
Air terjun tersebut tidaklah membeku sama sekali, sekalipun sudah musim salju.
Hanya tinggal sedikit lagi ia akan menemui tempat itu dan....
BYUURR......
Suara air sudah terdengar jelas, cipratan dari air terjun itu juga sudah mulai mengenai bajunya dan mulai membasahi hampir seluruh bagian.
Everst hanya terbang lebih cepat untuk mempersingkat waktu dan sebelum membasahi semua bulu berwarna coklatnya itu. Tinggi, air terjun ini sangat tinggi bahkan Dania pun harus menggenggam erat leher dari Everst agar tidak terjatuh. Tatapan mata tajamnya sangat mengagumkan, setidaknya bisa mengalihkan pandangannya dari pada menatap ke bawah.
Sedikit dan tinggal sedikit lagi itulah yang diyakininya hingga..
SYUHHHHHH.......
Dengan cantikmya, Everst terbang ke atas melewati semua kabut bagaikan aktraksi akrobatik.
Merasa manusia yang sedang duduk di punggungnya tidak bersuara, Everst pun melirik ke belakang dan mendapati tubuh tuannya memang sudah basah semua dan menggigil kedinginan.
[ Tapi setidaknya ukurannya sudah kembali normal...eh..tunggu, apa dia menghilangkan benda sihirnya? ] terlihat dengan jelas kalau tuannya yang merupakan manusia yang biasanya berpenampilan pria dengan rambut pendeknya, sekarang ia di perlihatkan dengan rambut warna coklat yang panjang dan bergerak-gerak mengikuti alur angin yang menerpa wajahnya.
" Bisakah lebih cepat lagi?, dingin tau "
Walaupun memasang ekspresi datar, namun tidak dengan tubuhnya yang bergetar dan suara gigi yang gemlatuk sebab efek dingin.
Tanpa menjawab ia pun tau apa yang harus dilakukannya. Karena jaraknya yang lumayan ia lebih mempercepat kecepatan terbangnya, terbang ke arah timur dimana vila tak berpenghuninya ada di sana. Dari atas dan dari sudut mana pun ianya nampak seperti rumah berhantu karena semuanya tak terawat namun lain hal ketika masuk ke dalam , maka kalian akan melihat betapa bersihnya dari satu sudut ruangan ke ruangan lain, semuanya bersih dan tidak berantakan.
Setelah sampai dan masuk melalui kedua pintu besar, Dania turun sendiri walaupun kakinya terasa sudah membeku.
" Ja..jangan sampai ter..kena hi..portemia " ucap Dania, saking menggigilnya berbicara saja sudah terbata-bata.
Lantai yang di injaknya meninggalkan bekas telapak sepatu, dari satu langkah ke langkah lainnya, ia berjalan ke arah tungku pemanas ruangan karena hanya disana lah tempat dimana dirinya bisa menghangatkan tubuhnya.
Tapi sebelum itu ia pergi ke arah sofa dan...
GREETTTT.....GRETTTTT........GRETTTTT
[ Dia memang aneh, disaat tubuhnya masih menggigil tapi masih bisa menggeser sofa seberat itu ]
Everst hanya bisa tersenyum simpul, walau tid..
Apapun itu, tuannya segera menyadari sunggingan senyum yang dilakukan Everst dengan tatapan tidak suka, sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk tersenyum.
Tak berapa lama kemudian sofa sudah berada tepat di depan tungku pembakaran yang biasa di gunakan untuk menghangatkan ruangan.
Ia langsung bersender di depan sofa dan menghadap ke tepat ke api unggun itu sembari menggosok-nggosokkan kedua telapak tangan untuk menghangatkan tangannya yang dingin bagai es.
Everst terbang dan bertengger di atas sofa sebelah kanannya Dania lalu matanya memandang kobaran api yang sedang berdansa di dalam tungku sampai beberapa menit tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Fyuhh.....Fyuhh.....Fyuhh....Fyuhh..
