Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 76


__ADS_3

" Wuu...."


[ Orang ini seenaknya saja mengganggu pertarunganku ] telapak tangan kanannya ia genggam dengan erat dengan tangan kiri, hanya tergores sedikit dan dapat ia sembuhkan sendiri. Namun dari pada memikirkan luka kecilnya yang sekarang harus dihadapinya adalah kakak angkatnya, ouh...siapa lagi kalau bukan pria besar berpangkat Duke di kekaisaran Rovathia?.


" Ya..yang mulia?, kenapa anda bisa disini? " visal tersadar siapa yang menyela pertarungannya, jadi secepatnya ia menghadap Archduke.


" Tentu saja mencarimu Juro Vidal!. "


Menekankan namanya sendiri ( Juro Vidal ), lantas ia tahu apa maksudnya. Sebuah kesalahan sampai Archduke mencarinya sendiri.


Tanpa sepatah kata lagi Archduke memimpin Vidal keluar karena tuannya ingin membicarakan sesuatu yang penting, dan meninggalkan teman bertarungnya di dalam ruangan tersebut sendirian.


Tidak ada pembicaraan mengenai dirinya jadi apa boleh buat jika lebih baik diam.


".........? "


Tidak ada sesuatu yang ingin dipirkan atau di ucapkan.


Dania mengambil pedang yang tergeletak di lantai lalu membawanya untuk ia letakkan di tempat penyimpanan.


*****


Taman yang sepi, tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang di taman itu. Dari balik jendela ia menatap ke arah bawah, hanya ada setumpuk salju saja yang membuat pemandangan menjadi monoton. Orang ini hanya memandang ke arah luar jendela, namun tidak dengan pemikirannya yang sudah jauh entah kemana, hingga satu orang lagi datang untuk menemani kesendiriannya itu walaupun sesaat.


" Apa yang anda pikirkan kesatria Gabriel? "


" Ah..pemimpin, saya tidak tahu mau berkata apa, hanya saja setelah ditinggal pendeta Danie, rasanya hampa dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di sini 4 bulan yang lalu yang membuat pendeta Danie pergi " jawab Gabriel pada pemimpin kesatria suci Elvin.


" Jika anda berkata seperti itu, sepertinya yang diambil pendeta Danie adalah keputusan yang benar. Dari pada pendeta Danie tinggal disini dan mendapatkan tatapan kebencian karena kaisar sendiri yang memulainya, lebih baik pergi mencari tempat yang baru dan memulai hidupnya yang baru " Jelas Elvin, Elvin sebagai penerus kekaisaran Linstone harus memiliki sudut pandang lain mengenai tiap masalah yang terjadi. Hanya terbukti bersalah dari apa yang dilihat bukan berarti benar-benar bersalah. Initinya harus berfikir positif apa alasan dan kenapa kejadian yang mengenai ibunda ratu dan adiknya serta orang lain termasuk ayahnya bisa-bisanya menjadi sasaran empuk sang musuh.


Berbagai kemungkinan selalu ada jika di pikirkan di sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Hanya saja sekarang semuanya sudah berakhir dengan kepergian satu-satunya pendeta muda yang berbakat. Melihat Gabriel masih merenungkan sesuatu, Elvin pun bertanya kembali.


" Apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan lagi? "


" Ah.., karena kebetulan pendeta Danie sudah meninggalkan tempat ini, sepertinya tidak masalah jika saya menyampaikan satu hal penting lainnya "


" Apa itu? "


" Apa pemimpin tahu?, waktu itu saya pernah bercerita jika di hari pertama kelompok Nikhil Nights terkena serangan mendadak dari pihak musuh? "


" Ya, ada satu pendeta yang terlambat sehingga masuk ke tengah barisan pasukan kalian "


" Pendeta itu adalah dia sendiri, dia membantu kami yang terluka di tengah peperangan, sebab itu jumlah korban dari kelompok Nikhil Knits hanya sedikit orang saja. Tapi yang terpenting, pendeta Danie adalah...." Gabriel sedikit tengok ke kanan dan kiri lalu..


" Seorang wanita " sambung Gabriel dengan berbisik.


Beberapa detik itu Elvin memasang wajah membatu alias datar, kemudian ia berkata..


" Tapi pendeta sudah tidak ada disini lagi, padahal dia orang yang unik "


[ Saking uniknya, ada satu rumor kalau kedai AyamDan yang sudah memiliki 7 cabang di ibu kota adalah pemilik dari orang bernama Danie juga. Dialah satu-satunya orang yang rumit ] Gabriel menggeleng-nggeleng kepala, membuat Elvin membuat raut wajah keheranan.


