Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Asal Mula Undangan


__ADS_3

CKLEK.......


Masuk ke dalam kamarnya, tangannya langsung saja melempar topinya ke atas sofa dengan sembarangan, lalu di lanjutkan dengan meletakkan surat dan amplop itu ke atas kasurnya.


BRUKK....


Dia pun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang masih rapi itu.


Rapi?.


Kamarnya senantiasa rapi karena dia sendiri yang merapikan kamarnya sendiri.


Perjanjian yang sudah dia buat, aturan yang sudah dia atur, adalah tidak perlu melayaninya layaknya seperti nona-nona bangsawan lainnya.


Para pelayan di istana ini, intinya tidak di perbolehkan satu orang pun masuk ke dalam kamarnya tanpa seizinnya.


Semua keperluannya akan dia tangani sendiri, hanya itulah aturannya, selama tinggal disini, di istana milik dari yang mulia Archduke.


Jadi itu tidak akan membebani mereka, si para pelayan yang tidak begitu menyukai kehadirannya ini.


[ Coba seandainya ada kolam renang. ] hanya itulah hal yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.


Di saat sedang jenuh seperti inilah, waktu yang pas adalah bisa berenang.


Hanya saja yang ada di halaman belakang adalah danau. Siapa yang tahu kalau di dalamnya ada makhluk tidak dlayakny, atau menjijikan.


Dan kurang pas untuk menikmati berenang di tempat seperti itu. Tidak ada keindahannya sama sekali.


Tok......Tok........Tok.......


Sampai suara ketukan pintu itu muncul, membuang segala pengandaiannya.


" Ini aku. "


Terdengar dari suaranya, jelas kalau yang mengetuk pintu itu adalah si Archduke.


" Ya...masuk saja. " Dania segera bangkit di saat laki-laki penguasa istana ini mulai membuka pintu itu.


" Ada apa?. " tanyanya.


Archduke pun akhirnya melihat penampilan perempuan ini, berbeda dengan yang tadi, sekarang di wajahnya terlihat seperti orang yang sudah frustasi akan sesuatu.


Archduke pergi ke arah sofa, menyingkirkan satu topi itu ke atas meja, dan mendaratkan bokongnya ke sofa yang jarang di duduki itu.


[ Memendam perasaanya, dia bersikap seperti ini karana baru saja kehilangan burung peliharaannya. Dari luar, perempuan ini seperti perempuan biasa yang bertingkah sok kuat, tapi........nyatanya dia orang yang bekerja keras lebih dari siapa pun. ]


Itulah pandangan di mata Archduke.


Archduke sudah menginterogasi Arhes, dari situ semuanya pun terungkap asal mula kenapa Eldania ini punya sikap yang sedikit berubah.


" Apa kamu perlu sesuatu?. "


[ Kenapa dia menanyakan keperluanku? ] Untuk kebutuhannya, tidak lebih dari sekedar menjalani hidupnya.


Tapi kebutuhan apa lagi yang bisa dia dapatkan ketika semua yang ada di dunia ini tidak lebih dari zaman yang tertinggal satu dimensi dari zamannya, dan yang hanya jadi unggulan disini hanyalah sihir semata.


Dania tidak membutuhkan apa pun lagi selain hal yang sudah dia dapatkan, yaitu kehidupannya yang baru dan tempat tinggal yang cukup nyaman ini.


Itu sudah menyenangkan, tidak bayar uang, tapi bisa hidup cukup mewah, walau kelihatannya jadi seperti perempuan simpanannya.


" Aku tidak memerlukan apa pun lagi. " itulah jawabannya. Tidak kurang dan tidak lebih.


" ...................."


Archduke berpikir ulang, terlilhat jelas sudah, kalau gadis ini memanglah bukan orang yang begitu gila harta.


Memang jika emas, dia tidak beda dengan yang lainnya.


Tapi yang jadi perbedaannya tentu saja...


[ Dia tidak bisa di buat manja. ] Padahal Archduke ingin sekali ada seseorang yang bisa bermanja dengannya, tapi dia salah.


Perempuan ini tidak bisa untuk di buat manja kepadanya.


Alasannya pasti tidak jauh dari yang dipikirkannya.


[ Apa karena dari kecil sudah hidup mandiri?. ] hanya itu alasan paling kuat, menjadikan gadis ini mempunyai sifat seperti ini.


