
" Begitu saja? "
Tidak bisa di pungkiri, untuk mengembalikan ukurannya yang normal maka harus kembali masuk ke dalam hutan Fronder, lalu yang dilakukannya hanya harus pergi ke air terjun dan harus naik ke atas melewati awan putih itu.
" Apa yang begitu saja? " Tanya Claporth, setelah tuan muda kembali, ia seperti diliputi sebuah perasaan terkejut.
Sebenarnya penasaran juga apa yang sudah dibaca ketika masuk ke dalam loteng itu, namun dirinya tidak memiliki akses untuk membaca buku sihir yang disimpan di loteng itu.
" Bukan apa-apa "
Hari ke dua, akhirnya sudah bisa menemukan jawaban yang seharusnya dicarinya sejak lama, tapi yang sudah berlalu juga tidak ingin dipikirkan lagi, karena sekarang yang terpenting adalah caranya kembali ke hutan dan melewati air terjun itu demi dirinya sendiri.
Hari ini hari yang cukup cerah, setidaknya begitu sebab tidak ada salju yang turun.
Baiklah, tidak ada salju yang turun namun sekarang dirinya melihat satu hal yang sedang turun dengan cepat ke arah dirinya.
[ Apa itu? ] Eldania menyipitkan kedua matanya ke arah atas, lalu di ikuti Claporth.
Claporth bersiaga untuk apapun yang akan terjadi.
Semakin dekat dan makin dekat, lalu....
DUAKKKK...........
" Apa itu tadi? " Tanya pada Claporth.
" Burung " jawab dengan ketus.
" Bukan itu, kenapa bisa burung
tadi terpental? " Eldania menoleh ke samping, tepat dimana Claporth berada.
Kejadian tadi sangat jarang alias baru pertama kali ia lihat.
Everst sempat terpental padahal Claporth tidak bergerak sejengkal pun, peristiwa yang langka.
" Dinding pelindung "
" Penyihir ? "
" Bisa menggunakan dinding pelindung bukan berarti seorang penyihir. Dari pada itu, kenapa dia keras kepala ingin menyerang anda? " Claporth melihat burung tadi masih saja bersikeras untuk masuk atau lebih tepatnya menerobos kekuatan miliknya.
Eldania menjeling ke atas lalu ke samping kanan dan kiri lalu ke atas lagi, lalu ia menyela dengan menepuk dahinya sendiri.
[ Jangan buang tenagamu. Aku kira kamu jenis burung yang memiliki reputasi untuk melindungi imejmu sendiri ]
{ Tidak ada yang protes selainmu, hilangkan kekuatan dari orang disebelahmu itu! } perintah Everst.
[.............]
" Claporth ~ "
Hanya dengan satu kalimat itu, Claporth segera menghilangkan dinding pelindungnya.
Di saat yang sama Everst segera menerjang ke arah Eldania tapi langsung segera di hajar oleh Claporth sendiri dengan memakai sarung pedangnya.
BRAKKK.......
{ Awww.....sadis sekali orang ini }
Everst terbaring lemas ke jalan yang licin.
[ Aik...tidak biasanya kamu selemah itu ]
Berjalan mendekat ke arah Everst terkapar di jalan.
" Tuan, jangan mendekatinya " tangannya menghalangi tuan mudanya dari pada mendekati hewan tadi.
__ADS_1
" Tenang, dia tidak akan mencelakaiku " dengan rasa percaya diri, Eldania berjalan mendekat ke tempat Everst, dan...
SRETT......
Sekali ayuanan, tangannya menangkap kedua kaki Everst dan mengangkatnya.
Lalu ia endus tubuh Everst ..
" Erhmmm...memang bau unggas "
{ Jangan bawa aku seperti ini!, kepalaku jadi pusing }
" Hari ini menu makanannya burung ini " memberikan Everst ke Claporth dengan senyuman mengejek.
Untuk sesaat dirinya terdiam sejenak dengan perilaku tidak biasa yang dilakukan tuannya, namun lamunannya buyar karena makhluk yang ada di tangannya memberontak ingin di lepaskan.
" Jangan harap " ucap Laporth dengan nada yang penuh dengan arti.
{ Ugh.... } auranya menusuk, sebab raut wajahnya menunjukkan ' jika tidak diam maka aku potong kepalamu sekarang '
Saking lelahnya akhirnya Everst lebih memilih diam dan..
