Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Normal


__ADS_3

Dengan wajah kagumnya, bisa melihat gadis cantik yang terlihat familiar seperti orang yang ada di dalam kamarnya, kini dia tahu siapa gadis muda ini.


" Jadi kamu adiknya Arhes?. " Tanya pria ini, yang merupakan teman satu kamarnya Arhes.


Dari atas sampai ke bawah, dia menatapnya dengan begitu teliti pada seorang gadis yang lebih muda 8 tahun itu.


" Namamu Shera?. "


Untuk pertama kalinya namanya di panggil, Shera jadi gugup sendiri.


" I-iya. Saya Shera adiknya kak Arhes. " jawab Shera, dengan wajah memerah karena laki-laki di depannya itu terus saja memandanginya.


[ Wajahnya benar-benar mirip. ] tatapnya. Lalu dia kembali membuka suaranya.


" Apa kamu ma-...." namun semuanya langsung menghilang saat ada satu telapak tangan mendarat di belakang kepalanya...


TEPLAKK.....!!


Satu tamparan keras sukses mendarat di bagian belakang kepala pada pria bernama Nigel ini.


" Ahhww............." Merintih kesakitan karena di pukul lumayan kuat.


" Apa aku punya salah denganmu?. " protes Nigel, melirik ke arah tersangka pemukulan, sambil menggosok-gosok kepalanya yang masih nyeri itu.


Sambil berdecak pinggang, wanita berpakaian pelayan ini langsung menjawab.


" Kamu tidak punya salah padaku, tapi padanya. " Matanya menunjuk ke seorang gadis muda bernama Shera itu.


" Kau jangan sekali-kali menggodanya. " peringatnya.


" Ayo Shera. " menarik tangan Shera, lalu menyeretnya pergi dari sana.


" ................" memasang ekspresi seperti orang bersalah, Shera hanya bisa mengikuti kakak pelayan ini, dan pergi meninggalkan laki-laki berpangkat kesatria di istana Scnaider ini.


" kamu jangan mempedulikan kesatria seperti dia. " pintanya pada Shera.


" Mereka hanya berlatih dan numpang makan, tidur saja. Jadi tidak ada gunanya mendekati mereka. " tambahnya lagi.


Shera yang akan bekerja menjadi pelayan untuk pertama kalinya hanya bersikap menurut pada seniornya.


Deva, itulah nama dari kakak pelayan senior ini.


Orang yang akan membantu Shera untuk ke depanya, karena Shera sendiri masih merupakan orang baru, dan sebagai dalih bahwa Deva akan menjaganya selama bekerja di dalam istana Scnaider, itulah yang di pintahkan oleh Arhes pada Deva.


****


Mendesis kesal.


" Ahh........perempuan, tapi pukulannya keras sekali. " Nigel masih mengeluh sakit di belakang kepalanya.


" Jika dia laki-laki, aku sudah meninjunya. " Nigel hanya bisa bersumpah serapah, namun apa daya, dia tidak akan menyakiti perempuan.


Setidaknya itulah prinsipnya sebagai seorang laki-laki sejati, apa lagi dengan status sebagai kesatria.


Meski tidak setinggi yang di harapkan, namun menjadi kesatria, menjaga salah satu istana, juga merupakan satu kehormatan yang tidak semua orang bisa miliki pekerjaan sulit ini.


CIP........CIP........CIP...........


"................."


Pagi yang indah dengan di temani suara burung kecil yang berkicau, menyemangati hari.


Nigel benar-benar merasa damai saat suasana pagi seperti ini.


Selagi berjalan kaki menyusuri jalan setapak, Nigel menyempatkan dirinya untuk menghirup udara yang masih sejuk ini. Menghirupnya dalam-dalam lalu ia keluarkan perlahan lewat mulut.


Angin sepoi-sepoi turut andil dalam pagi yang akan di selimuti matahari yang cerah ini.


WUSHHH~~......


Dengan memejamkan nmatanya, sayup-sayup Nigel menikmati sensasi angin ini. Ketika terciuam aroma lembut, kelopak matanya pun kembali terbuka, di saat yang sama....langkah kakinya ikut berhenti berjalan.


Cip....Cip....Cip.........


Suara burung kecill yang berkicau, lalu.......


" Kita bertemu lagi. " suara dari seorang perempuan , sedang menyapa....


[ Siapa wanita itu?. ] Dari jarak 35 meter, Nigel melihat seorang wanita bertopi bundar dengan pita warna merah sedang berdiri di dekat salah satu pohon.


