
Gadis berambut coklat sebahu itu kini terbaring di atas rumput, yang perlahan mulai menampakkan wujudnya dengan jelas, seiring rintikan hujan itu pelan-pelan menghilang bersamaan dengan awan hitam yang sudah mulai memisahkan diri dari kelompok pergumulan pembentuk awan badai tadi.
Memperlihatkan fakta sebenarnya, bahwa, di balik awan hitam yang sedari awal menutupi daratan dan perairan itu, adalah langit sore berwarna jingga yang sangat indah.
Benar...
Pantai Neklosivia, selain letaknya yang berada di paling ujung selatan dari kerajaan Rovathia, tempat ini adalah satu-satunya tempat paling indah untuk melihat matahari terbenam seperti sekarang.
Terlihat juga bahwa baju putih bersih itu kini sudah kotor karena tanah berumput itu sendiri, rok biru yang menutupi sepasang kakinya pun sudah sepenuhnya basah dan ikut kotor juga, apa lagi dengan sepatunya, dia sudah bertelanjang kaki karena risih saja memakai sepatu yang basah itu.
Sang burung camar?.
Dia kembali mengikuti kawanannya lagi, setelah sihir transmisi untuk menghubungkan ke dua penglihatan mata mereka sudah terputus sepenuhnya. Memang terkejut, namun tidak ada yang bisa dia lakukan sebagai burung selain membantunya tadi, dan perjanjian juga sudah selesai.
Karena kekhawatiran mereka yang masih ada dengan bencana tadi, mereka lebih memilih ber transmigrasi ke tempat lain.
Sedangkan Arhes, berada di jarak 100 meter dari seseorang yang terbaring di sana, awalnya dia berdiam diri saja, namun kakinya menuntut untuk berjalan pelan ke arah sana.
Dimana seseorang sedang terbaring sendirian di atas rumput.
Meski di dalam pikirannya sudah kembali di hujani berbagai pertanyaan baru atas apa yang terjadi, setelah kebingungannya atas fakta tak di ketahuinya dari ayahnya tentang adik yang tidak dia ketahui.
Tetapi, dia lebih mementingkan kenyataan yang ada di depannya.
Hendak pergi mencari perempuan itu tapi malah jadi bertengkar dengan ke dua orang tuanya, lalu ternyata perempuan tersebut tidak pergi jauh dan malah justru berdiri di pinggir tebing sana.
Tapi kini perempuan yang diam-diam menghanyutkan itu, sudah tergeletak seperti itu?!.
Apakah dia ( Dania ) baru saja memeras mana yang tersisa di dalam tubuhnya, sampai membuat tubuhnya terbaring pingsan seperti itu?!.
Dalam rentetan pertanyaan yang dia pendam dalam pikirannya, Erich memilih untuk diam saja.
Kemudian, tepat di jarak 10 meter itu, Erich berjalan perlahan lagi, demi mendekati perempuan dengan separuh wajah tertutup dengan rambut kusutnya sendiri, tapi tidak membuatnya tidak mengetahui bahwa wajah itu adalah wajah yang sudah dalam keadaan pucat.
Dan mata yang dari awal selalu mengganggunya karena berwarna merah, kini sudah tertutup rapat.
[ Apa dia baik-baik saja?. ] Erich berlutut dan menatap wajah orang yang tergeletak ini.
" Apa kamu tidak apa-apa?. "
Tapi di detik itu juga, Erich langsung mengernyit.
[............!, kenapa malah bertanya tidak apa-apa?, setelah melihatnya tadi sudah mengeluarkan sihir sebesar itu?. Tidak mungkin dia tidak apa-apa. ] fikirnya.
Erich...
Tangan kanannya yang terangkat itu langsung berhenti di tengah udara.
Dia segera mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan helaian rambut itu dari wajah perempuan ini.
[ Dan apa yang mau aku lakukan?. ] Erich jadi bingung dengan tindakannya yang hampir saja menyentuh wajah itu.
Bagaimana bisa ada keinginan untuk menyentuh seorang wajah perempuan?!.
Apa lagi dia..
Sampai satu suara, menyapa Erich.
" Mau sampai kapan menatap wajahku seperti itu?. " tuturnya.
Hal itu sukses membuat Erich yang sedikit terkejut, langsung menarik lagi tangannya sebelum ketahuan, tangannya tadi masih terdiam di depan wajahnya Dania.
