
KLAK......
Memakai kacamata hitam, lalu berdiri di atas lantai dengan pola lingkaran sihir.
Dia sudah bersiap dengan tugasnya, menyelamatkan manusia dari kemusnahan.
" Pemindaian sudah selesai, mana tercukupi, lingkaran sihir sudah aktif, hanya tinggal menghubungkan mana ke dalam senjata. "
Beberapa orang memperhatikannya, karena akan melihat sihir skala besar untuk menghancurkan Asteroid.
Ke dua tangan mengangkat sebuah senjata berwarna hitam, berbentuk senapan panjang. Dia mengarahkannya ke depan sebuah layar lebar di depannya. Batu tipis transparan dan mempunyai besar dan lebar hampir memenuhi dinding sudah menghasilkan gambar dari teropong besar yang menangkap semua gambar akan aktivitas benda di luar angkasa.
" Aku mulai. " ucapnya. Menahan semua pikiran yang ada untuk fokus pada satu target di depan sana.
Dia akan melancarkan sihir Material Burst, sihir yang bisa melenyapkan benda besar dalam satu kali tembakan.
Target sudah di tetapkan, dia hanya tinggal mengluarkan sihirnya ke dalam senjata yang dia pegang.
Hanya itu saja...
" Benda sudah mendekati, tinggal 170 KM sebelum memasuki atmosfer bumi. Saya akan menghitung mundur, Tiga. "
Semuanya orang menjadi tegang, orang yang akan melakukan sihir skala besar bukanlah orang biasa.....
" Dua. "
Semakin fokus, jarinya semakin bersiap untuk menekan pelatuk di hitungan terakhir.
Lantai berpola, sebuah lingkaran sihir mulai bersinar berwarna hijau.
" Sa-...... " di saat terakhir akan menyebutkan angka satu, semuanya langsung terdiam membeku dengan apa yang mereka lihat.
TING.....
Batu Asteroid yang tadi masih terlihat sedang bergerak cepat ke arah bumi, dalam sekejap mata sudah menghilang dari pandangan mereka semua.
" ..................! " All.
" Yang mulia... " panggil seseorang pada pria yang berdiri di atas lingkaran sihir tadi.
" Apa yang terjadi?. " Pria berambut perak ini langsung menurunkan senjatanya, dan bertanya kepada mereka semua yang ada di dalam lab.
" Target sudah dipastikan benar-benar menghilang. " beritahu wanita ini setelah menyelidiki lebih lanjut tentang Asteroid yang akan di tembak yang mulia raja, sudah di hancurkan terlebih dahulu.
" Jadi anda tidak perlu melanjutkannya lagi. " tambahnya.
Mendengar penjelasan singkat jelas, dan padat seperti itu, semua orang langsung menjadi lega, tapi yang menjadi pertanyaan adalah siapa?.
Pria awal 34 tahunan ini pun langsung melepaskan kacamata hitamnya, menoleh ke belakang dan turun dari dua undakan tangga lantai, dia menyerahkan kacamata tersebut pada asistennya yang dari tadi berdiri di belakangnya lalu bertanya.
" Kalian bilang sudah mengkonfirmasi bahwa tidak ada seorang pun dari seluruh Observatorium yang menemukan orang tepat untuk menghancurkan Asteroid itu. " menoleh ke belakang, dia langsung menambahkan.
" Tapi ini........, apa kalian membohongiku?. " seketika tatapan membunuh itu langsung menyapu bersih ruangan besar berdominasi warna putih itu.
Dan auranya yang kuat, membuat bulu kuduk mereka semua berdiri, takut bahwa orang ini akan menghukum mereka semua.
Karena hukumannya tidaklah main-main.
Orang yang duduk di urutan paling belakang langsung membuka suaranya, mewakili orang-orang di situ.
" Kami...tidak membohongi yang mulia. Untuk apa kami melakukannya pada anda?. "
Tatapannya yang tajam seperti akan membunuh orang, langsung sirna dengan helaan nafas kasar.
Dia melepaskan sarung tangannya, dan berbicara lagi....satu fakta yang dia tahu,
" Memangnya aku tidak tahu, kalian semua tertarik melihat rangkaian aktivasi sihir milikku. " pungkas orang ini terhadap rasa cemas yang di perlihatkan mereka smua.
