kita ke sudut sana. " menunjuk ke bagian meja yang terletak di sudut ruangan, karena disitu tidak banyak orang, jadi bisa bermain sedikit dengan tenang.
" Aku baru pertama kali melihat wajahmu, apa kau orang baru?. "
" Entahlah, aku cuma singgah disini sebentar. "
" Oh...jadi kamu pelancong?. Pilihanmu tepat mampir kesini, pasti butuh uang untuk perjalanan selanjutnya kan?. "
Dania tersenyum tawar dan mennaggapi tebakan dari kakak cantik ini.
" Bisa iya juga bisa bukan. "
" Pfft.....kau mau berpura-pura misterius denganku ya?. Tidak masalah, aku juga tidak ingin tahu lebih dalam, hanya asal tebak. Jadi...kau mau taruhan berapa dulu?. Di dalam judi, kau harus penasan terlebih dahulu kan?, dan aku saingan yang pantas untuk lawan pertamamu. " jelasnya dengan oanjang lebar.
Dari sudut pandangnya, dia wanita yang mudah di ajak bicara, jadi tidak masalah untuk bermain dengannya terlebih dahulu, toh tugasnya untuk menyembuhkan adiknya Arhes sudah selesai.
" Aku taruhan 10 emas dulu. "
" Tidak masalah, aku akan taruhan dua kali lipat dari taruhanmu. "
[ Dia terlalu santai, apa dia mengira aku meang orang yang mudah di permainkan di dalam permainan judi ini?. ]
Dania lagi-lagi melirik wajah cantik wanita di hadapannya itu. Wajah yang cantik, body yang seksi dan bisa di bilang standar untuk ukuran pria normal yang suka body seksi sepertinya.
" Karena kau adalah seorang pendatang, sebaiknya lakukan dengan yang mudah. " dan sebuah cangkir hitam langsung dikeluarkan oleh wanita ini, entah datangnya dari mana tapi di dalam cangkir itu ada 4 buah dadu.
" Ohh!. " Dania tertarik dengan cara bermain ini.
" Ini... " memberikan cangkir kecil itu kepada Dania, lalu wanita ini mengeluarkan cangkir berisi dadu juga.
" Nilai terbesar dialah yang jadi pemenang. Ah..tunggu-tunggu....namaku Sonia. "
" Dania. "
Sonia memandnag Dania sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya dan berkata.
" Benar ini lah yang tadi membuatku penasaran saat melihat punggung, kau ini perempuan atau laki-laki. Ternyata memang perempuan, kalau saja rambutmu pendek, semua orang pasti sudah salah mengira denganmu. Ya sudah......aku sudah membawakan wasit kita, kita mulai saja. "
Sonia dan Dania pun mulai mengocok ke empat dadu, dan berhenti secara serentak.
Pelan-pelan Sonia membuka cangkir yang dalam posisi terbalik itu.
" 4, 6, 6, 5. Total 21. " ucap wasit berpakaian tuxedo itu, setelah melihat hasil milik Sonia.
Kini Dania membukanya, dan..
" 6, 6, 6, 5 . Total 23. Anda yang menang. "
Sonia langsung mendorong 20 keping emas itu ke arah mejanya Dania.
" Kau kali ini beruntung. "
"..............! "
Dania menyeret benyeknya emas yang diberikan oleh Sonia.
" Masih mau lanjut?. " sambil menyeringai layaknya senyuman iblis.
" Tentu saja. Ini sangat menyenangkan. " Melanjutkan permainannya, kini ia bertaruh 40 koin emas.
" Sesuai aturanku tadi, 80. "
Permainan makin menarik karena Sonia untuk pertama kalinya memiliki penantang hebat yang bahkan masih muda.
Sampai 4 ronde, dimana Dania sudah memiliki 1460 keping emas dan kini dia mempertaruhkan semuanya, dan aturan dimana Sonia akan bertaruh 2 kali lipat dari harga taruhannya Dania dan sekarang ia pun ingin menggenapkannya saja jadi 3000 emas.
" 23 dan 24!. Nona Dania yang menang. "
" Ahh...... " Sonia mengeluh terlihat frustasi, padahal hanya akting belaka.
