Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Dia Dan Aku


__ADS_3

ZRASSSHHH.........


ZRASHHHH.......


Ternyata dimana pun itu, hujan akan tetap ada, sekalipun di tempat ini.


Tempat dimana semua pohon dan tanah menjadi kering, yang tak lain membuktikan kalau sudah dalam kurun waktu lama, tidak ada asupan air yang memenuhi kebutuhan dari semua yang ada disini untuk terlihat menjadi tempat yang normal.


Tapi, itu adalah hujan.


Air yang benar-benar berhasil membasahi semua yang bisa mereka jangkau.


Air mulai meresap dengan cepat, membasahi tanah kering yang leih berdominasi oleh retakan-retakan yang dalam.


Dan di sini pula, saksi dari semua drama yang kini sudah berakhir berlalu begitu saja.


TES...........


TES.........


TES.......


Air itu meluncur dari kepala, menuju ke dagu. Meneteskan air yang sudah menyentuh wajahnya, mendarat ke pelupuk matanya.


Sorotan matanya yang dingin menjangkau sosok tubuh yang sedang dia pangku dalam pangkuannya.


Tubuh yang begitu ringan.


Itulah penilaian sesaat pada tubuh kecil itu.


"........................."


Sebuah kenangan masa lalu yang muncul lagi, momen itu kembali lagi, dan itu di sini.


Rambut yang biasanya memberikan cahaya emas harapan ketika berkibar, kini jatuh ke bawah, menempel dengan kulit kepalanya, karena air yang membuat rambutnya basah itu.


Dia terus memperhatikan manusia ini.


Satu tubuh yang di pangkunya, benar-benar terkulai lemas, dengan sepasang mata masih tertutup, wajah pucat yang menampilkan sebuah kedamaian. Itu sudah seperti terukir dengan jelas di wajah gadis ini.


"..................."


Bibir yang awalnya terdiam dengan sebegitu rapatnya, mulai bergerak, menggumamkan sesuatu., yang hanya bisa dia dengar sendiri.


" A.....-ka.....m.....n...g....in..k....an....ni...l...gi. "


Kepalanya terus menunduk ke bawah, dari situ dia sedikit mengangkat tubuh itu untuk masuk ke dalam dekapannya, sebuah jarak paling dekat yang bisa dia lakukan, wajahnya semakin dia dekatkan ke dalam jangkauan yang menempatkan posisi wajahnya dengannya hanya berjarak kurang dari 5 cm lagi.


*********


Di luar hutan, lebih ke luar gerbang tempat mereka keluar dari hutan kelam itu.


" A-akhirnya kita bisa keluar. "


Ucap salah satu di antara mereka.


Semuanya hanya bisa mengutaraan kesenangan nitu lewat tangisan yang di tahan.


" Uhmm....."


" Shera, kau sudah sadar?. " tanya Arhes, melihat adiknya mendesah karena terusik dengan cahaya matahari yang bersinar terang meski sudah berada di ufuk barat.


Perlahan, kelopak matanya terbuka, mellihat satu wajah itu, tak lain adalah kakaknya sendiri.


" Kakak..." panggilnya dengan nada lemah, dan masih menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retinanya.


Yang di panggil kakak, segera menjawab.


" Bagaimana keadaanmu?. Apa ada bagian tubuh yang terasa sakit?. " sekaligus bertanya mengenai kondisi yang diraskan Shera ini.


Shera hanya membalasnya dengan singkat.


" Hanya pusing. ", lalu mencoba mengedarkan pandangannya, karena merasa heran kenapa dirinya justru melihat wajah kakaknya dari bawah?, sehingga melihat garis rahang kakaknya yang nampak begitu jelas juga kokoh?.


Dari kanan lalu ke kiri.


"................! " Seketika matanya melotot pada hal yang tidak terduga itu.


[ I-itu...itu...... ] Karena sudah sadar dengan apa yang di lihatnya, dia pun jadi meraakan apa yang di sentuh oleh kulitnya dari balik pakaian yang di kenakannya itu.


[ O-ototnya....kenapa kakak bisa punya otot sampai begitu bisa aku rasakan ini?, pa-padahal kelihatannya...dulu, dia kakak yang kurus kering seperti tiang lurus deh, tapi i..ini..]


Kepalanya yang sebenarnya masih pusing, di tambah sudah di hadapi sebuah perasaan aneh itu, menjadkan Shera tidak kuat bisa menhan godaan dari kakaknya....


" Kau kenapa?. " Tanya Arhes, ketika melihat adiknya yang langsung bersikap aneh dengan ekspresi terkejut, apa lagi wajah sudah tersipu merah.


Shera jadi tergagap sendiri.


" I-tu...ka...kakak, ini..." tidak bisa mengucapkan kalimat dengan jelas, Shera hanya bisa menunjukkan jari telunjuk tagan kanannya ke arah dada millik kakaknya.

__ADS_1


" .................." Arhes yang berpikiran dangkal, hanya menjawab dengan ekspresi datar.


" Aku menggendongmu karena tadi kamu masih pingsan. "


Tapi lain dengan pemikiran Shera, dia hanya terkejut dengan hal itu, sebuah hal ynag tidak terduga tiba-tiba di rasakannya ntuk pertama kalinya.