Archduke duduk dengan menyilangkan kakinya, lalu menopang dagunya, sambil menatap bocah ini, pikirannya jadi di buat berpikir lebih keras dari sebelumnya.


Setelah kepulangannya tadi, dia ( Archduke ) akhirnya mempunyai banyak waktu luang, maka dari itu bisa berkunjung ke kamarnya dan mengobrol adalah hal yang sedang di inginkannya, karena dirasa jarak di antara mereka berdua setelah menyatakan untuk mengangkat Dania menjadi adik angkatnya, tetap berada di jarak seperti ini-ini terus, alias tidak ada perubahan.


" Apa isi surat tadi?. " Archduke pada akhirnya mengungkit surat yang di dapatinya tadi.


" Dari cap-nya, itu adalah cap kepunyaannya keluarga Lucrenzia, yang berarti tidak salah lagi dari ketua regu kesatira. "


Dania melirik ke arah surat yang tadi dia buang ke atas kasur.


Tebakannya Archduke sepenuhnya benar, tapi kalau menyangkut isinya, sebenarnya adalah hal yang cukup menggelikan hatinya.


Jadi dia berbicara terus terang saja pada laki-laki ini.


" Jika melihat dari isinya......" Dania mengambil suratnya, lalu memberikannya pada Archduke, agar dia membacanya dengan ke dua mata kepalanya sendiri.


" Sebuah permintaan untuk datang ke restoran. Terdengar seperti sebuah kencan....."


" Tapi kelihatannya ini bukan seperti untuk mu. "


Archduke melanjutkan ucapannya Dania yang menggantung itu sembaei melihat balik isi surat itu.


Dania berjalan mengambil jubah mandinya yang terlipat di atas nakas, lalu duduk di pinggir kasur sambil memandang ke arah jendela, dan menambahkan..


" Tidak ada alasan bagi Ishid untuk bertemu denganku secara pribadi seperti itu, apa lagi di restoran. Perjanjian diantaraku dengannya sudah selesai, jadi itu pasti surat yang tertukar. "


Sebuah kesimpulan yang menarik perhatian Archduke, bisa mendengar penjelasan singkat dan padat hanya dalam beberapa puluh detik itu saja.


" Bagaimana bisa seyakin itu?. "


Tapi Archduke masih mencoba meminta penjelasan lainnya.


Dania membaringkan tubuhnya ke belakang, lalu kepalanya menoleh ke tempat di mana Archduke sedang duduk, meminta sebuah jawaban detailnya?.


Tentu dia akan menjelaskannya.


" Soalnya dia berpacaran dengan Yunifer kan?. Dengan kata lain, memang ada surat ntukku, tapi surat itu justru terkirim ke rumahnya Yunifer. "


"...............! "


Archduke terkejut, hanya dengan satu surat seperti ini, bisa mendapatkan bayak penjelasan yang masuk akal seperti itu.


Padahal perempuan ini, seperti kelelahan ingin tidur lagi, tapi otaknya memang terus bekerja tanpa mempengaruhi reaksi wajahnya itu.


" Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?. "


" Aku akan pergi. "


" Ke kediamannya Magnolia?. " Archduke bertanya demikian mungkin saja Dania akan meminta surat yang asli itu, surat asli untuk Dania sendiri.


" Bukan, aku akan pergi restoran. " katanya lagi, menarik bantal guling dan memeluknya dengan erat.


" Menemui mereka berdua?. Bukannya lebih baik ke rumahnya untuk meminta suratnya?. " Archduke tentu bingung dengan keputusannya itu.


Jika pergi ke restoran, berarti sama saja dengan merusak kencan mereka berdua.


" Aku tidak peduli dengan suratnya, mereka yang salah, jadi yang bertanggung jawab ya mereka. Lagi pula aku pergi ke restoran untuk mengerjakan sesuatu. "


Dania serius, kesalahan dari pengirim surat, itulah yang harus di pertanggung jawabkan mereka sendiri.


Itu di gunakan untuk pelajaran bagi mereka, jika si pemilik surat tidak mendapatkan jawaban atau pun tidak membuat orang yang dia undang datang.


Semua yang tarjadi adalah karena salah si orang yang mengirim surat itu.


Lalu tujuannya ke restoran adalah karena dirinya juga sebenarnya punya undangan yang dia dapatkan.


Undangan khusus pula, dia tidak akan melewatkannya begitu saja.


******


Beberapa jam lalu......


