Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Istana Schneider


__ADS_3

Perasaan panik menyelimuti pria bernama Archduke, ia berteriak keras memanggil siapapun yang ada di luar untuk bergegas mencari pendeta maupun dokter.


Di kekaisaran Rovathia baik pendeta maupun dokter pasti ada. Karena dalam aturan di kekaisaran tersebut, pendeta lebih ditujukan ke penyembuhan luka saja sedangkan dokter dari segi bidang masih banyak cabangnya sehingga bisa selain menyembuhkan pasien untuk keadaan darurat jika pendeta belum datang, seorang dokter juga sekalian bisa membantu memulihkan keadaan mental si pasien itu sendiri.


《 Yah...author hanya berpikiran seperti itu 》


Malam itu juro Vidal lah yang pergi keluar mencari kenalannya untuk membantu pasien kecilnya.


Tidak sampai 10 menit akhirnya dokter lah yang datang karena lebih dekat ketimbang tempat suci dan lagi pula kebetulan bisa bertemu di jalan.


Di dalam kamar itu sedang terbaring satu budak kecil di atas ranjang.


Satu tangan dari Rachduke mengambil handuk hangat untuk membersihkan darah yang tersisa di wajah si anak tersebut.


Wajah yang tenang dan tidak ada menunjukkan rasa sakit, sangat bertolak belakang untuk anak kecil pada umumnya.


Tok...Tok...Tok...


Archduke berdiri dari sisi Danie sambil berkata


" Masuk "


Seorang dokter dengan menggunakan kemeja yang rapi serta koper yang pasti berisi beberapa obat, surai pendek berwarna abu-abu, dan manik mata yang sama dengan rambutnya sangatlah cocok. Apatah lagi dokter ini adalah seorang wanita yang berparas bagai pria.


" Saya akan memeriksanya "


Tuturnya, lalu koper kecil berwarna hitam yang di tentengnya ia letakkan di meja kecil.


Tanpa sepatah kata, Archduke pergi keluar agar tidak mengganggu pekerjaan si dokter tersebut.


10 menit kemudian~


" Bagaimana keadaannya? " Tanya Archduke pada Aria Lycene nama dari dokter tersebut.


[ Ngga biasanya tuan Arch perhatian pada orang lain sampai tingkat seperti ini ]


Fikir Vidal pada tuannya sendiri.


" Dia memiliki luka robek sepanjang 7cm, jika tidak ditangani oleh pendeta baru sembuh 2 minggu. Luka memar akan sembuh dalam beberapa hari, jangan membuatnya berpikir keras dan ini obatnya " jelas Aria sembari memberikan beberapa obat untuk meredakan rasa sakit.


" Besok kembali lagi " pinta Archduke


".........., saya pulang dulu " sudah malam tentu saja pulang, Aria sedikit menunduk hormat pada tuan dari majikannya sendiri.


Vidal yang sedari tadi mendengarkan, ia turut pergi mengantarkan Dr.Aria pulang.


Sedangkan Archduke hanya berpikir untuk istirahat saja, toh dia sudah dirawat oleh dokter.


******


Danie POV.


Aku sering di disebut bocah kue.


Selalu hancur ketika sudah mendapat tekanan. Hidup memang keras, karena itu mempercayai orang lain adalah hal yang lebih sulit dari pada sekedar ucapan belaka.


Aku tidak tahu apa yang terjadi kecuali ingatan terakhir aku sempat memeluk tubuh kekar dari pria yang dipanggil yang mulia Archduke.


Mau dibuat hilang ingatan juga tidak bisa, kepalaku seolah-olah tahan benturan dalam artian tidak ada efek apapun walau sudah beberapa kali terbentur keras.


Aku bisa berada di tempat paling nyaman adalah keberuntungan buatku, namun tetap saja bukan tempatku sendiri.


Dari semalam sebenarnya aku sudah sadar, jadi hanya bangun dan tidur lagi tanpa berbuat sesuatu.


[ Tubuh anak kecil memang lemah ] aku tahu akan keadaan tubuhku sendiri.


Tiba-tiba tekak ku merasa ingin dibasahi air, dari awal aku memang belum minum semenjak makan sambil berdebat.


Aku memutuskan turun dari kasur yang....


[ Tinggi...] saking empuknya membuatku harus turun dengan melompat, yah..jika aku turun ala anak kecil sungguhan itu sangatlah tidak efisien.


Mencari makan dan minum adalah tujuanku kali ini, dengan begitu bisa memiliki mana untuk menyembuhkan beberapa luka dan memar.


Tapi apa daya, hanya ada air kosong saja di meja, dan itu pun tempatnya tinggi.


[ Sialan, menyusahkan saja untuk tinggiku yang sekarang ] aku hanya bisa menggerutu dalam pikiran.


