
" Apa?, ingin berlatih pedang denganku? " Tanya Vidal pada wanita di depannya.
Dari ujung kepala hingga ujung kaki ia perhatikan dengan serius dan sedetail mungkin.
" Dari tampangmu, seni dasar bela diri saja tidak bisa tapi ingin berlatih pedang denganku?. Apa tidak salah dengar? "
Sikapnya berubah karena kehendak Dania sendiri, memanggil dirinya seperti majikannya justru akan membuat dirinya( Dania ) tertekan, jadi maka dari itu permintaan untuk Vidal sendiri adalah agar bersikap biasa layaknya teman?, entah dia menganggapnya teman atau bukan yang jelas bisa bersikap biasa saja titik.
" Jangan memandang penampilan " tutur Dania.
[ Wanita ini!, keras kepala juga ]
" Atau jangan bilang tidak ingin memukul wanita? "
Perempatan siku di kening Vidal pun muncul.
" A..apa kamu bilang?, aku hanya tidak ingin yang mulai Archduke menghukumku gara-gara langsung bertanding dengan wanita sepertimu yang masih bau kencur "
" Hahh.... "
[ Dia menyangkalnya lagi, lebih baik begini lah ]
Dania kembali ke kamar dan terpaksa melakukan sesuatu demi ada orang yang ingin di iajaknya bertanding tanpa membeda-bedakan gender seperti Vidal itu.
Vidal yang hendak berlalu pergi mengurung niatnya karena secara langsung ia melihat sesuatu yang langka.
" Anda orang yang membeda-bedakan gender, dengan begini apa rasa sungkanmu itu bisa hilang? " ucap Dania.
[ Hei..apa aku salah lihat?, dia seperti seorang pria sungguhan ] Vidal tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, jadi dengan cepat ia mengucek kedua matanya namun hasilnya tetap sama.
Dan walau tadinya merupakan wanita, tapi nyatanya Dania memang memiliki tinggi 165 cm.
" Bagaimana mungkin bisa? "
" Oh..tentu bisa, sihir "
" Karena aku memiliki waktu luang dan di istana ini ada satu ruangan kosong yang bisa digunakan. Aku akan melayanimu jika bisa melewati latihan dasar " Dengan terpaksa Vidal menuruti kemauan Dania, namun syarat utama bisa tanding pedang tentu saja jika bisa melewati bela diri dengan tangan kosong. Karena jika tida seperti itu maka akan menjadi sebuah kesalahan besar jika Dania benar-benar hanya mengandalkan omong kosongnya utu.
Semua orang menatap keheranan dengan orang yang dibawa Vidal kali ini.
" Ba..bagaimana tuan Vidal berteman dengan pria tampan itu? "
" Aku juga jadi ingin berkenalan dengannya "
__ADS_1
" Siapa sangka di istana ini bisa kedatangan tamu sepertinya? "
" Melihat dia dari sampingnya saja auranya sudah menusuk ke hatiku. Arhhmm...siapa dia?, apa kalian tau? "
Semuanya menggeleng kepala.
[ Pelayan-pelayan itu, hanya bisa melihat orang dari tampangnya saja ]
" Pfft....... " seketia tertawa geli.
" Uwaaaa.....senyumannya, aku mau jatuh pingsan deh " tutur pelayan yang kebetulan menyapu di bagian lorong dan bisa berpapasan langsung.
[ Ternyata ada orang yang lebih aneh lagi ketimbang yang mulia, wanita ini berpenampilan pria dan bisa dengan mudah menggoda para pelayan wanita di istana walau hanya dengan tampang dan senyumannya saja ]
Dengan pasrah hati dan pikiran, akhirnya Vidal melayani dua orang majikan yang tidak terduga itu.
********
" Arghhh........" satu pukulan di wajah langsung membuat bibirnya berdarah, gara-gara majikannya.
[ Kenapa yang mulia bisa semarah ini~ ]
" Apa yang kalian lakukan, bekerja saja tidak becus, apa yang sebelumnya terjadi pada batu itu " tuturnya dengan nada yang santai namun tetap saja bisa membuat siapapun itu menjadi tertekan. Jadi ia hanya menatap tajam ketua yang memimpin pasukan dari geng Black Foxy.