" Aku kira..kau- "
Dania langsung menyela.
" Kamu mengira aku pingsan?. " ucap perempuan ini lagi, lalu di lanjutkan kelopak matanya perlahan terbuka dan menatap Erich dengan tatapan lrmah di balik helaian rambut kusut yang sedikit menghalangi pandangannya.
Wajah panik sekaligus terihat khawatir itu, tertunjuk untuk dirinya?.
Dania terheran, kenapa laki-laki yang baru saja bertengkar dengan nada seperti bocah yang merajuk kepada ayah dan ibunya ini, malah tiba-tiba berekspresi khawatir seperti itu?.
[ Sangat tidak masuk akal. ]
Dania segera menyingkirkan pemikiran itu dengan mengubah pertanyaan tadi menjad sebuah jawaban.
" Aku tidak apa-apa. " menjawab atas pertanyaan Erich yang pertama.
Dania yang sudah tidak nyaman dalam posisi terlentang, segera mengubah posisinya menjadi miring ke kiri, alias memunggungi Erich yang masih berlutut itu.
".... A- ...."
" Jangan katakan apa pun, aku lelah. " perintah Dania kepada Erich yang memang ingin berbicara lagi.
Erich hanya mengatupkan mulutnya yang tidak jadi bertanya, dan memperhatikan dia...yang tidur memunggunginya dengan baju yang tidak seberapa tebal itu sudah basah, dan memperlihatkan garis putih lain di balik kain putih yang menempel di punggung itu, yang tak lain sebuah pakaian dalamnya?!..
" ................! " Erich hanya menatapnya dalam diam tanpa ada maksud apa pun, sampai ke dua matanya langsung membuka leebar, setelah hadiahkan sebuah kerlap-kerlip bak debu yang terbang ke atas dengan warna biru yang cukup indah.
Dalam kurun waktu yang sama pula, hal yang dirasakan oleh Erich adalah bahwa tubuh serta bajunya sudah mengering dengan sendirinya?!.
Tidak.....
Itu adalah sihir terakhir yang di gunakan oleh gadis di sampingnya sebelum akhirnya, dia....
Eldania memejamkan matanya lagi untuk tidur, selepas saja mengeringkan baju dan tubuhnya dari rasa basah pakaian dan dingin yang menyelimuti kulit tipisnya.
Erich langsung mengambil posisi menghadap ke lautan itu, duduk dengan kaki kiri lurus ke depan dan kaki sebelah kanan sedikit di tekuk.
Sambil menunduk ke bawah, dia mengumbar sebuah senyuman miring.
[ Dia punya rangkaian aktivasi sihir yang indah. ] diam-diam Erich memuji.
Baginya, itu adalah sihir yang cukup indah, sebuah fenomena yang tidak akan pernah dia lihat jika tidak berada di dekatnya.
Pujian yang tidak akan dia ungkapkan keluar dari mulutnya.
__ADS_1
**********
Sore berubah menjadi malam, dan malam itu, seseorang yang awalnya tidur di atas rumput, sudah berpindah ke tempat tidur empuk, nyaman dan hangat.
Seprei dan selimut yang sangat halus, sungguh benar-benar memanjakan si penghuni kasur agar setia tiduran terus di tempatnya.
Salah satu orang yang di buat terlena adalah dia...
SYUHH.......
Lubang angin yang terletak di atas pintu, langsung memasukkan angin dinginnya ke dalam ruangan. Membuat tirai hitam yang terpasang di jendela, sayup-sayup bergerak, sekaligus menyapa wajah lelahnya itu.
" Ehm...... " Suara lenguhan itu membuat dirinya sendiri terbangun. Membuka kelopak matanya dengan lemah, dia segera memproses otak dan matanya dari rasa kantuknya yang masih ada.
Dalam kondisi setengah sadar sambil menatap langit-langit kamar yang ternyata berhiaskan lagi-lagi bintang yang bertebaran di lukisan berupa Galaxy.
Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Salah satunya adalah......wajah sebelah kirinya terasa di lahap oleh kegelapan, padahal sinar bulan yang terang, masuk sangat sempurna ke dalam kamar dengan jelas menembus jendela full glass itu.
