Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 77


__ADS_3

[ Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat dia ] Dania tidak tahu kemanakah burung coklatnya itu pergi, atau karena cuacanya yang dingin semangat terbangnya jadi mengendur itu juga tidak tahu pasti.


" Hahh....hahhh....hahhh....hahhh...." dicuaca yang dingin tapi nafasnya terengah-engah seperti habis dikejar preman.


[ 45, 46, 47, 48, 49, 50 ]


" Hahhhhhh........" menghela nafas secara panjang, dengan tenaga yang sudah letih, dirinya langsung membaringkan diri ke lantai dengan posisi tengkurap.


CKLEK.........


Tidak tahu siapa gerangan yang masuk ke ruangan latihan tanpa mengetuk pintu.


" Hehh? Apa sebegitu lelahnya? "


"................?"


[ Tapi Push-Up 50 kali itu lumayan nguras tenaga. Yah...kalau tidak ada target, olahragaku akan berantakan ]


Untuk meningkatkan fisiknya sendiri, mau tidak mau olahraganya harus ia lakukan setiap hari agar tidak melemah. Toh...tidak rugi juga, ketimbang di dalam istana hanya mondar-mandir bagai setrika karpet merah istana lebih baik sekalian nghabisin tenaganya sendiri untuk olahraga.


Setelah istirahat sekejao, ia kembali melakukan olahraga lainnya.


Vidal yang kebetulan lewat, sengaja mampir hanya sekedar menonton walaupun hanya sekejap.


Tapi kalau dipikir-pikir, Vidal sendiri baru pertama kali lihat perempuan yang berolahraga keras layaknya laki-laki, padahal selama ini yang sering ia temui adalah wanita anggun yang bekerja keras demi menjadi istri yang sempurna, salah satunya seperti menyulam, tutur kata yang sopan, tata krama, pesta kalangan bangsawan, gaun mewah dan mengerti akuntansi untuk mengatur keuangan jika sudah menjadi istri dan masih banyak lagi, yang intinya orang-orang akan menyebutnya menjadi sosok istri idaman yang sempurna.


Dania memberhentikan latihan sit-up lalu berkata " Jangan membuat wajah seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan. " dalam artian sadar kalau Vidal membuat wajah bengong, yang artinya Vidal sedang memikirkan satu hal yang belum pernah ia temui selama ini.


" Aku hanya tidak habis pikir ada gadis sepertimu sedang olahraga berat "


" Masalah? "


[ Aku malas berdebat dengan orang yang suka membeda-bedakan gender. Mentang-mentang aku perempuan, dia jadi cerewet karena orang sepertiku jarang dia temui. ]


[ Judes amat ]


" Tidak, kelihatannya jadi lebih bagus. "


Kata Vidal, kemudian ia berlalu tuk melanjutkan perjalanannya, atau lebih tepatnya tidak ingin mengganggu legiatan majikannya itu.


Di saat berjalan di lorong, ia berpapasan dengan Marsha yang sedang membawa nampan berisi 3 gelas.


" Nenek memang pengertian, membawakanku Kopi " tutur Vidal, lalu tanpa merasa bersalah ia langsung mengambil salah satu gelas yang berisi air berwarna hitam, dimana gelasnya pun masih hangat. Tanpa basa-basi Vidal mengangkat gelasnya dan mendekatkannya ke bibir dan mulai menyeruput.


Sela Marsha dengan cepat.


" Tapi itu bukan untuk an- "


Sayangnya terlambat.


" Phuihhhh!! "


" -Da " lanjut Marsha setelah mendengar keluh kesah Vidal tadi.


" Pahit!, apa yang nenek masukan! " langsung mengambil gelas berisi air kosong( minum biasa ) yang hangat.


" Belum aku peringatkan tapi sudah disambar, minuman ini untuk nona Dania. Jamu pereda untuk nyeri perut " jelas Marsha.


" Apa?, dia minum minuman sepahit ini? " Vidal mengambil gelas kedua untuk menghilangkan rasa pahit yang masih tertinggal di belakang lidahnya.


" Heh, nona saja tidak mengeluh pahit minumannya sendiri, tapi laki-laki seperti Juro sudah seperti ini. Tapi aku harus membuatnya lagi nih " Marsha memutar tubuhnya ke belakang, ia hendak balik menuju dapur untuk membuat minuman khusus untuk nona nya.


" Tunggu, tadi bilang kalau minuman ini untuk pereda nyeri perut?. Tadi dia terlihat baik-baik saja, apanya yang terlihat sakit? " Baru saja bertemu dan terlihat baik-baik saja, tapi kepala pelayan secara khusus membuatkan minuman untuk meredakan sakit perut.


[ Bukankah lebih baik panggil dokter saja? ]


" Hahh.....laki-laki sepertimu mana tahu apa yang dirasakan wanita ketika ada tamu datang. Sudahlah, lebih baik urus saja pekerjaan Juro " ucap Marsha.


