Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Promo Novel Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler


__ADS_3

Author : RisyArhes.


Genre : Nikah paksa, Time travel, romansa, cinta setelah menikah, action.


Kisah ini akan diawali dengan dua anak kembar, yaitu Arshel dan Risya sebagai anak hasil hubungan dari pernikahan kontrak yang dijalani oleh Vatler dan Risyella.


13 tahun menjalani hidupnya sebagai orang tua tunggal, Vatler yang merupakan ayah dari Arshel dan Riisya akhirnya membuat kesalahan itu terulang lagi.


Masa lalunya bersama Risyella di akihiri kematian wanita itu, dan setelah 13 tahun berlalu insiden itu kembali terulang.


Masa lalu yang sudah berlalu, nyatanya tidak bisa membuat hati mereka lepas dari belenggu rasa bersalah, dan rasa rindu.



______________________________________


WUSH~


Sebuah pohon besar berdiri dengan kokohnya. Angin yang bertiup itu pun berhasil menghembuskan roma dari bunga wisteria berwarna ungu yang menggantung dan menghiasi seluruh pohon.



Dia menatapnya dengan tatapan kagum. 


Bagaimana tidak, jika pohon yang biasanya dihiasi daun berwarna hijau, kini yang ada di depannya adalah pohon dengan ornamen bunga wisteria.


Bunga cantik yang hanya akan mekar satu kali dalam satu tahun. Dan itu muncul di pertengahan hingga akhir musim semi, pada bulan Mei atau Juni di sebagian besar tempat. Tanaman ini bisa memakan waktu hingga dua bulan agar semua mekarnya terlihat secara keseluruhan.


Tapi apa yang membuat gadis kecil ini nampak terkagum-kagum dengan pohon Wisteria?


Karena pohon itu adalah kenangan terakhir yang ditinggalkan oleh ibunya.


Sepasang kaki yang awalnya terdiam itu, perlahan melangkah ke depan dan terus mendekati pohon Wisteria. 


“Ibu,” panggil Risya dengan lirih. Sorotan mata Risya berkaca-kaca saat melihat pohon Wisteria tersebut benar-benar tumbuh dengan sangat baik, sampai tepat di bulan Juni itu, seluruh bunga tersebut akhirnya mekar. 


Risya selalu menganggap bahwa pohon yang berdiri di depannya itu, adalah reinkarnasi dari ibunya. 


Yah….


Sang Ibu yang sangat Risya rindukan.


WUSHH~


Angin lembut itu kembali berhembus, dan membuat rambut hitam miliknya berkibar. 


Risya menyelipkan rambut yang menghalangi matanya tadi ke belakang telinga, tapi di saat itulah, Risya nampak seseorang sedang terduduk di belakang pohon Wisteria itu.


Risya menghampiri orang tersebut untuk mencari tahunya.


Ketika sudah dekat, Risya memperlihatkan wajah terharunya sambil memanggil nama panggilan, “Ibu.”


Sosok wanita yang sedang tertidur dan duduk di bawah pohon itu perlahan membuka kelopak matanya.


“............” Wanita tersebut mengerjapkan matanya beberapa kali, dan bertanya “Kenapa kamu menangis?” Dengan nada pelan wanita tersebut pun mengulum senyum lembutnya kepada Risya yang masih saja berdiri di depannya sambil menatap ke arahnya terus.


“Karena aku merindukan Ibu,” tangis Risya. Air matanya yang sudah terbendung sejak lama itu akhirnya pecah saat melihat Ibu yang sangat dia rindukan, kini sedang duduk di bawah pohon Wisteria persis.


Pohon Wisteria yang kata ayah, adalah pohon yang ditanam sendiri oleh Ibu sewaktu masih muda.


Karena itu, saat Risya benar-benar menganggap pohon itu adalah kehidupan baru dari sang Ibu, dan kini sang Ibu yang sangat dia rindukan akhirnya sudah ada di depan matanya, berhasil membuat hati Risya yang awalnya terasa kesepian, tiba-tiba merasa diselimuti kehangatan yang tidak bisa Risya ungkapkan lagi dengan kata-kata.


“Jadi jika kamu memanggilku Ibu, berarti kamu anak ku?” tanya Risyella lagi, dialah Ibu dari Risya.