Merasa di tatatp oleh aura yang berbeda,Gabriel segera tersadar dari pikirannya tadi.


[ Tu..tuan Duke? ] Gabriel melihat ada Caver Willard tepat di belakang Elvin. Jadi dari pada berurusan dengan pemimpinnya sendiri lebih baik berundur dari pembicaraan yang akan kedua orang itu lakukan.


Dengan menunduk hormat sebagai salam perpisahan pada dua orang itu, Gabrial pun berlalu pergi dari situ.

__ADS_1


*******


Titik putih kecil nan berkilau menjadi penghias langit malam, desiran ombak menjadi pengisi suara di tepi pantai pasir putih. Jarang orang yang mengunjungi pantai yang indah itu, bukan jarang tapi hanya segelintir orang saja, tidak...tapi hanya satu orang itu saja yang sedang berdiri di atas pasir pantai dan gulungan ombak menerjang kaki orang tersebut dan menyapu butiran-butiran pasir dari pantai.


Saking indahnya, air pantai itu bersinar terang dengan warna biru neon. Yah...setiap gulungan ombak, maka tercipta cahaya terang yang indah, untuk orang yang pertama kali melihatnya pasti akan keheranan kenapa bisa terjadi seperti itu, apakah sihir? Karena di dunia ini sihir adalah yang memungkinkan peristiwa alam yang tidak terduga.


Untuk orang yang memiliki ilmu pengetahuan, hal seperti ini terjadi secara alami dari alam, intinya bukan dari raksi suatu sihir.


Kembali ke satu orang yang sedang memandangi segala penjuru dari titik ia berdiri.


" Walaupun sudah berpindah dimensi, mereka semua tetap saja manusia rendahan. "


[ Setelah 5000 tahun mati dan bereinkarnasi lalu berpindah dimensi, malah berakhir dengan manusia penuh hina juga. Teori orang yang bereinkarnasi dari dimensi lain akan memiliki kekuatan yang lebih kuat atau pemikiran yang lebih unggul dari pada orang-orang di dunia ini memang tidak salah. ]


Telapak tangannya ia hadapkan ke atas, lalu sebuah gelas yang sudah berisi air perlahan turun dari cahaya berwarna emas itu.


" Bir gandum, memang enak jika aku minum di waktu santai begini "


SYUHHH.......


Angin laut yang menerpa tubuh orang ini membuat rambut serabai berwarna pirang emas bergerak-gerak, kalung dengan bandul bulu sewarna emas dengan putih menjadi daya tarik tersendiri. Ia berpakaian sederhana, dimana celana panjang berwarna biru gelap dibagian pinggangnya dipadukan dengan kain yang terbentang sama panjang dengan celana semacam jubah namun berwarna coklat, sedangkan bagian atasan ia memakai baju dasar berwarna cream dengan di tambah sebuah jaket biru dimana bagian ujung lengan ada garis berwarna emas.


《 Anggap saja begitu lah 》


SREKK....SREKK....


Suara asing dari balik semak-semak lantas membuat orang ini melirikkan matanya ke samping.


" Cih, monster pengganggu! "


Kesal karena suasana yang tenang di rusak oleh monster yang berada di dalam semak tadi, walau tidak melihat secara jelas wujudnya, namun auranya dapat ia kenali dengan mudah.


JLEBB....


Menusuk monster tersebut.


" HARRGHHH......."


Mengaum kesakitan dan akhirnya tak berapa lama mati juga.


" Hahhh....dunia yang menyebalkan, disini aku berurusan dengan binatang monster juga "


Setelah mengucapkan gumaman yang menyesakkan hidup di dunia, ia perlahan melangkahkan kakinya secara pelan menyusuri pantai tersebut dan perlahan ketika angin yang bertiup ke arah laut dengan membawa kabut, orang tersebut secara misterius menghilang. Jejak kaki yang di tinggalkan di pasir juga sudah menghilang tersapu gulungan ombak.


******


Suatu hari di ibu kota Kekaisaran Rovathia.


Di salah satu akademi yaitu Akademi Negeri Kekaisaran Rovathia yang bernama Efran ( Akademi Efran ) , mengumumkan dalam 2 bulan lagi akan ada ujian masuk. Akademi Efran merupakan kumpulan dari semua orang baik rakyat biasa maupun bangsawan, mereka semua bisa masuk untuk belajar dan menjadi pasukan kesatria dari kekaisaran.