" Nenek! "


Disaat hendak kembali berjalan ke dapur lalu satu teriakan pun muncul tepat dari jalur yang tadi Vidal lalui.


Vidal dan Marsha langsung melihat siapa gerangan yang berteriak di koridor.


" Kenapa minumannya belum sam...., Eh? "


Melihat Di atas nampan ada jamu yang di tunggunya,Dania berjalan mendekat ke arah Marsha dan langsung memgambilnya juga langsung meminumnya.

__ADS_1


Glukk....Glukk...Glukk...Glukk....


[ Di..dia meminumnya sampai habis?, apa indera pengecapnya bermasalah?, tung....tunggu...dia minum dari- ]


Didalam hatinya ia terkejut bukan main..


Lalu nenek Marsha pun tersentak tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.


" No..nona? "


" Hmm? " Dania melirik ke arah Marsha sambil meneruskan tegukannya hingga tetesan terakhir.


" Awalnya nenek hendak membuatnya lagi- "


" Kena- " Saat hendak mengambil gelas sebelahnya, namun nyatanya isinya sudah menghilang entah kemana, jadi ia mengurung niatnya untuk mengambil gelas tersebut.


Tersadar dari buaian kejutan tadi..


" Nona tunggu sebentar, nenek akan mengambilkan air lagi " Marsha bergegas kembali ke dapur.


" Itu terlalu lama " tutur Dania, lalu mengikuti Marsha dari belakang.


Merasakan pahit itu sudah biasa, tapi menunggu air dari dapur kembali akan memakan waktu lama, jadi dari pada menunggu Marsha kembali apatah lagi sudah berumur, lebih baik langsung pergi ke dapur bersamanya.


Hanya tinggal Vidal seorang, ia masih berdiri terbengong tidak percaya. Lalu tangan kanannya ia angkat, jari telunjuk dan tengahnya menyentuh bibirnya sendiri.


[ Apa itu yang namanya ciuman secara tidak langsung? ]


Vidal baru kali pertama melihat satu hal yang ia lihat dengan mata keoalanya sendiri, gelas yang tadi sempat di gunakan malah di gunakan olehnya juga, sebab itu Vidal merasa ini hal yang bisa di bilang hal tak terduga.


******


[ Semalam badai salju, dan inilah akhirnya ]


Selama dua hari satu malam, badai salju membuat semua jalanan tertutup salju dengan ketebalan yang lumayan ekstrim. Mau buka pintu rumah juga harus berpikir dua kali, karena gundukan salju menutupi bagian depan pintu, jadi kalau mau buka boleh saja asal mau membersihkan lantai karena saljunya akan masuk ke rumah.


" Hahh....kita seperti pekerja bangunan " keluh salah satu kesatria yang sedang membersihkan tumpukan salju di kediaman Schneider.


" Apa aku bisa membantu kalian? " datang satu orang lagi.


" Baguslah "


Tanpa ba bi bu lagi, bertambah satu orang membuat pekerjaan mereka cepat selesai. Lagi pula hanya untuk membersihkan salju dari depan pintu saja agar tidak mengganggu.


Setidaknya perlu 30 menit sampai benar-benar bersih hingga ke menuju pintu gerbang.


[ Sepertinya percuma jika langitnya saja gelap terus ] detik hatinya sembari mendongak ke atas, menatap langit berwarna putih kelabu.


Lalu ia sedikit membersihkan bajunya yang terdapat butiran putih saljunya.


" Hahhh......sedikit lagi selesai " sadar orang di sampingnya berhenti bergerak dan hanya berdiri saja ia pun menegurnya.


" Jika lelah, lebih baik kembali saja "


Yang di tegur menoleh ke belakang, namun ada satu hal yang membuatnya terja.....


BRUKKKK.......


Tuh..., yah selain seperti ada yang mendorognya lalu jalan yang licin membuatnya kehilangan keseimbangan.


" Maaf " tuturnya.


[ Aduh...remuk tulangku ]


" Kalian berdua ke- " satu temannya yang lain bertanya, namun ayatnya menggantung ketika ia menoleh ke belakang, rupanya ada dua orang yang baru saja terjatuh dan saling tumpang tindih dimana di atasnya lagi ada satu burung yang lumayan besar sedang menindih orang berkeoala kelinci.


" Eh?, kepala kelinci? " Yah dari manapun sekarang dirinya tertindih seseorang dengan kepala dan telinga kelinci.


Lalu tepat di atas tubuh orang tersebut ada satu ekor burung sedang bertengger dan menatap kesatria yang menjadi korban jatuh sebab kedua makhluk di atasnya.


" Anda tidak apa-apa? " tanya pada orang tersebut.


" Terima kasih tumpangannya " lebih tepatnya penyelamat dari pada terjatuh menghempap jalan yang keras. Pelan-pelan ia berdiri dari tubuh kesatria itu dan secara otomatis burung tadi berpindah tempat bertengger ke atas tembok pembatas.


Ia kemudian membetulkan topinya, dan bertanya..


