
TAP........TAP.........TAP.........
Dua pasang kaki itu berjalan saling mengikuti, Erich yang terus menggandeng tangannya, dia baru menyadarinya sekarang.
Erich berhenti berjalan, jadi di ikuti oleh perempuan di belakangnya untuk ikut berhenti juga.
" Kenapa berhenti?. " tanya Dania, sesaat sebelum Erich langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
Tidak mau mengakui keteledorannya, bahwa langsung menarik tangan orang ini tanpa izin, Erich berkata lain.
" Apa kamu mengenal pria bermata biru semalam?. "
Jadi Dania mengedarkan pandangannya lagi, bertanya lain pertanyaan lagi akibat laki-laki ini tidak menjawab pertanyaan pertamanya.
" Aku masih ingin di sini, apa boleh?. " mencoba meminta izin, karena lagi pula...masa sudah di bantu mau di usir.
Erich lalu menyentuh dahinya sendiri secara pelan berpikir sejenak.
[ Apa dia memang suka bersilat lidah seperti ini?. Aku penasaran dengan orang itu, disisi lain.......dia...] tidak mau berada di dalam pikirannya lama-lama, Erich menjawabnya.
" Setidaknya jangan disini. " pinta Erich, mengiyakan permintaannya Dania namun jangan berada di tempat ini karena....
Ada satu masalah yang sebelumnya...
Matanya melirik ke satu pintu.
" Ahh...., hh.... " Suara ******* begitu menggoda, menyeruak ke dalam telinga mereka berdua.
" Ahh...ngh~...ngh~....., ahh....sayang...k-kau.....ternyata sudah...lama..me..nahannya, ahh......lebih cepat...lagi..ahh..... !. "
Mendengar nuansa gairah dua orang yang sedang bercinta, sorotan matanya Erich langsung jatuh masuk ke dalam ke gelapan, tenggelam pada emosinya sendiri.
" Mereka berdua hanya baj*ngan gila. " gumamnya, mencibir tingkah ke dua orang tuanya yang tidak ingat realita, hanya mencari kesenangannya sendiri.
Dania yang terdiam mengoreksi wajah Erich, rupanya dia kali ini mendapatkan sebuah tatapan benci dari anak ini.
[ Gairah menggoda seperti ini, tidak membuat dia terjerumus juga. Padahal di depannya ada seorang gadis loh. ] meski tidak berminat juga, tetapi mau bagaimanapun tatapan tidak suka Erich setelah mendengar suara-suara itu, sudah membuktikan bahwa dia punya masalah dalam keluarga.
" Jika masih mau di sini, kita ke lantai 3. " menghindari tatapan perempuan itu, Erich langsung mlengos ke depan lagi.
Sorotan matanya yang berubah menjadi dingin.
Akhirnya dua pasang kaki itu saling berjalan, mengikuti pasang kaki di depannya, mengekori orang yang sudah mengizinkannya berada di tempat ini lebih lama lagi.
Sehingga mereka menaiki puluhan anak tangga dan berakhir di koridor lantai 3.
Setelahnya, mereka melewati beberapa pintu kamar, sampai Erich yang pergi memimpin, memberhentikan langkahnya di satu pintu berwarna putih.
Tangan berbalut sarung tangan hitam itu segera memutar knop pintu, mendorong pelan pintu tersebut sampai benar-benar tebuka lebar.
" Masuklah. " Erich mengajak masuk ke dalam ruangan sebesar kamarnya Dania.
Apa yang sungguh menakjubkan dari ruangan ini adalah tempat layaknya sebuah apertement.
Ada jendela bernuansa full glass di sebelah selatan baik kanan dan kiri, sedangkan di tengah adalah pintu dengan model jendela berbingkai kecil-kecil.
Ketika masuk, hal pertama yang di lihat di balik deretan jendela itu adalah lautan.
Ketika menoleh ke kanan ada dapur mini, desainnya malah justru modern, karena berlapis marmer hitam.
Du seberang meja dapur, langsung di suguhkan meja makan. Jadi jika makanan sudah matang, hanya tinggal balik badan dan langsung menghidangkan makanan pada seseorang.