__ADS_1
( Entah dari kapan, akhirnya Dania tertidur dengan nyenyak )
TUK.....
Tiba-tiba kepala Dania terjatuh, namun tidak sampai membentur lantai karena ada yang menghalanginya dari pada terjatuh ke lantai dan itu adalah sebuah kaki seseorang.
" Tidurlah " tuturnya sembari tangan kirinya mengusap lembut kepala Dania yang ada di bawahnya, lalu masih dengan posisinya yang duduk di atas sofa dimana kakinya ia silangkan, tangan kanannya menyangga dagunya, lalu satu senyuman pun tetiba terukir di bibirnya, makna senyuman itu sendiri hanya di ketahui olehnya saja.
******
" Yang mulia, apa tidak apa-apa membiarkannya sendirian di tengah hutan? " Tanya Vidal.
" Apa yang perlu ditakuti Vidal?, toh dia sendiri awalnya dari hutan itu , aku saja tidak khawatir tapi kenapa kamu yang khawatir? "
[ Aduh, orang ini memang bisa bersikap seenaknya saja ]
" Ya sudahlah, ini dokumen selanjutnya yang harus di tanda tangani "
Sembari menerima lembaran berkas dari Vidal, Archduke berkata lagi.
" Sebagai kakak yang baik, bantu persiapkan keperluannya. "
" Keperluannya?, bukankah semuanya sudah ada? " Vidal masih tidak faham lagi dengan ucapan majikannya.
" Itu kan untuk ukuran bocah, yang ini untuk ukuran dewasa, Marsha sepertinya jauh lebih tau darimu untuk style baju untuk remaja 18 tahunan "
" Maksud anda anak itu? "
" Ja..jadi wanita yang saat itu adalah- "
[ Pantas saja sikapnya lain dari yang lain ]
" Berapa kali aku akan menjelaskannya padamu sampai paham?. Dari pada membuang waktuku lebih baik kerjakan pekerjaan yang tadi aku minta " tatap Archduke pada Vidal dengan tatapan malas.
" Maafkan saya, saya undur diri dulu " merasa bersalah dengan berbagai pertanyaannya tadi, akhirnya lebih baik memutuskan untuk pergi dan mengurusi pekerjaan yang baru ia dapatkan.
Archduke pun akhirnya sendirian di ruang kerjanya, ia memberhentikan tangannya untuk menulis. Ia berdiri dan mendekat ke arah jendela hari sudah malam namun salju masih saja turun membuat malam kali ini adalah malam yang dingin tanpa suara mungil imut yang terdengar.
*****
Pagi ini salju masih turun walau tidak selebat tadi malam, tapi tetap saja hawa dingin masih menyelimuti semua wilayah itu. Awal musim dingin selalunya begitu bukan?.
Di vila tepatnya di tengah hutan yang sekarang sudah menjadi hutan bersalju penuh dengan warna putih, di dalamnya terdapat dua orang masih berada tepat di depan tungku pemanas ruangan. Yang satu masih tertidur dengan pulas di atas sofa dan yang satunya lagi tengah duduk dengan tangan kanannya tengah memegang gelas berisi arak alias bir yang terbuat dari gandum. Tatapannya masih menatap api tersebut walaupun sesekali tangan kirinya ia memainkan rambut panjang berwarna coklat milik si wanita yang dimana kepalanya sekarang ada di pangkuannya sebagai pengganti bantal.
Karena sedikit merasa terusik, kini matanya bergerak-gerak dan ia sedikit membuka sepasang matanya namun samar-samar ia melihat seseorang.
Rambut berwarna pirang emas, lalu dagu yang kokoh tapi tatapannya hanya tertuju ke depan saja, lalu ada satu yang sedikit mengganggu dan itu adalah bulu halus yang datang berayun ke kanan ke kiri mengusik hidung sehingga bisa di tebak kalau itu adalah kalung yang menggantung di leher.
