
" Ailyn..." Panggil sang ratu Darayad.
Darayad berjalan ke depan pintu istananya, dimana seorang gadis muda itu sedang duduk di undakan tangga bersama dengan satu anak pohon yang masih kecil.
Si empu langsung menoleh ke belakang dan berkata.
" Ya, yang mulia?. "
Tapi si anak pohon ikut menjawab juga.
" Pi?. " anak pohon itu ikut menoleh ke belakang, lalu langsung berdiri setelah melihat yang datang ke arahnya adalah sang ratu hutan.
" Apa kabar Pici. " Darayad menyapa anak pohon itu dengan senyuman ramahnya.
" Pi...pi..." jawab si anak pohon itu atas sapaan dari yang mulia ratu.
Tentu saja Darayad tahu apa yang sedang di ucapkan oleh si Pici, nama anak pohon yang baru berumur 1 bulan itu.
Pici, dia adalah salah satu pohon dari puluhan pohon yang hidup layaknya manusia, maksudnya bisa berbicara, dan tentu saja bisa bergerak, berpindah ke sana kemari dengan akarnya yang mereka gunakan sebagai kaki.
Dan pohon-pohon yang seperti itulah pasukan yang di gunakan sebagai penjaga wilayah yang di kuasai oleh Darayad.
Sedangkan tugas dari Ailyn yaitu adiknya antara lain mengawasi semua pergerakan yang ada di sekitar hutan, di antaranya adalah sebagai penyampai pesan dan seseorang yang mengambil keputusan atas semua tindakan untuk para penjaga huutan, jika saja aa musuh yang mendekat.
" Pi....pi...pi?. " tanya PIci pada Darayad.
Darayad pun dengan begitu ramah, menjawab soalan dari anak pohon ini.
" Aku hanya meminjam Ailyn untuk melakukan tugasnya. Kamu pergilah bermain dengan yang lainnya dulu. " pinta Darayad.
Awalnya pIci berpikir sejenak, namun dia menyetujuinya.
" Pi. " Dan Pici pun melambaikan ranting kanannya, sebagai sapaan perpisahan pada mereka berdua.
Ailyn dan Darayad membalas lambaian tangan Pici.
Selepas melihat Pici sudah pergi, mereka berdua pun mulai membahas topik utamanya.
" Tugas apa yang anda maksud?. " tanya Ailyn.
Darayad memberikan beberapa lembar daun kecil berwarna merah pada Ailyn, lalu memberikan sedikit penjelasan pada Ailyn.
" Aku akan pergi ke utara. Dan tugasmu aku tambah satu, jaga burung itu sampai aku kembali. "
" Berapa lama?. "
" Paling lama 9 hari. Dan daun itu, kamu berikan satu kali sehari untuk burung itu makan. "
Sedikit memiringkan kepalanya, dia masih sedikit tiidak mengerti atas permintaan dari kakaknya yang memberikan perintah aneh, yaitu memberikannya makan?.
" ........?, bagaimana caranya?. Anda yang bilang sendiri, itu hanya boneka, kenapa juga memberikan daun ini. "
[ Bukannya burung itu hewan pemangsa daging?. ] Sambil menghitung jumlah daun yang di terimanya, Ailyn masih menunggu penjelasan lainnya dari kakaknya ini.
__ADS_1
" Karena tubuh burung itu adalah tubuh asli yang sebenarnya sudah mati, jadi satu-satunya cara agar menjaga tubuh itu dengan baik adalah untuk terus menjaga kehangatannya. Kamu bisa menumbuknya dan beri sedikit air dar batu 'mana', itu akan mempertahankan fisiknya tetap utuh " jelas Darayad.
[ Sampai-sampai memberikan air dari batu berharga, apa burung itu sebegitu berharganya?. ] Ailyn yang hanya bisa menuruti perintah dari kakaknya hanya bisa membatin pada dirinya sendiri.
Dia sudah tidak mau memperdebatkan lagi tentang burung itu secara panjang lebar, karena ujung-ujungnya kakaknya akan tetap bersikeras untuk melindunginya.
" Tapi apa yang anda lakukan di wilayah utara?. " akhirnya Ailyn bertanya, tentang alasan kenapa kakaknya mau pergi ke utara?.
Padahal di utara, kebanyakan adalah lembah, yang tidak di huni oleh siapapun, karena banyaknya monster di sana.
Tapi si penguasa hutan akan pergi kesana secara pribadi?.
" Aku akan menemui seseorang. "
Hanya itu saja yang bisa Darayad beritahukan.
Dan Ailyn pun mengerti, kakaknya tidak mau memberitahukannya secara detail.
Memang kesal, karena tidak mau membagi-bagi informasi, tapi apa daya coba?.
Kakaknya pasti punya alasan lain, di balik tidak mau memberitahukan alasan singkatnya pergi ke wilayah utara itu.
" Kamu akan tahu saat aku kembali nanti. " lanjutnya.
Ini bukan pertama kalinya meninggalkan adiknya, jadi dia akan merasa tenang jika burung itu ada di bawah penjagaannya.