Di sebrang si dapur se jarak 6 meter ada meja sepasang sofa panjang dan single, lalu di dekat jendela sebelah kanan itu, terdapat piano berwarna hitam.
Jika perempuan biasa, dia akan menyadari kalau dia sedang masuk ke dalam kamar orang lain dan akan langsung menolaknya.
Tapi tidak dengannya, dia enjoy-enjoy saja ikut masuk, sesuai perintah Erich barusan.
" Kamu mau minum apa?. " Erich langsung menuju dapur, dan Dania duduk di belakangnya Erich, tepatnya di depan meja makan yang terbuat dari marmer ini.
" Teh campur susu. " sudah lama tidak meminumnya, jadi karena Erich menawari 'minum apa' yang artinya punya segala jenis minuman, jadi dia memilih hal yang sedang di inginkannya itu.
Tidak sampai 3 menit, teh susu di hidangkan, tapi dengan gelas besar untuk bir.
TAK.....
[ Memangnya perutku, penampungan air?. ]
" Ternyata kau tahu seleraku ya?. " tangannya menarik gelas besar itu ke arahnya.
" Tapi aku suka ini. " bukan menggunakan cangkir kecil jika habis tuang lagi, habis di isi lagi, gelas sebesar ini baru yang namanya mantap.
__ADS_1
" Aku kira akan menerima cibiran. " berbalik ke arah kompor, kini dia hendak menghidangkan sesuatu sebagai makanan pendamping di tengah hujan seperti ini.
Alisnya terangkat sebelah.
" Untuk apa?, orang sepertiku suka hal yang seperti ini. Menikmatinya sampai puas tanpa tuang-tuang lagi. " ujarnya, tangan kirinya menopang dagu, dan tangan kanannya mendentingkan gelas dengan cara di sentil.
" Pfft..... " Erich tiba-tiba langsung menahan gelak tawanya.
[ Dia tertawa. ] Dania jadi senang, wajah anak ini langsung berubah.
Lalu, melihat Erich mengeluarkan sebuah mangkuk berisi nasi, bibirnya segera menebak, mengucapkan kata yang sangat ingin dia keluarkan, tapi akan dia ucapkan jika sudah jadi sepenuhnya.
Setahu Dania, dia baru ingat.
Baru kali ini.....dia masuk ke dalam ruangan, seperti tempat tinggalnya dulu saat di dunia modern, yaitu apertement.
Seseorang yang sudah mandiri, punya apertement sendiri, dan pergi ke tempat teman, hal seperti inilah yang dia rasakan sebagai orang kota.
Membuatkan minuman dan makanan, tepat di depan tamu, jika memang punya dapur seperti ini.
Satu hal yang terlintas di dalam kepalanya adalah apakah dia seseorang yang terjebak ke dunia ini seperti dirinya?.
Apakah mungkin?.
Jika saja tidak menghilangkan kalungnya, Dania akan menemukan jawabannya di detik awal pertemuannya dengan pria ini.
Bisa jadi, ini awal yang menyenangkan, bisa menemukan seseorang sepertinya.
Erich sudah berbalik, Dania harus menyingkirkan segala pemikiran tadi terlebih dahulu.
Untuk memastikan bahwa apa yang di hidangkannya kali ini adalah benar-benar...
" Hanya ini masakan paling cepat. "
" Nasi goreng. " teka Dania. Dan memang tepat.....
" Bagaimana kau tahu ini nasi goreng?. Padahal aku belum memberitahumu. "
Mencoba sedikit mwnceritakan masa lalunya dengan singkat.
" Dulu, waktu sendirian......aku sering memasak ini. " lebih tepatnya waktu pertama kali pindah hunian, dan belum tahu berbagai macam masakan, selain nasi goreng.
" Apa itu pujian untukku?. "
Dania memangut-mangut. Jawaban sebuah pujian lainnya...
" Ini sangat enak. Apa lagi memberiku sosis sebanyak ini. "
[ Kenapa dia sangat tahu seleraku ini?. ]
Irisan sosis, ada potongan kubis, wortel yang ikut di masak jadi wortelnya matang. Dua mangkuk terpisah, ada daun kemangi dan satu lagi daun selada.