Rasanya ada sorotan mata dingin, tertuju langsung ke arahnya, ketika menoleh ke sumbernya, itu adalah seseorang yang sedang berdiri. Sosoknya yang memunggungi cahaya bulan, membuat wajahnya terasa samar untuk di lihat dengan jelas.
Matanya berkedip, masih berusaha menyesuaikan cahaya yang ada di sekitarnya.
" Apa untungnya melakukan itu?. "
Sebuah pertanyaan menyelusup ke dalam indera pendengarannya.
Dan tanpa sadar, bibirnya bergerak untuk mengatakan.
" Melakukan....apa?. " tanyanya, masih tidak paham dengan kalimat yang sangat menggantung itu.
Namun, apa yang terfokus sebenarnya bukan pada wajah dari sosok tubuh yang cukup tinggi ini, melainkan rambut itu.
Bahkan di tengah malam dan hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk secara sembarangan, rambut cemerlang yang tampaknya telah bercipratan emas tipis tidak kehilangan sinarnya.
Itulah hal yang lebih mencolok di iris matanya.
Kenapa ada orang yang punya rambut sebagus itu walau ada banyak rambut yang mirip sepertinya?.
Lalu suaranya yang berat, menandakan bahwa dia adalah seorang pria.
Tapi bagaimana bisa ada orang yang masuk ke dalam kamarnya dan langsung melontarkan pertanyaan di kondisinya yang masih setengah sadar ini?.
" Asal muasal energi sihirmu habis, tidak ada untungnya kau membantu mereka. " ucapnya lagi.
Satu pikiran yang terlintas di kala otaknya sedang bergelut untuk masuk ke dalam mode tidur lagi adalah...
' kenapa dia terdengar seakan peduli?. '
Padahal terdengar seperti kalimat cibiran, tapi juga seakan bertabur rasa khawatir.
[ Apakah perasaanku saja?. ]
" Hanya...keinginanku. " jawabnya dengan nada lirih.
Kemudian sepasang matanya beralih untuk memandangi bagian bawah yang di pakai oleh orang ini, ada jubah merah di bagian belakangnya celananya..
Tat kalah orang tersebut hendak pergi tanpa sepatah kata pun, tangan kirinya langsung menggapai kain merah itu, membuat orang tersebut berhenti melangkah.
Kembali menoleh ke belakang, dia kembali menatap wajah perempuan yang terbaring di atas kasur itu, lalu di suguhkan kata-kata...
" Tidak ada siapa-siapa di sini, kali ini.....jangan pergi dulu...." pintanya, dengan mata sayu karena masih separuh sadar, tapi ucapannya tetap seperti sebuah tuntutan mutlak untuk jangan membiarkan orang ini pergi begitu saja.
'Aku sendirian, tetaplah di sini'
Itulah arti lain dari ucapannya.
" ............... " lalu pria ini memandanginya dengan tatapan yang begitu dalam.
" Yang mulia. " sambungnya lagi.
Dalam seperkian detik itu juga, pria brambut pirang ini mengernyitkan matanya setelah di panggil yang mulia oleh gadis ini.
Itu mengingatkannya pada kejadian masa lalu yang tidak bisa di jelaskan dengan mudah.
" Padahal kau bertemu banyak orang, apa hatimu tetap terasa seperti kesepian?. " ungkapan kata yang tidak pernah dia ucapkan secara langsung itu, akhirnya terlontar juga.
Caster......tidak akan berada lama-lama di situ, tapi hati mengatakan bahwa dia ( Dania ) mempunyai perasaan sepi yang sama juga?.
Apa artinya perasan yang dulu, meski tersapu oleh waktu yang sangat lama, dan meski berada di dalam tubuh yang berbeda, tapi tetap ada?.
Padahal gadis ini, dulunya hanya orang biasa yang bergelar sebagai asisten pribadinya, tapi sekarang menjadi orang asing yang harus segera dia dapatkan, walau ternyata hati di dalam tubuhnya itu itu tetap tidak berubah.
Sampai-sampai di panggil lagi sebutan 'Yang Mulia'.
Jabatan yang lama hilang, nama panggilan yang sudah menghilang itu terdengar kembali oleh telinganya.
Tatapan yang awalnya tajam, berubah menjadi lembut, dia memutar tubuhnya ke belakang lalu berjalan mendekat kembali ke sisinya.
Duduk di sebelah tubuhnya, tangannya terangkat untuk membuka selimut putih itu.
