
Penampilan yang acak-acakan, rasa lapar yang langsung menghilang karena sudah tidak berselera lagi untuk makan, dan jadi perhatian semua orang di dalam restoran.
Dania benar-benar berpenampilan lusuh seperti gelandangan.
Meski sudah mendapatkan handuk untuk mengeringkan rambut dan wajahnya, tapi pakaiannya tetap saja basah dan harus di ganti.
[ Hmph....kenapa aku selalu terlibat urusan orang lain sih.?!. ] perempatan siku mulai muncul di keningnya, tangan kanannya yang sedang memegang handuk putih itu pun sampai diremas dengan kuat.
Hari-harinya penuh dengan drama kehidupan milik orang lain, sampai membuat penampilan paginya yang awalnya rapi, kini sudah tidak terlihat seperti manusia, bagusnya seperti hewan yang tercebur got.
[ Kehidupanku dulu bisa cantik begitu, kenapa sekarang aku seperti ini!. ] dan senyuman getir terukir di bibirnya.
Sudah lagi mempermalukan diri sendiri, martabatnya sebagai perempuan memang bisa hancur dalam sekejap jika tidak bisa menahan diri alias emosi, dan dirinya sudah melakukannya dengan hebat jadi tidak peduli lagi.
" Menyebalkan, aku tidak akan kesini lagi. " gumamnya, dia langsung merebut paper bag dengan kasar dari seorang pelayan yang baru saja datang, tas itu berisi makanan yang belum ia ( Dania ) makan sepenuhnya.
Kemudian Dania melemparkan bekas handuknya ke pelayan, lalu melirik ke arah dua orang berstatus suami istri yang sedang duduk di tempat duduk di samping kanannya. Iris Ruby-nya kemudian bertemu dengan dua pasang mata yang sangat menjengkelkan itu. Setelah suara lantangnya menggema di restoran, barulah dua orang tersebut buru-buru menundukkan kepalanya karena takut dan ketika mata mereka bertemu dengan iris mata Ruby milik Dania, mereka langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain, karena merasa bahwa mata itu seperti hendak mengutuk mereka.
Persetan rumor bahwa matanya atau dirinya dikutuk, wajah serius dan sorotan mata tajam yang ia lempar ke arah dua orang itu sukses membuat mereka semua terdiam, sudah menjadi pilihan bagus untuk mereka semua agar tidak berisik lagi.
Kepalanya pusing jika mendengar omongan dari mulut manusia yang suka gosip.
" Sudah ke dua kalinya. " kata Dania dengan nada lirih, sebagai pengingat bahwa dirinya ( Dania ) memang sudah mengalami hal seperti ini di restoran yang sama pula dengan kejadian yang juga sama.
Tanpa ada yang mau berbicara lagi dengannya, dia pun memutuskan pergi daei situ, karena menghirup udara yang sama dengan manusia seperti mereka, baginya sungguhlah menjijikan.
Dania memejamkan matanya beberapa waktu sambil memutar tubuhnya ke belakang, dia pun mengambil langkah ke dep-....
BUKK......
Ada satu tangan merentang ke depan dan telapak tangan itu menahan kepala gadis tersebut.
Dan sebab tiba-tiba langkahnya tidak bisa menghasilkan dirinya maju ke depan, Dania terheran sendiri, siapa odang yang sudah menghalangi jalannya?.
"...........! "
[ Kenapa aku tidak bisa maju?. ] dan merasa di dahinya tertekan oleh satu telapak tangan, ia pun mendongak ke atas.
" Dia...-, "
" Yang mulia disini?. "
" Gawat, jangan-jangan kita akan kena imbasnya juga. "
Mereka kembali berbisik-bisik karena tertegun baha ada orang penting mampir ke restoran tersebut.
" Dahimu masih panas, bukannya pulang istirahat, tapi mampir kesini. " ucap pria ini.
Suara berat khas miliknya, pria tinggi bertubuh besar, rambut abu dan iris mata violet khas milik....
[ Archduke?. ]
Detik hatinya. Lalu Dania menghentikan langkahnya dan mulai bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
[ Kenapa kebetulan yang tidak diharapkan?. ]
" Sepertinya kau memang orang yang suka membawa perempuan lain kena masalah rumah tanggamu. " tunjuk Archduke menatap ke arah pasangan yang sedang duduk berhadapan.
