Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. Extra 38


__ADS_3

" GROARRRH.......! "


" Aarhh...! " satu orang terjatuh, dan mungkin karena tak diberi makan selama beberapa hari, atau hanya makan seadanya?.


Wanita ini tidak bisa bangun karena terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanannya.


Dan di satu sisi, ada goblin besar sedang berlari dan datang ke arahnya.


"............! "


Ada dua pilihan disituasinya, menolong wanita terjatuh itu dengan menggendongnya keluar?, atau menghadapi goblin super itu dulu agar bisa memberkan waktu panjang untuk mereka semua termasuk wanita yang terjatuh tadi?.


" Tu-tuan......kelemahan goblin...adalah cahaya. "


TUING...... ( Sebuah bintang jatuh memantul di kepalanya. )


[ Oh...aku melupakan titik penting ini. ] Dania melupakan fakta kalau dirinya yang suka menonton film kartun animasi, lupa mencoba dulu cara menghadapi monster yang sama layaknya di film. Satu ide langsung terlintas di otak kecilnya Dania.


" Berusahalah lari. " kata Dania.


" Tuan...kembalilah dengan selamat. " permintaan terakhirnya sebelum memutuskan hntuk melanjutkan melarikan diri.


Hanya di balas satu kali anggukan, Dania kembalu menatap ke depan.


Goblin yang sudah mati tadi, ternyata dimakan oleh makhluk Goblin sebesar dua gajah dewasa ini.


[ Cahaya~......., apa aku bisa menciptakannya?. ]


Berani, melangkah maju....pedang coklat tadi sudah menghilang dan kini tergantikan oleh pedang buatannya yang terbuat dari kristal suci.


" Kau....membuat mereka kabur!. " ucap Goblin paling besar ini.


"...................."


Merasa ikutan hina jika menjawab ucapannya, Dania hanya memilih diam.


[ Tapi dia lebih besar.... ]


__________________


WUSHHH.........


Terbang di atas langit merupakan kemampuannya sebagai pemilik sepasang sayap.


Bulu halus berwarna coklat gelap itu bergerak-gerak seiring angin yang ia terjang dengan paksa.


[ Kemana dia berada?. ] iris merahnya menjeling ke bawah, untuk suatu alasan, ia tidak bisa melacak keberadaan Dania.


Everst lebih merendahkan jaraknya dari permukaan tanah, lalu dengan triknya sendiri, Everst melemparkan sehelai rambut yang ia miliki, itu bukan miliknya, melainkan milik perempuan itu ( Dania ), dan mendapatkannya saat gadis itu sengaja memeluknya dengan sebegitu eratnya.


[ Carilah pemilikmu. ] sesudah di beri mantra, satu helai rambut itu tidak jadi terjatuh, melainkan berubah menjadi burung kecil dan terbang bergerak untuk mencari pemiliknya sendiri.


Everst terbang mengikuti, menembus hutan kering tersebut. Lalu menukik tajam ke kanan saat di depannya ada lereng terjal, dan teruss.....sampi burung yang tercipta dari satu helai rambut milik tuannya menerjangkan tubuhnya ke bawah dengan kecepatan yang lumayan.


" GRAAAAAR.....! "


( Suara erangan yang begitu kuat, lalu...)


KRAKK........


Dinding batu yang roboh dan terbentuklah sebuah lubang saat 3, 4 sampai 5 makhluk kerdil terlempar begitu saja, tapi tak sampai disitu saja, karena kejadian tersebut disusul sebuah cahaya yang menyilaukan keluar dari lubang itu.


Mata merahnya membulat saat melihat mantel coat yang ia kenal itu terbang berkibar dengan sang pemiliknya....


DORR.........DORR........DORRR.....


Ledakan langsung terjadi setelah menarik pelatuknya untuk mengeliarkan beberapa butir peluru menembus targetnya, dan seseorang yang terbang bebas itu memperlihatkan tatapan datar sesaat setelah mebereskan masalah yang menghalanginya keluar dari gua itu.


