
" Kalau saya bilang ingin ganti rugi bagaimana?. " tutur gadis ini, tanpa menatap lawan bicaranya, gadis ini masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Sret.....Sret.....Sret...
Tangan kanannya perlahan menggulung kembali kain putih tipis itu untuk menutupi lengan kirinya. Mengganti perban dengan yang baru setelah dirobek oleh Raya.
Kaki besar nan kekar yang dimiliki Raya benar-benar sukses membuat lengan kirinya tergores oleh kuku yang tajam itu, dan karena itu untung saja kulitnya hanya tergores sedikit sebab ada lengan baju dan perban yang menutupi tangannya tadi.
Tassel yang melerai pertengkaran beda ras itu pun hanya menghela nafas, setelah menodongkan pedangnya tepat ke leher Raya yang sedang menginjak tubuh Dania, Raya langsung terbang begitu saja setelah sukses melukai lengan korbannya.
Dania tidak habis pikir bahwa burung tersebut marah besar hanya karena burung miliknya ( Everst ) merebut makanannya Raya. Padahal yang merebut itu Everst tapi yang jadi sasaran empuknya adalah sang majikannya ( Dania ).
Gadis ini masih serius di lilitan perban terakhirnya, lalu dengan lihainya dia mengikatnya dengan ikatan simpul hanya dengan bantuan gigi.
[ Kalau dipikir, alasan dia menutupi kedua tangannya dengan perban aku kira hanya untuk gaya, tapi untuk menutupi bekas luka itu. Dari mana dia mendapatkan luka-luka itu?. ] fikir Tassel. Tassel sedikit terpana bahwa gadia itu bisa melilit perban dengan sebegitu rapinya tanpa ada bantuan dari orang lain.
[ Tapi aku heran, kenapa dia ( Yunifer ) ikut duduk di situ?. ] melirik ke arah Ishid dan Yunifer, mereka berdua duduk bersama padahal di ruangan ini juga ada Tassel yang merupakan pangeran.
Lalu tiba-tiba Dania terswnyum simpul melihat kenyataan bahwa mereka bertiga adalah para tokoh utama di karakter novel yang sudah pernah dibacanya semasa di dunia sebelumnya.
[ Apa yang dia senyumkan?. ] fikir Ishid, meski merasa bersalah dengan dua kejadian tadi, Ishid masih sempat menaruh curiga pada gadis di depannya.
Sedangkan Yunifer, merasa suhu di ruangan itu semakin dingin.
[ Mereka berdua kenapa menatap serius dia ( Dani )?. Apa Ishid menyukai gadis itu?. ] Dan Yunifer jadi memikirkan hal lain bahwa jalan cerita di novelnya sudah salah arah, bahkan sempa memikirkan bahwa Ishid memendam rasa pada Dania.
[ Kenapa lama-lama jadi kesal melihat mereka bertiga menatapku?. ] Dania spontan tersenyum miring, kemudian menyibak rambut yang sudah pendek itu ke belakang sambil berkata.
" Katakan apa yang ingin kalian katakan, saya punya hal lain yang harus dikerjakan. "
Meski maaih sedikit nyut-nyutan, Dania sudah mulai memperlihatkan ekspresi bosannya agar mereka bertiga segera menyelsaikan urusannya dengannya ( Dania ).
__ADS_1
Tassel memulai pembicaraannya.
" Aku tidak akan basa-basi lagi. Kami berterima kasih sudah berkontribusi dalam menyelamatkan Lady Celes dari raja iblis, kamu akan mendapatkan imbalan besar serta kompensasi yang barusan terjadi. "
[ Ohh....imbalan seperti apa yang akan diberikan pria ini padaku?. ] fikir Dania, senyuman cengir yang tidak tertahankan karena penasaran mulai tersungging.
" Anda juga akan mendapatkan sejumlah uang lebih selain dengan kesepakatan yang sudah anda buat dengan saya. " sela Ishid.
[ Hah...Ishid melakukan kesepakatan dengan dia?. ] Yunifer sidikit terkejut dengan perkataan Ishid barusan karena ternyata alasan Ishid dan Dania terlihat akrab dan serasa saling mengenal, ternyata alasan dibalik itu semua adalah karena aebuah kesepakatan yang sudah mereka berdua buat.
" Salah satunya kamu mendapatkan rumah di- "
'Rumah' langsung terlintas di otak Dania, Dania segera menyela.