Setelah cukup tidur, tepat di jam setengah sebelas itu Dania pergi dari taman untuk pergi ke toko buku, atau pun ke perpustakaan.


Rasa minatnya untuk membaca buku itu tidak ada habisnya.


Raya....dia sudah pergi sebelum dirinya terbangun.


[ Mungkin dia kelaparan. ] fikir Dania, karena sudah menjadi bahan bantal tidurnya selama kurang lebih 1 jam.


Kenapa tahu?, itu hanya hal sepele karena setelah Raya diam-diam pergi meloloskan diri, Dania kembali tertidur.

__ADS_1


Setelah itu....


Dania pergi ke toko buku untuk memesan sebuah buku, buku khusus yang masih kosong, namun sudah di beri lingkaran sihir di dalamnya.


Itu adalah buku yang akan dia gunakan sebagai catatannya, bisa di kata buku Diary?, tetapi isinya bukanlah berisi ungkapan kata hati sebuah perasaan pribadi.


Setelah itu, dia pergi ke perpustakaan.


Perpustakaan Muzelan adalah tempat yang pernah dulu dia kunjungi dengan Claporth.


Semua pengetahuan selalu berawal dari buku, jadi tidak ada salahnya jika membaca buku di perpustakaan itu lagi.


" Identitas. " pinta orang ini, sebagai tugasnya ntuk mengetahui siapa pengunjung yang keluar masuk ke perpustakaan Muzelan.


"............! "


[ Dulu aku pernah di beri kalung itu....] Dania pun memperlihatkan sebuah kalung bertanda khusus, yang merupakan lambang dari kediaman Scnaider.


"..............."


Kesatria penjaga ini mengerutkan keningnya, satu ingatan yang pernah dia ingat beberapa bulan lalu.


[ Lambang inj.......perasaan dulu yang datang adalah anak kecil, tapi sekarang...seorang perempuan. Apa dia ibunya?, apa yang mulia diam-diam sudah punya istri dan anak yang tidak di ketahui orang publik?. ] kesatria ini berpikir dengan keras.


Kenapa bisa berpikiran demikian juga, sebab Archduke adalah orang yang belum lama pulang dari luar negeri, jadi hal seperti ini bisa mungkin terjadi.


Seperti menikah di luar negeri, jadi tidak banyak orang yang tahu tentang hubungan yang sebenarnya sudah Acrhduke jalin.


Dirasa menjadi bahan tatapannya..


"..............?. "


[ Apa ada yang salah denganku?. ] Dania memperhatikan penampilannya sendiri, apakah ada yang salah dengan dirinya setelah bangun tidur tadi?.


[ Kenapa dia .........ah...] Dania akhirnya ingat, orang yang di depannya ini adalah satu penjaga perpustakaan yang dulu pernah dia temui saat pertama kali masuk.


[ Jangan-jangan dia sedang berimajinasi berlebihan. ] salah stau alisnya terangkat, teringat akan sesuatu yang sering terjadi.


Khayalan yang berlebihan....karena salah paham yang di buat sendiri.


Dania ingat kalau dulu saat datang kesini dalam bentuk anak kecil, tapi yang sekarang adalah sosok sebenarnya, jadi sudah dapat di tebak kalau orang ini memang sedang berkhayal dengan hal yang bukan-bukan.


Mengembalikan sebuah lencana kepada perempuan ini.


" Silahkan masuk. " dia membungkuk sebagai tanda hormat kepadanya.


[ Tapi Istrinya lebih muda dari yang aku kira. ] batinnya, saat Dania pergi melewatinya.


[ Dia masti berkhayal kalau aku ini istrinya?. ] Apa lagi kalau bukan?, dulu kan yang datang adalah wujudnya yang seperti bocah, tapi sekarang wujud aslinya ini...menyerupai bocah yang dulu.


Bisa di tebak...


[ Anak yang dulu jadi seperti anakku. ]


Dania jadi frustasi, menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


" Haisshh....sembarangan saja. " Dania mengutuk, jadi berpikiran yang berlebih juga gara-gara menilai reaksi wajah orang itu.


Di satu sisi, tepatnya di lantai 5 dari bangunan perpustakaan Muzelan.


Di lantai lima ada satu ruangan khusus, untuk orang-orang yang mencintai musik. Ruangan yang memiliki kedap suara yang bagus, menjadikan tempat itu cocok sebagai tempat latihan ataupun mencari referensi saat membuat lagu.