" Aku kalah darimu, kau memang hebat hadis muda. "
" Begitukah?. Dan sepertinya anda juga tidak masalah dengan uang yang akan aku ambil ini. Yakin?. " tangannya ragu saat hendak merampas ribuan keping emas yang tercecer di depannya Sonia.
" Aku tidak semiskin itu, ambillah. Kalau mau bertaruh lagi aku juga masih sanggup, masih mau lagi?, atau ingin bermain dengan orang lain?. Ah..kau..tolong berikan jus untuknya, dia pasti haus. " katanya, sambil emmerintah salah satu pelayan yang tak sengaja lewat tadi.
" Baik nyonya. "
[ Nyonya?....., jadi dia memang orang yang berpengaruh di tempat ini?. Aku memang sudah mencurigainya dari tadi karena tidak ada yang mau mengusik atau menggoda wanita secantiknya. ]
______________
" Kakak?. "
Arhes yang tertidur dengan posisi terduduk di kursinya langsung terbangun dan melirik ke arah adiknya yang ternyata sudah bangun..
" Apa ini kakak?. " tanya Shera sekali lagi untuk mengkonfirmasi tebakannya.
" Iya...ini aku, kakakmu. Bagaimana perasaanmu?. " tanya Arhes pada adiknya.
__ADS_1
Luka yang ada di telapak tangan Shera juga benar-benar sembuh, jadi Arhes benar-benar berharap kalau penyakitnya juga sembuh total.
" Aku merasa lebih segar, kepalaku juga tidak pusing, dan sesaat ada perasaan hangat di punggungku. Apa yang terjadi denganku?. "
" Syukurlah. Kau baru saja di sembuhkan oleh seseorang, tapi dia sedang berkeliling, jadi nanti... "
" Aku akan sengat berterima kasih. " sambil tersenyum lemah pada Arhes karena tubuhnya masih lemas gara-gara belum makan.
KRUYUUKKK~......
" Kau mau makan apa?. "
" Terserah kakak. "
[ Wajahnya sudah terlihat lebih baik. Tapi ngomong-ngomong kemana perempuan itu pergi?, ini sudah lebih dari 1 jam. Jangan bilang dia tersesat di kota sekecil ini. ] Dengan dalih keluar untuk membeli makanan, Arhes sekalian ingin mencari keberadaan gadis itu.
_______________
" Apa!. Di..dia menang lagi?!. " pekik paman yang merupakan paman dari Arhes dan Shera.
Dania hanya tersenyum manis yang dipaksakan, karena akhirnya dirinya menang lagi setelah bertaruh banyak dengan paman ini.
" Dia anak jenius, mematahkan kesombongan kedua orang ini. " bisik-bisik seseorang di balik kerumunan ini.
" Sial..., aku tidak ingin seperti ini. " menggerutu tiada henti karena tidak terima sudah kalah w kali oleh gadis di depannya itu.
" Kita ulangi!. "
" Kalau itu kemauan paman. " Dania hanya menurutinya saja.
Dua orang itu kembali beradu dadu, dan wasit yang sudah sebensrnya sudah lrlah mendengar pekikan dari dua orang suami istri ini hanya berusaha bersikap tenang.
" 4, 5, 5, 6 \= total 20. "
" 6, 5, 6, 5 \= total 22, nona Dania menang. "
" K-kau..kau pasti curang!. " langsung mrnuduh tanpa bukti.
Tapi tuduhan tak berdasar yang diucapkan pamannya Arhes membuat orang-orang di lantai dua yang menyaksikan pertandingan tadi mulai berbisik-bisik lagi.
" Kau pasti memiliki sihir, dan menggunakannya untuk curang kan?. "
"...........! "
[ Dia punya alasan yang kuat juga, tapi aku bahkan tidak menggunakan sihir apa-pun, memangnya apa yang bisa aku lakukan?, telekinesis saja tidak bisa. ] Dania tidak mulai tenang, dan orang-orang di sekitarnya menganggap bahwa dirinya memang curang.
" Tapi apa kau memiliki bukti?. Di bangunan ini sudah terpasang pelindung anti sihir, dan mereka yang ber-judi baik kalah atau menang adalah hasil mereka sendiri tanpa campuran sihir. "
[ Apa dia membantuku?. ] Dania tidak yakin dengan Sonia ini karena tiba-tiba menawarkan diri bermain meski terus kalah, dan kali ini membantunya keluar dari situasi dimana dirinya dituduh curang.
