
KWAK....KWAK.........
" Pergilah. " perintah Dania pada burung berbulu hitam yang sedari tadi mengikutinya dengan cara terbang di atasnya.
KWAKK....KWAKK......
" Kau tidak akan bertemu lagi dengannya, apa kau puas?. "
KWAK?. { Bagaimana bisa?. }
Bagaimana bisa?.
Itu yang di tanyakan burung bernama Raya yang sedang di hantam rasa penasaran.
Kepalanya menunduk dan menjawab :
" Apa pun bisa terjadi, siapa yang tahu kalau besok bisa saja itu hari terakhirmu hidup?. " ucap Dania.
Dia tidak mau ber basa-basi lagi dengan burung hitam ini, yang biasanya membuat onar dengannya, tapi kali ini....itu tidak akan terjadi lagi.
Karena dia sudah tidak ada lagi, lawan onarnya sudah tidak akan muncul lagi, untuk selamanya.
Apa karena memang mengerti dengan ucapannya barusan, burung itu kini sudah diam, meski masih memandang dirinya dari pohon tempat Raya sedang bertengger.
Dania sedikit mendongak ke atas, membuat ke duanya saling menatap satu sama lain.
Sebuah tatapan tajam, ciri khas dari burung pemangsa. Dia yang sangat menyukai tatapan tajam dari burung itu, sayangnya kini sudah tidak ada lagi.
Bagaimana caranya jika rasa rindu itu datang?.
[ Apa dia mau menggantikannya sebagai bahan rinduku?. ] masih menatap Raya.
Dania menimbang-nimbang pemikirannya mengenai Raya yang memiliki tubuh sama besarnya, dan wujudnya yang sedikit mirip itu.
Bisa saja di jadikan bahanpelampiasan rindu, tapi itu tidak mungkin, karena burung ini milik orang itu.
KWAK....KWAKK.....
Burung itu berbicara lagi.
Dania segera mlengos, dia tidak bisa berlama-lama dengannya.
" Sebaiknya jangan menggangguku. " pintanya, dan langsung pergi meninggalkan burung itu.
Raya pun tidak banyak berkomentar lagi, dia terbang lagi dan sedikit terbang merendah agar sejajar dengan tinggi wanita itu.
KWAK......KWAK..........KWAK......... { Penampilnmu hari ini cukup cantik. }
WUSHH.......
Langsung terbang pergi meninggalkan Dania sendirian di tengah jalan. Dia melihat dua sayap itu berkibar dengan gagahnya, sampai di mana satu helai bulu terlepas, dan mendarat di telapak tangannya.
[ Apa tadi itu pujian?. ] Batinnya.
Matanya terus menatapnya dengan begitu antusias bulu hitam yang tengah di pegangnya, itu sangat-sangat mengingatkannya.
" ...................." Bulu berwarna hitam legam, seperti pemiliknya. Tapi karena tidak ada sangkut pautnya lagi, dia pun membuangnya dengan sembarangan.
SYUUHH........
Dan berjalan menuju tujuannya yang ada di tengah kota.
Satu bulu yang terbang itu kemudian mendarat dan tergeletak di atas paving batu itu, sampai di detik berikutnya warna hitam itu berubah menjadi warna coklat, setelahnya menghilang begitu saja seperti hanya sebuah ilusi belaka.
*******
TAP.....
TAP.........
TAP......
Dania berjalan seorang diri, ke tengah kota dengan jalan kaki. Memang sedikit jauh, tapi memilih untuk menikmati lingkungan sekitar, inilah cara yang lebih bagus ketimbang nanik kereta kuda.
Sekalipun tidak ada siapa pun yang menemani kecuali hatinya yang entahnya kenapa terasa sepi.
Hangatnya sinar mentar ipagi menjadi awal hari yang indah untuknya.
Jalanan yang di lalunya perlahan-lahan berubah menjadi ramai, orang-orang berlalu lalang demi menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
Dari yang berjualan, yang mau membeli, atau pun hanya sekedar jalan-jalan seperti dirinya.
