
"..........."
".........? "
Felix dan Danie saling menatap satu sama lain.
Mereka berdua sudah melakukannya lebih dari 5 menit yang lalu, bahkan setelah makanan ia makan sudah mereka habiskan.
Keduanya saling duduk berhadapan.
" Kenapa menatapku seperti itu? " tanya Danie pada Felix yang masih mempertahankan tenungannya.
" Dari dulu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. "
" Apa? "
" Apa kamu manusia yang - " Felix mendekatkan tubuhnya dan mulai berbisik ke telinga Danie.
" tidak memiliki jenis kelamin? " bisiknya.
" 💢, uhuk...uhuk...apa yang kamu bicarakan. Dari mana pikiran itu berasal? " Air yang diminumnya membuat dirinya tersedak lepas mendengar pertanyaan Felix yang jauh dikatakan konyol.
" Di saat menggendongmu, aku tidak pernah merasakan sau..mphhh " matanya terbelak ketika telapak tangan Danie segera membungkam mulutnya.
Disaat yang sama, kaki Danie sudah naik ke atas meja demi menutup mulutnya(Felix) yang ingin mengucapkan hal pentingnya itu.
Kini wajah mereka berdua sangat dekat, bahkan deru nafas masing-masing dapat mereka dengar.
" Eh lihat, apa yang sedang mereka berdua lakukan? "
" Apa pendeta Danie tertarik dengan wakil pemimpin? "
" Dekat sekali "
Bisik orang-orang yang melihat kejadian mereka berdua.
" Hahhh...., jangan pernah membahas itu lagi. Aku tidak akan menjawabnya " mendengar bisikan-bisikan beberapa orang tadi, akhirnya Danie melepaskan tangannya dari mulut Felix yang tadi ia gunakan untuk membungkam.
[ Terlihat alami seperti reaksi wanita pada umumnya ] fikir Felix.
" Jangan mengengada, berpikiran hal yang bukan-bukan "
" Ngomong-ngomong, sejak kapan pendeta berbucara ' aku, kamu ' ? "
[ Cih...aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri ]
" Tadi " jawabnya, lalu segera pergi agar tidak di tanyai hal-hal aneh lagi dari mulutnya Felix.
[ Kan aku jadi berpikiran hal yang bukan-bukan. Emosi...oh emosi, kendalikan dirimu! ]
Mulai merutuki dirinya sendiri.
******
Api yang membakar rumah.
Ayah....ibu...,sudah pergi.
.................................................................
Masa lalu kelam,kenangan bersama mereka sudah mati saat semuanya sudah pergi meninggalkanku sendiri.
__ADS_1
Setiap harinya,kedua kelompok kesatria itu akan bergiliran antara mengintai pasukan musuh dengan turun ke medan perang.
Di pagi ini kesatria suci lah yang mengintai medan perang untuk mengamatikan kondisi diwilayah tersebut, wilayah barisan pertama yang sudah ditaklukan maka disaat itu juga mereka akan maju untuk menduduki tempat itu agar wilayah yang sudah direbut bisa dipertahankan sampai benar-benar menguasai seluruh daratan milik kerajaan Beysil.
Tentu saja pendeta juga akan bergiliran, bergiliran berangkat bersama kelompok kesatria. Disana para pendeta akan langsung melaksanakan tugasnya jika salah seorang pasukannya terluka.
Tapi juga bukan hal yang mudah, karena harus berhati-hati, jika tidak justru yang akan tamat pendeta itu sendiri jika tidak bisa menghindar dari serangan musuh.
"HAHHHH........Lelahnya"
Di waktu pagi yang cerah itu,semuanya sedang sibuk dengan urusan paginya,dari yang baru saja bangun tidur, mandi, sarapan, dan salah satunya adalah berolahraga.
Berolahraga,
[Kasihan...dia sangat lelah]
"Aku sembuhkan lukamu dulu"
"Jangan Danie, lebih baik para tuan kesatria tampan dulu, mereka lebih membutuhkannya ketimbang diriku. Hanya luka gores saja aku bisa mengobati diriku sendiri" tolak Keylin dengan lembut,bagaimanapun yang menjadi prioritas adalah para kesatria agar bisa maju lagi ke medan perang, jika terus menang, juga bisa mempercepat kepulangannya.
"Bukankah tadi kamu bilang lelah?,aku bisa membantumu"
Bisik Danie tepat di telinga Keylin.
"Ahhh....tidak,tidak...aku bisa sendiri"bjawabnya dengan pipi yang sudah merah merona.