" Ada yang terluka? "

__ADS_1


" Dari pada bertanya itu, siapa anda? "


[ Siapa orang ini?, tiba-tiba muncul dan membatu pekerjaanku ]


Walau pada akhirnya menjadi korban tindihan mereka berdua tadi.


" Orang yang kebetulan lewat " mengambil sekop kembali dan melanjutkan pekerjaannya tadi.


" Ini di dalam istana, mana ada orang asing yang kebetulan lewat " tutur kesatria itu.


[ Di..dia, gawat. Dia tidak tahu siapa yang sedang ia debatkan sekarang ]


" Tunggu- "


" Apa Jin?, dia orang asing, apa pelayan baru istana ini? " Sela Hermione, kesatria yang sedang menginterogasi orang aneh didepannya.


" Aku tidak ada waktu mendebatkan siapa aku, yang terpenting bisa keluar sekarang " tuturnya sekali lagi. Sepagi-pagi jam 7 itu ia bantu kedua orang di belakangnya agar pekerjaannya cepat selesai, karena gerbang besi tidak dapat dibuka jika tidak menyingkirkan salju tersebut.


SROOKK...BUK....SROOKKK.....BUK.....( setumpuk salju di atas sekop langsung dibuang ke sisi lain )


Orang yang dipanggil jin berjalan mendekat ke arah Hermione, teman kerjanya sekaligus partner hidup. Kemudian Jin berbisik ke telinga Hermione.


" Kau gila?, dia majikanmu lho. Perempuan yang diangkat menjadi adik yang mulia Archduke beberapa bulan lalu. "


" Apa?, mana mungkin dia. " Hermione pun masih tidak percaya apa yang dikatakan temannya.


" Tidak percaya ya sudah, jangan salahkan aku sudah mengingatkanmu " Jin Sagan nama lengkapnya, ia lebih baik melanjutkan pekerjaannya dari pada berbicara terus dan tidak kunjung selesai.


10 menit kemudian.


" Apa kalian berdua melihat nona? "


Tiba-tiba satu orang yang sangat mereka berdua kenali datang menghampiri,yaitu benjamin.


" Nona siapa? "


" Anda kesatria disini, mana tidak tahu nona kalian sendiri. Nona Eldania, saya sudah mencari ke semua tempat tapi tidak ada " jelas Benjamin, alasannya bertanya pada kedua pemuda tersebut.


" Apa bertopi kelinci itu? " Tanya Jin pada Benjamin untuk menklarifikasi tebakannya tepat atau tidak.


[ Tunggu, jadi orang tadi benar-benar Eldania yang itu?. Lalu kenapa Benjamin sampai mencarinya?, dia(Eldania) kan sudah bukan anak kecil juga ] fikir Hermione.


" Hm...sepertinya iya, beliau ini dan ini. " Benjamin menyerahkan mantel baju yang lumayan tebal dan sekantung uang pada Jin.


" Bisakah kalian mencarinya dan memberikannya padanya?, lagi pula nona juga belum tahu seluk beluk daerah ini, ada kemungkinan dia tersesat "


" Kepala pengurus, kalau nona memang belum tahu jalanan disini, kenapa tidak ada satu orang pengawal pribadi? " tanya Hermione.


" Pekerjaan saya banyak, dan tidak menyangka juga jika nona keluar istana "


" Yah..dari pada mengurusi salju terus, sepertinya enak juga jalan-jalan. Kami berdua pasti akan menemukannya "


Entah apa yang dipikirkan Hermione, Jin merasa kalau temannya yang satu ini memang butuh penyegaran otak. Jadi mau tidak mau akan bersamanya tuk beberapa jam ke depan agar pencariannya lebih mudah.


******


Di jalanan yang cukup tidak sepi-sepi amat.


Beberapa orang berlalu lalang disitu dengan pakaian super tebal demi menjaga kehangatan tubuhnya. Lalu dirinya juga sama-sama memakai mantel tapi tidak setebal apa yang tadi ia lihat, lalu desain penutup kepala alias topi hangat untuk menutupi kepala sekaligus telinga, ianya adalah desainnya sendiri dan hasil buatnnya sendiri. Desain unik berbentuk kepala kelinci. Sarung tangan juga Dania pakai demi kehangatan.


Sekarang tujuannya keluar dari istana adalah...


[ Dimana aku bisa menemukan ahli tempa besi disini? ] Fikir Dania, ia menoleh ke kakan dan ke kiri. Hanya ada kedai butik, restoran, bank, porselen, perhiasan, dan perabotan rumah.


Hanya saja dalam beberapa menit terakhir, entah mengapa suasananya menjadi sepi.


"..................."


[ Apa aku keluar diwaktu yang salah? ]


Hingga akhirnya, hanya dia seorang diri yang sedang berdiri di tepi jalan.


WUSHHH.......


Angin dingin mulai berhembus, setebal-tebalnya pakaian, sensasinya tidak akan hilang .


Ketika menoleh kebelakang, jauh di belakang sana ada awan hitam muncul.

__ADS_1


__ADS_2