" I-iya...ta---tapi......."


[ Ini sangat dekat....] Sampai-sampai Arhes sebenarnya tidak mengeri atau tidak sadar.......


" Wajahmu jadi merah, apa kau demam?. " Arhes yang memiliki tangan panjang yang menyisakan sebuah celah, meski sedang menggendong adiknya, telapak tangannya pun masih sanggup untuk menyentuh rahang Shera, dan sontak...


Perbuatannya itu membuat..


" ................." Shera terkejut dengan suhu tubuh yang sangat kontras itu, membuat bulu kuduknya berdiri.


Apa lagi sebuah jarak yang membuat mereka lebih dekat, kepalanya Shera langsung kosong ketika dadanya jadi menyentuh dada kakaknya yang bidang juga terasa kekar.


" Kamu berkeringat dingin, setelah ini aku carikan dokter untumu. " ucap Arhes, tapi ucapannya seperti tidak di dengar oleh Shera.


Matanya jadi melliik ke bawah, menatap matanya Shera yang membulat lebar seperti mau mati.


" Shera!. " Panggil Arhes pada adiknya, tapi yang di panggil tidak merespon.


" Shera, kau mendengarku kan?. Shera!. " panggilnya dengan nada lebih tinggi, sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuh yang masih ada dalam gendongannya.


Lamunannya yang terpcah karena namanya di panggil dengan nada lebih tegas, membuat Shera akhirnya sadar.


" Ah...ya!. "


" Kau sudah tidak apa-apa kan selain pusing itu?. "


Bertanya dalalm ekspresi khawatir, hatinya Shera jadi tergugah kalau yang dilakukan kakaknya itu bukan sebuah hal antara laki-laki dengan perempuan melainkan karena rasa khawatir dari kakak pada adiknya yang baru bangun dari pingsan.


Di gendong?.


" Iya, hanya pusing. " Menjawab lagi jawaban yang sudah di jawab.


Ini pertama kalinya bisa di gendong layaknya seorang putri.


Dan ini pertama kalinya juga untuk Shera bisa dekat, sangat begitu dekat pada seorang laki-laki, dengan jarak sebegitu dekatnya.


" Aku hanya pusing saja, kakak jangan khawatir lagi. " tersenyum lembut, Shera pun memberanikan diri menyentuh wajah kakaknya yang rupanya jadi pria kota yang tampan.


[ Ah.....aku harus menikmati ini. ]


" .........................." Membiarkan adiknya melakukan apa yang di sukainya, akhirnya Arhes menikmati sentuhan yang terasa manja dari adiknya itu.


" Wah......hubungan kalian sangat dekat ya?. "


DEG..........


" ................." All, dua-duaya menoleh ke arah wanita yang menggunakan kaos miliknya Arhes.


[ Dekat?. ] Pikiran yang sama, antara Arhes dengan Shera, membuat keduanya jadi saling pandang satu sama lain.


[ Seandainya dulu, sekalian membawa Shera ke kota,........ ]


"...................."


[ Coba aku ke kota bersama kakak, aku jadi bisa sekalian bekerja di sana...]


".................."


[ Uangnya pasti sudah bisa untuk beli rumah di kota. ] All ( Arhes dan Shera. )


Melihat kedekatan mereka berdua, apa lagi dengan tatapan hangat penuh dengan harapan yang terlihat sama, membuat wanita berambut panjang ini tersenyum lembut.


" Kalian berdua, mesra juga ya?. " pujinya lagi, dan pujian itu membuat kedua pemuda itu langsung menjawab secara bersamaan.


" Kita cuma kakak adik. " All.


" Iya...iya, kami tahu. " sambil menyembunyikan tawa gelinya dari balik telapak tangan yang menghalangi bibirnya yang tersenyum ingin tertawa itu.


" Wajah kalian juga sudah mirip, jadi sudah tahu kalian kakak adik. " tambahnya lagi.


BLUSHH.........


" .................." Dua orang ini akhirnya menemukan kesalah pahaman mereka dengan kata-kata yang di dengarnya tadi.


[ Wajah mereka lucu juga. ] setelah sekian lama tersiksa di dalam penjara yang sangat membuat dirinya menderita, inilah pertama kalinya bisa tersenyum tawa dengan melihat tingkah dari kaka beradik itu.


" Karena kalian berdua sudah menyelamatkan kami, aku mengundang kalian secara resmi ke kastilku. "


" He...?. Kastil?. " Shera yang tidak pernah mendengar kata kastil, langsung tertarik dengan ajakan wanita tersebut, yang di duga adalah nyonya penguasa dari wilayahnya.


" Iya. "


Memang, dari luar kelihatan kalau wanita ini begitu compang camping seperti gelandangan atau lebih tepatnya pelac*r yang di buang, karena terlihat sangat vulgar, jika hanya mengandalkan penampilan luarnya, tapi siapa yang menyangka kalau dia adalah sang nyonya?.

