Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Membuka Mata


__ADS_3

KTUK...KTUK....KTUK.....


Tangannya bergerak sesuai dengan kebutuhannya yaitu tak lain adalah menumbuk selembar daun berwarna merah itu di dalam sebuah mangkuk yang terbuat dari tanah liat.


Ailyn selama beberapa hari ini jadi melakukan hal lain selain berkeliling hutan, dan di antaranya adalah menumbuk daun yang dia terima dari kakaknya itu, di beri tetesan dari batu 'mana' agar bisa lebur, dan setelahnya adalah meminumkannya.


[ Kenapa juga aku melakukan ini?. ] berlawanan dengan ucapannya, dalam kurun 6 hari ini, dia rutin melakukan rutinitasnya untuk meminumkan tumbukan daun ini pada seekor burung mati?.


Harusnya itu adalah burung yang sudah mati, tapi karena satu hal lain itulah, akhirnya melakukan perbuatan yang melawan hukum alam.


Ailyn meletakkan terlebih dahulu mangkuk itu di atas sebuah batu yang ada di sampingnya, lalu ke dua tangannya dia gunakan untuk membuka paksa paruh itu agar benar-benar terbuka lebar.


[ Karena burung ini, aku jadi melakukan pekerjaan aneh. ] kutuknya, merasa tidak terima saja, martabatnya jadi jatuh karena meminumkan ramuan pada seekor burung yang harusnya sudah mati saja sana.


Ailyn mulai menuangkan sedikit demi sedikit air dari tumbukan daun itu ke dalam mulutnya Everst, dan di saat itulah, ramuan itu mulai bereaksi, diantaranya adalah tubuhnya yang mulanya dingin dan kaku, kini mulai kembali hangat layaknya betul-betul masih hidup.


Campuran dari air batu 'mana' sebenarnya memiliki khaisat lain, yaitu meningkatkan pemulihan tubuh serta energi sihir di dalam tubuhnya.


Sebenarnya batu 'mana' adalah sebuah bola batu kristal yang di dalamnya menyimpan energi sihir, tapi jika tidak terpakai dalam kurun waktu yang lama, bola batu itu bisa mencair dan menjadi air yang dapat di minum.


Untuk manusia, hasilnya luka yang dimilikinya akan benar-benar sembuh.


Itu seperti obat mujarab. Tapi keberadaan batu seperti ini hanya ada di wilayah tertentu saja, dan kakaknya membawa sebanyak yag dia bisa ke istananya, untuk berjaga-jaga.


" Pi...pi.. " Pici tiba-tiba datang, menghampiri Ailyn yang baru saja selesai menyelesaikan rutinitas hariannya di pagi hari.


Pici si pohon kecil dengan ranting yang juga masih kecil, akar yang digunakan sebagai kaki itu, terus berjalan kesana kemari, daunnya yang kadang terjatuh itu, membuat Ailyn merasa cemas jika melihat tingkah Pici itu.


" Pici, sudah aku bilang jangan berlarian. "


" Pi...pi...pi?. "


Ailyn berjongkok, agar sejajar dengan pendeknya tubuh Pici itu.


" Apa kau sakit?. " menyentuh satu bola kecil yang bersinar di atas kepalanya Pici.


Disitu bola tersebut agak sedikit redup, yang seharusnya hijau cerah, jadi tidak salah lagi, alasan kenapa daun-daunnya beberapa rontok mendarat di lantai, artinya Pici sedang sakit.


" Pi...pi...pi...pi..! "


Ailyn yang merasa bahwa Pici harus segera di obati, jadi memutuskan untuk mengambil satu sendok air dari batu 'mana' yang dia bawa. Ailyn menuangkannya ke atas kepala Pici, tepatnya ke satu bola yang ada di kepala Pici paling atas itu.


Itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit, apa lagi Pici, yang masih rentan terhadap lingkungan sekitar, karena tubuhnya sebenarnya masih lemah.


Setelah selesai memberikan Pici air tersebut, Ailyn terus kembali melanjutkan menyuapi sisa ampas dari tumbukan daun tadi ke dalam mulutnya Everst.