[ Kenapa aku bisa malu begini,padahal aku orang yang memiliki percaya diri tinggi dengan semua orang ] fikirnya sambil berlari ke tenda miliknya.
[ Dia masih belum terbiasa dengan sikapku yang kemarin, setidaknya semangatnya balik dengan cepat ]
Danie berjalan kedepan, namun pandangannya masih memandangi Keylin sehingga tanpa disadarinya dia..
BRUKK....
"Ahh..."
[Apa aku menabrak tiang?]
Mengelus kepalanya sendiri, tetapi lepas mengeluh kaget, ia sadar kalau didepannya bukanlah tiang melainkan orang.
"Pendeta!,to..long aku"
pintanya dengan nada yang merintih menahan rasa sakit.
[ Walau aku menabraknya, tapi tidak terjatuh walau dalam ke adaan terluka.
Darah bercucuran dari lengan kanannya,dia memiliki luka dalam yang panjang]
"Duduk disini" Danie membantu salah satu kesatria ini duduk dan bersender ke pohon.
Setelahnya, tanpa membuang masa lagi Danie memejamkan matanya,salah satu telapak tangannya menggenggam telapak tangan tuan kesatria sedangkan tangan lainnya sedikit mendekat ke tempat dimana lengan tuan kesatria itu terluka.
__ADS_1
Dalam waktu 1 menit perlahan luka sayatan di lengannya sudah mulai membaik, lebih tepatnya setelah tidak merasakan sakit yang teramat sangat, luka itu sudah tidak sedalam dan panjang dari yang pertama kali ia rasakan.
[Dia benar bisa menyembuhkanku,tapi...kenapa laki-laki ini terlihat cantik?.]😕 [tunggu...laki-laki yang cantik?...😰,aku memuji laki-laki lebih cantik dari pada wanita?..apa efek luka ini membuatku berhalusinasi?] Detik hatinya, ketika membuat kesan pertama pada pendeta Danie dari Abner.
[ Kenapa orang ini menatapku terus ]
"Sudah...anda sudah bisa beristirahat"
"Terima kasih pendeta"
Danie hanya mengangguk iya,setelah itu pergi untuk menjauhkan dirinya dari pada orang itu.
"Aaahhhh......,baru 10 hari ternyata selelah ini"meregangkan tubunya sekaligus kedua tangannya terangkat ke atas.
TING.......
"Hm?,apa ini?" tangannya yang memegang ponsel tiba-tiba ada bunyi notifikasi masuk.
《 dalam satu hari lagi akan ada fenomena gerhana matahari 》
"Oh...gerhana matahari saja, tapi seumur hidup juga belum pernah milhat dengan mataku sendiri"
[Wahh...anime favoritku!..kyaaa....,walau animasi tapi benar-benar hensem] Danie tersenyum-senyum sendiri, melihat tokoh utama dari film animasi favoritnya, rambut pirang dengan warna mata merah, walau hanya gambar semata, tapi tetap terpesona dengan ketampanannya.
Sampai 5 menit lamanya, ia habiskan untuk menonton film, sampai tidak disadarinya kalau dibelakangnya ada orang yang memperhatikannya dari awal Danie mengeluarkan ponselnya.
SRETTT------------------- (langsung mengambil ponsel Danie sekali rampas)
"Yah..!"
"Ternyata pendeta lebih mementingkan alat aneh ini dari pada para kesatria yang terluka"
Peringat Caver dengan hawa dinginnya yang menggelora keluar dari tubuhnya.
"Hukuman 1 minggu ikut ke medan perang, ingat statusmu sebagai Helaer jangan abaikan kewajibanmu"
tuturnya dengan nada dingin dan rendah.
".................."
[Ponselku...!!!!!] Hanya bisa berteriak dalam hati dan pikiran.
Di malam harinya,Ia tidak dapat tidur karena besok adalah hari pertama baginya untuk pergi ikut perang,jadi ia memutuskan menghangatkan tubuh di tepi api unggun.
Dua orang juga sedang duduk didekat perapian,namun mereka tertidur dalam keadaan terduduk saking leĺahnya setelah terjaga hampir semalaman.
Danie menenung kobaran api didepannya lama-lama.
Sampai ia melamun dan masuk kedalam pikirannya yang paling dalam. Memori lama saat masih kecil.
Flashback On.
Kala itu Alinda saat diusia 9 tahun,dari kecil yaitu saat 6 tahun hingga diusia itu,dirinya harus melakukan semua pekerjaan rumah dan sekolah sendirian.
Kedua orang tuanya setiap harinya pasti selalu melakukan pertengkaran hebat.