Rata-rata di jam pagi seperti itu, yang meramaikan jalanan kota adalah para pedagang dan pem-bisnis yang akan bekerja ke istana dan lainnya.. Sedangkan sisa waktu setelah jam lewat pukul 8 adalah munculnya para nona bangsawan.
Menikmati hari mereka dengan belanja atau apa pun yang apat meningkatkan kualitas derajat hidup mereka.
Setidaknya itulah kehidupan dari orang Aristokrat, yang ada di dunia ini.
" Ayo...ayo, khusus hari ini ada promo besar-besaran. Sebagai hari pertama pembukaan toko, kami mempunyai diskon khusus hanya untuk hari ini. " teriak salah satu pegawai wanita di depan sebuah toko roti.
__ADS_1
Itu baru pertama kali di buka, dan Dania memang baru menyadarinya juga, karena sudah lama tidak bekunjung ke tengah kota hanya untuk sekedar jalan-jalan membuang waktu santainya atau pun membuang uang yang dia milliki saat ini.
" Kami ada menu baru, macaron rasa red velvet adalah rasa terbaru yang ada di kerajaan ini, silahkan untuk 200 orang pertama dapat satu macaroon rasa red velvet secara gratis. " jelasnya lagi.
" Red Velvet. " Dania meliriknya, ia merasa terpancing untuk membelinya.
Tapi dia terus menekan rasa keinginannya itu, karena tidak berguna.
Macaron adalah makanan yang sudah pernah dia makan dan sekalipun rasa Red Velvet yang katanya varian rasa terbaru, tapi ia juga pernah merasakannya, itu pula masih teringat jelas di dalam kepalanya yang berharga.
" Halo nona, apa anda mau mencicipi?. " satu orang pelayan mendatanginya secara pribadi, dan menyodorkan sebuah kotak kue yang berisi macaron berwarna merah.
" Tidak, terima kasih. " Dania mencoba menolaknya, tapi...
" Apa anda tidak penasaran?, selagi gratis. " tawarnya lagi. Dan lebih menyodorkan lagi macaron itu ke depan wajahnya.
Salah satu alisnya terangkat, dia tidak menyangka akan ada pegawai toko yang sedemikian ngotot.
" Sudah aku bilang, aku menolaknya. " dengan nada halus, dia sebisa mungkin untuk menolaknya tanpa menggunakan nada tinggi.
Namun dari karena penolakan yang di ucapkan oleh Dania, ternyata berhasil menarik perhatian perempuan lain untuk datang dan berbicara..
" Apa salahnya menerimanya?. " datang seorang wanita bangsawan dengan sebuah kipas berwarna kuning, yang senada dengan gaun yang di pakai oleh wanita itu.
Dia pergi mendatanginya, dan merebut satu macaron yang di kenalkan oleh pegawai itu, lalu memakannya.
" Rasanya lumayan, kenapa tidak mau mencobanya?. " ikut membantu menawarkan macaron pada Eldania.
" Terima kasih, tapi aku sudah sering makan sampai rasanya bosan. " apa yang di katakannya tidak ada kebohongan sama sekali, bahwa rasa Red Velvet adalah rasa yang sampai membuat mulutnya muak untuk mencicipinya lagi.
" Kalau ada rasa mocha, aku bisa berpikir ulang untuk mencicipinya secara gratis. " sambungnya lagi.
" Mocha?. " all
Kallimat asing yang baru pertama kali mereka dengar.
" Ya...mocha. " ulanginya lagi, tapi kakinya bergerak melangkah meninggalkan mereka berdua.
" Apa kau tahu mocha?. " tanya wanita bangsawwan itu pada pegawai toko itu.
" Ma-maaf nona, saya juga baru pertama kali mendengarnya. " jawabnya dan macaron yang sempat tadi di cicipi oleh nona b angsawan itu, langusng di kembalikan ke tempatnya semula.
" Aku harus mengikutinya. "
tidak mempedulikan sikapnya yang mengembalikan macaron sisa gigitannya, dia lebih memiliih mengekori perempuana yang tadi menyebutkan kata mocha.