Memasukkan ke dua kakinya ke dalam selimut, dia akhirnya ikut berbaring di atas kasur, tidur bersebelahan dengannya.
Wajah itu mengulas senyuman lembut, harapan kecil dan sepele, ternyata membuat pria ini tidak jadi pergi dan malah berbaring di sisinya.
" Terima kasih.. " ucapnya. Dalam kata ini, Dania yang setengah sadar itu menggapai tangan yang di selimuti sarung tangan berwarna emas berbentuk cakar burung itu, lalu memeluknya dengan erat.
Caster sedikit tertegun, kalau yang di peluknya itu bukan tubuhnya melainkan....tangan kanannya.
" Hmph~........" Caster tersenyum devil.
" Menghamburkan waktu juga adalah sifat dari sebuah peradaban. Lagi pula, semua waktu yang sudah berlalu ini akan berarti jika kau mengakui kesalahanmu dengan pertanggungjawaban atas ucapanmu dulu padaku. "
Dia sangat menyesalkan, bahwa dulu tidak menemaninya saat orang ini membutuhkan.
__ADS_1
Hanya kali ini, apa hal yang di lakukannya saat ini bisa menjadi pengganti waktu itu?.
" Tapi sepertinya.... " melirik ke ke arah Dania lagi.
Melihat rambut pendek yang ujungnya hampir masuk ke mulut dan di kunyah, Caster segera memiringkan tubuhnya ke kanan sehingga tidur berhadapan langsung.
[ Kau akan beranggapan ini hanya cuma mimpi belaka. ]
Tangan kirinya dia angkat untuk mengambil helaian rambut yang mengganggu pemandangannya itu.
SRET....
Meletakkamnya ke belakang telinga, akhirnya wajahnya jadi terlihat lebih jelas. Apa lagi ketika mata itu sedang tertutup, jadi lebih terlihat seperti perempuan polos baik-baik.
Tapi dia nyatanya sebenarnya memang baik, walaupun kini punya tempramen yang buruk.
" Tidak masalah. " gumamnya.
Sekalipun punya sifat yang berbeda, jika hati itu tetap sama, berarti tidak masalah untuknya.
" Nesh..." panggil Caster dengan suara lirih.
" Hmm...........?. " mendehem secara spontan. Lalu yang di panggil, sekali lagi membuka matanya, namun kali ini dengan bola mata, iris mata berwarna merah yang sudah jernih, dia mendapati sebuah bayangan yang terus kian mendekat ke wajahnya.
[ Kenapa dekat sekali?. ] Dania yang sudah mulai menaruh kesadaran ke dalam pikirannya.
Kepala dengan rambut pirang emas itu terangkat, mendekatkan wajahnya itu ke dalam jarak yang sangat dekat.
Membuat diantara mereka berdua mempunyai deru nafas yang sangat terasa. Hembusan nafas yang terjadi, menerpa wajah mereka berdua.
Tiba-tiba saja.....tangan kiri itu menarik pinggangnya agar lebih dekat dengannya.
Apa yang di rasakannya, sungguhlah berbeda.
Dania merasakan rasa hangat dan roma tubuh yang sangat familiar. Itu membuatnya nyaman sekaligus dirinya seperti sudah mengenal pria ini lebih jauh dari yang dia kira.
[ Apa ini?. ] Matanya menenung dagu, lalu lebih ke atas lagi, dia menemukan sebuah bibir yang kian mendekat dan terus mendekat.
Jarak yang sedekat itu, membuat hatinya jadi terpacu.....tangan kanan yang tadinya Dania gunakan untuk menggenggam tangannya, langsung dia angkat untuk menggapai kepala pria ini.
Menariknya dengan cepat seakan dia sudah tidak tahan lagi untuk mendapatkan hal yang dia inginkan.
Lalu jaraknya pun langsung terkikis begitu saja, dan di akhir itu, Dania mengungkapkan kata...
" Bantu aku, aku ingin merasakannya. " gumamnya, rasa penasaran itu akan dia temukan jawabannya, jadi tanpa mengulur banyak waktu lagi, dia pun segera menautkan bibirnya....ke bibir menggoda yang menjadi pemacu adrenalinya untuk membuat dirinya aktif.
CUP
Rasa lembut, juga hangat.
Itulah yang di rasakannya.
__ADS_1