
Hujan yang menerjang tubuhnya, merasakan sensasi yang dingin, membuat sepasang kelopak mata yang awalnya tertutup, langsung terbuka...
" Hahhh!. , hah, hah......." Matanya membulat dengan sempurna, dalam kondisi temengah-mengah, seperti ikan yang keluar dari dalam air, dia berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang seakan sudah kosong mlompong itu.
Apa yang di lihat pertama kali adalah awan yang gelap sedang memberikan air yang begitu banyak ke dirinya.
"......................." Rambutnya yang sudah kusut tidak dia pedullikan selain mencoba beradaptasi dari kondisinya yang terasa tidak begitu baik itu.
[ Apa yang terjadi denganku?. ]
Mengedipkan matanya beberapa kali, dia kemudian menoleh ke kanan, sepasang matanya menemukan seseorang dengan wajah yang ia kenali dengan begitu jelas.
[ Itu.....bukannya aku?. ] Lebih spesifiknya adalah tubuh lamanya.
CPAK .......( suara langkah kaki yang menginjak genangan air. )
" Kamu baik-baik saja?. "
Suara yang di kenalinya, membuatnya menoleh ke arah dari pemilik berat khas laki-laki.
Mendesah pelan, dia menjawab.
" Hmm....setidaknya ada yang lebih buruk dari ini. "
[ Aku hanya seperti baru bangun dari tidur panjang. ] fikirnya.
Tidak ada yang dia ingat, dari setelah berada di ujung rasa sakit berada di lingkaran sihir milik wanita penyihir itu, atau-pun roh-nya yang melintasi dimensi lain, bertatap muka dengan Devon, juga apa isi dari pembicaraan singkat mereka.
Tidak ada yang ia ingat, kecuali pertemuannya di dalam mimpi di tengah ladang gandum, bercengkrama singkat dengan seorang wanita bercadar, dan menerima sebuah permintaan untuk mengucapkan terima kasih pada seseorang yang di panggil ' Yang Mullia ' itu.
Namun, saat ini, Dania merasa ada satu perasaan yang tertinggal adalah di telinga sebelah kirinya, dia pun menyentuh pelan telinga sebelah kiri itu.
[ Rasanya seperti ada yang baru saja berbisik di teelingaku. ] itulah rasa hangat dari nafas milik seseorang yang masih tertinggal.
Tapi siapa?.
[ Apa hanya perasaanku saja?. ]
Ketika melirik ke arah Arhes, itu terlihat seperti bukan dia.
Mengabaikan hal tersebut, dia mengganti topiknya.
" Apa mereka semua keluar dengan selamat?. " Tanyanya, sembari menumpukan ke dua tangannya ke dua lututnya, barulah bisa berdiri dengan benar.
Arhes yang awalnya berniat untuk membantu perempuan ini untuk berdiri, langsung mengurungkan niatnya, karena terlihat tidak begitu membutuhkan bantuannya.
" Ya. Salah satu di antara mereka adalah nyonya bangsawan, dan mengajak kita ke kastil-nya, sebagai ucaan terima kasih. "
Menjawab pertanyaannya Dania, namun matanya tetap tidak teralihkan dengan satu perempuan lagi yang terbaring, hanya dengan menggunakan jubah mandi?.
Arhes tidak tahu apa itu, terlihat seperti desain dari jubah mandi yang biasa di gunakan setelah selesai mandi, namun yang sekarang dia lihat, bahannya terlihat lebih bagus dari sekedar kain biasa.
" Tapi.............." dengan nada rendah, Arhes langsung terpicu untuk kembali menatap ke arah gadis ini lagi.
" Sepertinya aku tidak akan ikut. " lanjutnya lagi. Kemudian langkah kaki pertamanya dia ambil untuk pergi ke satu makhluk yang tergeletak dengan bersimbah darah.
"...................."
[ Burung itu.... ] tebakannya benar.
Meski cuacanya sedang buruk, tapi itu tidak membuat penglihatannya menjadi buruk karena suasana yang hampir seperti malam.