SYUHHTT.........

__ADS_1


Everst langsung ber-manuver dengan begitu lihai di langit untuk mengejar sang master yang sedang terjun bebas menikmati angin yang dia dapatkan dari tubuhnya yang sedang mendapatkan angin dari bawah.


Dalam 5 detik, Everst dapat mengambil jarak 40 meter ke bawah dan mulai bersiap menerima...


WUSHH......


Sayap yang langsung melebar, dan tubuh yang seketika membesar, kepakan sayap yang di perlambat setelah mendapatkan posisi pas, tepat di bawah gadis ini dan menerima tubuhnya yang tadi terjun bebas, mendarat di atas punggungnya Everst.


BRUKKK......


" Aku tahu kamu pasti datang. " ucapnya, kedua tangannya memegang serat helaian bulu halus di sekitar leher Everst.


Tapi Everst terdiam dengan tanggapan Dania, dan meneruskan tujuannya untuk keluar dari dimensi entah berantah itu.


[ Apa mereka sudaj berhasil keluar?. ] fikir Dania di otak kecilnya saat tubuhnya masih terbaring dalam posisi tengkurap di atas tubuh Everst, ia sekalian menikmati nuansa aroma bulu unggas itu.


[ Unik.... ] kesan pertamanya saat dulu pertama kali mencoum aroma seekor burung.


_____________


Di suatu tempat, dua orang ini memperhayikan dengan serius asal muasal cahaya terang yang berasal dari salah satu gua yang terdapat di lereng tebing yng tinghi itu.


" Cahaya apa tadi?. " gumam Arhes, dia sedikit menarik tali kuda-nya agar sedikit berputar ke samping untuk berhadapan dengan adiknya.


" Pasti kakak itu, dia melakukannya... "


" Melakukan apa?. "


" Kakak tidak tahu?, kak Dania saat menyelamatkanku, di kedua tangannya ada senjata aneh, hanya berdiri di tempatnya saja kak Dania bisa membunuh 5 goblin yang jaraknya 10 meter dalam sekejap, seperti ini... " Shera memperagakan apa yang dilihatnya dengan mengangkat kedua tangannya, dan menekuk ke tiga jari tangannya masing-masing, sehingga menyisakan jari telunjuk dan jari jempol, dan bersuara..


" DORR.... " ucap Shera dengan salah satu mata tertutup dan membidik wakah kakaknya ( Arhes. )


" Bagaimana kau tahu itu dia?. "


" Kak Dania sendiri yang bilang. "


DRAP...


DRAP....


DRAP....


" Tolong!.. , tolong kami. " serunya, meski tidak sesuai ekspetasi, karena tidak bisa mengeluarkan suara yang keras.


Shera yang menyadari rintihan serta permintaan tolonga tadi langsung menoleh ke belakang.


".............! "


Arhes menyusul ikut menoleh ke belakang, sambil berkata.


" Ada or-........ " tapi ayatnya langsung menggantung saat...


Shera langsung kembali menoleh ke arah kakaknya, dengan wajah paniknya, Shera buru-buru mengangkat kedua tangannya dan membungkukkan tubuhnya ke depan untuk meraih wajah sang kakak.


" Berhenti!. "


" Kenapa mataku ditutup?. " kepalanya ditanadi penuh dengan tanda tanya, karena Shera masih bisa berbuat hal untuk menutup matanya ( Arhes ).


" Pokoknya jangan lihat!. " jawab Shera dengan nada tegas dengan wajah merona.


" Iya, tapi alasannya apa?. " tanya lagi Arhes, Arhes hendak menepis tangannya Shera tapi malah..


" Aww... !, kau kenapa sih?, tiba-tiba mencubit. " Arhes menerima cubitan yang begitu menyakitkan, meski tidak sesakit saat tersayat pisau.