" Erkk..! " All
[ B-bagaimana yang mulia bisa tahu?. ] semua orang menatap terkejut pemilik dari posiai tertinggi kerajaan Dartagnia.
Padahal yang di panggil yang mulia ini, adalah orang yang tidak pernah masuk ke dalam Observatorium sejak kali pertama berdiri, dan orang yang tidak pernah melihat siapa karyawan yang bekerja di sini, tapi...
Yang mulia raja sudah tahu?!.
Sebenarnya orang-orang di Observatorium adalah orang yang sangat mencintai, alias mengagumi aktivasi sihir milik yang mulia raja.
Itulah kenapa satu pasukan berjubah putih, bisa masuk ke dalam tempat yang sama.
*********
" ....................."
" Ledakan Asteroid sudah sudah di pastikan. " memberitahu tuannya, bahwa Asteroid sudah meledak, tapi ledakannya di luar bumi, jadi tidak ada dampak apa pun yang terjadi.
Sambil menengadah ke atas, pria tua ini tiba-tiba berbicara, rencananya sudah gagal.
" Siapa yang sudah menghalangi rencanaku?. Apakah penyihir dari pasukan militer?. "
Rencana untuk membuat benua bagian timur hancur sudah benar-benar gagal. Dari kegagalan itu, dia akan memutuskan melakukan rencana yang lain, dan melakukannya dalam waktu tertentu.
Apa boleh buat, kali ini.....
" Sayang sekali, aku tidak bisa menganggap kalau data ini akan cukup. Kita akan melanjutkannya lain waktu. "
Membuat mereka lengah, bahwa keadaan sudah baik-baik saja adalah hal yang tepat.
" Kalian sudah bekerja keras, istirahatlah terlebih dahulu. Dan lakukan yang terbaik untuk target salanjutnya. " perintahnya, sebelum dia pergi keluar dari lab.
__ADS_1
******
Di satu tempat, Observatorium selatan Rovathia.
10 menit sebelumnya.
" Aku akan mencobanya, sekarang juga. "
" Jika memang seperti itu, kamu harus bersiap. " Tn. Margel yang tidak punya pilihan selain ini, hanya mendukungnya. Pasalnya dirinya belum sepenuhnya percaya, tapi karena gadis ini memintanya jadi apa boleh buat?.
Ny. Sonia yang terdiam, pergi untuk mengambil sesuatu. Hal yang harus di pakai oleh perempuan ini sebelum mengerjakan misinya.
Sedangkan Tn. Margel pergi masuk ke dalam lab, memonitor lagi, dan mengatur prosedur pengaktifan lingkaran sihir yang ada di lantai.
" Dari mana kalian bisa membuat teknologi seperti itu?. " Dania bertanya karena sangat penasaran, di dalam Observatorium yang tak seberapa besar ini, sudah berada di toknologi yang hampir menyerupai di buminya.
Pengamatan bintang, jika sudah adanya membuat manusia pergi ke luar angkasa, itu sudah seperti perusahaan NASA.
" Apa kamu penasaran?. "
" ................. " sudut matanya melirik Erich sesaat.
[ Jika tidak mau bercerita, lebih baik tidak usah bertanya balik. ]
Arich tidak melakukan apa pun selain duduk itu, memutuskan untuk memberitahunya, tetapi....
" Jika kamu berhasil, aku akan memberitahumu. "
".............." Dania jadi menatap permukaan air teh....tidak, cangkirnya sudah kosong sebelum gelas itu menghampiri bibirnya. Jadi dia meletakkan lagi cangkir yang ternyata tanpa di sadari sudah kosong.
Apakah karena haus?, atau memang enak?.
Dua-duanya adalah penyebabnya.
Dania beranjak dari sofa, pergi menemui Ny. Sonia yang sudah kembali dengan membawa beberapa barang yang sudah familiar untuknya.
Ny. Sonia mengulurkan barang-rang itu ke gadis ini.
" Pakai ini, dan berdiri di tengah lingkaran sihir. Kacamata ini dan layar di depan sana akan memandu, untuk memudahkanmu mengunci target. " Ny. Sonia hanya menjelaskannya secara singkat.
Dia mengambil ke 3 barang itu, memakainya, dan berjalan menuju 3 undakan tangga, ke lantai yang posisinya lebih tinggi.