Tapi di tempat itu sekarang ada dua orang, merupakan sepasang kekasih, tapi saat ini mereka berdua sedang memperdebatkan sesuatu, yang lebih penting dari sebuah hobi tingkat kronis, yaitu kesehatan...


" Berhentilah, kamu tidak perlu sampai berbuat sejauh ini. Tubuhmu sudah memerlukan istirahat!. " pintanya, pada seorang wanita yang kini merupakan tunangannya.


" Tapi tinggal 8 jam ini saja, sisa waktuku. " jawab wanita ini, sambil membuka buku yang di pegangnya, dia berjalan di pinggir jendela yang terbuka, karea anginnya sejuk, jendelanya pun di buka.


" Aku tahu, tapi luangkan waktumu 1 jam saja untuk mengistirahatkan tubuhmu. Hampir satu minggu jarang tidur, apa sebegitu berharganya hobimu itu ketimbang kesehatanmu?. " sudah di beri peringatan berali-kali, tapi hasilnya tunangannya ini tidak mendengarkan nasehatnya.


Tanpa menoleh ke arah pria tersebut, wanita ini terus adu mulut.


" Tinggal sedikit lagi juga.....jika aku terus bertengkar denganmu karena masalah seperti ini, justru aku tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat. " ucapnya, tangannya tidak berhenti menggoreskan tinta hitam ke atas kertas.


Ucapannya memang tidak salah, tapi sayangnya kali ini sudah terlalu berlebihan.


Diam-diam ke dua tangannya mengepal dengan erat. Dia tidak rela jika tunangannya sakit hanya karena hal seperti ini.


" Tidak, kali ini kau harus istirahat. "


tuturnya, nadanya yang begitu dingin itu spontan menarik reaksi dari wanita itu, untuk sadar, kalau kali ini tidak ada ampun lagi untuknya.


" A-apa yang....." seketika wajahnya menjai pucat pasi.


" Apa?. Tentu aku harus membuatmu istirahat dengan tenang kan~?. "


" Apa maksudmu?. " berundur ke belakang, dirinya jadi merasa takut dengan tingkah serta raut wajah laki-laki ini yang biininya memiliki tatapan lembut, juatru saat ini seperti memandang dirinya adalah musuh bebuyutan.


" Aku........" Berjalan sedikit cepat ke arah tunangannya, tangan kanannya mulai terangkat ke atas.


" Akan membantumu tidur. " niatannya adalah membuatnya pingsan, tapi yang di intimidasi malah mundur ke belakang terus, jadi dia tetap mengejarnya.


" TIDAK!. " Wanita ini langsung berteriak, dia tidak bisa meninggalkan kesempatan ini, tidak bisa tidur untuk sekarang, karena lagunya belum selesai.


" Kamulah yang membuatku seperti ini. "


Perasaannya yang masih takut pada raut wajah tunangannya itu, tidak membuat kakinya berhenti untuk mundur, sampai di satu titik...


" Iya aku tahu, tapi ak............" pandangannya berubah menjadi gelap total.


[ Eh....? ] dan salah satu kakinya tersandung dengan satu kaki lainnya, hingga tubuhnya oleng ke belakang, menuju ke satu jendela yang terbuka lebar.


[..............! ] wajahnya yang seram tadi berubah menjadi sebuah kepanikan.


" SEL!. " Pria ini berteriak, kemudian berlari sambil mengulurkan tangannya untuk menggapai tangannya Selina.


Tetapi kecepatannya kalah cepat dengan tubuhnya Selina yang sudah terlebih dahulu terhuyung ke belakang, dan yang lebih parahnya lagi tubuhnya mulai keluar dari jendela...


" SELINA!. " Tangannya justru hanya menggapai udara yang kosong itu.


[ Aku......ini salahku. ] Wajahnya yang panik, kakinya berlari dan berhenti tepat di pinggir jendela, tubuhnya langsung membungkuk, menilik ke bawah, tunangannya yang tiba-tiba terjatuh..........inikah akhir dari hubungannya?.


BRUKKKK.........


Pria ini memejamkan matanya, tidak kuat menahan kenyataan dengan suara tadi. Suara akhir dari riwayat seseorang yang terjatuh dari lantai 5.


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l

__ADS_1


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


l


Meski sedikit jauh, Dania...