" Dan anda nyonya muda, sebaiknya jangan asal sembarangan menyiram orang lain. " peringat archduke pada Isreni.
Sesaat setelah itu, Archduke kembali menatap Dania yang berpenampilan lusuh.
" Kapan hari dimana aku bisa melihatmu memakai pakaian bersih dan cantik?. "
Setelah berkata seperti itu, dia menanggalkan mantel coat-nya dan meletakkannya di atas kepala Dania untuk menutupi tubuhnya ( Dania ) yang basah.
Dania langsung mundur dua langkah ke belakang sambil mengangkat lengan kanannya untuk menghalangi wajahnya yang sedang merona.
[ A-apa?!...apa yang sedang dia bicarakan?. Can-cantik?. ] tertegun untuk pertama kalinya mendengar Archduke mengatakan hal seperti itu di muka umum.
" Ayo pulang. " Archduke mengajak Dania pulang.
Membuat puluhan pasang mata memandang heran dengan pasangan tersebut, soalnya Archduke yang belum lama pulang dari luar negeri ternyata memulai hubungan dengan seorang gadis muda.
"............" tanpa sepatah kata pun, Dania mengiyakan untuk pulang bersama orang ini.
Meninggalkan perkara dari sepasang suami istri tadi di restoran, Dania berjala keluar restoran dan ternyata sudah disambut kereta kuda juga bawahannya Archduke yaitu juro Vidal.
Sesampainya di depan pintu kereta kuda, Dania langsung membuka dan naik ke dalam kereta kuda. Di hadapannya Vidal duduk dengan penuh wibawa.
Dan setelah itu Archduke pula yang masuk dan duduk di samping juro Vidal.
Perasaan di hadapkan dua orang pria...
Lagi-lagi Dania merasa kehidupan atas pertemuan harem nya. Sudah ke sekian kali dirinya bertemu dengan para kansanova yang tidak disadari mereka semua bahwa wajah mereka yang mempesonan membuat Dania harus bertarung melawan hasrat kegembiraannya untuk mengucapkan kata jujur di dalam hatinya.
[ Kenapa penampilannya sangat berantakan?. ] Vidal tanpa sadar memperhatikan Dania yang sedang duduk di samping jendela.
Vidal memandang Dania balik karena Dania sendiri menatap dirinya terus menerus hingga akhirnya Archduke membuka suara.
" Apa kalian berdua diam-diam memiliki hubungan?. "
" Apa?!. " All. Keduanya langsung terpegun.
" Kenapa yang mulia seenaknya membuat alasan tak masuk akal. " jawab Vidal dengan cepat.
" Ya ......dan lagi pula aku tidak terlalu suka beda usia yang terlalu jauh. "
Kini Dania pula yang menjawab , dan meskipun jawabannya sudah jujur, tapi tidak dengan pikirannya, pikirannya justru lebih jujur lagi.
[ Tapi yang utama memang wajah. Dia ( Vidal ) juga bukan tipe-ku meski memang tampan, tapi di dunia ini pasti ada yang lebih dari sosok dua orang di depanku. ] kemudian mengangguk dengan pelan.
" Oho....aku jadi penasaran tipe idealmu seperti apa. " ucap Archduke.
" Itu hal rahasia. " singkatnya.
Dania tak mau menjawa pertsnyaan dari Archduke karena sendirinya juga belum tahu tipe ideal pasangannya seperti apa dan....
__ADS_1
[ Ahhh........ ] menepuk dahinya sendiri, Dania langsung saja mlengos ke samping kanan dengan dalih melihat pemandangan dari jendela, sebenarnya ada satu hal yang terpendam di dalam hatinya.
[ Kenapa aku tiba-tiba memikirkan hal itu?. Nikmat..... ] fikirnya.
[ Memangnya seberapa nikmat olahraga diatas ranjang?. ] entah karena umur, imajinasi liarnya kembali datang.
Sayangnya sampai-sampai Dania tidak bisa menyembunyikan air mukanya sendiri yang sedang tersenyum miring.
Jika di lihat oleh dua orang di depannya, mereka sudah pasti menganggap Dania sedang membuat rencana licik gara-gara senyuman iblis-nya.