Ailyn kemudian menunduk, mengamati burung itu dalam diam, namun pikirannya adalah memikirkan tentang kakaknya yang sudah pergi selama seminggu.


[ Siapa yang sebenarnya dia temui?. ] Ailyn yang jarang sekali keluar dari hutan, sebenarnya merasa iri dengan kakaknya yang bebas ke sana kemari dengan mudah, sedangkan dirinya hanya terkurung disini demi mengemban tugas yang di berikan kakaknya itu.


" Pi...pi...."


Pici yang baru menemui kehidupannya itu, juga sebenarnya tahu akan rasa kesepian yang di rasakan oleh Ailyn.


Mau menemaninya bermain, Pici sudah tidak salah tebak lagi kalau Ailyn memang masih punya waktu luang untuk ikut bermain bersama, karena Ailyn memang kesepian tidak ada teman seumurannya.


Masih memandangi burung itu, tiba-tiba tangan Ailyn terangkat, bergerak mendekati kepala Everst.


Dia berpikir kalau kesepiannya akan terobati jika mengelus bulu itu?.


"..............! " dan pemikiran itu langsung terhenti bersamaan dengan tangannya yang masih berada di udara.


[ Kenapa aku jadi berpikiran kalau perasaan itu akan hilang jika aku mengelusnya?. ] Ailyn tidak mengerti hal itu.


Jadi Ailyn pun mulai menarik lagi uluran tangannya, sebelum mata yang dari awal terpejam, tiba-tiba saja terbuka dengan lebar di penuhi sorotan tajam seperti menemukan musuhnya, lalu burung itu segera...


KEPAKK.....


Sayapnya berkibar bersamaan dengan rasa waspada yang tinggi itu, salah satu kakinya langsung melayang dan mendarat mencengkram leher Ailyn.


BRUKKK.......

__ADS_1


Tubuh Ailyn yang terdorong itu, berakhir dengan terjatuh ke lantai.


" Ughh....... " merintih kesakitan, Ailyn yang langsung di serang di bagian leher berusaha menahan cakar itu terus dari pada menembus kulit lehernya.


" Apa yang sedang kau lakukan. " suaranya yang dingin langsung merubah suasana di ruangan itu menjadi mengerikan.


Kejadiannya, saat Everst sadar yang dia rasakan pertama kali adalah keberadaan seseorang yang sangat dekat dengannya, meski tidak merasakan hawa aneh, tapi tetap saja dia harus membuat langkah waspada dengan hal yang ada di sekitarnya.


Dia terus menatap tajam wanita yang ada di bawahnya sambil mencengkram leher wanita bertelinga runcing ini.


[ Ap-apa y...yang...ter..jadi?. ] mengernyit menahan sakit, nafasnya makin susah dia dapatkan karena kuatnya cengkraman kaki di lehernya itu.


" Uh......"


"...Pi.... " Pici yang melihat Ailyn di sakiti, segera membantu Ailyn dengan menyerang burung yang ukurannya 3 kali lipat lebih besar dari tubuhnya Pici.


" PI...PI!. "


Everst yang menyadari ada yang berlari ke arahnya untuk menyerangnya, tentu saja langsung Everst tepis dengan mudah hanya dengan kibaran satu sayapnya, tanpa melihat siapa yang tadi bersuaha menyerangnya itu.


Dan perbuatannya, tentu saja membuat Pici langsung terhempas ke belakang sampai terhantuk dengan dinding.


" PI!. " rasa sakit yang di terimanya, tubuhnya terasa remuk dengan sekali hempasan sayap tadi, kekuatannya memang lebih besar darinya, tapi Ailyn sedang di sakiti, itulah asal keberaniannya.


Sedangkan Liyn, dia berteriak di dalam hati.


[..........!, Pici.! ] tidak terima dengan perlakukan kasarnya, Ailyn mengeluarkan sebuah anak panah berwarna hijau yang langsung muncul di tangan kanannya, dia hendak menusuk burung ini.


Menusuknya karena sudah melukai anak pohonnya, dan sudah tidak tahu berterima kasih.