Dania termenung
" ....................." lalu berjongkok, tempat di mana burung si pemilik dari bulu berwarna coklat ini terbaring tidak bergerak sama sekali, apa lagi dengan kondisi sebuah luka parah berada di belakang sayap sebelah kanan. sehingga darah merah itu berhasil menodai bulu yang indah itu.
[ Aku kira kau tidak akan mengalami hal seperti ini. ]
Dua telapak tangannya menyentuh tubuh burung tersebut, dia ingin membersihkna bulu indah itu, sekaligus mengobatinya.....
Ya....mengobatinya.
Keinginannya adalah mengobati luka yang sedemikian parah itu, sampai-sampai mata yang selalu penuh dengan tatapan tajam itu, kini tertutup rapat.
Apa itu perasaannya saja?, kalau mulai hari ini Dania tidak akan pernah melihat tatapan yang berani itu?.
" Hei....." panggilnya dengan nada yang begitu lirih.
" Kau masih tidak mau bangun?. " sambungnya.
Padahal bulunya sudah kembali bersih, dan padahal lukanya sudah tertutup alias sudah tidak ada lagi...
" Ini perintah, buka matammu. " tapi yang di panggil, tidak kunjung menunjukkan reaksinya.
" Verst.."
Akhirnya memanggilnya.
" Everst!. " memanggil dengan nama penuhnya.
[ Namanya Everst!?. ] batin Arhes, akhirnya dapat mengetahui nama dari burung yang bisa bicara itu.
Tapi....
[ Mati?. ] setelah mengobatinya dengan kekuatan sucinya, tapi tidak ada pergerakkan sama sekali.
Dia mengeceknya, mengecek jantungnya, tidak berdetak juga.
Apa ini akhirnya?.
Perpisahannya setelah kebersamaannya selama beberapa bulan ini?.
Inikah titik terakhirnya?.
Dania terus terpaku pada tubuh Everst yang berkuran normal itu.
" Ayo, kita keluar. " ucapnya, setelah keheningan beberapa saat tadi.
Dania pun melepaskan mantel coat-nya, lalu dia gunakan untuk menggulung tubuh Everst, dan membopongnya dalam pelukannya.
"..................! " secara tak sengaja juga ia melihat satu benda tipis berkilau, dan hanya dia saja yang menyadarinya.
[ Jepit rambut ini. ] memungut satu jepit rambut yang dulu pernah ia gunakan.
Sebuah kenangan masa lalu yang tidak pernah di lupakan, menipu orang dengan penampilannya yang seperti laki-laki.
Hal paling menyenangkan karena membuat orang jadi salah paham akan jati dirinya, dan menerima kesenangan berupa ekspresi terkejut lawannya.
__ADS_1
[ Masa mengembalikannya dengan cara seperti ini. ] Dania merasa tidak adil, kenapa bisa mendapatkan benda ini lagi, namun yang menyimpan benda tersebut selama ini sudah dalam kondisi seperti ini.
" Apa dia di ba-"
Dania langsung menyela dengan cepat.
" Kamu yang bawa ini. " menyodorkan langsung bungkusan yang sebenarnya berisi tubuh Everst.
" ..................." Arhes yang sedikit di kejutkan dengan sebuah ekspresi wajah yang dingin dari perempuan ini, hanya terdiam dengan ke dua tangan segera menerima bungkusan itu.
" Dan aku yang akan membawanya. " pergi melangkah ke tempat di mana tubuh perempuan itu tergeletak.
" Aku ingin menguburnya di suatu tempat, jadi aku mau ada yang menemaniku. "
Sebuah perintah sekaligus permintaan.
Dan itu adalah sebuah permintaan yang tidak bisa di tolak oleh Arhes.
" Baiklah. "
Meski penasaran siapa perempuan yang rupanya sudah tidak bernyawa itu, Arhes tentu saja tidak punya hak untuk mengetahuinya, dia tidak akan bertanya lebih jauh, setelah melihat kondisi bahwa dia ( Dania ) pasti tidak akan memberitahu hal semacam ini.