" Hmm?. " Menengadah ke atas, dia bisa mendengar suara keributan kecil di satu tempat.


[ Apa itu pertengkaran dari pasangan suami istri karena pekerjaan berlebih?. ] Asal menebak saja, dan tebakannya membuahkan hasil mengejutkan.


[ Dia bukannya bunuh diri kan?. ] raut wajahnya tetap sama, tidam terkejut sama sekali, ketika....


Ada satu tubuh tiba-tiba saja datang dari atas menghampirinya.


BRUKK....


WUSHH.....


" Suara apa itu?. " kesatria tadi langsung menoleh ke belakang, lalu melihat adegan mengejutkan dari perempuan yang di duga adalah istrinya Archduke.


" A-apa yang terjadi?. " tanyanya, secara kebetulan pula topi yang dipakai perempuan itu terjatuh, menggelinding, dan berhenti tepat di depan kakinya, dia mengambilnya.


Dania, sekarang hal yang di dapatinya sebelum memasuki pintu bangunan perpustakaan adalah seorang wanita cantik berpakaian gaun berwarna biru tua yang kini sudah ada di ke dua tangannya.


Dania berhasil menangkap tubuh wanita ini sebelum benar-benar terjatuh menjadi remuk dengan darah bercecer menghiasi jalannya.


Tapi Dania kembali mendongak ke atas, ternyata ada seorang pria di lantai lima.


[ Pantas saja tekanannya sedikit berat, rupanya jatuh dari lantai lima. ]


dan kembali memperhatikan wanita yang terlihat usianya lebih tua darinya.


[ Kelelahan, dan sudah punya penyakit maag. ] matanya tidak bisa di tipu lagi, dari sudut pandangnya saat ini, wanita di gendongannya sudah benar-benar dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.


Harusnya istirahat, tapi tidak ada tanda-tanda kalau wanita ini pernah istirahat dengan benar.


" A-anda...sekuat itu?. " Masih dilanda keterkejutannya, dia berlari ke tempat dimana perempuan ini baru saja menyelamatkan seorang wanita yang teratuh dari ketinggian!.


" Biar saya saja...sini. " menawarkan diri menggantikan tugas untuk menggendong wanita yang pingsan itu.


Dania tentu menahannya.


" Tunggu, kamu teriaki saja laki-laki yang ada di lantai 5 itu untuk turun. " pinta Dania, karena bagaimanapun laki-laki di atas sana harus sadar.


Dengan menurut, orang ini menengadah ke atas lalu dengan percaya ddirnya, langsung berteriak.


" Hei yang disana!, turun sekarang juga kalau mau melihat calon istrimu selamat!. "


[..............! ]


" Calon istri?. " Dania tercengang, ternyata wanita ini belum berstatus istri, tapi calon istri yang artinya masih seorang tunangan.


" Tentu saja, rencananya bulan depan mereka berdua akan menikah. Tapi akhir-akhir ini nona Selina ini sering lembur karena pekerjaannya yang merupakan hobinya itu, pasti ini sudah di batas maksimalnya. " melihat Selina sudah pingsan seperti itu, itu akhir dari perjuangannya selama seminggu ini.


" Tapi.... anda.... bagaimana bisa anda sekuat itu?, jika manusia biasa, menangkap seseorang dari ketinggian itu pasti ke dua tangan anda sudah patah. "


" Apa bisa kuat itu butuh alasan?. " Dania jadi bertanya balik. Dia tidak akan menjelaskan dirinya padanya, untuk apa juga?, tidak ada untungnya sama sekali.


DRAP.....


DRAP......


DRAP......


" Sel..Selina... " Mulai memanggil namanya dengan wajahnya yang terlihat putus asa.


Awalnya dia sudah putus asa jika melihat kenyataan kalau Selina akan meninggalkannya untuk selama-lamanya, tapi semuanya tidak jadi.


Dania menyerahkan tubuh wanita yang di panggil Selina itu ke pria yang merupakan tunangannya Selina.


" A-anda yang menyalamatkannya?. " tanyanya namun masih punya keraguan atas pertanyaannya itu.


" Ya...dia yang menyelamatkan calon istrimu itu dengan tangannya sendiri. " yang menjawab bukanlah Dania sendiri tapi sudah di wakilkan oleh kesatria ini.


" Apa?!. " tidak percaya, padahal dari luar, perempuan yang menyelamatkan Selina ini, meski punya tinggi yang lumayan, tapi dari segi fisik Dania lebih kurus sedikit ketimbang Selina.