Sudah di tolong, tapi yang di dapatkannya adalah, burung ini mencekik lehernya.


Everst pun menjeling ke samping kiri, mendapati kalau wanita Elf ini hendak menggunakan senjata untuk melukai dirinya ( Everst ), satu kaki sebelah kirinya langsung saja menendang pergelangan tangan Ailyn, membuat anak panah itu terlepas dari genggamannya.


Sehingga saat ini, tangan kanan Ailyn pun tertekan dengan kaki besar milik burung ini. Dia tidak bisa bergerak sembarangan, karena bisa jadi, cengkraman kaki yang ada di lehernya, bisa langsung membunuhnya dalam sekejap mata.


" Kenapa aku disini. " Everst yang terusan meminta penjelasan meski kaki kanannya masih mencekik leher wanita ini, sudah mulai tidak sabaran, dan membuat helaian bulunya terlepas, membentuk sebuah pedang yang akan menusuk dan bersarang di tubuh Ailyn, jika tidak segera menjawab.


[ Bagaimana aku bisa menjawab, dia mencekikku terus. Dasar brengs*k. ] Ailyn benar-benar mengutuk, dia berharap kalau burung ini kembali tidur, dan kalau bisa tidur selamanya saja.


" Kau pasti sedang mengutukku kan?. " kuku yang tajam itu, perlahan menekan pembuluh nadi bagian lehernya Ailyn.


Everst tentu saja tidak main-main dengan tindakannya itu.


Hanya tinggal sedikit lagi, itu akan masuk dan menusuknya dengan sangat dalam.


" Le...pas..kan du..lu. " pinta Ailyn.


Evert tidak langsung mempercayainya, bisa saja wanita ini akan menyerangnya dalam diam.


" Jawab saja dalam kondisi seperti ini. " dan terus menuntut agar menjawab pertayaannya meski dalam kondisi sedang tercekik.


[ Burung gila....dia...] Ailyn yang sedang terpojok, dan melihat kalau PIci sudah tidak sadar diri, dia merasa tidak ada pilihan lain, untuk menggunakan itu karena yang terjadi sekarang adalah nyawanya terancam, dan yang harus dilakukannya adalah mempertahankan diri, sekalipun...


[ Sekalipun kau di selamatkan oleh kakaku. ]


Ailyin ingin menggunakan salah satu sihirnya yaitu...


" Lepaskan Ailyn. " tiba-tiba suara yang begitu lembut itu mendatangi mereka berdua yang sedang bersitegang dengan pertahanan dirinya.


"..............." Ailyn melirik ke arah sumber suara, rupanya kakaknya sudah kembali, di waktu yang tepat, sebelum dirinya merpalkan sebuah mantera untuk menembak burung ini.


" ..............! " Everst menoleh ke belakang, seorang wanita berambut hijau itulah rupanya yang memintanya untuk melepaskan wanita yang sedang dia cekik ini.


" Apa itu sebuah perintah?. "


Mendengar ucapannya, yang memang terdengar memerintah, membuat Darayad mengoreksi kembali kata-kataya.


Ya...dia bukan yang menerima begitu saja sebuah perintah, karena yang burung ini inginkan adalah bukan perintah tapi permintaan dan kalau bisa adalah permohonan.


" Aku minta lepaskan Ailyn. "

__ADS_1


Kembali mendengar ucapannya, namun dalam kalimat permintaan, Everst akhirnya melepaskannya.


" Kenapa anda mencekiknya?. " Darayad bertanya sembari menolong PIci yang terbaring di lantai, dia menyembuhkan luka yang di terima PIci ini.


" Lalu kenapa aku disini?. " Everst yang masih saja menunggu jawaban, kembali bertanya tapi kini pada si Darayad.


" Yang mulia lah yang membawamu kemari. Sudah dikubur, harusnya mati saja sana. " ucap Ailyn, dengan sumpah serapahnya itu.


Darayad langsung menjeling ke arah diknya.


" Ailyn, jaga ucapanmu. " peringat Darayad pada adiknya, karena ucapannya sudah tidak sopan pada tamu yang ia ( Darayd ) bawa sendiri.


