Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Jasa Tanpa Imbalan Nyata


__ADS_3

Erich.....


Keputusan dari orang sinting, siapa lagi kalau bukan ayahnya.


Mengusir, sekaligus mengaktifkan sihir miliknya ( Erich ) dengan paksa, membuat Erich tidak dapat menghentikannya selain meninggalkan mereka berdua di dalam rumah, menghadapi tsunami itu?!.


BRAK.....


Pintu tertutup dengan keras, setelah ayahnya mendorong tubuhnya ke luar pintu dengan sihir Gate sudah aktif, membuatnya berpindah tempat.


BRUKK....


Ke dua kakinya berusaha menyeimbangkan tubuhnya sebelum menabrak dinding.


Erich kemudian mendesis.


" Jika orang tuanya gila, anaknya pasti jadi sama-sama ikut gila. " Kutuk Erich akan keputusan manusia itu membuat dia seperti di buang.


Tapi....kepindahan Erich bukanlah berpindah ke tempat lain yang jauh.


Memang, ayahnya memaksa sihir Gate milik Erich aktif dan mengendalikannya, tapi yang jadi pemilik sihir Gate ini adalah Erich sendiri.


Meski ayahnya sudah menentukan target tujuan, tapi yang lebih menentukan tujuan itu sendiri adalah hanya Erich seorang. Jadi dia sekarang tidak berada di kota atau daerah manapun. Melainkan masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di luar rumahnya.


Erich langsung saja berdiri dan keluar dari tempat itu.


Setelahnya.... di saat itu pula, golombang tertinggi yang baru pertama kali Erich lihat, sudah ada di belakang punggungnya dengan bukti, dia sudah di lahap oleh kegelapan akan tingginya dinding air itu.


Padahal dia memunggunginya, selain itu suara riuh menggema di angkasa...


Kwak.......Kwak......Kwak.......Kwak....


Ribuan burung dari berbagai spesies terbang bergerombol menuju utara dengan posisi burung terus terbang lebih tinggi dan tinggi.


Menghela nafas dengan pelan.


" Hah~....apa ini kiamat?. " Erich bersumpah serapah dengan apa yang di lihat oleh sepasang matanya.


Dia hanya tidak mau menjadi seorang pengecut saja, masa di usir keluar oleh ayahnya, dan meninggalkannya dengan seperti itu.


Dan ketika hendak memejamkan mata, mata kanannya menyadari sesuatu dengan keberadaan seseorang yang sedang berdiri menghadap tepat ke arah gelombang laut itu.


Salah satu tangannya di rentangkan ke depan dengan senjata sudah di pegangnya.


Kerlap-kerlip cahaya biru di sekitar tubuhnya mulai naik, bagai kunang-kunang.


[ Itu bukannya.... ] Kalimat di dalam kepalanya langsung terpotong selepas saja melihat perempuan tersebut mengambil sesuatu di dalam sebuah rok biru panjang yang melindungi kaki jenjangnya itu!.


" Apa yang akan di lakukannya!?. "


Semuanya langsung saja sirna saat gelombang ini sudah mulai menggulung ke bawah untuk menyapu tubuhnya...


Dan...


PPPSSSSHHH...........


**************


10 menit yang lalu.


Berjalan di bawah hujan cukuplah menyenangkan jika mempunyai ketahanan tubuh yang bagus. Dia akan menikmati hujan ini sekalipun memang membuat tubuhnya jadi dingin.


Tetapi apa yang lebih dingin dari pada suasana daratan yang akan berubah menjadi dataran baru penuh dengan sampah manusia?.


Sebenarnya dia sedikit mengantuk tadi, karena permainan pianonya atau memang tubuhnya?.


Tapi tiba-tiba ada satu gempa yang mengguncang, cukup kuat sebagai bukti bahwa hal paling buruk akan terjadi setelah ini.


Jadi sebelum keluar, dia menyempatkan dirinya untuk meninggalkan pesan pada anak itu.


Kemudian berpamitan pada ke dua orang tuanya Erich, bahwa dia akan pergi untuk melakukan sesuatu yang harus di lakukan.


[ Apa mereka belum menyadarinya?. ] lirik Dania kepada mereka berdua yang kembali membereskan berkas-berkas yang berserakan di lantai.


Dania keluar rumah, meninggalkan mereka bertiga.


Dan sekaranglah, dia di sini.


Di tebing paling ujung sendiri.