__ADS_1


" Kakak...." melihat wajah kakaknya yang begitu dingin, itu membuat Shera tahu apa yang sedang di pikirkan kakaknya, meski hanya melihat wajahnya yang tidak berekspresi itu.


" Shera. " panggil Arhes.


" Kau disini dulu. " menurunkan tubuh Shera ke atas batang pohon yang sudah tumbang itu, agar duduk di situ.


" Aku harus mencari seseorang lagi. " Dan tak lain itu adalah seseorang yang menyelamatkan nyawa mereka, sampai bisa keluar dari tempat itu.


" Lalu.........' menatap ke arah wanita itu, Arhes menambahkan lagi.


" Aku menitip adikku padamu. "


" B-baiklah. " jawabny, setelah mendengar respon dari pria itu, kalau ternyata ada satu orang lagi yang ada di dalam hutan itu.


" ......................" Tanpa sepatah kata, Shera hanya melihat punggung kakaknya yang kian menjauh.


Dan hanya sebuah harapan kecil, kalau kakaknya dan juga kak Dania bisa keluar dengan selamat.


Arhes, dia tidak boleh melupakan satu hal yag membuatnya bisa sampai di sini.


Bisa menyelamatkan adiknya dari penyakitnya itu, bisa berkelana dengan hal yang aneh-aneh, bahkan dimana dirinya dan mereka semua bisa keluar dari tempat itu dengan selamat.


[ Bukannya melindungi, tapi malah di lindungi. ]


Langkan tidak penuh dengan keraguan lagi, ARhes kembmali masuk ke dalam celah itu lagi. Mauk kembali ke dalam hutan yang menjadi salah satu kisah perjalanannya.


ZRASHHHH........


ZRASHHH......


Dan hal tersebut tidak membuat Arhes berhenti melangkah, dia akan membantunya keluar dari hutan ini, walau ternyata sekarang dalam kondisi hujan sekaliipun.


BRRRRR..........


" ................"


[ Kudanya masih di sini?. ] menghiraukan ternyata dua kuda itu ternyata tidak lari keluar, Arhes memutuskan untuk menungganginya saja, agar pencariannya lebih cepat.


Tapi, mengisyaatkan kuda yang di naikinya untuk berlari, rupanya satu kuda lagi jadi lari mengekori.


"................"


[ Dia......tanpa di tarik, kudanya mengikutiku?. ] Hal tidak masuk akal apa lagi?, setelah mendengar burung coklat saja ternyata bisa bicara, lalu kali ini, kudanya mengikuti tanpa harus menarik tali pelana.


Arhes sampai 5 menit kemudian terus mencari tempat titik terakhir mereka berpisah, tempat itu bukan lagi sebuah dataran yang rata, karena sudah seperti tempat bekas mendaratnya batu meteor.


Banyak batu yang berserakan dari bentuk kecil hingga besar, tanah berlubang yang lama-lama menjadi sebuah kolam.


Apa yang sudah terjadi dalam waktu yang terasa singkat itu?.


Pertarungan yang besar juga sengit, hanya itu yang menjadi titik temu atas peristiwa yang tidak dapat dia lihat dengan mata kepala sendiri, tapi bisa di mengerti lewat terakhir pertarungan yang ia lihat sebelum pergi, juga lokasi yang kini sudah menjadi terlihat damai.


Smar-samar Arrhes pun mencium aroma amis yang tidak salah lagi adalah darah.


[ Dimana dia?. AKu hanya harap kau masih ada. ] Karena jika tidak bisa menemukannya, apa lagi jika pulang hanya engan membawa adiknya, apa yang akan terjadi?.


Pasti akan menjadi bahan perbincangan di istana.


"................! "


Entah memang sangat mencolok, tidak sengaja Arhes melihat pria berambut pirang layaknya emas sedang duduk dengan jubah merah yang melekat menutupi pinggang sampai posisinya itu membuat kain merah tersebut menyelimuti permukaan tanah.


[ Siapa yang ada di pangkuannya?. ]


Hanya mengamati dari kejauhan, Arhes menemukan akhir, dimana pria itu mulai mendekapkan seseorang yang sedang dipangkunya untuk lebih dekat lagi ke dalam sebuah pelukan, lalu......


Dari sebuah pelukan, kepala dari pria berambut emas itu kian mendekat ke sebuah wajah sampai dimana dia melihat dua wajah itu benar-benar dekat seakan itu adalah adegan terakhir sepasang kekasih, yang sedang saling berciuman.


Melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat.


Setelah adegan yang tidak terhindarkan itu, Arhes tidak percaya kalau pria itu langsung menghilang dengan sebuah lingkaran cahaya berwarna emas terbentuk di bawah tubuh yang ditinggalkan itu.


Tidak, bukan hanya satu tubuh melainkan dua tubuh yang terbaring setelah pria tadi pergi entah menghilang kemana.


Juga........


[ Burung itu!. ] tergeletak tak jauh dari ke dua tubuh itu.


##############


Sebuah tempat yang seakan berubah menjadi kuburan.


Keheningan setelah pesta pertarungan.


Arhes, menemukan hal lain setelah pencarian singkatnya.


Selanjutnya. ---------------->>


Ikut membawanya.

__ADS_1


__ADS_2