[ Apa yang mulia kedatangan tamu?. ] FIkir NIgel lagi. Lalu celingukan ke kanan dan ke kiri, tidak ada seorang pun yang mengawal nona muda itu.


[ Kenapa tidak ada pengawal?. ]

__ADS_1


Untuk menghilangkan rasa penasaran itu, Nigel pun pergi menghampiri.


TAP.........


" Kalian masih saja kompak. " Ujar wanita ini, disertai senyuman lemah, menghiasi bibirnya yang sudah sedikit terpoles oleh lipstik setipis-tipisnya.


TAP..........


Nigel masih berjalan mendekat.


Pelan tapi pasti.


Ketika jarak diantara mereka berdua semakin dekat, tak sengaja akhirnya Nigel melihat separuh wajah bagian bawah dari perempuan itu.


Dia sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirnya sendiri.


BLUSSHH......


".............! "


[ Apa-apaan dengan semua kelopak bunga di belakangnya?. ] sebuah Background berubah menjadi gambaran manis yang mewakili tingkah karakter perempuan itu.


Nigel jadi terkena halusinasi, pengaruh kuat yang terpancar darinya.


" Ah....., sudah kududga. " kembali menjilati bibirnya lagi.


" Rasanya aneh. " berakhir dengan protes kutukan kecil.


" Kualitasnya buruk, tidak ada rasa manis. " protesnya lagi, pada lipstik yang ia pakai hari ini.


[ Rasa apa ini?. Libih baik pakai lip blam rasa jeruk. ] mengecap rasa lipstik yang dia jilati.


Nigel yang kemudian makin jalan ke depan, dan karena terfokus pada wanita itu terus, membuatnya tidak sadar kalau di depannya ada satu ranting kecil tergeletak.


Sampai akhirnya dia tanpa sengaja menginjaknya.


KRAKK..........


".............! " All


[ ...............! ] merasakan gangguan dari belakang, tubuhnya merespon lebih cepat untuk bertahanan diri.


Dia mengambil langkah mundur satu langkah ke belakang, memutar tubuhnya ke belakang dan mengangkat ke dua tangannya. Setelah itu tangan kanannya menarik tangan laki-laki ( Nigel ) yang sudah terjulur ke depan itu, dia menguncinya langsung ke belakang tubuh dan mendorongnya ke depan, di pojokkan ke depan pohon.


Sampai beberapa daun berjatuhan, dan membuat kebur 3 burung kecil tadi.


" Ughh....! "


[ Dia....bisa bela diri?!. Pantas saja...tidak ada pengawal. ] batin Nigel.


[ Perempuan ini bsa mengunciku dengan kuat. ] TIdak bisa lepas dari kunciannya, meski sudah mengerahkan tenaganya.


" Siapa dan kenapa. " tanyanya, sambil menodongkan belati tepat ke leher Nigel.


WUSHHH.......


Angin yang datang tiba-tiba itu berhasil menerpa topi yang dari tadi di kenakannya, menampakkan rambut pendek sebahu yang lembut, dan menyemerbakkan wangi sampo yang dia gunakan.


Nigel tercengang dengan 3 hal itu, karena kali ini dia bisa melihat wajahnya lebih dekat dari yang seharussnya.


" Kat-......." kalimatnya terpotong, dan langsung melepaskan kunciannya setelah matanya menyelidik pakaian yang dikenakan laki-laki yang mengganggunya itu.


[ Dia melepaskanku?. ]


" kenapa melepaskanku?. "


" Karena kau orang sini kan?. " jawabnya sekaligus menebaknya.


Yah....apa lagi kalau bukan seragam yang di kenakan Nigel itu.


".................."


[ jangan-jangan tadi dia mendengarku berbicara dengan 3 burung tadi?. ] Dania memberikan tatapan menyelidik pada NIgel.


Dan Nigel...


[ Dia bukannya yang waktu itu memakai pakaian chef?. Kenapa sekarang.....dia....ah pantas saja. ] Nigel pun tersadar akan posisi orang yang ada di depannya itu.


" Kenapa mendatangiku?. "


" He?. " NIgel yang langsung di lontarkan pertanyaan seperti itu, jadi bingung harus menjawab apa.


" Mendatangiku, karena ada sesuatu yang kamu inginkan dariku kan?. " balas lagi dengan pertanyaan yang hampir sama, Dania benar-benar ingin memojokkan orang ini, karena sudah mengganggunya.