Meski tahu, akan wajah merungut Ailyn yang ingin mendapatkan penjelasan yang lebih detail soal dirinya yang akan pergi ke utara.
Hanya itulah yang bisa dia sampaikan sebelum dirinya pergi meninggalkan adik satu-satunya itu.
" Aku akan kembali. Jaga dirimu. " kata terakhir Darayad pada adiknya.
SHAAAA.......
Dalam sekelebat mata, wanita berambut hijau ini pergi dengan meninggalkan angin lembut aroma daun segar menjadi hal terakhir untuk Ailyn.
***********
Bayangan hitam yang kian mendekat, mulai melahap pandangannya yang mulai samar-samar karena luka yang di terimanya.
" S-siapa k-kau..." tanyanya dalam suara yang begitu menyedihkan.
Di lihat dari sudut manapun, dia adalah salah seorang di antara banyaknya orang yang akan menemui ajalnya, namun dengan beruntungnya, kesatria ini masih mempunyai sedikit kesadaran sehingga sempat mendapatkan seseorang sedang berdiri di depannya.
Yah apa lagi kalau bukan.....seseorang yang datang dengan sebuah tatapan datar, menatapnya begitu dingin seakan dia adalah malaikat maut yang sedang menunggu jiwanya pergi secara utuh.
" Memangnya apa yang kau lihat?. " tanya pria ini pada manusia yang sudah tergeletak lemah dengan luka parah di sekucur tubuhnya.
Perang yang tiada henti.
Pemandangan seperti inilah akhir dari riwayat hidup mereka yang tidak bisa mengalahkan lawan yang lebih kuat.
Di dunia ini, hanya yang kuatlah, yang mampu bertahan hidup sampai akhir, dan yang lemah hanya akan jadi batu loncatan mereka yang berhasil bertahan hidup.
__ADS_1
" Ba-yangan....hi..tam. Se-per-ti.....ma..lai-kat ma-ut. " Berusaha menjawabnya meski terbata-bata.
Mata sebelah kanan pun sebenarnya sudah terhalang oleh darahnya sendiri, jadi apa yang barusan ia ucapkan juga tidak begitu yakin.
" Jadi aku malaikat mau ya?. Kalau begitu, sebagai malaikat mautmu, pasti kau punya permintaan terakhir. "
" Ra-sa.uhuk..." memuntahkan darahnya dari mulut, kesatria ini terus bersaha untuk bicara pada malaikat mautnya.
" Rasa-nya sakit....tol-long ca-but..nya..waku ...le..bih ce-pat. "
Dengan wajah datarnya, seperti memang tidak tertarik, dia tetap menjawab.
" Berbanggalah, karena akulah yang akan mengantarkanmu ke alam lain dengan cepat. " sebuah permintaan yang sangat sepele seperti itu, itulah salah satu keahliannya, yang tidak di ragukan lagi.
Pria ini pun mengangkat tangan kanannya, dan muncul satu bilah pedang, yang kemudian langsung melesat menusuk ke jantung dari orang ini.
Proses yang sangat cepat, sekaligus tanpa adanya sebuah tantangan.
Itulah.....
Setelah pertunjukkannya selesai, selesai hanya untuk hari ini saja, karena besok masih ada lagi.
Laki-laki berambut emas ini akhirnya turun dari tebing. Berdiri di tengah-tengah lautan manusia yang sudah terbaring mati, satu per satu dia amati, dan mulai melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan jiwa mereka yang masih terjebak di tempat itu.
Sesi ritual untuk menambah 'mana' yang dimilikinya, itulah tujuannya datang ke tempat berdarah ini.
" Yang di sana, apa yang sedang kau lakukan!. " sampai satu teriakan mendatanginya.
Caster yang tidak peduli dengan kicauan itu, tanpa menjawab dan tanpa menoleh ke belakang, dia langsung segera membunuh orang itu dengan kekuatannya yang selalu ada di sekitarnya.
CTANG.......CTANG..........
Berhasil menangkis tiap pedang yang datang ke arahnya, namun......
Caster menjeling ke arah kesatria itu langsung membatin dengan sebuah sarkasme.
[ Memangnya seberapa lama kau bisa menangkis
pedangku? ] dengan begitu dinginnya, Caster menyerang satu orang itu dengan membabi buta, hingga pada akhirnya dia..
JLEB.......JLEB.......
Pedangnya menancap dengan begitu indahnya, menembus tubuh itu.
" Arghh........." rintihan penuh dengan rasa siksa yang menyakitkan.
"................"
[ Akhir keberadaan kalian hanya bisa berada di tanganku. ] fikirnya.
[ Jadi jangan berpikir kalau jiwa kalian akan tenang begitu saja. ]
Keuntungan dari menunggu satu ras yang sama itu bertarung melawan satu dengan yang lainnya, dialah Caster...si predator jiwa manusia ang selalu menunggu ajal berikutnya dari tiap manusia yang ada di ujung dari akhir hayatnya.
__ADS_1