Jika harus memindahkan kursi ke depan meja yang ada di pinggir tembok justru akan menguras tenagaku lebih banyak, walau tanganku bisa menggapai meja bagian atas, namun karena posisi air minumnya ada di pojokan maka mau tak mau aku mengambil ancang-ancang untuk berlari dan HAP......Kedua tanganku menopang tubuhku di atas meja dan melompat .


Akhirnya aku bisa di atas meja dan mengambil minuman yang aku mau.

__ADS_1


CUURR.......Glekk...glekk....glekk...


CURRR.......Glekk....glekk....glekk...


Normal POV.


Satu daun pintu kamar yang di tempati Danie tiba-tiba terbuka, Danie yang sadar akan seseorang yang hendak masuk mencoba diam saja.


KRIEEETTT......


Rupanya Vidal lah yang masuk, dimana ia membawa beberapa pakaian di tangannya.


Untuk sesaat dia tidak mengetahui keberadaan anak pungut itu, karena pemandangan yang di lihat pertama kalinya adalah kasurnya kosong.


" Dimana kamu? "


" ........ "


Vidal berputar melihat ke segala penjuru dan barulah ia mendapati anak kecilnya ada di sebelah pintu sedang berdiri di atas meja dengan gelas ada di tangannya.


Dia berjalan mendekat lalu uluran kedua tangannya mengangkat tubuh kecilnya lalu di gendong keluar kamar melewati lorong dan menuruni anak tangga, beberapa pelayan menunduk hormat pada kedua orang itu lalu Vidal pergi ke ruang makan dan meletakkan Danie di kursi.


Tak lama kemudian seseorang masuk dan duduk di kursi paling ujung, sedangkan Vidal duduk beberapa kursi dari urang tadi, juru masak serta bebrrapa pelayan menghidangkan mereka bertiga makanan.


" Eh.....! "


[ Kenapa kenapa aku bisa disini? ]


melirik ke beberapa tempat semuanya memperhatikan dirinya termasuk laki-laki semalam.


" Apa makanannya tidak sesuai seleramu? " Tanya Archduke.


" Tidak "


Setelah ayat itu, kali ini tidak ada pembicaraan apapun. Hanya ada suasana hening sekaligus canggung?, yah...itu sedikit canggung, dimana sang majikan sedang makan sedangkan pelayan hanya berdiri di samping jikalau ada hal yang dibutuhkan oleh tuannya.


10 menit kemudian~


Setelah makan, barulah Danie mandi dan mengganti baju.


[ Dia tidak mempermasalahkan aku memakai pakaian dengan celana? ]


[ Dia memang pengertian ] fikirnya sambil menggangguk-anggukkan kepala.


Lalu ia memakai baju baru yang didapatinya dari yang mulia Archduke.


" Tuan muda, apa anda butuh bantuan nenek? " datang satu nenek si kepala pelayan.


" Saya bisa sendiri "


" Baiklah, nanti dokter akan datang,


bersiaplah "


[ Jika dia dokter, harusnya bisa menyembuhkan bekas luka ku kan?. Tapi dibalut perban juga enak, tanganku jadi hangat terus ] karena kebiasaan yang sudah berlangsung lama, jadi hal semacam itu sudah tidak menjadi masalah.


[ Tapi perban di kepalaku sudah seperti bando. Menjijikan ] ketika kedua tangannya hendak melepas ikatan perban di kepalanya, tanpa sadar Archduke sedang menatap dirinya dengan raut wajah datar, dimana tubuhnya sedang bersender di sisi pintu.


" Apa itu membuatmu terlihat jelek? " Tanya Duke, lalu ia berjalan mendekat ke Danie.


" Iya " masih mengutak-atik perban.


Tangan kanan Archduke menghentikan tangan Ruby( Danie )


" Tunggu sampai pendeta dan dokter datang "


[ Apa harus sedekat ini? ]


Untuk menyamakan tingginya, Archduke rela berjongkok sehingga wajah keduanya boleh diakatakan cukup dekat.


" ..............."


CKLEKK......


Satu pintu terbuka, dimana Dr.Aria sudah datang dan menemukan oemandangan lain dari yang lain.


Bagai ayah dan anak, tidak biaa di pungkiri Aria walaupun ekspresinya datar, namun ia memiliki pemikiran yang sama dengan orang-orang di istana.


[ Dua orang ini apa anak dan ayah? ]


Lalu di belakang Aria barulah si pendeta muñcul.

__ADS_1


Dan berbisik di tepat di telinga Dr.Aria.


" Apa kamu juga berpikiran sama dengan yang aku pikirkan sekarang? "


" Sepertinya begitu " jawab Dr. Aria dengan berbisik juga.


Danie sedikit memiringkan tubuhnya dan melihat dua orang yang masih ada di pintu lalu berkata...