" Kau juga bukannya punya hutang denganku?, bukannya membayar tagihan hutangmu, malah masih terus berjudi meski punya uang. " Sonia mulai menegur, nayatanya kedua orang ini adalah pelanggan tetap, dan pelanggan tetap itu adalah dibagian hutang judi.
" Aku sudah memberimu jangka waktu, tapi kau sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan. Mulai sekarang kau tidak akan bisa masik ke tempatku lagi. Siapapun...bawa mereka berdua pergi. "
" Ti-tidak....jangan berikan 1 minggu lagi, jangan usir kami, kami pasti ak- "
" Sudahlah....aku muak mendengarnya, lagi pula sertifikat rumah kalian sudah ada di tanganku, jadi aku anggap hutang kalian lunas. " melambai-lambai tak peduli melihat dua orang tua itu diusir paksa.
" Apa!?. Kalau begitu kami akan tinggal dimana?. Nyonya!..., jangan usir kami!. "
" Nyonya.., kami mohon! " teriak sang istri.
" Berisik!. " pekiknya, agar dua orang yang dibawanya diam.
" Hwahh...benar-benar, aku juga muak melihat mereka berdua menyombongkan diri terus di sini, meskipun anak dan keponakannya jadi kesatria di istana, mereka tidak bisa menyukuri keadaan mereka. "
" Tega sekali mereka, menggunakan uang anak dan keponakannya hanya untuk berjudi. "
Dan fakta lain pun akhirnya menjadi buah jnformasi untuk Dania, ternyata mereka berdua sang paman dan bibi menggunakan gaji dua orang untuk berjudi.
Kembali ke tempat Sonia.
Sonia tersenyum puas sambil menepuk-nepuk kepala Dania karena dirasa lucu.
" Jangan mengacak rambutku. " ketusnya, Dania tidak senang jika kepalanya di elus alias rambutnya jadi berantakan.
" Habisnya kau lucu. " dengan senyuman gemas.
[ Lu-lucu?!. Dimananya bagian dari diriku yang terlihat lucu?. ] Dania memeriksa dirinya, pakaian, wajah?, rambut?, eskpresi?.
"..............? "
" Ahahah...tuh...kamu lucu. "
Kepalanya miring ke kiri dan mencoba menebaknya " Tingkahku?. "
" Ya...kau tadi kelihatan bingung mau menanggapi, bagaimana caramu melawan alasan dari orang tadi kan?. "
Tanpa di duga Sonia hanya ingin dekat dengan Dania karena sebuah alasan 'lucu' yang tidak berdasar.
__ADS_1
" Kau orang pertama yang mengalahkanku, dan orang pertama yang membuat orang tua itu ngotot kalau kau terus curang. Padahal dimataku, kau adalah orang berbakat, meskipun kau melempar 4 dadu ke sembarang tempat sekalipun, poin keberuntunganmu selalu ada di angkat terbesar. Kau aset yang berguna. "
PUK....PUK...PUK....PUK......
Mau berapa kali disingkirkan, tangan Sonia selalu mendarat di atas kepalanya Dania.
" ................." sengaja diam karena tidak mau menanggapinya lagi.
Setelah menunggu semua uang yang fi dapatkannya di kantkngi dengan kantung yang agak besar, dirinya sudah seperti orang yang baru saja merampok bank.
Dania akhirnya bisa keluar dari tempat yang sudah membuatnya bosan, mungkin alasannya masuk akal, yaitu selalu menang di tiap taruhan.
Berjalan keluar dengan membopong kantung besae di tangannya, ia bertemu lagi dengan paman yang menjaga pintu depan bar ini.
" Ini untuk paman. "
"..............! "
[ Dia benar-benar menang?. ] tangannya bergetar menerima uang dalam jumlah banyak.
Melihat kepergian nona muda itu, paman ini sangat bersyukur karena diberikan keberuntungan sudah membuat keputusan yang benar memperbolehkan nona tersebut masuk dan memberinya dukungan.
__ADS_1