" Rawat dia, peringati dengan keras, jika terusan telat makan, dia akan punya penyakit maag lagi. " peringatnya.


Dia hanya mengatakan ala sekadarnya saja, tanpa memberitahu kalau letih dan penyakit maag yang di derita oleh Selina sudah sembuh sepenuhnya.


" Baik...terima kasih. Sudah menyelamatkan Selina untukku. " terukir senyuman lega.


Dania entah kenapa merasa senang dengan ucapan terima kasih yang di dapatkannya ini.


" Ya......lagi pula sudah seharusnya aku menyelamatkan seseorang yang masih bisa aku jangkau dengan tanganku sendiri. "


Akhirnya hari ini....dia melakukan satu kebaikan.


Ada perasaan bangga di dalam hatinya, apakah itu hadiahnya setelah melakukan kebaikan di hari ini?.


Tangannya menerima uluran topi yang diberikan oleh kesatria ini, memakainya lagi dan meninggalkan mereka bertiga.


Kemana lagi kalau bukan masuk ke dalam perpustakaan yang masih sepi itu.


Pria ini pun pergi membawa Selina untuk pulang, hanya saja selang kurang dari 1 jam, dia kembali lagi ke perpustakaan kota.


Berharap kalau gadis yang menyelamatkan tunangannya itu masih disini, dan keberuntungan sedang ada di pihaknya.


Dia masih bisa bertemu dengannya, tapi di lantai tempat kejadian perkara tadi berlaku disini.


Pertemuannya ada di lantai lima.


Dan perempuan itu sedang menjembreng salah satu kertas yang berisikan chord lagu, dari sekian banyak kertas yang berserakan di lantai.


" Apa ini yang sedang kalian kerjakan?. " Dania melihat selembar kertas dengan coretan chord lagu.


" Selina sedang membuat lagu baru, tapi tenggat waktunya adalah nanti, jam 8 malam. " Pria ini mulai mengutip kertas-kertas yang berserakan di lantai itu.


" Dimana?. "


" Di Restoranku. "


" Apa aku bisa melihatnya?. " Sudah lama sekali, tidak melihat pertunjukkan musik, jadi ada sedikit keinginan melihat pertunjukkannya Selina itu.


" Tapi...chord lagu yang di buatnya, belum sepenuhnya selesai. " hanya tersisa 6 setengah jam lagi, saat ini Selina sedang istirahat, dan chord lagu yang sudah susah payah di kerjakan Selina selama seminggu ini belum selesai.


Jujur saja dirinya merasa sedih, bukan sedih karena lagu barunya belum selesai. Tapi sedih karena Selina di buat sakit karena lagu ini.


" Memangnya siapa yang menuntut untuk selesai hari ini?. "


" Selina sendiri yang sudah mengatakannya pada orang-orang, kalau hari ini akan ada lagu baru. "


Dania mendesah pelan.


" Hahh....memangnya yang berkunjung ke restoran adalah penikmat lagu?. Mereka hanya datang untuk menikmati makanan saja kan?. " ujar Dania.


Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar. Namun kebanyakan dari mereka yang datang ke restoran adalah orang awam yang hanya menikmati lagunya tanpa mengerti arti tiap nada yang terdengar.


" Hanya saja, ciri khas di restoranku adalah menikmati makanan dengan mempertunjukkan pertunjukkan resital. " hanya ada dua restoran di kekaisaran Rovathia yang memberikan pertunjukkan resital, juka ada dua berarti satu diantaranya adalah restoran cabang, dan satunya lagi restoran utama.


Menikmati rasa makanan dan menikmati keindahan musik, itulah ciri khas dari dua restoran miliknya.


Mendengar hal tersebur, dia jadi di buat iri sendiri.


[ Mereka berdua benar-benar punya takdir yang cocok. ]


Yang satu adalah pemilik restoran, dan yang satunya lagi adalah pemain musik yang menjadi ciri khas restoran dari pria ini.


[ Saling melengkapi.. ]


Memikirkaan itu, tangannya secara spontan menggoreskan sebuah tinta ke atas kertas tersebut.

__ADS_1


Dia melengkapi bagian dari Chord yang kurang benar, hingga tidak perlu waktu yang lama, kertas itu sudah terisi penuh dengan Chord lagu miliknya Selina.


__ADS_2