Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 107


__ADS_3

" Bukankah tinggal katakan saja kalau saya sedang istirahat di suatu tempat?. Lagi pula, anda sepertinya juga sedang berharap bertemu seseorang secepatnya. " Jawab Dania, ia tahu betul pria di depannya ini sedang ingin kembali secepatnya agar bisa bertemu Yunifer, tapi siapa jiga yang mau mengatakan pikirannya itu yang sebenarnya kepada Ishid.


Karena dalam beberapa hal, menganggap ketidaktahuan urusan seseorang akan lebih baik. Karena jika memberitahukannya, maka memungkinkan dirinya akan di bubuhi belbagai macam pertanyaan, dan pertanyaan utamanya adalah


' Bagaimana anda bisa tahu? '


Dania pun melanjutkan niatannya untuk menetap di pantai itu paling tidak sehari.


Yang berarti ingin menginap disitu juga, alasannya juga karena di dekat pantai ada satu gua tak jauh dari tempatnya, hal itu memungkinkan dirinya untuk istirahat disitu.


" Anda bisa datang kesini lain waktu, tapi lihatlah penampilan anda, khawatirkan kondisi anda. "


".............."


[ Kok bisa ngeselin juga, Ck.. ]


" Ya sudah, ayo.., yang penting baju saya tidak ikut terbakar karena metode teleportasi anda itu. "


terpaksa menurutinya, namun sekalian juga memberikan peringatan pada Ishid karena mengkhawatirkan juga, pasalnya dirinya tidak tahu apakah ilmu sihir yang dimiliki Ishid ini mrmang bisa membawa seseorang dengan metode perpindahan tempat yang cukup terlihat ekstrim.


"........! "


[ Ngomong-ngomong benar juga. ]


Jadi harus bagaimana itu?.


Ishid memperhatikan Dania dari atas sampai ke bawah, rambut pendek yang pastinya kotor, baju seragamnya yang beberapa di antaranya ada yang robek di bagian kaki maupun lengan, namun tidak menampakkan kulitnya karena terhalang kain yang lain.


Lalu tetibe pandangannya jadi berubah, bagaimana jika di depannya itu adalah Yunifer?.


"................."


[ Apa dia sedang membayangkan sesuatu?, jangan bilang dia sedang mengaitkanku dengan Yunifernya itu. ] Sayangnya Dania sadar kemana arah tatapannya Ishid itu, Dania jadi sedikit menunduk ke bawah.


Dadanya rata, terlintas dipikirannya Dania detik itu juga.


[ Aku jadi benar-benar malas memikirkan pasal mereka berdua jika sudah berada di dunia kenyataan ini. ] Karena lain jika dirinya membaca dan menukmatinya karena membaca dari komik yang dilihatnya.


" Hahh....." Dania mengacak rambutnya yang lepek karena kusut gara-gara air asin itu.


" Maaf saja jika saya menampilkan pemandangan buruk ini pada anda, tapi saya sudah terlalu lemah untuk menggunakan sihir pengering, dan terlalu lapar untuk berdebat lagi dengan anda. Tapi saya tetap berterima kasih karena sampai sekarang saya bisa selamat itu berkat anda. " Jelasnya.


" Jadi bagaimana? " meminta penjelasan lagi.


" Kalau begitu saya ada cara lain, anda tunggu disini. Saya akan pergi dan memerintahkan satu ahli sihir untuk anda. "


" Baiklah.., lama juga tidak masalah. "


_________________


" Kita hanya harus percaya kepada komandan dan Lady Dania masih hidup. Bukankah mereka berdua itu kuat dan berpotensi kecil mati karena tenggelam?. "


" Saya meyakini itu juga. " Tassel mendukung ucapan salah satu anak buahnya itu.


" Apa masih belum ada tanda keberadaan mereka?. " tanya Tassel selanjutnya.


" Belum yang mulia, tapi sebaiknya saya menyulutkan api untuk beliau. "


" Benar juga, dia pemilik elemen Api. Kebiasaannya berpindah tempat jika ada api yang dia deteksi. " Sokong Kesatria Mikhail.


Maka dari itu, beberapa orang menempatkan obor, dengan haraoan Ishid kembali.


___________

__ADS_1


[ Apa yang terjadi?. ]


Melihat Ishid tidak beranjak pergi, berarti ada masalah yang terjadi.


"..................."


[ Sudahlah, aku tidak mau mengurusi hal tak pastinya, membuatku bingung. ]


[ Kenapa tidak bisa menggunakan sihir? ]


Ishid kembali memejamkan matanya, dan berkonsentrasi, tapi hasilnya selalu nihil.


