Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertarungan 1


__ADS_3

" Tuan Danie " panggil Cathrine dengan suara rendah


" .............."


"Ka..kakak Danie "


" Ya..Cathrine? " Tersenyum manis


" A...apa rencana selanjutnya? " Punggung jari telunjuk kenannya ia gunakan untuk menutup bibirnya, dan tidak berani menatap wajahnya secara langsung.


"Drama tidak bisa berjalan jika tidak ada aktor "


Setelah pembicaraan semalam, banyak petunjuk yang Danie dapat dari Cathrine.


Ia tahu kalau Cathrine tidak diberi sihir atau apapun itu, karena bagi kakek tua bangka itu, gairah alami dari seorang wanita ketika berhubungan lebih ia sukai.


Baru pertama kali aku lihat kakek yang memiliki hobi yang mengerikan..itulah yang dipikirkan Danie.


Lalu jadwal hari ini adalah....


Datanglah Grint.


" Hehehe...pendeta tampan, giliranmu setelah mereka berdua " Kata Grint.


[ Hhhah...kenapa amu bisa bertemu dengan orang sepertinya ] Danie masih memasang wajah datarnya, namun pikirannya sangan jijik dengan orang disebelahnya.


Ayoyo...dua orang di tempat yang sama masuk kedalam kamar, Danie kaget setengah mati...siapa yang barusan masuk itu.


" Uhuk..."


[ Kenapa Tristan! ]


" Mulailah!, berikan tuanmu ini kebahagiaan !" Seru Grint sambil mengangkat kedua tangannya.


[ Sadar Kesatria Tristan !]


" Awal yang membahagiakan, bersenang-seanglah anak muda! "


Grint merasakan sensasi bahagia, entah ada yang kongslet dengan otaknya, Grint benar-benar orang yang menyukai melihat kedua orang lawan jenis sedang berhubungan intim.


Tidak masuk diakal, namun itu beneran ada.


Tristan yang masih dalam pengaruh sihir milik Grint , setelah mendorong kasar gadis perempuan yang merupakan putri dari Ny.Dorothy itu ke atas kasur ia mulai membuka bajunya.


"Mmrhhh......" Tubuh gadis itu bergetar setelah kedua tangannya dicengkram kuat ke atas oleh tangan kiri Tristan.


" Hebat...aku suka, lanjutkan.! " Grint mulai terobsesi lagi dengan pemandangan yang..


[ Menyesakkan. Aku harus cepat merebut tongkat sihirnya ]


Tetibe ada satu orang berteriak heboh.


Pas disaat Tristan hampir membuka celananya.


" Kenapa mengganggu pertunjukkanku.! " Marah Grint.


" Tu..tuan, di markas ada penyusup "


[ Bagaimana bisa?, padahal aku sudah membuat pembatas agar tidak ada orang lain tahu keberadaan gerbang teleportasi ]


" Kalian berdua tunggu giliran kalian sampai masalah ini selesai. " Grint segera memutar tubuhnya dan bergegas ke pintu.


Namun Danie memberikan kode pada Cathrine, Cathrine mengangguk iya.

__ADS_1


Ketika Grint hendak jalan keluar, Kaki Cathrine ia julurkan ke depan sehingga Grint terjatuh.


" Cathrine.!, beraninya kau.- " sekali ayunan tangan Grint yang memegang tongkanya, Cthrine terlempar jauh karena sihir yang digunakan Grint.


"Arhh......" Cathrine merintih kesakitan setelah menghempap dinding.


Grint langsung menenung Danie yang masih diam berdiri tanpa membantu tuannya ( Grint ).


[ Kenapa pendeta ini tidak menolongku? ]


Karena orang didepannya masih tidak bergeming untuk menolong dirinya bangun, jadi Grint berusaha untuk bangun sendiri.


"Hehe....., mari saya bantu anda berdiri"


Danie mengulurkan tangan kirinya ke Grint.


" Bagus..., ini baru- " belum menyelesaikan kalimatnya, Grint di kejutkan oleh reaksi Danie yang berubah 45 derajat, lebih tepatnya Dane memberikan senyuman antara senyuman jahat dan senyuman mengejek.


CKLEK.......( Suara kunci dari pistol ) Danie mengarahkan langsung ke kepala Grint.


" Ru..rupanya kamu tidak terpengaruh dari sihirku? "


"..........?"


DOR.....DOR...DOR....


Tapi tidak terpengaruh, tidak ada satu pun yang kena karena ada sihir pelindung.


SYUTHH.......


Grint melancarkan serangan balik dengan tongkat sihirnya, sebuah bola api tercipta dan mengarah langsung ke Danie.


Tentu Danie dapat mengelaknya dengan mudah, setelahnya ia beraksi lagi untuk mencoba merebut tongkat sihir milik Grint.


Tapi rupanya Grint tidak sebodoh itu walaupun usianya sudah renta, karena disaat Danie menyentuh tangannya sebenarnya Grint sudah melumuri sebuah ramuan yang bisa membuat siapapun yang menyentuhnya bisa ia kendalikan walaupun orang itu masih dalam keadaan sadar sekalipun.


Mencoba memberontak dengan sekuat tenaga, namun ternyata masih saja tidak bisa.


Tetapi Danie masih punya rencana lain, yaitu Cathrine.


Cathrine sudah diberikan senjata milik Danie yang ia bawa dari awal, yaitu anak panah dalam bentuk mini yang bisa di pasang ke lengan tangan seseorang.