Dialah, orang yang menyimpan banyak rahasia.
Dan Arhes, tidak ada kaitannya juga dengannya lagi, setelah melihat laki-laki berambut emas tadi rupanya ada punya hubungan dengannya ( Dania ).
Dania membopong tubuh dari tubuh lamanya yang nyawanya sudah berpindah pada tubuh lain dengan begitu entengnya.
Itu membuat Arhes tekesima, fakta bahwa ini pertama kalinya melilhat seorang perempuan kuat menggendong tubuh orang lain.
[ Dia...benar-benar kuat seperti laki-laki. ]
"....................." saat melihat ke ke dua tangannya yang sedang memegang bungkusan, dia akhirnya baru menyadari, kalau mantel coat yang digunakan untuk membalut tubuh mayat burung bernama Everst, perlahan ada rasa yang begitu hangat.
Sebuah sihir anti air yang berarti anti kotor juga, mantel tersebut juga tertanam sihir penghangat yang bisa menghangatkan si pemakai.
[ Pakaian mahal yang hanya bisa di miliki oleh penyihir sepertinya?........,....?! ]
" Penyihir?. " gumam Arhes, lalu mencari-cari perempuan bernama Eldania yang sudah naik ke atas kuda bersama mayat yang kini mata dari mayat itu sudah di tutup dengan kain hitam.
Mana yang benar?.
Arhes hanya tahu kalau perempuan itu si pemilik dari kekuatan suci yang mampu bermain pedang melawan makhluk besar tadi, tapi tadi....
Arhes di perlihatkan sebuah sihir tingkat rendah, sihir yang mampu membersihkan kotoran di tubuh, juga....
Pakaian yang menjadi bungkusan ini.
Tok...Tak...Tok....Tak....
"..........! "
[ Dia bahkan meninggalkanku?. ] buru-buru Arhes pergi ke satu kuda yang masih ada di situ, menaikinya dengan bungkusan yang cukup besar itu, Arhes langsung pergi memerintahkan sang kuda untuk menyusul kuda di depannya.
Kisah akhir dari perjalanan yang sebenarnya singkat, menjadi terasa lama karena semua pertarungan juga hal yang tidak ia ingat ketika menjadi roh.
Tapi setidaknya, kali ini Dania akhirnya mendapatkan tubuh lamanya, dan akan menguburkan di tempat yang layak, dan kalau bisa...
".............."
[ Menguburnya di tempat yang indah. ]
Tapi karena setelah sekian lamanya ternyata tubuh aslinya masih saja tetap utuh, berarti tubuhnya sempat di rawat, selepas melihat ada bekas jarum di beberapa bagian tangannya.
Apa pun itu, yang terpenting semuanya sudah berakhir, setelah melihat bekas abu hitam berbentuk seseorang, namun abu itu sudah hanyut terbawa air, dan masuk ke dalam tanah.
Hanya menebaknya kalau wanita penyihir itu sudah tidak ada karena tubuhnya terbakar sampai menjadi abu.
Tak lama kemudian, perjalanannya pun melewati sepasang pohon besar yang rupanya adalah akar yang menjadi satu dan membentuk seperti pohon.
SHAAAAA.........
"................! " Silaunya matahari sore, satu hal yang paling ingin ia jumpai setelah berada di dalam kegelapan seperti itu.
" Tempat ini!?. " Arhes yang berhasil menyusulnya, dan berhasil kembali keluar lewat dua pohon besar itu, tempat yang mereka jamah bukanlah tempat dimana dirinya meninggalkan adiknya dengan nyonya bangsawan itu, melainkan sebuah padang rumput.
" Ini...." menghentikan kudanya agar tidak berjalan terus.
" Tempat terakhir aku tidur. "
Sebuah padang rumput berwarna hijau, tempat dimana dirinya terbaring terlelap dengan sensasi menggelitik saat tubuhnya bersentuhan dengan rumput-tumput itu, hal terakhkir leluconnya yang dimana Everst memberikannya mahkota juga cincin, serta hal terakhir kedamaiannya berada.