Dari situ, dia diam-diam mengikuti Eldania dari belakang. Berjalan kaki terus melewati banyak kedai, dari restoran, salon, butik, perhiasan, sepatu, alat musik, sampai terakhir....
KLING........
Suara bel pintu ketika pintu toko terbuka.
" Halo nona, ada yang bisa saya bantu?. " Memberikan pelayanan ramah pada Dania.
" Apa ada parfum yang anda inginkan?. Kami bisa meraciknya secara khusus untuk anda. "
Karena di tawari racikan khusus, itu membuatnya jadi mencoba menanyakan hal aneh.
" Yah....kalau begitu, apa ada parfum aroma buku baru?. " Dania mencoba menantang apakah ada roma yang aneh itu dari toko ini.
" Bu-ku baru?. " wanita ini jadi bertanya-tanya dengan pertanyaan aroma parfum aneh itu.
Dania mengedarkan pandangannya, lalu menunduk ke bawah, dan menjelaskan.
" Sebuah toko buku, atau perpustakaan......" kakinya bergerak ke samping kanan, lalu jari-jari tangan kirinya menyeret, menyentuh meja kaca yang menjadi tempat penyimpanan botol parfum itu.
" ketika pertama kali masuk, aroma khas yang tercium adalah aroma dari buku yang baru di buka atau di cetak, itulah yang aku inginkan. "
Aroma parfum yang belum pernah dia coba, apakah bisa di dapatkan di toko ini?.
Dania terus berpikir seraya mengamati berbagai bentuk botol kaca warna warni yang berjejer rapi di dalam meja kaca itu.
" Maaf....kami tidak memilikinya. "
[ Padahal seseorang yang di juluki kutu buku, dia adalah orang yang lebih dominan untuk menghirup buku yang di pegangnya sebelum bukunya di baca. ] Sebuah investasi aneh tapi cukup menguntungkan.
"................."
Tapi untuk disini tidak mungkin, karena itu adalah aroma paling sulit di buat.
Melihat satu nona ini tiba-tiba berhenti bergerak, wanita ini bertambah gugup.
" Kalau begitu........" layaknya tiap kata yang terlontar adalah keputsan dari hakim, pegawai ini menatap Dania dengan serius.
" Berikan semua sempel parfum yang ada di sini. "
" Ya?. " bingung harus merespon apa.
[ Semua sempel?. ] tersenyum tawar, ia tidak menyangka ada permintaan aneh lainnya.
__ADS_1
" Disini ada 300 lebih aroma yang di tawarkan, anda yakin?. " mencoba mengkonfirmasi soal permintaannya tadi.
" Aku tidak akan memintanya jika tidak yakin. " Dan itulah jawabannya, penuh dengan percaya diri. Dia ingin memiliki aroma parfumnya sendiri, meski tidak secara khusus, tapi cukup untuk membuat hal berbeda dari yang lainnya.
Ya...secara khusus ia akan membuat racikan campurannya sendiri.
Hanya itulah keinginannya saat ini.
Dania yang tidak sungkan dengan apa yang ada di depannya, langsung mengucapkan.
" Jadi merepotkanmu. "
***********
" Apa yang terjadi?. " tanya si pemilik toko pada satu pegawainya yang terlihat lelah itu.
Dirinya baru saja meninjau toko cabang yang ada di bagian seberang kota sebelah utara, namun saat meninjau toko yang satu ini, dia di hadiahi tokonya sudah beraroma semerbak campuran dari berbagai varian rasa.
" Tuan....., hari ini ada satu pembeli yang meminta meracik parfumnya sendiri, jadi itulah........" melirik lagi ke arah satu wanita bertopi yang sedang duduk di pojok ruanngan.
" Itulah kenapa tokonya jadi beraroma campur seperti ini. " ia tidak enak dengan tuan muda yang merupakan pemilik dari toko ini.
Yang di panggil tuan mulai mencari-cari siapa orang yag sudah membuat sedikit kekacauan di tokonya, dan ketika meemukan satu orang lady di ujung pojok ruangan, satu hal yang terlintas di kepalanya adalah..