[ Aku harus bisa keluar dari neraka herem ini ]


Dengan kondisi punggungnya yang sakit karena terbentur didinding dnegan keras, tapi ia masih berusaha keras dengan tujuan dan rencana awal.


Cathrine menggerakkan lengan kanannya dan mengarakannya tepat di psosisi Grint berada.


SLASH ------------->


Sebanyak dua kali Cathrine melancarkan anak panahnya namun hanya menggores sedikit lengan Grint.


Grint marah besar dan membuat tubuh Cathrine terangkat, lebih tepatnya terangkat karena cekikan di leher Cathrine.


Danie terkejut karena Cathrine mandapatkan masalah, jadi Danie hanya bisa berusaha menggerakkan tubuhnya..tidak...karena tubuhnya memang susah digerakkan, jadi Danie hanya berusaha menggerakkan tangannya agar bisa membidik dengan tepay dan menarik pelatuknya.


[ Yoo...tangan!,...tuturi perintahku...kau itu tangan dari tubuhku sendiri! ]


Antara pikiran dan usahanya menjadi satu sehingga perlahan bisa bergerak ke arah tongkat yang digunakan Grint.


" Ahahaha....jangan meremehkanku, mati saja sana.!"


" Arrrhh......! " Cathrine meronta-ronta kesakitan.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit leher Cathrine semakin tercekik dan ianya juga sudah merasakan sesak nafas.


Sedangkan Grint menyukai reaksi tersiksanya Cathrine.


Danie yang tidak ingin membiarkan Cathrine mati, dengan tekadnya yang kuat tangannya dapat digerakkan dan langsung...


DORRR.........( satu tembakan terjadi )


Tepat mengenai sasaran yaitu kristal berwarna ungu yang ada di tongkat sihir milik Grant.


Seketika semuanya tersadar dengan apa yang mereka lakukan, tak kecuali Cathrine bisa terlepas dari cekikan yang mematikan itu.


Sedangkan Tristan.....


[ WAT....Apa yang sedang aku lakukan? ]


Posisinya masih bertahan dimana tangan kiri Tristan masih mencengkram kedua tangan perempuan yang berada dibawahnya yang sudah dalam kondisi menangis.


Sedangkan dirinya masih dalam keadaan tidak memakai baju, walau begitu ia hampir membuka celananya.


Karena tidak sadar apa yang terjadi pada dirinya, Tristan segera melepas cengkraman tangannya sekaligus memakai pakaiannya kembali.


" Ma..maaf " sembari memberikan kain pada perempuan itu untuk menutupi tubuhnya karena ada beberapa bagian dari pakaiannya yang robek.


" Ti...ti...dak...ap- "


" Aku akan bertanggung jawab " Tristan memegang kedua bahu dari perempuan tersebut.


" Jika masalah didesamu selesai, aku akan menikahimu "


Mata perempuan yang merupakan anak dari Ny.Dorothy mulai berbinar dan menangis terharu, disaat dirinya seperti berada di neraka dan tidak ada tempat buat berlindung, justru kesatria di depannya berani bertanggung jawab, padahal Tristan melakukan hal itu karena pengaruh sihir, intinya diluar kesadaran dan juga kehendaknya.


[ Kenapa aku bisa disini?, terakhir aku ingat hanya berdua saja dengan pendeta Danie karena ada.. ]


" Keanehan " Tristan tidak sengaja menemukan satu gadis ( Cathrine ) berada tepat di depan ranjangnya dalam keadaan duduk dilantai, namun yang lebih mengejutkan adalah..


[ Pendeta Danie dalam keadaan masalah ]


Tristan bergegas turun dari ranjang, berlari untuk menolong pendetanya.


Namun Danie berteriak..


" Jangan kesini! "


[ Tanganku tidak bisa aku gerakkan lagi, bisa digerakkan namun bukan kehendakku. Sial...aku harus membuang pistolku, kalau tidak Tristan akan tertembak ]


DORR......DORRR.....


Danie merasa tidak ingin melihat siaoa yang barusan ia tembak, hanya saja diluar dugaan Tristan dapat menghindari pelurunya.


Karena rencana Grint gagal, maka dia memberikan sebilah pedang pada Danie selagi tubuhnya itu belum bisa bergerak.


" Lawan temanmu sendiri " bisik Grint sebelum kabur.


Hanya sekali perintah, tubuh Danie otomatis bergerak walaupun pikirannya dalam keadaan sadar sepenuhnya.


" Cathrine!, kau bawa temanmu itu dari sini!, Tristan! Sebaiknya kau mundur! "


Untuk pertama kalinya dalam keadaan mendesak, dirinya memanggil nama Tristan secara langsung tanpa sebutan kesatria.


Cathrine pun membawa temannya itu keluar dari kamar dan berusaha untuk mencari jalan keluar.


Lalu untuk Tristan sendiri merasakan keanehan, karena masih belum mengerti kenapa pendeta Danie berbicara untuk mundur seolah-olah tidak boleh mendekat.

__ADS_1


Tapi pendiriannya sebagai kesatria, Trustan tidak ingin menuruti printah pendeta.


Secara otomatis tubuh Danie bergerak tidak sesuai kehendaknya, dia berlari dan mengayunkan pedang ke arah Tristan, karena seorang kesatria walaupun tingkat dua, pertarungan kecil itu masih bisa Tristan atasi, walaupun dengan tangan kosong sekalipun.


__ADS_2