Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 22 Memasak.


__ADS_3

" Apa yang akan kita buat dengan ikan ini?. "


Di dapur, koki ini bingung kira-kira apa yang cocok untuk menu makan malam kali ini.


" Tapi nona menyuruh membuat ikan ini untuk di hidangkan semua orang disini, apa cukup?. " kata asisten dari kepala koki dapur istana.


" Hampir jam makan malam. " melihat jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul 5 sore.


" Ayo masak. " sela Dania.


Tiba-tiba memunculkan kepalanya di tengah-tengah di antara kedua koki yang sedang berdiri.


" Nona!. " all.


" Apa yang anda lakukan disini?. " tanya sang kepala koki.


" Membantu kalian masak. "


" Tidak...tidak perlu, biar kami saja yang masak. " kata sang koki lagi.


" Tapi aku meminta dibuatkan untuk semua orang di istana, bagaimana mengatasi permintaanku ini dengan modal ikan sebesar ini?. " sela Dania, ia menggulung lengan bajunya sehingga memperlihatkan kain putih tipis yang menyelimuti kedua lengan rampingnya.


" Itu- " baru pertama kali lihat bahwa nona-nya membalut kedua tangan dengan perban.


" Fashion. " singkat Dania sambil mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang pisau tajam itu.


" Ah..clemek. " ingat belum memakai clemek, ia mencari tempat clemek itu di simpan di salah satu lemari di dapur.


Kedua orang itu bengong melihat apa yang hendak dilakukan Dania yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur untuk pertama kalinya.


" Aku hanya ingin menghadiahkan kalian dengan merasakan masakan buatanku, jangan dijadikan beban. Aku tidak akan ke dapur jika aku memang tidak bisa memasak." jelasnya.


[ Itulah salah satu prinsip milikku. ]


" Ja-jadi....apa yang akan anda buat?. " tanya sang asisten koki dengan ragu, melihat Dania yang begitu antusias membuat dirinya masih rada ragu untuk menerima ucapannya Dania barusan.


" Aku... " dengan percaya diri, ia langsung mengeluarkan sebilah pedang...


" HIiiii..... " All, keduanya langsung menggigil melihat pisau yang panjang itu ada di hadapan mereka.


" Akan membuat Sushiball. "


CLING....


Cahaya ide brilian langsung terpancar di wajahnya.


Seakan mau berperang, Dania benar-benar menggunakan pedangnya sebagai pisau untuk membelah ikan salmon menjadi dua.


Karena aturan kepercayaan milik Dania sendiri yang ia buat, Dania terlebih dahulu mencuci pedang miliknya, lalu barulah ia siram dengan air mendidih untuk mensterilkan dan memastikan bahwa hal itu akan menghilangkan bayang-bayang orang yang melihatnya bahwa pedang yang digunakannya untuk membunuh orang, kini ia gunakan untuk membunuh ikan, tidak..tidak..tapi memotong-motong tubuh ikan. Jadi harusnya tidak di permasalahkan lagi.


" Tapi..tapi kenapa anda mau menggunakan pedang?. "

__ADS_1


" Hanya aku gunakan untuk membelahnya saja. Tidak ada pisau yang pas untuk membelah ikan sebesar ini kecuali ini. " jelas Dania lagi sembari menegakkan bilah pedang ke atas dengan posisi tepat di samping wajahnya.


Setelah menyesaikan kalimatnya, ikan salmon yang dimana isi perutnya sudah di keluarkan dan dibersihlan sampai bersih, kini Dania mulai melakukan pemotongan.


Dania memotong kepala ikan dengan....


[ Manusiawi. ] batin kepala koki. Padahal awalnya ia berfikir kalau Dania akan langsung menebas kepala dengan teknik yang dimana semua orang akan mengira kalau itu adalah percobaan pembunuhan.


Meski memotong dengan pisau sebesar itu ( Pedang ), Dania dapat mengontrolnya untuk menggunakan teknik yang lembut dan...


" Hah!.., terlihat sangat berpengalaman. " puji asisten koki ini, melihat kepiawaian Dania saat melihat Dania mengiris daging salmon dengan sekali irisan, dia sudah dapat membuat antara daging dan tulang terpisah dengan sempura dan hasilnya sangat rapi.


" B-bagaimana anda bisa melakukannya?. " sang koki ini terkejut bukan main.


Karena pada dasarnya teknik memotong ikan yang diperlihatkan Dania setara dengan chef dari dapur kerajaan.


" Aku bisa melakukannya karena memang bisa, apa yang bisa aku katakan lagi kalau aku katakan sudah terbiasa melakukannya?. " jawabnya dengan begitu antusias, meski pandangannya serius dengan buntalan daging yang masih segar itu.


Asal muasal ia bisa memasak juga karena dari pengalamannya di hidup lalunya, ia bekerja keras dari chef ternama untuk mengasah kemampuannya agar bisa di letakkam di berbagai kondisi saat menyamar.


[ Ada gunanya juga waktu dulu aku belajar mati-matian. ] puji Dania pada dirinya sendiri.