" I...ini memalukan, jadi jangan melihat ke belakang. "


".....Tu..an, dan nona, tolong kami. "


" Jangan melihat ke be.la.kang. " Shera berbisik dengan penuh penekanan pada Arhes untuk memperingatkan, wajahnya yang serius itu pun tidak terlihat oleh kakaknya karena sudah ia tutup kedua mata Arhes itu dengan tangannya.

__ADS_1


" Dan tutup matamu terus!. " sambung Shera.


" Iya..iya.. " Arhes nyerah karena Shera begitu memaksa dan terdengar kalau ini lebih serius dari perasaan Shera tadi yang sempat menangis.


Sadar kalau nona itu sedang menutup mata sang tuan di sebelahnya, mereka semua jadi malu-malu untuk meminta bantuan.


" Apa kalian orang asli tempat ini?. "


" Tidak..eh..maksudnya bukan nona, to..tolong kami semua agar...bisa keluar dari sini. "


[............!. ] Arhes seketika mengerti maksudnya, jadi Arhes mencoba bertanya.


" Apa kalian juga sama-sama terjebak disini?. "


" I..iya tuan. " salah satu dari mereka menjawabnya bergantian.


" I-ibu...ini dingi-hp... " anak perempuan berusia 12 tahun ini menarik tangan ibunya, tapi langsung menerima bekapan untuk tidak mengeluh.


Shera ikut malu sendiri dengan keadaan mereka semua yang..


[ Apa mereka yang diselematkan oleh kak Dania?, tapi..dimana pakaiannya?. ] Shera yang prihatin melihat tubuh mereka yang tereskpose hamiir telanjang, Shera pun turun dari kuda dan membawa tas-nya, tapi sebelum itu Shera memperingatkan kakaknya lagi.


" Jangan mengintip. "


"............! "


[ Ngintip?, memangnya apa yang mereka lakukan dan Shera dari tadi...... ]


" Ah......... " Arhes mendengus sadar.


Shera mengambilkan semua pakaian yang ia bawa, dan..


" Pakai ini. " memberikan semua pakaiannya kepada mereka, tapi sayangnya kurang, untuk 3 orang lagi.


Shera pun kembali berjalan menghampiri kakaknya dan meminta sesuatu padanya.


" Kak!, berikan pakaianmu... "


Arhes terdiam sambil menuruti perintahnya, memberikan kantung yang berisi beberapa lembar pakian kering pada adiknya.


" Juga selimut. "


Tangannya bergerak lagi, mengambil selembar selimut dan mentodorkannya ke Shera.


[ Aku seperti baru saja dirampok oleh adikku sendiri. ] tersenyum masam.


KREETTT......


KREETTT......


" No..na, ini untuk kami?. " menerima pakaian sebuah kaos yang sedikit kebesaran karena pemiliknya ada sang tuan yang masih duduk di atas kuda.


" Ambillah, kalian yang lebih membutuhkan, dan pakai ini juga setidaknya menutupinya. " maksudnya menutupi tubuh bagian bawah, yah...karena selimut panjang yang ia robek ia jadikan beberapa bagian untuk menutupi paha mereka semua, meskipun mendapatkan sedikit tapi lebih baik dari pada melihat mereka semua bertubuh hampir telanjang.


" Terima kasih atas kebaikan tuan dan nona. "


" Terima kasih.. "


" Terima kasih kak. "


Kata mereka secara bergantian.


Dan penampilan mereka semua menjadi lebih baik karena bantuan dari Shera dan Arhes yang bersedia memberikan pakaian mereka.


" Kak... " panggil Shera pada Arhes.


" Ya?. "


" Apa kakak sudah tahu dimana jalan keluarnya?. "

__ADS_1


" Belum. "


Mereka semua agak kecewa, tapi karena mereka ada orang lain terjebak dengan berkuda, dan melihat mereka berdua orang yang baik apa lagi detelah menerma pakaian dsri mereka, setidaknya itu adalah jalan yang lebih baik dari pada hanya mengandalkan diri mereka sendiri


__ADS_2