Juga sebuah mimpi yang di dapatinya adalah giginya terlepas, dan hal mitos itu mengatakan akan ada yang meninggal.
"............."
[ Apa maksudnya ini?. ] melirik ke tubuh aslinya yang ada di depannya, burung kesayangannya, juga akhir dari penyihir wanita bernama chloe itu.
" Mau menguburnya dimana?. " tanya Arhes, masih memandangi sekelilingnya.
" Disini. " jawabnya dengan singkat.
Namun ada sebuah insting mengatakan untuk terus jalan ke arah utara, jadi dia mencoba untuk pergi ke arah utara.
Kurang dari 3 menit, mereka berdua sampai di satu tempat yang memiliki satu pohon besar juga rindah, berdiri kokoh sendirian di tengah-tengah padang rumput ini.
Lalu Dania turun, serta menuruni tubuh Aslinya dari kuda yang ia naiki itu.
Tidak ada tempat lain yang lebih indah dari ini.
Arhes yang hanya mengikuti permintaannya, ikut turun dari kuda bersama dengan bungkusan itu.
Meninggalkan dua ekor kuda yang sudah asik makan, Arhes mulai mengekori kemana gadis itu pergi, ke arah utara, yang tak lain pasti akan menjadi tempat terakhir atau rumah terakhir untuk tubuh mayat perempuan itu.
Baginya, ini adalah tempat yang sangat begitu cocok.
Mengiingat kalau tubuh aslinya selalu berada di tempat kegelapan, maka rumah akhir yang akan menjadi tempat tidur selama lamanya itu adalah tempat terang, dari sisi timur terbitnya matahari sampai barat tenggelamnya matahari, namun di satu sisi ada pohon yang melindunginya saat cahaya terik berada di paling atas.
" Bukannya ini tempat yang pas?. "
Tiba-tiba menerima pertanyaan seperti itu, Arhes hanya bisa menjawab..
" Ya. "
[ ....................]
Sebuah senyuman terkir di bibirnya, Arhes baru kali pertama melihat senyumannya, enyuman seperti kebahagiaan, tapi bercampur sebuah kesedihan.
__ADS_1
[ Aku mengubur diriku sendiri. Sangat bagus sekali, aku sendiri yang mengubur tubuhku. ] permainan hidup yang dimainkan tuhan.
Sekarang prosesi untuk membuat lubang.
JIka tidak ada cangkul di, kalau disini sebagai gantinya adalah menggunakan....
" ............." Dania meletakkan tubuhnya ke atas rumput, lalu mengambil sebuah ranting kecil.
Dari sini dia langsung membuat ukuran yang pas, bentuk persegi panjang ukuran 1×2 meter di atas rumput itu.
DI tengah-tengahnya dia kembali menggoreskan garis serta huruf, memperkirakan untuk kedalaman yang akan di buatnya.
Setelah selesai, garis yang sudah terpola langsung menghasilkan efek tanah yang segera ambles ke dalam.
Menjadi lubang persegi panjang yang begitu rapi, hasil pengetahuannya setelah hmembaca berbagai mantera sihir.
Meski tingkat rendah, tapi inilah hasilnya.
Bisa membuat lubang kuburan tanpa bersusah payah mencangkul.
Setelah itu hal yang lainnya adalah.....
" Kayu. " mendongak ke atas, dia melihat ada beberapa bagian ranting yang terlihat cocok untuk dia potong.
" Kamu mau apa lagi?. " melihat Dania menengdah ke atas, itu terlihat sepert isednag mencari sesuatu.
" Kayu. Karena aku tidak punya peti mati. "
Dan kayu itu untuk apa, Arhes masih belum mengerti, hal yang bisa di gunakan dari kayu setelah lubang kuburan saja sudah jadi.
CRASH.......
CRASHH........
CRASHH.....
Memotong tiga batang besar dari pohon itu, Dania kembali memotong ke bagian yang lebih pendek.
" Mau aku bantu?. "
Tangan yang hendak di ayunkan itu pun langsung terhenti di atas, lalu menoleh ke belakang.