[ Hmph, hadiahku akan sangat istimewa. Kalian tidak akan pernah menemukan resep yang sama selain bertanya padaku. ]


Dan mulailah, ia menyuruh alias memberikan perintah untuk menyiapkan apa yang perlu di siapkan untuk menu pembuka yang akan ia buat untuk semua orang.


____________


Mereka sudah berkumpul untuk menikmati makan mereka.


Dapur istana.___________


Puluhan pelayan baik itu perempuan maupun laki-laki, mereka sudah duduk manis di tempatnya masing-masing.


Dan mereka sedang memandangi apa yang sedang ada di hadapan mereka, itu seperti jamuan makan.


Air putih, sendok dan garpu sudah tertata disitu, lalu sebuah lemek kecil berisi 3 bola nasi?.


" Apa kita makan ini?. " tanya salah satu dari mereka.


" Ini seperti nasi yang dibuat bola. " katanya lagi, sembari mengangkat lemek tersebut dan memandang bola nasi itu dari berbagai sudut.


" Sudahlah, kalian makan saja apa yang ada. " kata staf alias pelayan bagian dapur.


" Jangan hanya memandang sesuatu dari luar. "


" Apa maksudmu. " tidak terima karena merasa sedang disindir oleh koki perempuan yang bertugas di dapur itu.


" Kalian hanya menganggap nona sepeeti benalu yang menempel pada yang mulia Archduke kan?, makannya banyak diantara kalian mengacuhkan nona. "


" Tapi dia memang pantas mendapatkannya, hanya di pungut dari hutan, dia langsung bisa menjadi bagian dari keluarga yang mulia?. " sokong yang lainnya lagi.

__ADS_1


" karena kau berkata seperti itu, jangan-jangan ini buatan perempuan itu?. " tekanya.


" Apa?, ini buatan wanita itu?. Aku tidak sudi makan ini. Sudah dari penampilannya saja seperti sampah, dia sama-sama membuat ini dengan penampilan sampah juga. " kata pelayan yang duduk di sampingnya.


Dua orang lainnya masih memandang jijik 3 bola itu, dan langsung beranjak dari kursinya.


" Lebih baik makan roti ketimbang makan-makanan rakyat jelata. "


Dan ke 4 orang itu pergi meninggalkan dapur istana, juga meninggalkan bola nasi yang masih utuh itu.


Semua orang yang tersisa hanya memandang satu sama lain.


Memang diri mereka masih terdapat rasa tidak suka, tapi juga tidak harus terang-terangan seperti ke 4 pelayan tadi.


Karena dalam hidup, entah itu suka atau tidak suka, modal utamanya adalah mengisi perut mereka. Maka dari itu banyak yang masih bertahan di tempat duduk mereka, meski terasa enggan untuk makan bola nasi yang sederhana itu.


" Apa ini?. Apa cuma ini saja makan malam kita kali ini?. " kata pelayan laki-laki yang pekerjaannya menjadi butler.


" Anggap saja kau masih beruntung dapat makan. " celetuk koki perempuan ini.


" Mereka sangat tidak beruntung. " ucapnya lagi, lalu menyeret lemek yang masih berisi bola nasi itu.


Dengan ragu-ragu, mereka semua mulai mengambil satu bola nasi itu dan perlahan memasukkannya ke dalam mulut.


"...Nyam..nyam...nyam... " mata mereka yang terpejam karena sedikit khawatir dengan rasa yang akan di terima lidahnya, langsung membuka mata lebar-lebar.


" A-pa ini?. Kenapa seenak ini?. Ada rasa daging ikan, meski mentah tapi rasa dari rempah lain menyelimuti daging ini. "


" Aku senang jika memang enak. " satu suara yang dikenalinya membuat semua orang langsung menoleh ke aeah sumber suara.


" Setelah selesai apakah saya bisa minta bantuan kalian semua?. "


Dania hadir dalam balutan baju koki berwarna putih, dan topi tinggi berwarna putih, selain itu karena rambutnya di kuncir ke belakang, membuat sosoknya yang rapi jadi terlihat seperti laki-laki.


Dania membawa troli makanan dan disitu sudah ada puluhan tusuk sate tapi yang di tusuk bukanlah daging ayam atau pun kambing, melainkan kentang.


Dia membagikan 5 piring besar yang berisi 6 tusuk kentang, dengan dipindahkan dari ujung ke ujung secara estafet, membuat semuanys langsung bisa mencicipinya tanpa menunggu lama.


Dua baris meja sudah di hidangkan tusuk sate kentang, Dania lalu balik ke dalam dapur untuk melanjutkan yang lainnya.


" Ini-....kentang?. " Karena penasaran sebab bentuknya seperti spiral dan terkesan memang sangat sederhana juga, satu persatu dari mereka memakaƱnya..


Kranch....kranch....kranchh.....


Sebuah suara indah dari makanan yang sangat gurih menjadi melodi di dapur istana itu.


Semuanya senang dan menikmati tiap gigitan.


" Aku baru pertama kali makan kentang serenyah ini. "


" Makannya, aku sudah bilang jangan hanya memandang sesuatu dari tampilannya saja. " kata koki ini dengan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2