" Maaf, tapi kalau rumah.....saya tidak akan menerimanya. "
Alasannya sederhana, meskipun Dania memimpikan memiliki rumah sendiri di kehidupannya kali ini, tapi yang di ingin Dania adalah rumah dengan hasil desain karyanya sendiri. Sedangkan kebanyakan model rumah yang sudah banyak dilihatnya sangatlah kurang membuat Dania berselera untuk memilikinya.
[ Lebih baik uang saja, dan biar istana Archduke yang aku gunakan sebagai tempat tinggal dan penyimpanan semua uangku jika aku memang mendapatkan uang serta kompensasi dalam jumlah yang banyak. ] batin Dania, penuh dengan gairah sebagai orang yang pernah memiliki kekayaan berlimpah, walau sudah hangus semua.
[ Ternyata dia mata duitan. ] Tassel jadi tersenyum geli jika Dania lebih terobsesi dengan uang ketimbang rumah.
______________
Setelah perbincangan diantara mereka bertiga, Dania pun keluar dengan wajah sumringah.
[ Sayangnya mata uang di dunia ini adalah logam. ] mengeluh fakta meski di hujani 2 juta emas, rasanya seperti akan dikubur hidup-hidup.
[ Tapi yang penting aku punya duit...yess....duit oh duit. ] dengan gembiranya tangan kanannya di arahkan ke depan dan mengepal dengan kuat.
" yeyeyeye...... " dengan langkah pelan sedikit gontai gantai, Dania menyenandungkan nada kemenangan karena bisa memiliki uang yang banyak, sampai-sampai tubuhnya seperti jarum jam yang berdetak tapi arahnya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Semua rasa kesalnya ternyata langsung bisa menghilang setelah disuguhkan pembahasan uang. Mau bagaimana dia menggunakannyan, Dania sudah merencanakan harinya itu.
Sedangkan jauh di belakang, Sieg memperhatikan gadis itu dengan wajah terheran.
" Dia memang perempuan aneh. "
Dan tak lama kemudian, sepasang kaki mendarat tepat di bahu kanannya.
Karena Sieg memang tidak merasakan hawa ancaman dari burung itu, dan kebetulan Sieg mengenali sosok hewan itu juga, Sieg pun menatap burung tersebut disertai dorongan pelan pada tubuh Everst agar menyingkir dari bahunya karena merasa berat.
Tapi yang diterimanya justru cakar itu mencengkram bahu Sieg semakin erat dan kukunya juga semakin menusuk ke dalam.
" Kau si kembar sel darah merah itu. " akhirnya Everst berusara.
Dan orang yang di panggil sel darah merah sontak membelalakkan matanya.
" A-apa?!...., ka-u...b-bisa bicara?. " tanya Sieg dengan tatapan tersinggungnya juga karena di panggil sel darah merah, tapi rasa terkejutnya adalah karena bisa mendengar dengan jelas burung coklat seukuran burung gagak ini ternyata bisa berbicara nirmal layaknya manusia.
" Melihatmu terus memperhatikan gadis itu terus, apa kau menaruh rasa padanya?. " sambung Everst, mata elangnya menatap tajam Dania yang berjalan semakin menjauh lalu menghilang tepat di ujung koridor itu setelahnya ia alihkan pandangan tersebut menatap Sieg dengan begitu lekat, hingga wajah Sieg pun terpantul di manik mata sang burung tersebut.
[ Dia...memang bisa berbicara. Tapi...kenapa dia malah mengatakan aku menyukai gadis itu?. ]
Fikirnya.
Sieg kemudian hendak memyingkirkan sepasang kaki Everst, tapi Everst keburu terbang turun.
Lalu entah dari mana asalnya, sayap kanan Everst terulur ke depan dan ada satu benda berkilau di ujung bulu-bulunya.
" Dia menjatuhkan ini lagi. " ucap Everst dengan nada pelan.
" Hei-...dari mana burung sepertimu mendapatkan kalung mahal itu?. "
__ADS_1
[ Kelihatan mahal, jangan-jangan dia burung jadi-jadian. ] Sieg pun pada akhirnya menebak-nebak kenapa burung coklat ini bisa bicara dan satu hal lagi memiliki kalung yang terlihat mahal itu.
" Kamu tidak layak mengetahuinya. " ketus Everst, lalu Everst mengalungkan kalung itu ke lehernya sendiri dan kembali terbang menyusuri koridor, mengekori kemana gadis bernama Dania itu pergi.