Helaian rambut aram tenaram yang kusut, memandang dengan pandangan kosong dari iris mata berwarna Ruby lalu warna kulit wajah yang pucat dihiaskan senyuman miring yang tidak mengenakkan hati si pemerhati.
Vidal sangat memperhatikan tingkah dari gadis itu, dari pakaian, cara berbicara, serta tiap tindakan yang dibuat oleh gadis tersebut, Vidal betul-betul memperhatikannya dengan serius.
[ Kadang dia terlihat dewasa tapi juga kekanakan. Siapa yang menyangka perbedaan usia dan gender, dia memiliki kemampuan melebihi laki-laki remaja normal. Apa dia benar-benar perempuan?. ] karena jika melihat Dania yang suka memakai pakaian laki-laki karena sering memakai celana, kadang tanpa disadari Vidal menatap ke arah dada yang terlihat ada dan tiada itu.
[ Kapan sampainya?. Aku benar-benae malas naik kereta kuda. Jalannya tidak halus dan kecepatannya lambat. ] keluh Dania di dalam hatinya. Hati dan pikiran yang tidak akan bisa terdengar oleh orang lain, Dania hanya bisa berteriak dalam diam. Ia sangat-sangat membenci situasi yang sangat membosnakan ini, di dalam kereta kuda dengan ruangan sempit dan tidak ada Ac, kenyamanan di dalam kereta kuda yang mewah sekalipun memang tidak bisa di bandingkan dengan mobilnya yang dulu.
Dania terus terbuai di dalam pikirannya dan imajinasi yang selalu berubah.
Sedangkan.....
[.............! ]
Archduke yang sadar dengan Vidal yang bertenung menatap Dania pun berkata lagi.
" Juro Vidal, tatapan matamu sangat fokus padanya, apa memandang Dania lebih menarik dari pada memandang majikanmu?. " goda Archduke, dan langsung tersenyum geli melihat reaksi Vidal yang salah tingkah.
" Kenapa yang mulia berkata seperti itu?. Dan lagi pula saya sudah sering melihat anda. Jadi apa salahnya jika say- " tidak.....harusnya Vidal hanya selesai di kalimat 'anda', tapi mulutnya justru tidak mau berhenti untuk berbicara bahwa dirinya akan berbicara bahwa Vidal memang menikmati pemandangan dari gadis unik di hadapannya itu.
[ Apa yang mau aku katakan lagi?. ] mulutnya langsung terdiam, ketika sudut mata Dania melirik langsung ke arahnya, bulu nata yang panjang dan lentik itu menjadi pesona tersendiri baginya.
" Saya apa?. " celetuk Dania sambil mengerutkan dahinya dan sekarang sudah bertatap wajah dengan Vidal.
" Tidak....bukan apa-apa. " jawab vidal secepat kilat, hingga gadis itu pun tahu bahwa Vidal tidak mau memberitahu keĺanjutan dari ucapannya tadi.
[ Dia kelihatan aneh, apa cuma perasaanku saja?. Tapi..... ] sambil memberikan tatapan menyelidik, dia menggerutu.
" Aku sangat benci naik kereta kuda. " gerutu Dania, rasa tak nyaman dan membuat kepalanya sedikit pusing.
" Apa ada yang tak nyaman?. "
[...............! . Dia peka juga. ] puji Dania setelah mendengar perkataan yang berunsur sebuah perhatian dari Archduke pada dirinya.
" Apa aku boleh pindah tempat duduk?. " tanyanya sambil menunjuk ke satu celah diantara Vidal dan Archduke.
[ Gadis ini sangat berani mengutarakan keluhannya, bagus sih...tapi kenapa dia mau pindah ke tempat duduk ku?!!!. ] matanya seketika membulat saat Dania tiba-tiba nyempil alias duduk di tengah-tengah mereka berdua ( Archduke dan Vidal ) sendiri.
" Yang mulai belum menjawab kamu sudah main pindah. " peringat Vidal.
" Bagaimana lagi?, aku tidak tahan ingin pindah. Duduk di posisi kereta seakan sedang berjalan mundur, kepalaku jadi pusing. "
[ Bahkan lebih bagus kalau aku duduk di samping kusir. ] fikir-fikir lagi, karena tempat yang paling nyaman adalah di posisi terdepan.
__ADS_1