[ Rambut coklat. ] itu adalah sesuatu yang jarang dilihatnya.
Tangannya sibuk menuangkan tiap tetes cairan bening ke dalam botol kaca berwarna putih, dan tiap tetes yang tercampur akan saling membuat aroma yang sedemikian berbeda.
Lalu di samping kirinya, sudah berjejer kertas sempel tap aroma yang sudah dia rasakan.
Dari aroma yang sangat menyengat, sampai membuat kepalanya pusing , sampai aroma yang begitu wangi dan lembut ketika terangsang masuk ke dalam otak.
Dengan kemampuan daya ingatnya itulah, dia berusaha membuat aroma yang wangi, lembut, dan menenangkan kepalanya. Itulah yang setidaknya dia inginkan untuk mengalihkan pikirannya.
" Aku butuh sempel nomor 250. " pinta Dania, yang masih fokus dengan aktivitas kecilnya.
TIdak perlu menunggu waktu lama, satu botol bening sudah tersaji didepan matanya, di tambah dengan sebuah pipet kecil.
" Terima kasih. " ucapnya tanpa mengalihkan fokusnya pada ekspereimennya.
" Sama-sama. "
Suara yang begeiitu berbeda, lalu aroma parfum yang tercium di indera penciumannya, dia sudah tahu kalau itu bukan dia si pegawai wanita. Tapi dia tetap mengabaikannya.
[ Sedikit lagi. ] tangannya mulai melepaskan 3 mil aroma parfum dari nomor 250 yanag di sebutkan tadi. dan setelahnya...
" Selesai. " hasil akhir dengan sebuah senyuman puas, Dania meraih prestasi dengan ciptaannya sendiri.
Tertarik dengan hasil racikan dari seorang Lady.
" Coba sini. " menarik pergelangan tangannya Dania yang masih memegang botol parfum, botol yang masih terbuka itu kemudian dia cium dengan untuk mengetahui aroma eperti apa yang di dapatinya itu?.
Dania menatapnya penuh dengan curiga, ada orang yang berani menyentuh tangannya.
" Harusnya itu sudah puas. " langsung menyela pria yang baru saja dengan lancangnya menyentuh tangannya.
" Anda cukup hebat juga. "
Mengabaikan senyuman yang di berikan laki-laki itu, Dania sbuk dengan urusannya, menutup botol parfumnya dan membersihkan kekacauan di meja itu.
" Dalam hal?. " tanyanya dengan nada selamba.
" Dalam hal, tidak terpengarh dengan tekanan aroma lainnya. "
Tangannya berhenti, Dania jadi terpikirkan tentang hal yang berhubungan dengan parfum ini.
Pafum adalah hal yang bisa di jadikan salah satu media. Di samping aromanya yang bisa memikat orang lain, parfum adalah salah satu media yang bisa di jadikan untuk membunuh korbannya.
Keharuman yang elegan namun bisa menjadi hal yang mematikan.
" .................., berapa biayanya?. " tannpa mengalihkan pandangannya dari menatap lawan bicaranya, tangannya merogoh saku yang ia punya, untuk mengambil kepingan emas untuk membayar.
" Saya gratiskan, asal anda membuat 1 lagi. "
Sebuah tawaran yang di berikan khusus untuknya, tawaran yang bagus. Tapi...
Dania tentu saja...
" Aku tidak bisa menciptakan hal untuk ke dua kalinya. " dengan kata lain, dia tidak mau membuatnya lagi.
Kemampuannya khusus hanya untuk dirinya, jika di minta untuk membuatnya, maka tidak ada pilihan lain selain meminta bayar jasa 4 kali lipat.
##########
Memanfaatkan dan di manfaatkan.
Hidup tidak ada yang gratis, semuuanya penuh dengan proses panjang. Meminta imbalan besar adalah harga yang pantas dengan kemampuan yang dimilikinya.
Silahkan baca di eps. Chapter selanjutnya
__ADS_1
------->>>