Sedih bercampur kebahagiaan yang tidak bisa Dania tunjukkan secara langsung pada pria ini.
Apa penyebabnya?.
[ Aku kira akan berakhir sendirian terus, tapi disini ada yang mau membantuku di kala terakhirnya. ] batin Dania, sembari melirik lagi ke tubuh yang mulai pucat itu.
" Iya. " jawabnya.
" Kamu potong jadi 3 bagian yang sama. " memberikan satu potongan yang sudah pendek ke Arhes, dan memperagakan caranya.
l
l
l
l
l
l
l
l
Hal yang lama jadi singkat, setelah berhasil memotong semuanya sesuai dengan keinginanya, hal yang terakhir adalah meletakkan tubuhnya ke dalam kuburannya.
" ...................."
Arhes pun ikut membantu, masuk ke dalam kuburan itu, sambil melihat ke atas, gadis itu ternyata sedang menatap mayat yang sedang di gendongnnya ( Dania ) itu.
[ Inilah pertemuan terakhirku dengan tubuhku. ] dan pasti, kian waktu berlalu, semuanya akan terlupakan.
Maka dari itu, sebagai hadiah terakhirnya akan rindu dari tubuh yang dia peluknya sendiri, Dania mengcupkan sebuah kecupan singkat di atas kening.
Setelah itu pun, dia memberikan tubuhnya ke Arhes, dan Arhes yang akhirnya bisa menerima langsung tubuh wanita yang terlihat sudah dewasa ini, hanya menatapnya dalam diam sebelum akhirnya meletakkanya ke dasar tanah yang sedang dia injak.
Sesuai dengan instruksi, di miringkan agar menghadap ke arah barat, dan mengganjalnya dengan bola-bola tanah, lalau menutupnya dengan puluhan papan yang tadi sudah di buatnya.
[ Sekali aku beritahu, dia langsung mengerti. ] Dalam hati, dia memujinya.
[ Beginikah?. ] perlahan-lahan tubuh itu sudah tertutup dengan papan.
"' Apa sudah begini saja?. "
" Iya, kamu bisa keluar sekarang. " mengulurkan tangannya ke arah Arhes.
Arhes yang terkesiap akan uluran tangan itu, akhirnya menerimanya, dan tenaga yang di angkatnya ternyata cukup besar, membuat Arhes tidak begitu kesulitan untuk keluar dari lubang kuburan.
" Terima kasih atas bantuanmu. " ucap Dania dengan tangan masih berjabat dengan tangannya Arhes yang begitu besar itu.
" Tidak usah sungkan, aku akan membantu orang yag sudah menyelamatkan adikku. "
Tak lama kemudian, lubang tersebut tertutup secara otomatis, dan menghasilkan sebuah gundukan tanah.
" Dan terima kasih tidak bertanya. " tambahnya.
Jujur, ia tahu kalau Arhes di liputi pertanyaan siapa tubuh itu, sampai-sampai di cium.
Tapi sampai menahan rasa penasaran itu, tidak bertanya, Dania jadi senang, karena tidak harus menjawab jujur atau memberikan alasan, itu sangat malas untuk dia utarakan ada pria ini.
Arhes yang ke pergok ternyata punya penasaran namun pada akhirnya tidak bertanya, ternyata sudah di ketahui olehnya ( Dania ) hanya tersenyum tipis.
" Kadang seseorang lebih uka untuk menyimpan ceritanya sendiri. " hanya itulah jawaban yang dia bisa.
Sore yang hangat, membawa kehangatan untuk mereka berdua.
Meski berakhir dengan keadaan yang kacau balau seperti itu, hal yang terpenting bisa melewati semua itu.
" Ini. " mengambil danmemberikan kembali bungkusan itu.
"......................"
Rasa sepi, hanya itulah yang bisa di rasakannya setelah membuka mantel coat yang Dania guna untuk membungkus tubuh Everst.
__ADS_1
Bulu yang mulanya kotor sudah jadi bersih, yang basah sudah jadi kering, lukanya juga sembuh, tapi kematian kadang tidak bisa di hindari.