
" Ini salahmu!, harusnya kau tidak usah lanjut judi dengan anak itu, kita tidak dapat apa-pun, dan sekarang nyonya sonia bilang sertifikat rumah kita ada di tangannya, kita mau tinggal dimana jika tidak membayar hutang kita coba?. " ucap sang istri dengan panjang lebar.
Yang di katai juga telinganya makin panas, dan dibuat semakinnn panas dengan ocehan istrinya.
" Berisik..berisik..., kamu harusnya ikut mikir, bukan menceramahiku. Kau sendiri yang bilang kalau dia mangsa yang mudah. "
" Aku kan cuma mengatakannya di awal, bukannya terus lanjut bermain!. "
NGIIKK......BRRRR........
"...............! " All
Dua orang ini terkejut ada dua kuda besar, tinggi, dan terlihat berkualitas ada di depan rumahnya.
" Kuda milik siapa itu?. " tanya sang istri.
" Mana aku tahu?!. "
[ Jelas-jelas dari tadi pergi bersama, masih saja tanya padaku. ]
Masih dilanda jengkel karena menanyakan hal tak berguna.
" Jangan-jangan!!!....anak kita pulang?. "
"............! " mendnegar istrinya berkata demikian, ia langsung lari dan masuk ke dalam rumah, tanpa disadari bahwa knop pintu itu sudah dirusak.
Keberadaan mereka berdua yang langsung masuk ke dalam rumah, lantas membuat dua orang yang ada di kamarnya Shera, terperengah.
" Gallen?, kau pulang nak?. " panggil wanita paruh baya ini.
" Nak?, kau ada di dalam kan?. " panggilnya lagi.
KREITT.....
Siara pintu yang berderit itu membuat paman dan bibi itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain yaitu pintu masuk rumah, seseorang masuk tanpa sebuah ketukan pintu dan rupanya adalah...
" KAU!. " All, terkejut bahwa yang masuk adalah gadis yang tadi di tempat perjudian.
" Ya aku?!. " tanya balik Dania sambil menyenderkan tubuhnya di ambang pintu.
Melihat wajah pucat pasi yang diperlihatkan oleh dua orang di depannya, Dania jadi puas hati.
" Apa yang kau lakukan dirumahku?!. " tanya sang laman dengan lantang.
" Saya sedang menunggu dua orang di belakang anda sekalian. " bak layaknya seorang pelayan, Dania bertingkah dengan sopan santun pada..
" Tuan dan nyonya. "
__ADS_1
Paman dan bibi tersebut menoleh ke belakang, seseorang yang diabaikannya selama ini, dan seseorang lagi yang terusan bekerja sampai tidak punya waktu luang untuk pulang jadi hanya bisa menitipkan adiknya pada mereka berdua.
" Arhes!?. " All.
" Ya, apa kalian kecewa karena aku yang pulang, bukan si Gallen anak kalian?. " jawab Arhes dengan datar, dan mempunyai makna lebih dari pada yang Dania dengar itu.
" Dan...Shera?!, k-kau....sudah baikan?. " tanya sang bibi, melihat Shera sudah berdiri dengan baik dan wajahnya yang sudah tidak pucat layaknya orang sakit.
"...............! " Shera yang takut, langsung menyembunyikan diri di belakang kakaknya.
[ Uwah.....Drama sinetron apakah ini?. ] Dania jadi gemas melihat adegan mereka berempat, yang seakan mereka berempat adalah para tokoh di drama sinotron di tv swasta.
[ Dia kelihatan sehat, ada apa ini?. Arhes juga tiba-tiba pulang tanpa memberitahuku. ] wanita ini mulai khawatir sendiri.
Padahal tidak ada yang pelru di khawatirkan, sebab.
" Aku akan membawa Shera denganku. " kata kunci dari kehadiran Arhes.
DEG.....
[.............! ] All.
[ Ahh...memang yah, laki-laki sepertinya dengan suara seksi, aku bisa saja mengartikannya dengan sudut pandang berbeda menjadi salah paham sendiri. ] Dania mencoba menahan raut wajah gairah hatinya yang sedang berbunga-bunga.
" A-apa?, kau mau membawa adikmu ke kota?. " paman ini akhirnya mulai mengutarakan pertanyaannya.