Sambil memandang cakrawala yang masih saja di selimuti awan kelabu, dengan buliran air terus mengguyur, Dania benar-benar tidak bisa pergi dari tempatnya.


Dia menyadari jaraknya yang jauh jika ingin kembali ke kota. Butuh berhari-hari jika mau pulang dengan menggunakan kuda.


Kuda bukanlah kendaraan seperti mobil yang bisa melaju terus asal ada bahan bakarnya.


Meskipun dia bisa memberikan sedikit kekuatan suci pada kuda sebagai bentuk ketahanan tubuh untuk berlari lebih lama, tapi tetap saja ada batasan dari fisik kuda ini sendiri.


Dan lagi pula, mana yang lebih cepat antara kecepatan kuda dengan kecepatan gelombang besar yang akan datang?.


Satu fakta yang harus terus di ingat, bahwa sekarang dirinya sedang sendirian.


Everst...dia yakin masih hidup, tapi entah dimana dia.


Erich yang tertidur karena efek kekuatan sucinya tadi untuk menyembuhkan bekas luka di wajahnya, dan dua orang itu punya kesibukannya sendiri.


Sekalipun mereka bisa saja memanggil penyihir untuk menolong, mana lagi?, yang lebih cepat dari pemandangan dengan suara gemuruh yang sudah dapat dia jangkau dengan penglihatannya ini dengan waktu tempuh penyihir agar bisa datang?.


Kwak......Kwak......Kwak.....Kwak.......


Bahkan burung pun tahu untuk pergi ke tempat aman setelah merasakan keberadaan bahaya.


Tapi apa ini?.


Dania malah berdiri sendirian dj tebing sambil menonton pertunjukkan besar yang akan laut ini buat.


Dia akan menghadapi bahaya itu sendiri.


Tidak ada pilihan lain.


Dari pada tidak mencobanya sama sekali, dan berakhir tubuhnya di sapu oleh ombak, lebih baik melakukan ini kan?.


WHUUUUUUU......~~~


Sekalipun kecil, ada suara peringatan yang terdengar dari ketersbut


Di beberapa titik ada benda sihir yang terpasang di dalam laut.


Sayangnya benda sihir tersebut hanya di gunakan sebagai pengatur arah angin, pengendali cuaca antara musim hujan dan musim kemarau.


Jadi tidak ada gunanya.


Tapi apa arti alarm yang berbunyi itu?, itu alarm peringatan bahwa ada gelombang tinggi yang akan datang.


Dan benda sihir tersebut tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan sebuah peringatan.


Mungkin karena selama mereka menduduki wilayah dataran ini, dataran ini tidak pernah sekalipun mendapatkan ancaman berupa tsunami.


" Ini lebih mengerikan, mengingatkanku pada film yang aku tonton sendiri. " Dania mengulas senyuman masam.


Perasaan takut ini, muncul.

__ADS_1


Ternyata rasa takut paling tinggi setelah dia seleksi, adalah menghadapi bencana alam sebesar ini.


Bagaimana tidak?, yang ada di depannya adalah alam yang akan melahap kehidupan yang air ini bisa jangkau dengan besarnya kekuatan yang sedang dimiliknya.


[ Tapi aku tidak bisa tinggal diam. ] tangannya mengepal, dia tidak bisa berdiam diri saja jika mengikuti rasa takutnya itu. Hidupnya akan sia-sia hanya karena air?!.


Jangan Konyol.


Kali ini dia akan memeras semua mana yang tersisa.


Tubuhnya yang sudah basah akan air hujan, tidak membuatnya untuk mengurung niatannya itu.


Bahaya sedang menantinya, bukan untuk diri sendiri......tapi untuk semua orang.


Dania pun mulai menggunakan pengamatan optik, meski sedikit kesulitan, tapi tetap berjalan sempurna untuk mengetahui keberadaan yang ada di ujung sana sudah berada di jarak berapa Km untuk sampai ke sini, perkiraan waktu, dan besarnya gelombang yang tercipta di detik terakhir.


Dia mencoba mengamatinya untuk mendeteksi, seberapa cepat, kuat dan dampak dari gelombang ini sepanjang jalur pantai?!.


Yang rupanya terbentang sepanjang....


" ...........! " matanya langsung mengernyit.


[ Batasanku sampai 6 km, tapi sepertinya lebih dari itu. ], kemampuannya yang terbatasi dengan jumlah mana yang di milikinya, membuatnya harus meminta bantuan pada burung yang terbang itu.