__ADS_1


" Saya hanya kebetulan lewat d- "


" Tidak usah berbicara formal denganku. " selanya dengan cepat.


" Apa?. "


" Non Formal. " ulanginya lagi, dengan kata yang lebih pendek.


Masih meminta penjelasan, Dania masih senantiasa menunggu pir aini bicara, alasan kenapa tiba-tiba datang mendektainya, apa lagi dari belakang layaknya penjahat yang mau menculik.


" Aku hanya penasaran, siapa seorang Lady yang berdiri sendirian di sini. Itu saja. " singkatnya, Nigel yang baru pertama kali melihat ada seorang wanita dengan pakaian cantik seperti seorang bangsawan, tiba-tiba ada di samping halaman istana.


Itu adalah satu kejadian yang langka, jadi itulah asal mula rasa penasarannya, karena Yang mulia sendiri tidak pernah mengajak seorang wanita bangsawan manapun masuk ke istananya.


Sambil mengambil topinya yang tadi jatuh, Dania kembali bertanya.


" Jadi sekarang sudah tidak penasaran lagi kan?. " memakai topinya kembali, Dania kemudian menatap orang ini secara terang-terangan.


" Iya. " mengangguk pelan.


Dania jadi tersenyum miring, dia tidak menyangka ada juga orang yang tertarik karena penasaran yang super sepele ini.


[ Sudahlah, aku mau keluar dulu. ] tiba-tiba teringat dengan urusannya yang tertunda.


" Tunggu sebentar. " pinta Nigel.


" Apa?. " menoleh kembali, karena di tahan, dengan permintaan 'tunggu'.


" Apa aku kekurangan sesuatu?. "


" Lipstikmu sedikit terhapus. " menunjuk ke daerah bibir.


" Ohh........." menyadarinya karena ulahnya tadi, Dania jadi memutuskan untuk menghapusnya dengan punggung tangannya.


" Sudah seharusnya aku menghapusnya. "


" Padahal itu cocok. " ujar Nigel.


" Itu godaan atau pujian?. " tanya Dania, karena ada 2 pengertian yang saling terhubung satu sama lain.


" Sepertinya dua-duanya. " Nigel jadi tertawa geli, karena langsung ketahuan.


Dania kurang suka, jika tiba-tiba di tertawakan seperti itu, padahal tidak ada yang lucu.


KWAK......


" Everst!. " Dania yang langsung teralihkan dengan suara itu, langsung kabur mencari asal dari pemilik suara tersebut.


Meninggalkan NIgel yang masih berdiri di tempatnya.


Di dalalm balutan baju yang sedikit kurang nyaman, karena hari ini untuk pertama kalinya dalam hudupnya memakai pakaian wanita, Dania jadi sedikit mengangkat rok nya.


Dia berlari hampir menuju gerbang istana, dan akhirnya yang di temukannya adalah..


Burung dengan warna bulu hitam, siapa lagi kalau bukan si Raya.


" Jalan Raya. " panggilnya dengan lirih.


Melihat si Raya sedang bertengger di atas pagar besi.


KWAK........KWAK........ { Dimana dia?. }


".................." Dania yang kembali diharapkan angan-angan yang tidak terwujud itu, mengabaikan pertanyaannya Raya.


Melihatnya sama saja mengingatkannya.


Sebuah perasaan yang tidak bisa ia mengerti, perasaan rindu yang teramat sangat.


Dan obat kerinduan itu tidak bisa di temukan, Dania yang mengalami dilema akan sepeninggalnya Everst.


Menjalani hari-harinya penuh dengan kekurangan.


Tidak ada harta yang lebih berharga ketimbang teman yang sudah saling mengerti satu sama lain.


Sambil mengurusi dilema di dalam hatinya, Dania pun berkeliling kota untuk pertama kalinya dengan penampilannya yang beda dari pada yang pernah ia pakai itu.


Suatu dampak yang ingin dia lihat, dari tubuh dengan pemilik wajah yang jika di rawat, bisa memiliki nilai kencantikkan tersendiri.


########


Menjalani hari sebagai orang normal, di samping masalah mamsih memikirkan partnernya yang sudah tidak ada?.


Dania hanya mencoba mencoba hal baru itu, meski memiliki satu kekurangan di dalamhatinya, itu tidak membuat Dania sepenuhnya terlarut dalam keksedhian terus menerus.

__ADS_1


Selanjutnya.........


__ADS_2