PRIITTTT.........


Dania bersiul dengan dua jari di masukkan ke dalam, alias di antara kedua bibirnya, sehingga bisa mengeluarkan suara.


Cip...cip... \= { Eh...ada manusia. }


Tutur burung kecil dengan bulu berwarna kelabu.


Cip...cip..cip.. \={ Apa mereka baik-baik saja?. }


ucap burung lainnya, yang sama-sama sedang bertengger di salah satu ranting pohon.


Cip...cip...! \= { Jangan berkata seperti itu.! }


Cip...cip...cip... \= { Mereka manusia yang berbahaya, jadi jangan berpikir untuk mengkhawatirkan mereka gara-gara penampilan menyedihkannya itu.! }


Satu burung lainnya marah ke burung satunya lagi karena cara bicaranya memang seperti sedang khawatir, dan dirinya tidak suka itu.


SRAKK......SRAKKK.....


SRAKK.......


Cip...cip...cip \= { Eh....dia datang. }


Ke tiga burung itu memperhatikan dengan seksama dengan apa yang sedang mereka lihat, jika Dania pergi ke satu tempat lain maka burung-burung itu ikutan berpindah dan mengikutinya.


Cip...cip...cip..? \= { Apa yang sedang


dilakukannya? }


Cip...cip.. \= { Pasti cari makan. }


Jawab burung yang lainnya lagi.


Cip....cip...cip.. \= { Betul juga, mereka berdua kelihatan baru saja terdampar disini. Eh..maksud ku tersesat?. }


Cip....cip....cip.. \= { Tapi, apa dia perempuan?. }


Cip..cip.. \= { Ya jelaslah, dasar burung ****. Dia perempuan, kalau laki-laki pasti akan ada jakun. }


Cip..cip..?. \= { Tapi kenapa dada perempuan itu rata seperti pria? }


Cip...cip...cip..


cip..cip?.


cip...cip..cip..cip..


Cip....cip...cip...cip...cip..cip...


Perempatan dahi Dania pun mulai muncul mendengar perbincangan burung kecil yang sedari tadi mengikutinya.

__ADS_1


Cip?? \= { Kenapa dia berhenti bergerak?. }


melihat Dania berdiam diri bagai patung.


Cip...cip? \= { Lelah kot? }


BRUKK....


Dania terduduk dengan kepala terasa sakit, sakitnya seperti mau pecah saja.


" Ahh...! " rintihnya, ia tidak tahan dengan kepala yang sakit itu.


Sakitnya membuat dia terbaring ke tanah, ia memilih rebahan untuk istirahat sebentar.


Cip....cip....cip.....


Cip..cip..


cip...cip...cip...


"..........! "


[ Ah....sudah sakit begini, kenapa mereka tambah berisik? ]


Dania kesal akan ulah ke tiga burung itu, ocehannya tidak berhenti dan seolah-olah amalah justru ketiganya itu sedang bertengkar.


Cip..cip.. \= { Dia kesakitan }


Cip...cip.. \= { Memangnya kamh mau menolongnya?, apa burung kecil seperti kita mampu?. }


Cip...cip... \= { Kalau dia mati bagaimana?. }


Cip..cip... \= { Maka tempat ini akan menjadi makam pertama. } jawabnya dengan srlamba.


Cip..cip.! \= { Kenapa kau- }.


Dania yang sudah tidak tahan akan berisiknya cap..cip..cap...cip...dari mulut burung dengan paruh kecilnya itu, Dania pun berteriak keras.


" BERISIK...! "


" Ci- ! " ketika salah satunya hendak bersuara lagi, satu burung lainnya segera menutup paruh sahabatnya itu.


Akhirnya mereka terdiam, setelah teriakannya Dania.


" Kalian jangan berisik, lagi.. " pinta Dania dengan nada lirih.


WUSHH.....


Sekelebat angin menghampiri ketiga burung kecil tersebut.


[ Angin apa tadi? ] fikir burung kecil itu.


Lalu datang lagi suara kepakan sayap, tapi kepakannya terdengar besar.


{ Kalian, kalau mengganggunya lagi seperti tadi, aku benar-benar akan memakan kalian. } Tutur Everst dengan nada renda dan penuh dengan ancaman.


Ketiganya jadi bergidik ngeri karena ada burung besar di belakangnya.


KWAKK....!


CIPPPP...!!!


Ketiga burung itu terbang kabur secepat-cepatnya sebelum benar-benar menjadi santapan rajanya langit.

__ADS_1


《 Karena sosoknya merupakan konsumen tingkat atas, jadi dijuluki rajanya langit 》


__ADS_2