Kwak...Kwak... { Kabur....ayo kabur... }


Kwak...kwak...kwak.. { Ke utara, terbang yang tinggi. }


Dania mendongak ke atas, dan..


{ Salah satu kalian yang di sana...! }


{..............? } All.


Kwak...kwak....... { Suara manusia?. } ada beberapa burung teralihkan dengan panggilan tadi.


{ Aku minta bantuan kalian. } sambungnya. Mencoba meminta sebuah bantuan.


KWAKK.. { Tidak mau!. } All secara serentak.


Walau sadar ternyata ada seseorang yang mengerti pembicaraan mereka, para kawanan burung tidak mau membantu apa pun, demi keselamatan dirinya saja.


"............... " Di tinggal pergi begitu saja?. Dania segera mengambil batu yang dia temukan dan melemparnya secara sembarangan ke langit, dimana kawanan burung itu tidak ada habisnya terbang dari selatan ke utara.


[ Jangan salahkan aku melempari kalian batu. ]


CTAKK..... ( berhasil )


PYAK?. ....


Salah satu di antara mereka terkena balingan batu dari seorang manusia di bawah. Mereka yang selamat langsung melotot dan berpindah haluan agar tidak terbang di atas gadis di bawah sana, mana tahu ada target berikutnya!.


Manusia mengerikan!.


Bagaimana tidak mengerikan, sudah dapat berkomunikasi dengan mereka, dia masih bisa-bisanya tidak lari dari sana!.


Tapi hasilnya tetap ada meski mereka semua terbang menghindar.


Ada satu burung terkena lemparan batu itu dan terkena sayapnya sampai patah!.


Kwakkk.......{ Aakkkhhh.....! } satu burung camar ini langsung terjun bebas ke bawah dengan kecepatan tinggi.


Kwak...kwakk....{ Siapa yang melempariku batu!. }


Tidak dapat mengendalikan salah satu sayapnya yang patah, burung ini turun ke bawah dengan cepat.


Kwak..kwak..kwak... { Bisa mati aku..! }


Suara itu kembali terngiang di kepala kecilnya, mata hitam itu menemukan hanya ada satu orang gadis sedang berdiri sambil mendongak ke atas, lebih tepatnya menatap ke arahnya.


Kwak... { permintaan apa?!. } berputar-putar, kepalanya jadi pusing.


{ Terbang lagi tapi lebih tinggi, dan jadi pemandu penglihatanku. }


Kwak...kwak.... { Bagaimana bisa terbang?!, sayapku patah!. }


{ Iya atau tidak?. } tanyanya lagi, dia hanya butuh jawaban bukan pertanyaan.


Tidak perlu banyak berpikir lagi, burung camar ini langsung berteriak..


Kwak.. { Ya!. }


Bagus....sebuah bantuan kecil dari seekor burung camar. Dania hanya terdiam santai sambil membuat jarak yang pas, dimana dia bisa menangkap tubuh yang cukup bisa dia peluk.


Tapi dia tidak akan memeluknya jika bukan burung itu!.


HAP.....


Kwak... { Aku di tangkap?. } Menoleh ke kanan dan ke kiri, tubuhnya terbalik dengan kaki menghadap ke atas.


" Aku tidak akan bicara 2 kali. Terbang lagi lebih tinggi agar aku bisa melihat semua pemandangan yang bisa kau jangkau. Kalau mau kabur, aku akan membuat matamu jadi buta. " ucap Dania sekaligus ancaman, kepada burung camar yang terbengong.


Lalu kepalanya menoleh ke kanan, sayapnya sudah tidak sakit, dan manusia ini yang menyembuhkannya?!.


Kwak... { Apa yang akan kau lakukan?. } berdiri kembali setelah gadis ini meletakkannya di tanah.


" Lihat saja nanti. " celetuk Dania, dia tidak mau menjelaskan hal yang membuatnya membuang-buang waktu. Lalu berdiri lagi dan berjalan ke depan menuju pinggiran tebing.


Saat ini dia sedang menantikannya.


Si camar langsung terbang, melihat kemampuannya tadi dan punya rasa peecaya diri yang tinggi, camar ini tidak bisa main-main, dan tidak bisa menolak permintaannya.


Dalam kesempatan ini, Dania akhirnya bisa mendapatkan pemandangan yang lebih baik meski dalam kondisi hujan.


[ Buluku tidak basah?!. ] melihat sayapnya sudah kembali kering dan walaupun di terpa hujan serta angin yang bertiup, tubuhnya tidak kesulitan untuk menghadapi ke dua hal tersebut.