Ailyn segera menyela ucapan kakaknya, masih saja tidak menerima perlakukan dari burung ini, Ailyn jadi terbawa emosi, mulai meninggikan suaranya.


" Tapi yang mulia lihat sendiri, aku sudah menurutimu untuk merawatnya, tapi hasilnya dia mencekikku dan membuat Pici terluka. "


".................." Everst tidak berkata apa pun. Jika memang itulah yang terjadi, dia tidak akan meminta maaf.


" Padahal aku tidak meminta kalian merawatku. " karena bagaimanapun, itu adalah hal di luar keinginannya, jadi dia tidak tetap tidak akan meminta maaf. Itu adalah sebuah insting untuk terus waspada.


Dari pada mendengar perdebatan terus, Darayad pun mulai membuka suaranya lagi, menengahi percakapan ini.


" Baiklah, aku yang membawa anda kesini, untuk menjaga tubuh itu sebagai uacapan terima kasihku. "


Everst segera menjawab.


" Ucapan terima kasih?. Sebaiknya kalian jangan salah paham. " Everst berputar lalu terbang dan mendarat di atas sarang itu.


" Baik aku dan dia, tidak melakukan ini untuk kalian. " Everst berbaring di atas sarang itu lagi dan menambahkan ucapannya.


" Sekalipun sudah merawatku, aku tidak akan berterima kasih pada kalian, karena aku tidak memintanya. "


[ Dia.... ] Ailyn yang tercengang dengan ucapan dari burung ini hendak memberikan pelajaran, tapi tangannya langsung di cegah oleh Darayad dengan sebuah gelengan pelan.


Arti untuk jangan membuat keributan dengan burung itu.


Hanya saja Ailyn..berusaha memberontak.


" Yang mulia, sudah aku bilang kan...dia bur- "


Tapi semua kata-katanya tertelan lagi setelah kakaknya langsung menyodorkan pohon kecil itu ke depan wajahnya.


" Lupakan saja, jaga Pici sampai sadar. " perintah Darayad. Dia hanya ingin membuat Ailyn segera mengalihkan amarah itu dengan menjaga Pici, dengan begitu keributan tidak akan terjadi di istananya.


" Baik. " sambil merungut tidak puas hati, Ailyn menggendong Pici yang masih pingsan itu dan kemudian membawanya pergi.


Diam-diam Everst yang tadi berpura-pura tidur, matanya melirik atas kepergian wanita Elf itu.


" Sekarang bagaimana?. " Darayad bertanya, dia tahu kalau burung ini tidak benar-benar tidur.


" Adikku sudah pergi. "


" Bagaimana?. " Everst kembali berdiri sambil melihat keadaan tubuhnya.


" Tubuh ini masih belum benar-benar pulih, jadi aku mempertimbangkan untuk tinggal disini beberapa hari. " jawab Everst dengan begitu percaya dirinya.


" Jadi 'mana' milik anda memang sudah kembali sepenuhnya?. "


" Oh.... " Dia menoleh ke arah Darayad yang memasang ekspresi datar.


" Kau tahu siapa aku?. " karena tertarik dengan ucapan Darayad yang menyebut kata 'anda' sebagai panggilannya.


" Aku tidak sangaja pernah bertemu dengan anda sekali. "


" Kedengarannya menyenangkan. Ceritakan pertemuan yang kau maksud ' Elsie ' " pinta Everst, dia pun berdiri tegak sambil menatap perempuan si ratu hutan yang memiliki nama Elsie.


Everst tahu nama makhluk ini, namun merasa belum pernah bertemu sekalipun dengannya. Itulah kenapa, sambil istirahat ada baiknya bisa mendengarkan cerita dari wanita ini.


Setidaknya bisa dijadikan dongeng harian, setelah lama berkeliaran kesana kemari demi mendapatkan hal yang dia ( Everst ) butuhkan untuk mengembalikan kekuatannya secara sepenuhnya.


Dengan cerita ini, itu bagus untuk menghilangkan kebosanannya.

__ADS_1


__ADS_2