" Ba-bagaimana dengan kita?, nanti rumah paman dan bibi jadi sepi. "
" Kalau begitu tinggal suruh Gallen pulang dan menemani kalian. " lagi-lagi jawaban yang dingin.
Arhes sudah tahu semua persoalan dan situasi adiknya salam ini setelah Shera bercerita singkat namun padat.
Tapi Arhes sengaja tidak menanyakan kemana uang yang selama ia kirim itu pergi, karena tidak mau pembicaraan mereka jadi terlalu panjang dan membuatnya makin muak dengan berbagai alasan.
" A-arhes....setidaknya tinggallah semalam. "
" Aku tidak bisa menuruti permintaan bibi lagi. Ayo...Shera...kita pergi. " Sambil melindungi Shera tatapan dari paman dan bibinya, Arhes menuntun adiknya keluar dari rumah itu.
" Tapi... Arhes!, setidaknya berikan balas jasa kami. "
" Oh.... " Arhes memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
" Maksud paman, balas jasa sudah membesarkanku dan merawat adikku selama 1 tahun ini?. "
" Ya!, totalnya.....12.000 ( koin ) emas. "
Dan tanpa tahu malu, paman dan bibi itu mengharapkan imbalan atas jasa mereka sudah membesarkan serta merawat Arhes juga adiknya.
__ADS_1
Arhes terdiam, sambil mengepalkan tangannya begitu erat sehingga kaoan saja kepalan tangan itu bisa menjadi bogem mentah untuk wajah mereka jika mereka orang asing.
" A- " belum sempat mengutarakan pendapatnya Arhes, Dania sudah masuk ke dalam rumah untuk menghampiri paman dan bibinya.
" Rumahnya tidak akan jadi disita. " meletakkan surat rumah ke atas meja.
" Karena aku sudah membayar hutang judi kalian, jadi jangan mengharapkan uang lagi. Ah..tidak, 2 koin emas cukup untuk kebutuhan kalian selama 1 bulan. " merogoh saku dan meletakkan dua koin emas lagi.
________________
Dalam perjalanan pulang, Arhes jadi membawa satu beban lagi.
Tok.....Tak......Tok.......Tak........
Langakh sepatu kuda yang menginjak tanah menjadi suara dari keterdiaman mereka bertiga.
" Aku jadi merasa bersalah, hampir malam tapi langsung buru-buru pulang, dan mau membawa adikku. "
Arhes merasa terbebani, belum satu hari pulang ke desa, tapi sekarang sudah dalam perjalanan kembali lagi ke kota.
" Dan aku dengar, kamu menang judi. Dan membayar hutang paman dan bibiku?. "
" Yah....aku hanya sedang beruntung. "
" Tapi kakak katanya menang sebanyak 20 kali, itu bukan sedang beruntung, melainkan kakak punya keberuntungan dan bakat yang bagus. " bisik Shera.
Tapi masih bisa terdengar oleh kakaknya, karena Shera memang naik di kuda yang sama dengan kakaknya ( Arhes ).
" Bagaimana caraku berterima kasih?. Aku memiliki banyak hutang padamu. "
Dania teleng, dan berfikir.
[ Memang disayangkan, aku membuang uangku untuk membayar hutang paman dan bibinya, tapi aku harus ikhlas, mungkin lain waktu aku malah dapat lebih banyak karena kebaikanku hari ini. ] Dania me-manggut-manggut setuju dengan pikirannya.
" Saat aku membutuhkan bantuanmu. "
Empat ayat yang terlontar, membuat Arhes faham maksudnya.
" Apa itu saja?. "
" Dan...aku cuma ingin banyak teman, lawan jenis. " akhir kalimat yang agak lirih, sukses membuat Shera sedikit tergelak tawa.
Jadi Shera menerjemahkan maksudnya tadi dengan berbisik ke kakaknya.
" ..............! , i..itu bukan masalah, aku akan jadi salah satu teman laki-laki kamu. "
[ Ahh....hatiku bahagia, wajahnya memerah lagi. Enak juga melihat orang lain tergoda. Tapi bagaimana dia bisa berubah?, dimana wajah garang yang semalam?. ]
__ADS_1
Akhirnya Dania melihat sisi Arhes ini, tidak seperti wajah Arhes yang terlihat seperti gengester, ia malah diperlihatkan sisi malu yang terlihat imut bagi Dania.