" Semuanya sudah siap. "
Tn. Margel mulai mengatur cahaya di dalam gedung agar padam, dia melakukannya agar membuat si pengendali sihir ini terfokus pada target yang di bidiknya.
" Baik. " Dania menatap ke arah layar, membuat kuda-kuda, lingkaran sihir di lantai mulai bereaksi.
Cahaya lembut berwarna biru dari lingkaran sihir pun mengisi ruangan.
Pelan-pelan ada angin mengitari tubuhnya, mmebuat rok yang dikenakan, sayup-sayup bergoyang mengikuti arus angin yang muncul ini.
Ny. Sonia dan Tn. Margel langsung mengamati hasil dari tembakan, tepat sebuah teleskop terus memfokuskan arahnya pada pergerakan Asteroid langsung memperlihatkan sebuah gaAsteroidbatu angkasa itu sudah meledak dan pecah berkeping-keping.
Waktu saat ini.
Gadis yang sedang berdiri di tengah sebuah lingkaran sihir ini masih berdiri, dengan memegang sebuah senapan berwarna hitam di ke dua tangannya. Sarung tangan hitam yang menyelimuti ke dua tangannya, dan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya menjadi penampilannya saat ini.
Itu mengingatkannya pada dirinya sendiri ketika memakai seragam dalam pasukan militer.
" ..................... " Dania, dia tidak mengira bahwa misinya berhasil. Prosesnya sangat mudah, meski membutuhkan energi sihir yang setara dengan besar dan jauhnya target yang di tentukan itu.
Setidaknya bisa dia kendalikan, itu hal yang paling baik.
Dan merupakan sebuah keajaiban, bagi pasangan suami istri ini, mereka senang bahwa kejadian paling buruk tidak jadi mereka alami.
" Kamu berhasil melakukannya!. " teriak Ny. Sonia, setelah mengamati bahwa ledakannya masih di katakan aman karena masih berada di luar bumi.
Tn. Margel pun tersenyum senang, setelah mendapatkan informasi dari tempat lain.
" Mereka semua juga sudah mendapatkan konfirmasi yang sama. "
Ny. Sonia berjalan ke arah gadis ini.
__ADS_1
" Kamu pasti lelah kan?. " memeluknya dengan hangat, dia sangat-sangat berterima kasih sudah membantu bencana yang hampir terjadi karena anak perempuan ini.
Mendapatkan sebuah.....
" ................... " pelukan hangat yang di terimanya, ini berbeda dari pelukannya sang nenek Marsha.
Nenek Marsha memeluknya karena rasa simpati, tapi Ny. Sonia, dia memeluknya karena rasa terima kasih.
[ Ehm....ternyata senyaman ini?. ] pelukannya bukan lagi pelukan biasa, tapi pelukan yang membuat wajahnya itu langsung terbenam ke dada Ny. Sonia yang cukup berisi ini.
Dania jadi memejamkan natanya, merasakan nyamannya dalam posisi seperti sedang di peluk oleh ibunya sendiri. Yah...seperti yang di lihat, dia bukan ibunya, jadi hanya menganggap sekelebat rasa yang nanti akan hilang saja.
Dan irinya, tidak punya dada berisi seperti ny. Sonia ini.
Meski di sisi lain, keberadaan sepasang itu, jika besar, maka akan mengganggu segala aktivitasnya.
Di satu sisi, Erich tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang dilihat di depan matanya. Mamanya sedang memeluk gadis itu dengan penuh hasrat. Sampai-sampai yang di peluk itu bukan tubuhnya, tapi kepalanya!.
" Hentikan itu!. " Erich sedikit berteriak, agar mamanya berhenti melakukan hal seperti itu, apa lagi dengan orang lain!.
Ny. Sonie menoleh ke arah Erich dan tersenyum senang.
" Eh...Erich, apa kamu iri?. " Membalasnya dengan nada yang menggoda pula.
Walaupun mamanya Erich terliht masih muda, umur sebenarnya ada 36 tahun, dan akhir bulan ini akan di angka 37 tahun. Tapi apalah arti umur itu?, mamanya sering bertindak kekanakan, itu yang tidak dia sukai.
Arich tercengang, dan segera melontarkan protesannya.
