Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Virus


__ADS_3

" Ketua!, kamu!...jangan-jangan kamu terkena Virus itu! " Tanya salah satu anak buah dari Ordon yang masih bisa bergerak sedikit walau masih menahan sakit.


" Diam! " Bentak Ordon pada anak buahnya.


Di saat membentak anak buahnya, satu pukulan atau lebih tepatnya sebuah tendangan telak dari punggung kaki Danie menuju ke arahnya ( Ordon)


" Apakah tidak ada orang yang memberitahumu untuk tidak melihat kekanan dan ke kiri saat bertarung? "


DUAKKK....( Satu tendangan menjerembap kan si Ordon )


AKHH.....( Ordon jatuh tertelungkup )


[ Kenapa orang ini masih ada energi di kala Virus itu sedang menyerangnya? ] Tidak habis pikir dengan saingannya si Danie yang masih bisa mencelakakan dirinya dikala Danie sudah mendapatkan virusnya.


" Aku..ing..in membunuh..mu " tidak ingin membuang kesempatannya, Danie menghunuskan pedangnya ke Ordon dari belakang ( punggung ) dan...


JLEBB....( Langsung menusuk hingga tembus menancap ke tanah )


BRUGGG......( Di waktu bersamaan, tenaganya yang semakin terkuras membuat dirinya terjatuh )


Kedua orang yang sudah mati dan antara hidup dan mati terbaring bersebelahan, melihat ketuanya terbunuh maka tidak ada urusan lagi dengannya dan lebih baik pergi meninggalkan mereka berdua disitu.


Pedang yang menancap menembus tubuh Ordon perlahan menghilang dengan sendirinya.


*******


" Yang mulia raja!, tuan putri Elvira sudah sadar! " beritahu si dayang khusus yang sering menemani Elvira dan menjaga Elvira selama ini. Kebetulan raja yang ada di lorong yang sama, jadi ia dapat memberitahunya secara langsung.


Mendengar putrinya sudah sadar, hatinya dari tadi dirundung oleh kecemasan kini bisa berkurang.


Mirkan beserta perdana menterinya pergi ke kamar Elvira untuk menjenguk dan melihat keadaan yang sebenarnya dengan mata kepala mereka sendiri.


" Aku..dimana? " Elvira mengerjapkan matanya untuk beberapa kali.


" Eh...di.." melirik ke samping kanan dan kiri.

__ADS_1


" Kamarku? "


Satu pintu terbuka dan ayahnya Elvira pun masuk dan langsung memeluk anaknya.


" Vira!, kamu akhirnya bisa bangun "


" Memangnya berapa lama aku tidak sadar? "


" 1 hari " jawab Mirkan.


" Ahh...dimana Ibu! "


Melepaskan pelukannya, karena teringat dengan satu orang lagi yaitu Jeremiara.


" Dia masih belum bangun. " Jawab Mirkan dengan raut sedihnya.


" Aku ingin melihatnya! "


" Jangan, kamu harus istirahat dulu "


Melihat anaknya yang tidak mau mendengar perintahnya, Mirkan jadi tidak bisa berbuat apa-apa dan yang di ucapkannya juga tidak salah juga karena kamar Elvira dan ibunya hanya ada di lorong yang sama.


" Baiklah, pergilah jika ingin melihatnya "


Dengan berlari kencang, tidak perlu sampai 2 menit ia sudah sampai tepat di depan kamar ibunya, kedua pengawal yang menjaga pintu kamar ratu segera membukakan untuk Elvira.


Masuk dengan wajah terengah-engah ia sudah di kejutkan dengan cahaya sihir warna biru yang ada tepat di atas tubuh ibunya.


" Kenapa dengan ratu? "


" Maaf tuan putri,kami masih belum bisa mendeteksi dari sihir yang ada pada tubuh yang mulia ratu "


[ Apa ini terjadi denganku juga? ]


Fikirnya.

__ADS_1


********


{ Danie!, bangun! } Teriak Everst dikala masih mengepakkan kedua sayapnya, membawa tuannya pergi menjauh dari sana.


Kejadian tidak terduga, hanya di tinggal sebentar sudah menemukan kondisi tuannya terlihat tidak bagus.


Flashback On.


[ Ada pelindung disini, aku tidak bisa mengikuti dia. ] melihat dirinya tidak bisa masuk, Everst mencoba dari sisi lain, namun hasilnya sama saja.


Karena Everst adalah seekor burung, maka ia bisa meningkatkan ketajaman matanya sehingga bisa melihat dan mengerti keadaan apa yang sedang terjadi dengan Danie walau dalam jarak yang jauh.


Terbang selama 10 menit lebih, Everst menyaksikan segala hal yang ada di bawahnya. Menembus pelindung sihir yang ada di area itu sangat susah apatah lagi..


[ Perasaan ini!, aku tidak asing dengan aura sihir ini!. ]


Karena merasakan aura yang familiar, Everst segera mengikuti aroma dan aura tersebut.


Sampai di hutan monster, ia sudah kehilangan aromanya.


[ Siapa pria itu? ] secara tidak sengaja melihat pria barusan keluar dari hutan monster.


Tapi karena memiliki perasaan yang tidak enak dengan majikannya, Everst terbang kembali ke tempat dimana Danie berada.


Disaat kembali ia sudah menemukan Danie sudah dalan keadaan pingsan di samping Ordon, lalu satu hal lagi yaitu melihat pedang tertancap di tubuh pria itu namun siring waktu menghilang begitu saja seperti hantu.


Flashback Off.


Everst akhirnya sampai di sebuah vila tersembunyi di dalam hutan, setelah sampai Everst menatap jendela yang ada di lantai dua dan seketika kedua pintu jendela terbuka, barulah Everst menatap Danie yang ada di punggungnya lalu membuat tubuh Danie terbang dan masuk lewat jendela yang sudah terbuka tadi dan membawanya masuk, membaringkannya di atas ranjang yang tersedia.


Kalau dilihat dari depan Vila itu sudah usang dan lebih menonjolkan aura seram lagi menyeramkan, namun di dalamnya masih terawat dengan baik, bahkan lampu di kamar yang di diami Danie menyala.


Everst tidak tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan Danie, menyebabkan ia terpaksa pergi meninggalkan Danie sendirian disana untuk mencari tahu.


[ Pasti dia tahu, aku harus menemuinya walau tidak suka sekalipun ]

__ADS_1


Everst hanya memiliki satu firasat pada satu orang yang dibencinya, namun terpaksa harus menemuinya demi mendapatkan informasi darinya.


__ADS_2