" Ceritakan secara singkat sebelum kalian mendapatkan batu meteorit itu "
Akhirnya dalam 1 menit lebih Karasov menjelaskan sedikit, inti dari misinya bulanan lalu.
[ Jadi laki-laki bermata ruby adalah kunci dari pedangku itu? ]
" Kali ini aku mengampunimu, pergi dan cari informasi dari anak itu sebagai hukuman atas kelalaian dari pekerjaanmu yang tidak becus "
" Ba..baik yang mulia, saya akan mencari orang itu " Karasov berundur dari hadapan pemimpinnya sekaligus raja dari negeri Bahamut.
[ Yah...walaupun pedang itu tidak bisa menjadi milikku lagi, tapi aku penasaran dengan orang ini. Musuh atau teman?, itu akan aku pikirkan nanti jika bertemu dengannya. ]
" Apa anda sudah siap? "
Tanpa menjawab pun pria ini berjalan keluar istana ditemani Hayanrihi, dengan berjalan kaki ia akan menempuh perjalanan panjang ke negara sebelah sebagai pengembara.
*********
" Hahh....hahhh...hahh..." suara nafas yang tak beraturan dari Vidal. Ia merasa harus lebih serius dalam menghadapi lawannya.
__ADS_1
Pedang yang ada di tangan kanannya ia genggam lebih erat lagi, lalu ia segera mengambil jarak untuk mendekati lawannya dan segera menyerangnya.
CTANG.......CTANGG.....
[ Dia masih belum mengerahkan kemampuannya, tapi setidaknya kali ini aku bisa olahraga dan mengasah kemampuanku dengan dia ]
" Kamu itu manusia atau bukan?, tenaganya besar dari seharusnya " dalam artian tenaganya sudah seperti pria pada umumnya padahal kenyataannya lawannya yang sekarang sebenarnya adalah wanita.
" Itu pendapat masing-masing lawan. "
Dania menghindar dengan mengubah posisinya menghadap ke samping kanan, lalu pedangnya ia gunakan sebagai tameng agar terhindar dari serangan tersebut, sehingga ada gesekan diantara kedua pedang itu.
Beberapa orang pelayan istana yang lewat, menyempatkan diri untuk melihat alias menonton pertunjukkan itu.
" Wah...hebat, dia pria idamanku "
" Jangan berkhayal terlalu tinggi, kita hanya seorang pelayan jadi tidak akan pernah mendapatkan pria seperti mereka "
" Kita tidak akan pernah takdir apa yang akan kita dapatkan ke depan "
Saking seriusnya menonton dan berbisik kesana kemari, mereka tidak menyadari kalau ada satu orang di belakang mereka.
" Apa pekerjaan kalian sudah pada selesai? "
" Kyyaaaa......., ma..maafkan kami " All,
Lalu secepat mungkin pergi untuk menghindari masalah dengan Archduke.
" Apa semenarik itu? "
Bisik Archduke, tidak sangka akan melihat pertunjukkan pertarungan antara Vidal dan Dania di dalam istana, suasana menjadi ramai dengan dua orang itu.
" Hyaahh! " serangan cepat Vidal lakukan.
Kanan, kiri, lalu dengan kakinya juga tak kalah ia lakukan agar lawannya terpojok.
Pedangnya di ayunkan kesana kemari, menebas angin karena Dania bisa menghindarinya juga.
[ Archduke?, dia disini? ] beberapa saat matanya melihat Archduke tengah bersender di dekat pintu.
[ Celahmu terbuka! ]
Vidal dengan senang, mengisi celah yang ada pada Dania.
__ADS_1
Ujung pedangnya Vidal ia hunuskan tepat ke arah Dania karena kebetulan Dania terdiam sejenak, Dania sedikit panik dan buru-buru ia ayunkan pedangnya dari bawah ke atas tapi Vidal dapat menyesuaikan gerakan yang dilakukan Dania sehingga gerakan mereka berdua seperti memutar pedangnya dan gesekan besi yang nyaring itu terhenti seketika saat satu pedang lain ikut bergabung dan membuat pedang Vidal dan Dania terlempar ke sembarang arah dan menancap ke lantai kayu.