" Siapa ka- " belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, satu tangan besar datang dan menutupi matanya bahkan wajahnya pun hampir tertutupi semua hanya dengan satu tangan itu sendiri, tak lama akhirnya tertidur lagi dan tidak diberi kesempatan untuk melihat wajahnya orang itu.
__ADS_1
" Belum saatnya tahu siapa aku " tuturnya.
[ Tidak asik jika mengetahuinya sekarang ]
" Ghmm.... " manik matanya yang berwarna merah dimana memiliki retina berwarna hitam itu melirik ke arah bawah dimana Dania tertidur di pangkuannya. Rupanya Dania mengubah posisi tidurnya dari menghadap ke atas sekarang menghadap ke samping kiri tepat ke arah perutnya.
Ia mengulum senyum lalu berkata dengan suara bisikan tepat di telinga kanan Dania..
" Aku akan membantu mengeluarkan hasratmu yang masih terpendam "
SYUTTHH.......
( Kalung yang dipakai sempat mengusik wajah Dania )
Suara tersebut alias kalimat itu seperti menggema di dalam kepala dan terus terngiang di otaknya.
[ Hasrat terpendam?, Hasrat terpendam?! ]
ME....[ Hasrat - ].........LEK...[ Apa! ]
Dania hendak duduk namun sebelum melakukannya ia malah hampir menghantuk kepala Everst yang bertengger di tangan-tangan sofa dengan kepala meperhatikan dirinya( Dania ).
" Apa yang kamu lakukan di atas kepala ku? "
{ Mana tau perlu sesuatu selain selimut yang aku bawa }
Oh...benar saja, tanpa disadarinya ada selimut yang menyelimuti tubuh Dania, namun terakhir yang di ingat adalah duduk di lantai, namun sekarang sudah ada di atas sofa walau setidaknya bajunya masih utuh sebab..
[ Aku sepertinya melihat seseorang disini ]
Manik matanya melirik ke arah Everst yang masih asyik duduk di tempat yang sama.
" Apa semalam ada seseorang masuk kesini? "
{ Orang?, hanya kamu seorang di dalam vila ini. Aku tidur dan pergi mencari makanan karena ini sudah jam siang }
" Jadi aku- "
[ Apa itu hanya mimpiku saja? ]
Ia memegang keningnya karena kepalanya terasa nyut nyut tan akibat tidur terlalu lama.
Masalah lain lagi adalah bajunya yang masih dipakai dari kemarin ternyata sekarang sudah merasakan bau, jadi ia pergi ke kamarnya yang dulu pernah ia tinggali untuk waktu beberapa saat. Letaknya ada di lantai dua jadi untuk beberapa waktu ia berjalan santai hingga sampai ke kamarnya.
Tidak ada yang berubah, bahkan kamar senantiasa bersih. Itulah yang membuat dirinya heran, kenapa bisa bersih dikala tidak ada seorang pun di dalam vila ini.
Setidaknya sekarang di dalam lemari ada 3 setel baju yang dapat di pakai dan dua di antaranya merupakan mantel musim dingin yang dulu ia buat hasil desain sendiri, jadi pada hakikatnya sekarang hanya ada satu setel baju yang dapat di pakai.
Sekarang masanya tuk melakukan ritual siangnya sebelum makan yaitu adalah mandi, untung saja di dalam kamar mandi selain ada air dingin juga ada air panas sehingga tidak ada kendala apa pun untuknya di hari ini.
__ADS_1
10 menit kemudian
Lepas ia habiskan waktu 10 menit itu untuk berendam di dalam air panas dan apapun itu di dalam toilet, sekarang perasaan enak sudah sangat terasa. Dari ukuran tubuh yang kembali normal, tubuh lelahnya sudah terasa lebih sehat kembali, Everst yang sudah kembali dari urusan pribadinya itu, dirinya yang di berikan wewenang menjadi bagian dari Schneider walaupun alasan di balik itu semua masih belum diketahuinya namun yang pasti setidaknya bisa memiliki tempat tinggal di kota yang baru.