Risya memberikan anggukan kebahagiaan. Walaupun kebahagiaan itu dia ungkapkan dengan tangisan yang sudah pecah. “Hiks..hiks...Ibu. Aku sangat merindukan Ibu.” kata Risya di akhir pergulatan hatinya.

__ADS_1


Melihat Risya menangis sesenggukan seperti itu membuat hati Risyella terasa sakit juga. 


Siapa yang tidak sakit saat melihat gadis yang ada di depannya itu justru menangisinya, karena merindukannya. “Sini-” pinta Risyella sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Risya agar ikut duduk di sebelahnya.


Tidak…


Lebih tepatnya adalah agar anak itu bisa Risyella peluk dan menenangkannya.


“Ya,” Risya menjawabnya dengan singkat, lalu menerima uluran tangan itu. 


Setelah mendapatkan tangan Risya, Risyella pun segera menariknya dan langsung mendekapnya dalam pelukan.


BRUKK….


“Huwaa!” Risya akhirnya meraung karena bisa di peluk oleh Ibu nya. “Ibu” panggil Risya dengan keras.


“Iya,” Jawab Risyella singkat sambil mengelus kepala Risya dengan penuh kasih sayang.


“Ibu..Ibu….Ibu..” panggil Risya berulang kali. Dia berharap bahwa panggilan itu bisa dijawab oleh wanita yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat itu.


“Iya, Ibu disini.” sahut Risyella lagi dengan wajah tenang.


“Walaupun ini mimpi, aku ingin ini bisa berlangsung lebih lama.” pinta Risya pada takdir yang akhirnya bisa mempertemukan orang yang sangat Risya temui. 


Bagaimana tidak, jika selama ini Risya hanya bisa menghapus rasa kesepiannya dengan melihat foto milik Ibu nya yang sudah lama.


“Ibu, kenapa ibu baru muncul?” tanya Risya sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Risyella.


“Mungkin karena Risya terus memanggil Ibu berulang kali?” Risyella sendiri juga tidak tahu kenapa bisa muncul dan akhirnya bisa menemui salah satu anaknya yang dia tinggalkan begitu saja tanpa tahu kalau anaknya sudah sebesar itu.


“Jadi jika aku memanggil Ibu lebih banyak di dalam tidurku, Ibu akan muncul?” Risya berusaha mendapatkan informasinya agar jika sewaktu-waktu dia merindukannya lagi, maka dia bisa menemui Ibu nya lagi, walaupun di dalam mimpi saja.


“Kamu harus tahu, Ibu itu bodoh. Ibu tidak tahu bagaimana bisa muncul disini dan bisa bertemu denganmu. Jadi jika kamu bertanya apakah seperti itu caranya, Ibu tidak bisa menjawab iya atau tidak.” terang Risyella kepada Risya. 


Tidak seperti sebelumnya Risya menangis sejadi-jadinya, sekarang Risya sudah mulai tenang dan mau membuat pembicaraan ringan, walau tidak tahu kapan semua waktu ini bisa berakhir.


Hati Risyella merasa tergelitik saat mendengar racauan dari anaknya. 


Disaat yang bersamaan Risyella terbesit rasa sedih bercampur bahagia. 


Dia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan salah satu anaknya, tapi yang membuatnya sedih adalah tidak bisa menemani anaknya itu tumbuh dewasa. 


Sebagai Ibu, itu cukuplah menyakitkan. 


Tapi mau bagaimana lagi, jika takdir selalu berkehendak lain.


“Risya.” Panggil Risyella untuk pertama kalinya. Dia memang sudah tahu siapa nama dari gadis yang sedang dia peluk itu.


“Hmm?” Risya tidak sekalipun melepaskan pelukannya. Kini pelukannya turun dan berakhir dengan memeluk perutnya Risyella.


“Kelihatannya waktunya sudah habis.” kata Risyella.


Risya yang sedang asik memeluk manja sang Ibu langsung dibuat terperanjat. “Tidak, ini belum habis.” sangkal Risya. Dia semakin mengeratkan pelukannya karena dia menyangkal kenyataan kalau dirinya memang sedang ada di dalam mimpi. 


Tapi Risya tidak mau mimpi ini hanya berlalu sesaat saja. Padahal baru bertemu dengan Ibu nya, tapi harus berakhir sampai disini saja?


Tidak bisa!


“Kamu harus kembali, ayah dan kakakmu pasti khawatir.”