Keluarganya merupakan keluarga yang sangat sederhana,sehingga ibunya menyesal bisa menikah dengan suaminya yang sekarang dan akhirnya memiliki 1 anak perempuan yaitu Alinda,namun karena perekonomiannya selalu pas-pasan itulah si pemicu pertengkarang keduanya.
Ibunya lebih memilih berpisah dengan suaminya dan benar saja,dia meninggalkan anaknya dengan suaminya di rumah.
Tetapi ayah Alinda bukanlah orang yang bertanggung jawab sebagai orang tua,sampai menjadi orang tua tunggal.
Setelah berpisah dengan ibu,setiap hari dia selalu mabuk-mabukan,merokok,berjudi dan tidak menggubris anaknya yang masih berumur 5 tahun.
Seorang anak 5 tahun mengerjakan pekerjaan orang dewasa,dari mencuci,memasak,mandi sendiri,membersihkan rumah. Bahkan sampai belajar sendiri dengan keras agar tidak merepotkan sang ayah,dan akhirnya disetiap ulangan dia mendepatkan nilai sempurna.
Walau begitu sang ayah tidak pernah memperhatikan Alinda itu,dan masih saja berbuat hal yang sama setiap harinya yaitu mabuk,makan,dan tidur.
Bahkan suatu hari,Alinda ditinggal ditengah hutan sendirian oleh ayahnya,hutan gelap dan dingin,karena saat itu disana dalam keadaan hujan.
Ia menangis tersedu-sedu.
"Huhuhuhu....ayah...aku takut,disini gelap sekali. Ayah?,ayah ada dimana?"kata Alinda dengan terisak nangis di bawah semak-semak.
Dia menangis bahkan sudah tidak tahu lagi,yang mengalir di pipinya adalah air matanya sendiri atau air hujan,dia masih berjongkok dengan nada sedihnya,bahkan masih menggunakan seragam sekolah yang sudah mulai kekecilan.
"Ayah,aku tidak akan tumbuh besar dengan cepat,aku akan mengurangi jatah makananku,jadi ayah tidak perlu mengeluarkan uang untuk beli seragam baru. Dimana ayah...ayah..,aku akan menjadi anak baik...aku mohon jemput aku ayah..!"
Yang terdengar disana hanyalah suara hujan dan suara lembut anak kecil.
Tetapi untung saja ada pilisi hutan yang menemukan anak itu.
"Dimana orang tua nya?,kasihan sekali anak ini,pasti sangat ketakutan di dalam hutan"tutur sang polisi hutan setelah membawanya keluar dari hutan dalan dalam keadan menggigil kedinginan serta menggigil karena rasa takut.
Di 3 berikutnya hal sama pun terulang kembali,dia ditinggal dihutan untuk kedua kalinya.
"Sebenci itukah ayah padaku?"detik hati Alinda,sembari berjongkok di bawah pohon yang juga sama-sama pendek. Dia bermain dengan tangah,namun air matanya tetap mengalir.
Disore menjelang malam itu,dia masih duduk di tempat yang sama setelah 3 jam lamanya.
Namun tiba-tiba ada seorang kakak laki-laki mengulurkan tangannya,dia membantu dirinya keluar dari hutan dan membawanya pulang kerumah setelah Alinda mengatakan alamat rumahnya.
Tetapi hal yang paling mengejutkan adalah,api...yang menelan rumahnya.
"Ayah...!!!,huhuuhu...ayah!,kenapa ayah meninggalkanku!...ayah!!!,sekarang aku akan bersama siapa?,ayah dan ibu pergi!"kakinya yang gemetar tidak dapat menopang tubuhnya dan jatuh terduduk.
Anak berkuncir dua itu menangis,sudah tidak memiliki apapun,ayah,ibu,dan rumah,yang tersisa adalah dirinya sendiri.
Kakak laki-laki itu akhirnya membawanya pulang,tapi bukan pulang kerumahnya,melainkan menitipkannya di panti asuhan.
"Sekarang rumahmu disini,banyak teman yang bisa menemanimu setiap hari"
Itulah kata-kata dari kakak tersebut pada Alinda.
Namun setelah itu,ia tidak pernah muncul lagi. Setiap harinya,alinda hanya direndung oleh hatinya yang sepi,tidak mau bermain dengan teman sebayanya,yang dia lakukan hanyalah duduk diam.
Mimpi dari serpihan memori masa kecil itulah,hal paling kelam,awal dari semua kehidupannya tanpa adanya ayah dan ibu lagi.
__ADS_1