Tidak hanya kalangan orang biasa yang bisa bertarung dengan kekuatan fisik, tapi orang yang memiliki sihir atau disebut juga penyihir, mereka juga bisa masuk ke akademi ini.


Dan karena alasan itulah....


" Kamu mau masuk akademi itu? " Tanya Archduke pada Dania.


Senyuman kecil Dania sudah lebih dari sekedar jawaban dari pertanyaannya tadi.

__ADS_1


" Akan lebih bagus jika kamu bisa masuk dari usaha sendiri dan mengungguli mereka. Jurusan apa yang mau kamu pilih? "


" Kelas pedang "


" Mau menjadi kesatria?. Tapi 90 persen semua kekaisaran di seluruh benua, yang menjadi kesatria itu rata-rata adalah pria. "


" Berarti 10 persen masih kaumku. "


" Hahaha...kamu termaauk orang yang sedikit rumit. Tapi aku sudah pernah memberitahumu, lakukan semua hal yang bisa kamu lakukan, hal semacam ini tidak perlu bantuanku kan? "


" Ya..."


[ Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. ] fikirnya.


" Ngomong-ngomong, itu rambut asli atau palsu? " melihat Dania berpenampilan layaknya laki-laki jadi secara sengaja langsung menanyakannya.


[ Ram...but? ] Dania memegang rambutnya sendiri yang pendek.


" Palsu "


[ Aku tidak bisa menggunakan alat sihir itu, entah hilang kemana. ] setelah kehilangan jepit rambut tersebut, sekarang dirinya lebih banyak menampilkan orang layaknya perempuan pada umumnya yang memiliki rambut panjang. Panjang, panjangnya hanya sampai ke punggung saja, karena memang belum lama ia diam-diam memanjangkannya di saat satu sisi dirinya memakai alat sihir dari Lady Ellora.


" Lebih baik jadi dirimu sendiri, menyamar menjadi laki-laki terus, kapan akan mendapatkan pacar? "


[ Benar sih, tapi karena aku jarang bersosialisasi, jangankan teman ngobrol, teman biasa(sahabat) apatah lagi pacar juga akan susah. Tapi apa masalahnya?, toh aku masih muda, dia juga masih muda walaupun juga memang ganteng?. Hmmm..... ] Dania sambil berfikir, ia juga menyeruput reh hangat kesukaannya untuk menghangatkan tenggorokannya.


Saat menikmati satu tegukannya, entah kenapa ada sesuatu yang janggal di dirinya..


DEG....


Walaupun Dania tidak membuat reaksi berlebihan, tapi ada sesuatu yang membuat dirinya terkejut.


TLAKK.......( Meletakkan cangkir teh ke atas meja dengan kasar )


Melihat Dania meletakkan cangkirnya dengan buru-buru, Archduke pun pensaran dengan maksud dari raut panik Dania.


" Apa ada masalah? "


" Ti...tidak "


Tapi kenyataannya berkebalikan dengan ucapannya.


Dania segera berdiri, lalu..


" Aku harus kembali, ada urusan kecil "


[ Aku harus pergi sekarang ] kepanikan mulai menjalar di benaknya.


" Wajahmu pucat, apa sakit? "


Dengan mengabaikan pertanyaannya itu, Dania melangkah kakinya dengan cepat keluar dari ruang kerja Archduke.


[ Kau bilang sakit?, yah..tapi ini lebih dari sekedar sakit ] cemas dan serius, percampuran antara dua perasaan itu menimbulkan aura dingin. Sepanjang koridor istana ia berjalan dengan terburu-buru, yang dipikirkannya adalah Marsha. Jaket yang dikenakan pun ia lepas dan di ikat di pinggang.


Tapi dari pada memikirkan situasi itu, setidaknya untuk kedepannya Dania harus mempersiapkan dirinya agar bisa lulus, masuk ke Akademi.


Menemukan orang baru, hal baru, sekolah baru, dan kegiatan baru.

__ADS_1


Hal baru seperti apakah ketika masuk ke Akademi Efran ini?, salah satunya ujian masuk. Ujian masuk ke Akademi adalah hal paling baru dan belum ia ketahui, jika dulu masuk universitas harus memiliki ilmu pengetahuan dengan nilai yang bagus di setiap pelajaran akadamik demi masuk ke universitas favorit, maka seperti apakah ujian masuk di Akademi Efran yang ada di sini?.


__ADS_2