“Apa yang perlu dikhawatirkan dari dua orang tembok?” jawab Risya, tidak mau melepaskan pelukannya itu.


Risyella terkekeh geli mendengar Vatler dan Arshel di katain sebagai tembok. 


Ya, mereka berdua memang memiliki watak dan sifat yang sama, dan Risyella pun menyetujui julukan untuk mereka berdua. 

__ADS_1


Tapi kisah dari Risyella sayangnya sudah berakhir lama, jadi dia tidak bisa berbuat apapun lagi, apalagi hanya sekedar untuk menemani rasa kesepian dari anak perempuannya itu saja, tidak bisa Risyella lakukan.


Kisah pahitnya…


‘Apakah akan terulang lagi?’ senyuman yang tadi terpancar langsung pudar dari tempatnya. 


Risyella merasa bahwa pertemuan seperti ini adalah awal dari sesuatu yang buruk.


Tapi apa?


“Risya.” panggil Risyella lagi kepada anaknya yang dari tadi terpangku di tubuhnya dan kini sedang memeluk perutnya. 


“Jangan katakan lagi, Ibu. Aku tidak ingin mendengarnya, aku hanya ingin seperti ini untuk sebentar saja.’ pinta Risya kepada Risyella. 


“...................” Risyella tersenyum kecut, karena tidak lama lagi dia akan pergi lagi, meninggalkan Risya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca, dia merasa akan menangis, tapi tidak bisa menangis. 


Sungguh ironis.


‘Jaga dirimu baik-baik Risya,’ kata terakhir Risyella saat ujung tangannya yang akan menyentuh kepala Risya untuk dia usap lagi, perlahan menghilang.


Risya yang merasakan adanya sesuatu yang aneh saat pelukan itu kian tak terasa lagi, langsung membuatnya bangkit.


Mengetahui fakta Ibu nya mulai menghilang dari pandangannya, Risya kembali berteriak : “Ibu!” panggilnya.


Tangannya ingin menyentuh wajah Ibunya, tapi apa yang dia dapat hanyalah menangkap angin kosong saja.


Haru dari tangisnya yang sudah menghilang akhirnya kembali muncul.


“Ibu! Jangan tinggalkan aku lagi!” teriak Risya dengan air mata kembali mengalir dan membasahi pipinya. 


WUSHH~


Dan angin yang datang berhembus itu menjadi perasaannya yang langsung menghilang. Perasaan bahagianya kembali menghilang terbawa angin tadi.


“Ibu, Ibu! Kenapa aku dibiarkan sendirian lagi?!” racau Risya.


BUKH!


Risya memukul-mukul batang pohon itu dengan keras. Pohon yang tumbuh dan menjadi saksi bisu pertemuannya sesaat tadi.


“Ibu~ Kenapa aku dibiarkan sendirian lagi? Kenapa? Huwaa…!” rengek Risya.


Tidak seperti tadi, dia bisa merengek pada Ibunya, kini yang dia rengek kan sudah menghilang terbawa waktu lagi. 


Risya kembali sendirian disana dan ditemani pohon Wisteria itu.


______________


“Ibu~ Kenapa Ibu meninggalkan aku lagi?!” racau Risya dalam tidurnya.


Tangisan yang terjadi di dalam mimpinya pun terjadi dalam dunia nyata. 


Wajahnya saat ini sudah sembab karena menangisi apa yang dia harapkan ternyata kembali menghilang. 


“Ibu~” panggil Risya dengan lirih.


Tidak berapa lama kemudian Risya pun membuka kelopak matanya. 


‘Jadi tadi benar-benar mimpi?’ pikir Risya. 


Risya langsung menutup sepasang matanya dengan lengan tangan kanannya. Tapi di saat itu juga dia merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya. 


“Akhirnya kau bangun, Risya.” 


“Paman?” Melihat pamannya yaitu Freddy ada di sampingnya, membuat Risya sadar kembali kalau dirinya memang sedang melakukan pertemuan seperti biasanya. 

__ADS_1


Tapi karena sesuatu yang tidak bisa Risya ingat dengan jelas, Risya hanya tahu kalau sekarang demamnya kambuh lagi.


Risya menggertakkan giginya karena kesal. Dia merasa kesal kalau akhirnya dia kembali memendam perasaan yang hanya bisa dia miliki, tapi tidak bisa dia bagi kepada orang lain. 


__ADS_2