Perpaduan unik, dari sosiz yang terbuat dari daging, nasi dan sayur yang digoreng, selain itu ada dua daun segar, untuk di makan sebagai lalapan.
" Anym~....nyam~...nym~... "
[ Sangat pas.... ] Makanan berkelas memang enak, tapi makanan sederhana yang serba murah ini lebih bisa dia nikmati dengan leluasa.
" Kenapa sebaik ini padaku?, padahal hadiah sambutanmu sama saja dengan menantangku. " mengungkit pas semalam.
Erich yang di tanyai seperti itu, di buat bingung bagaimana menjawabnya.
" Yahh~....... " Erich menatap ke arah lain sambil meencoba menjawab.
" Hanya menguji kemampuanmu. "
Sampai membahas tentang tadi malam, Erich mencoba mengungkit siapa laki-laki itu.
" Untuk mencoba memancingmu agar datang kepadaku, tapi........yang datang...siapa orang itu?. "
" Hmm?, siapa?. " masih mengunyah makanan, jadi nada suaranya lumayan aneh.
" Laki-laki berambut hitam dengan mata biru. " Erich langsung menagatakan pada poin utama pembicaraannya itu.
Tapi yang di tanya, tanpa berpikir langsung menjawab.
" Dia suamiku. " singkat Dania, sambil memasukkan sesuap nasi lagi ke dalam mulutnya.
" Ha?. Suamimu?. " padahal dimata Erich, gadis ini masih terlihat muda, dan sesuai apa yang dia tahu, dia tidak pernah menemukan catatan bahwa Dania punya seorang pria dengan ke dua ciri utama itu.
Untuk sekarang ini saja, meski perempuan ini sering kali bertemu dengan banyak laki-laki dan di antaranya cukup dekat dengannya, tapi Dania seperti membuat satu dinding tebal, menjaga sebuah jarak di antara mereka semua.
__ADS_1
Membuat orang ini, bisa saja menghilang kapan pun itu.
" Iya, suami impian. " Dania menambahkan maksud perkataannya tadi.
"................." Erich menatapnya dengan datar, tanoa minat sama sekali.
[ Dari awal, aku sudah merasakannya, sih. Tapi sepertinya perempuan ini suka bercanda!. ] sambil meminum air.
Setelah selesai makan, Dania langsung meminum air, meminum air teh susu dalam 4 tegukan, lalu kembali minum air lagi.
" Lambungmu besar juga. "
" Ini kebebasanku, tidak pernah memakai korset, aku jadi bisa makan sekenyangku. " pakaian simpel, tidak ada gaun dengan keadaan perut di himpit oleh korset yang menyebalkan itu, itulah keleluasaan Dania sebagai perempuan bebas tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadap penampilannya.
Yang terpenting dari hiduonya, apa yang di ikira cocok berarti cocok, kenapa hatus mengikuti alur pendapat dan pandangan orang lain yang tidak akan ada habisnya itu?.
[ Blak-blakan sekali dia. ] Padahal sudah masuk ke dalam istana milk Archduke itu, tapi terlihat kalau wanita di depannya tidak di ajari sopan santun dan tata krama.
Padahal Dania hanya mau bersikap semaunya, sesuai situasi dan mood-nya. Jika sedang ada di depan muka umum, cara makan dia akan berubah 180 derajat, jika memang sesuai keadaan.
Intinya, kepiawaiannya dalam hal ber tata krama untuk sopan di depan orang lain, cara bicara, cara makan, berdansa, dan lainnya, tidak ada yang tidak dia dia kuasai, hanya saja Dania akan melakukannya jika memang perlu saja.
Untuk sekarang, apa yang di lihat Erich tentangnya adalah jati dirinya sebagai orang normal.
" Karena sudah begini.... " Erich menghela kasa.
" Rasa penasaranmu tentang yang ada di bawah akan aku beritahukan. "
Dan mengabaikan tentang pria misterius yang di akui sebagai suami impiannya perempuan ini.
Erich hanya percaya, dia akan bertemu dengannya lagi.
__ADS_1