Terbang......lebih tinggi.


Dan terlihatlah.....lautan yang terbentang luas itu sedang dalam kondisi tidak seperti biasanya.


[ Jarak dari pusat gempa, di tengah samudra, Kecepatannya......800Km/Jam. Ini....! ]


Matanya sedikit bersinar seiring apa yang di lihat si camar, terkirim ke dalam penglihatannya Dania.


" 50 Mil, luas daerah yang di huni, diantara 30 Mil. " Dania pun bergumam, mendapatkan informasi dari apa yang dia lihat.


Jarak antara dia dengan gulungan ombak itu sudah tidak jauh lagi, hanya tinggal menghitung detik, keberadaannya akan menyapunya dengan sangat cepat.


SREK...


Salah satu tangannya menarik ujung roknya ke atas tepat sampai ke paha, meski memang membuatnya jadi menunjukkan kakinya. Tapi itu demi mengambil apa yang memang tetap dia bawa kemana pun dia pergi.


Senjata baru, hasil kerja kerasnya seminggu yang lalu, dari mendesain, membuat campuran dari berbagai material batu dan menyatukannya menjadi sebuah kepingan logam lalu berubah menjadi potongan dalam berbagai bentuk agar siap rakit.


Memang, bukanlah satu proses yang mudah, apa lagi di saat menanamkan rangkaian aktivasi sihir yang dia buat sendiri berdasarkan pengetahuannya.


Tapi sampai memeras otak dan energi sihirnya, sudah cukup sepadan mendapatkan senjata impiannya.


Terlihat bahwa yang di pengangnya adalah pistol.


Tetapi bukan menghasilkan tembakan peluru.

__ADS_1


Ah....peluru, jika dulu peluru, yang sekarang ada seluruh aktivasi rangkaian sihir yang sudah tertanam ke dalam sebuah Magazine.


Biasanya Magazine adalah tempat untuk menyimpan peluru, tapi yang ini bukanlah peluru.


Itulah hasil dari kumpulan batu yang dia dapatkan secara tidak sengaja, waktu kepulangannya dari kampung halaman Arhes.


Dan sekarang, satu-satunya senjata utamanya selain pedang yang berwarna biru berpadukan silver ini, akan dia gunakan untuk ke dua kalinya.


Hasilnya?, dia akan menilainya setelah menerima hasil.


Apakah sesuai dengan harapannya?.


Apakah akan sepadan dengan semua keringat hang sudah dia keluarkan?.


[ Kita lihat hasilnya dengan mempertaruhkan nyawaku ini. ] Menutup matanya dan menghela nafas pelan.


[ Karena......aku ingin tahu, sampai mana batas kemampuanku setelah lama hidup disini, apa lagi berdampingan dengan sihir. ] Dania membatin.


Salah satu lawannya adalah.....


Jika dulu melawan hukum pemerintah.....


Maka sekarang yang dia lawan tidak lebih dari sekedar melawan hukum alam.


BYYAAHHH.........


Suara ombak bak monster, mulai menyapa indera pendengarannya.


Sekalipun mau tutup mata, dia sudah tahu bahwa jaraknya sudah sangat dekat.


Dania.....lebih tepatnya...


[ Aku Eldania..... ] Nama yang muncul secara spontan di kepalanya saat pertama kali singgah di dunia ini.


[ Ingin melawan rasa takutku. ] sebuah rasa takut pada air sebanyak ini, memang adalah hal yang wajar, karena dia punya perasaan.


Tapi......perasaan takut yang menghalangi tujuannya, harus benar-benar dia singkirkan!.


Dengan menghadapinya secara langsung!.


CKALK....


Tangannya terangkat menjulur ke depan dengan satu senjata menjadi pegangannya.


[ Mengubahnya menjadi es....hanya bertahan kurang dari 2 menit. ] mengingat ada banyak air dengan disertai tekanan yang kuat, jadi tidak akan bertahan lama.


Tapi memang itulah solusi yang paling bagus, untuk...


BYAAHHH...........


100, 50 , 30 m, 10 Meter.


Air paling banyak, menggunung di atas kepalanya, tapi Dania hanya terdiam sambil menutup mata untuk berkonsentrasi dari pada membuka mata dengan sebuah ketakutan, itulah hang terbaik.


Matanya terpejam, dan jari telunjuknya pun menekan pemicunya, hasilnya...


PSSHHHH...........