" Tidur? " Danie sempat melihat Everst tertidur bagai kelelawar.
" Ya sudahlah, kita pulang lebih awal "
Ke tiganya pulang bersama , everst tentu ikut dihitung sekali.
Tidak ada alasan mengapa mereka lebih suka berjalan kaki ketimbang naik kereta kuda.
Namun di tengah jalan, secara tidak sengaja menemukan seorang wanita muda tengah di tindas di sebuah tempat gang yang sepi. Ke tiga pria itu membuat gadis itu menangis, keranjang yang dibawanya pun sudah terjatuh di tanah.
" He gadis!, kamu bukan warga sini kan?. Berikan semua uang yang kamu bawa! " tutur satu laki-laki di antara 2 orang lainnya.
" Tapi, sa..ya ti..tidak...me..miliki uang " jawabnya dengan rasa takut. Ketakutan yang secara nyata sebab sedang di tindas oleh 3 orang laki-laki.
" Sa..saya beneran..ti..tidak..ada u..ang. "
Tiba-tiba cengkraman tangannya di pipi ia lepaskan, lalu diselingi dengan berdiri ia memerintahkan temannya..
" Geledah wanita ini, di bajunya pasti ada uang yang disembunyikan "
" Ja..jangan! " dengan panik, dirinya berusaha untuk mundur dan menghindar, namun kedua tangannya yang ia gunakan untuk mengeratkan jaketnya malah di cengkram kuat oleh kedua tangan besar yang dimiliki pria bajingan itu.
" Lepas jaketnya "
Dengan segera, jaket yang digunakan gadis tersebut dipaksa untuk di lepaskan dan walaupun memberontak tidak mau, tapi apa daya jika tenaga milik lawannya jauh lebih besar ketimbang dirinya.
" Tidak...ti..dak!, lepaskan aku! "
" Aih..masih belum kalian temukan?!, coba buka bajunya, biasanya perempuan akan menyimpan beberapa uangnya di beberapa tempat yang ridak terlihat " tuturnya sekali lagi dengan senyuman remeh terukir.
Tanpa ba bi bu lagi, mereka berdua mulai melaksanankan perintahnya, yang satu bagian menjaga kedua tangan wanita tersebut, dan yang satu lagi mulai melepaskan kancing demi kancing yang ada di baju.
Di kancing baju ke tiga yang ia lepaskan, sudah tentu mulai terlihat apa yang seharusnya tidak terlihat oleh laki-laki itu.
Wanita itu menangis bukan main.
" Kalian benar-benar suka menindas wanita dengan cara seperti itu "
suara yang imut mengalihkan pekerjaan ke tiga orang itu.
" Jangan ikut campur anak kecil! "
Ketiga orang itu melihat satu anak kecil ada di pintu gang, dimana wajahnya terlihat samar-samar sebab kepalanya tertutup oleh tudung, dan di tangan kanannya terdapat hewan yaitu burung berukuran sedang, dibawa dengan tubuh terbailk dimana posisi kepala ada di lantai dan kakinya di cengkram oleh tangan mungilnya itu.
" Aku sadar diri, aku anak kecil. "Jawabnya dengan polosnya.
__ADS_1
" Kalau begitu pergilah!, atau mau aku jual menjadi budak ju- "
Dengan cepat menyela pembicaraannya.
" Tapi aku tidak sadar diri untuk memberikan kalian pelajaran "
" Apa yang kamu bisa lakukan?, cepat geledah wanita itu lagi!, jangan hiraukan bocah itu " kedua orang yang sempat memberhentikan tindakannya tadi, dilanjutkan lagi.
" Hahh..... " helaan nafas panjang ia buat karena di hiraukan.
Secara cepat datang satu orang dari belakang anak kecil tersebut lalu bergerak menyerang ketiga orang yang sedang menindas satu orang wanita.
Melihat ada orang yang berani menyerang dirinya, kedua temannya diberikan perintah untuk menyerang orang itu secara bersamaan.
Yah...dengan pedang yang mereka bawa, ke empat manusia itu saling berlawan demi saling menjatuhkan yang seharusnya bisa dikalahkan dengan mudah.
Namun jumlah bukanlah hal yang menentukan menangnya sebuah perkelahian, seperti saat ini, tidak perlu waktu yang lama ketiga orang itu kalah telak. Dimana masing-masing senjatanya sudah terlepas dari genggaman tangannya masing-masing.