" Siapa yang iri, itu terlihat memalukan, hentikan sekarang, dia tidak bisa bernafas!. " setelah melihat dari tadi Dania tidak berkutik.
" Ah!. " Ny. Sonia yang tersadar, segera melepaskan pelukannya, dan mendapatkan gadis ini sudah berwajah merah merona sambil mengatur mafasnya.
".....Hahh...hah...hhh.... "
[ Ja..jadi itu, yang dirasakan laki-laki?. Aku akan menulisnya di buku. ] Dania bukannya lelah karena kehilangan energinya, tapi otak dan perasaan membara ingin meracuni orang dengan kata-kata yang akan dia tulis langsung muncul seketika itu juga.
" Sonia, biarkan dia istirahat. Jangan mengganggunya lagi dengan pelukanmu itu. " Tn. Margel memperingati istrinya.
Secara, Sonia berbalik menghadap suaminya yang kebetulan sedang berdiri di belakangnya.
" Ah sayang......, apa kau mau pelukanku?. " sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, mempersilahkan Margel agar terjatuh ke dalam pelukannya.
Margel pelan-pelan mundur, siring istrinya maju ke arahnya.
" Tidak... "
" Alahh...jangan menolak. " senyuman lebar penuh makna.
" Kau tidak lihat, ada Erich dan dia. " Margel mencoba memperingatinya lagi, sekarang bukan hanya mereka berdua saja, tapi ada anaknya dan juga satu orang tamu perempuan.
Tidak mendengarkan, hanya mendapatkan kesimpulan lain.
" Kita bisa mengaturnya.. ya sayang... , sudah lama kan kita tidak melakukannya?. "
" Son...tung-... " antara takut, dan mau, tapi harus menahan diri karena disini ada seorang gadis.
Erich sudah berdiri, berjalan cepat ke arah gadis yang masih diam berdiri, wajahnya yang tidak berekspresi meski rona pipinya mulai muncul, jelas sekali....
[ Ada apa dengan wajah tertariknya itu?!. ]
" Kita pergi dari sini. " tutur Erich, menarik lagi tangannya ( Dania ) agar ikut pergi dengannya.
" Sayang...uhm... " sebuah rasa cinta, kasih sayang suami istri yang begitu besar sampai secara terang-terangan mengajak suaminya untuk melakukan olahraga ranjang di depannya orang lain.
Dania langsung membuat pendapatnya sendiri.
[ Dia tipe perempuan yang agresif. ] mengedipkan matanya secara jelas, selagi di tarik oleh Erich, matanya yang melirik ke arah bukunya, langsung menggapai buku di atas sofa dan ikut di bawa.
Meninggalkan dua orang yang akan bercinta, mereka berdua pergi ke tempat lain.
Menuju pintu depan, artinya hanya satu.....yaitu pulang.
" Aku akan membawamu pulang dulu. "
" Apa aku hanya kulit kacang?. " tiba-tiba mengutarakan pertanyaannya kepada Erich. Tindakannya ini seperti mengusirnya setelah di pakai.
" Kenapa jadi kulit kacang?. " Ercih jadi bertanya balik.
" Yah...jika sesudah di pakai, tinggal di buang. " singkatnya.
[ Tapi bukannya artinya, sesudah di makan kulitnya di buang?. ] Erich mengartikannya dengan hal lain dari yang lain, meski memang bukan itu.
" Maksudku bukan seperti itu, jika ke dua orang tuaku sudah seperti itu, aku akan lebih baik pergi. Mereka hanya ingat dengan dunianya sendiri. " situasi berterima kasih dan lain sebagainya, jadi ucapan dan rasa terima kasih lain akan di berikan lain waktu.
CKLEK......
Erich membuka pintu rumah, dan seketika....
JEDERRR........
"................. " All, membuat ekspresi yang sama-sama terkejut.
Petirnya langsung muncul di depan mata mereka, suara dentuman keras, yang memekikkan telinga.
Menyaksikan langsung, bahwa penangkal petir melakukan pekerjaannya dengan baik.
[ Kenapa sihirku tidak bekerja?. ] Erich melamun sesaat.
" Kita gunakan pintu lain. "
__ADS_1
Matanya terpaku pada pergelangan tangannya, sampai kapan orang ini akan melepaskannya?.