Seperkian detik sebuah cahaya putih biru muncul dari lubang kecil senjatanya, dan di waktu yang bersamaan pula.....


KRAKK....KRKAK.....KRAKK.....


Sensasi dingin langsung menyambut tubuhnya yang hanya bermodalkan selembar baju yang tidak sebegitu tebal.


Dan di depannya, tepat di 10 detik terakhir sebelum ujung ombak itu menggulung ke bawah, dalam waktu yang singkat itu, air sudah berubah menjadi beku alias menjadi es.


Pemanangan menakjubkan sekaligus mengerikan.


" Hahh.....! " menghela nafas dengan kasar, tapi semuanya belum berakhir hanya sampai di sini saja.


[ Masih ada satu lagi. ] nafasnya yang sebenarnya sudah memburu dia tahan.


Satu ronde lagi, sebelum es ini pecah karena di tengah laut masih ada sapuan ombak yang terus mendorong apa pun yang ada di depannya, menabarak tak kira itu apa dengan begitu ganas.


Satu sihir kembali di lancarkan, dengan menekan kembali pemicu dari senjata yang dia namakan namakan sendiri sebagai Silver Nesh.


PSSSHHH........


[ Itu.......Nifhleim!. ] teriak Ercih dalam hati, di detik terakhir sebelum semua area sekitar langsung di kelilingi oleh sebuah kabut.


SYUUHHH...........


Dan angin yang datang pun, tidak membuat kabut ini menghilang, melainkan...


[ Manusia perempuan itu, dia menggunakan angin laut sebagai pemercepat proses penyebaran kabut itu. ] Burung camar yang menjadi salah satu aaksi peristiwa itu, melihat dengan jelas pemandangan dari atas, gulungan ombak yang sudah berada di seluruh pesisir pantai menjadi beku, dan selanjutnya kabut yang muncul dengan cepat juga tebal, langsung menyapu bersih bongkahan es itu, alias..


[ Menghilang?!. ] burung camar ini membuka mulutnya ( paruhnya ) karena tercengang.


Bagaimana bisa ada seorang gadis kecil melakukan sihir sebesar itu?.


Apalagi untuk membekukan dan menghilangkan keberadaan es yang sangat besar dan panjang karena berada di sepanjang pesisir pantai Neklosivia.


Dalam area pesisir pantai itu, kabut yang awalnya menyelimutinya, pelan-pelan langsung berpindah tempat ke tengah laut.


Akhir dari menghilangnya bahaya untuk semua orang selesai sudah.


Jasa yang tidak akan pernah mereka tahu siapa orang yang benar-benar sudah berjasa itu, sudah menyelamatkan keberadaan mereka semua.


Sebuah jasa tanpa sebuah imbalan nyata.


Dia hanya mendapatkan imbalan sebuah kebaikan berupa pahala tiada hitung jumlahnya khusus untuk hari ini.


" Tapi...... " Mulutnya bergumam sambil mengedipkan matanya dengan malas.


Dan bibirnya hanya tersenyum sedikit.


[ Aku tidak mempermasalahkannya. Rasanya....sangat lega. ] tangan kanannya pun kembali mengangkat ujung roknya sembari meletakkan lagi senjatanya ke dalam sarung yang terikat, melingkar di ke dua pahanya.


Setelah itu apa yang dirasakannya dalam hati adalah rasa lega, senang tanpa sebuah sebab yang pasti.


Apakah senang karena bisa menolong orang banyak lagi dalam waktu singkat ini?.


Ataukan senang sebab bisa melawan rasa takutnya pada si monster tsunami itu?.


Mana yang tahu?.


Dan kali ini...


Dia tidak mau tahu dulu.


" Ah..... " kelopak matanya kembali terbuka sambil mendongak ke atas, tidak ada hujan selain gerimis.


Apakah hari yang melelahkan ini telah usai?.


[ Aku ingin tidur di rumah. ] batinnya. Keinginan kecil untuk tudur sepuasnya, sebagai imbalan kerja kerasnya sendiri adalah harapan yang pasti.


BRUKK.....


Dia pun.....terbaring di atas rumput yang perlahan mulai memperlihatkan warna hijau muda yang menyejukkan mata.


Rasa lelah itu benar-benar nyata, jadi....

__ADS_1


[ Aku emmang nyata berada di sunia penuh dengan sihir. ] Fikir Dania. Matanya berkedip beberapa kali saat menerima terjangan rintikan air daei kangit, sampai akhirnya dia pun memutuskan untu memejamkan matanya lagi.


__ADS_2