" Jangan memikirkan hal yang harusnya tidak kalian pikirkan. Tidak semua yang kalian lihat adalah kebenaran, aku dan yang mulia ini tidak ada hubungan apapun "


[ Aura yang berani ]


" Maafkan kami " jawab Aria.


Archduke tetibe tersenyum dalam diam.


[ Lagi-lagi, ucapannya seperti orang yang kena salah paham ] ia bangkit lalu keluar kamar.


Selama beberapa waktu pendeta melakukan pekerjaannya, dengan kekuatan sucinya ia menyembuhkan luka di kepala si pasien lalu di beberapa bagian yang ada di tubuh, setelah itu karena urusannya selesai ia segera pergi.


Setelah itu barulah Dr. Aria memeriksa seberapa persen tingkat keberhasilan si pendeta menyembuhkannya.


[ Hanya 90% , tapi bekas lukanya tidak hilang juga. Harusnya bisa hilang, apa pengobatannya harus dilakukan dengan cara biasa? ]


Aria melepaskan perban di kepalanya Danie dan melihat masih ada sedikit bekas luka yang terbuka jadi belum sembuh seutuhnya, sedangkan di lengan dan lainnya juga sama.


" Aku tidak semenyedihkan itu. " Danie memakai kembali pakaiannya, tidak masalah karena memang dalam kondisi seperti anak-anak dan lagipun Dr.Aria adalah perempuan juga.


" Mulut anda tajam juga, apa anda memang seseorang yang pendiam? "


" Entahlah, aku hanya akan berbicara jika memang ada yang perlu dibicarakan "


" Biasanya di umur seperti anda, menjadi anak kacil akan selalu ribut. Tapi anda kelihatan berbeda "


[ Sebenarnya apa yang dia bicarakan sih? ]


Tatap Danie pada dokter itu.


" Apa anda tahu kalau orang-orang di istana ini kebanyakan orang asing? "


" Ya? "


[ Aku tidak terlalu memikirkan kalian berasal dari mana, toh kalian masih manusia ]


" Saya hanya memberitahu anda, Marsha, Benjamin, Sanco , Vidal dan juga saya semuanya datang dari luar negeri. Anda mungkin tidak punya kesempatan untuk bertemu para kesatria yang mulia Archduke, tapi mereka juga orang asing. Hal ini karena yang mulia Archduke tinggal di luar negeri untuk waktu yang lama. Karena itu, anda anggap saja di istana ini taman bermain, karena mereka semua tidak tahu dan mau tahu untuk mementingkan hukum di kekaisaran ini. Jangan menjadi terlalu dewasa karena tidak pantas di umur anda yang masih belia " Jelas Aria panjang lebar.


" Mau mondar-mandir di istana tanpa alas kaki, menggunakan celana, tertawa keras, duduk santai di lantai, tidak akan ada yang mencegahnya "


" Lumayan, bebas "


" Pfft....begitulah. "


" Aku tidak tahu jika di kekaisaran ini ada dokter juga "


" Disini, Pendeta hanya di anggap pendamping dokter. Walaupun pendeta bisa menyembuhkan semua luka sekalipun itu patah tulang, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa pendeta lakukan "


[ Yahh...benar juga sih, seperti gangguan mental, pendeta tidak akan mengurusi orang seperti itu, namun dokterlah yang akan turun tangan ]


Pada akhirnya mereka berdua bisa berbincang untuk beberapa saat.


Perbincangan mereka sudah bagaikan dua orang yang sudah kenal lama, padahal baru dua kali pertemuan.


Hingga sampai Vidal datang hanya untuk menemui Dr.Aria dan memberitahunya agar pergi menemui Archduke jika benar-benar sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.


Jadi dengan terpaksa Dr.Aria meninggalkan pasiennya dengan Juro Vidal.


Satu tenungan dari Vidal mengarah ke Danie secara langsung.


[ Kenapa dia menatapku? ]


Yang ditatap memalingkan pandangannya ke tempat lain.


" Apa kamu ingin jalan-jalan? "


Yang di ajak menganggu tanda mengiyakan ajakan Vidal, Vidal pun hanya diam lalu memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu.


Keduanya berjalan bersama, dikala Vidal memimpin jalan Danie, Danie sendiri sebenarnya tidak tahu mau apa di istana seperti ini.


Walaupun di istana ini bisa bebas dalam bertingkah, namun tidak sebebas ketika di hutan.


Lalu masalah dirinya bisa menjadi kecil juga merupakan pertanyaan yang besar yang datang di dalam pikirannya. Tidak mungkin akan selamanya mengulang untuk menunggu pertumbuhannya menjadi semula, tetap saja pasti ada yang bisa membuat dirinya kembali normal.

__ADS_1


__ADS_2