[ Siapa orang ini?, kenapa hanya satu orang tapi kekuatannya lebih hebat? ]
Semuanya memikirkan hal yang sama.
" Jadi ini pekerjaan kalian bertiga?, apa sudah bosan hidup jadi kesatria? "
[ Suara ini? ] fikir orang tersebut dengan perasaan terkejutnya.
Sosok yang sedari tadi menutupi kepalanya dengan tudung kepala, kini ia buka dan siapa sangka jika yang dilihatnya adalah..
" Tuan Claporth? " All
" Baru ingat siapa aku?, tapi kalian tidak ingat posisi kalian jadi apa tapi melakukan perbuatan apa, memalukan. Di asrama hukuman sudah menanti, jika untuk kedua kalinya aku melihat kalian melakukan perbuatan serendah ini lagi, kalian bertiga akan dikeluarkan dari pasukan " Ucap Claporth yang sebenarnya notabennya adalah pemimpin kesatria pasukan Efran.
Suatu kebetulan bisa menemukan anak buahnya alias murid dari pasukan kesatria Efran berkat tuan mudanya, jika tidak maka tidak tahu apa yang akan dilakukan ketiga orang tersebut lakukan untuk kedepannya terus, dan bisa saja akan menimbulkan kekacauan yang lebih sehingga membuat nama kesatria tercoreng.
" Ka..kami minta maaf, kami tidak akan melakukannya lagi..., hukuman akan kami terima "
[ Hahh...Tau takut?, tapi malah membuat perkara sendiri dengan Claporth. ]
Dengan begini urusan wanita yang tertindas sudah selesai.
Eldania berjalan ke arah wanita yang masih duduk di jalan, jaket yang tergeletak ia ambil dan memberikannya ke wanita yang terlihat malang itu.
" Te..terima ka..sih " mengambilnya dengan secepat mungkin, dirinya masih syok dan ketakutan apatah lagi melihat seorang anak laki-laki di depannya memiliki penampilan yang sedikit dingin, itu terlihat di matanya yang menatapnya dengan tatapan datar dan satu hal lagi di tangan kanannya ada satu hewan yang ia heret bagai baru saja membunuh hewan tersebut tuk di jadikan santapan siangnya.
[ Ah.... ] melirik ke bawah lebih tepatnya ke tangan kanannya.
Kemudian dirinya menjatuhkan unggas itu ke bawah.
Secara spontan burung tersebut terjatuh dan langsung segera bangun agar bisa menapakkan kakinya dengan benar.
" Apa kakak tidak apa-apa? "
{ Kasar sekali } masih sedikit perlu waktu untuk memproses isi kepalanya yang sedikit pusing dan lelah sebab lama terbang dan lama di bawa dengan cara menyedihkan seperti tadi.
[ Kamu juga tahu sendiri aku itu seperti apa ] jawabnya dengan mengguaakan telepati.
" Ti..tidak kok, terima kasih a..tas bantuannya " jawab wanita yang menjadi korban penidasan tadi. Ia bergegas membersihkan dan merapikan bajunya yang sedikit kotor.
" Jangan berkeliaran disini nona, jika aku melihatmu lagi membawa tanaman itu pasti anda akan kami penjara " Peringa Claporth.
Beberapa hal yang pasti akan membuat kalian di penjara dan itu adalah membawa barang atau apapun yang ilegal ke wilayah kekaisaran, baik disini atau dimanapun pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi disebabkan perempuan yang di depannya baru mendapat musibah, jadi yang dapat diberikannya adalah sebuah peringatan.
" Baik tuan, tapi.... " bagaimanapun satu-satunya mendapatkan uang adalah bisa menjual barang uang dibawanya kepada kaum bangsawan, sebab tidak ada yang bisa menghasilkan banyak uang dalam sekali transaksi kecuali menjual barang ilegal.
" Ini untuk kakak, tidak seberapa tapi setidaknya jangan mengulangi hal yang melanggar wilayah ini yang akan membuat kakak menyesalinya " entah dari mana, Eldania memberikan satu kantung berisi perak kepada kakak perempuan tersebut.
" Saya akan ingat itu. " tanpa pikir panajang dirinya menerima uang tersebut, tidak baik menolak kebaikan dari orang lain. Itulah yang diketahuinnya sambil memandang sekantung koin itu.
__ADS_1
" Kami pergi dulu " Tuturnya sebelum meninggalkan wanita tadi.