Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Getar Asmara


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Lana bertugas jaga di rumah sakit. Ia belum menyadari sesuatu. sampai akhirnya ponselnya berbunyi tapi Ia tak mengenal nomor itu dan tertulis


"sempatkan ke ruanganku, tasmu tertinggal di mobil semalam". bunyi pesan singkat yang masuk ke ponsel Lana.


"nomor siapa ini??" gumamnya dalam hati


Lana mengingat ingat kembali, tasnya yang Ia cari dari tadi pagi.


"Aaah.. cerobohnya aku... "pekik Lana tiba2


"ada apa dok??" tanya Dewi kaget melihat Lana yang tiba2 bersuara.


"Aah tidak... maaf bikin kaget ya wik.. saya permisi sebentar, tolong kalau ada pasien segera hubungi saya ya". pinta Lana ke Dewi


"Iya dok.."


Lana berjalan terburu buru menuju lift, dia bertemu asisten Rio di depan lift.


"Mas.. bisa minta tolong ya, ambilkan tas saya ada di Pak Ivan" dengan wajah memelas meminta pada Rio.


"ehmm... maaf dok saya tidak bisa, tadi Pak Ivan berpesan dan meminta anda sendiri yang mengambil". jawab Rio ramah


"oh oke.. " dengan wajah tampak lesu Lana melanjutkan langkah menuju ruang direktur.


tok.. tok.. tok..


"Ya Masuk... !" suara Ivan dari dalam.


"Maaf dok, saya mau ambil tas saya" Lana tetap berdiri.

__ADS_1


Ivan bangkit dari duduknya menatap Lana dan berjalan perlahan ke arah Lana,


Lana dan Ivan bertatapan cukup lama, sampai jarak Ivan dan Lana yang tinggal beberapa meter saja.


Lana menatap Ivan demikian sebaliknya, mencari adakah ketidakjujuran di mata masing2 dari mereka tapi mereka tak menemukan kebohongan..


Jantung keduanya berdegub tak beraturan, manik mata keduanya bertautan.


deg.. deg.. deg...


"ini tasmu.. " Ivan memberikan tas itu ke tangan Lana.


Lana masih berdiri mematung memandang Ivan, lalu Ivan meraih tangan Lana dimana yang kiri Ia berikan tasnya dan diraihnya tangan kanan Lana diarahkan ke dada kiri Ivan.


Lana merasakan degub jantung Ivan yang tak beraturan.


"Lana... kamu rasakan sendiri debaran ini, sampai kapan kamu biarkan seperti ini??" Ivan bertanya pada Lana


"Aku masih ada pasien, maaf aku kembali dulu" ucap Lana dengan gugup.


Lana berbalik badan tapi Ivan tiba2 menarik tangannya.


"aku selalu tunggu jawabanmu". lalu Ivan melepas tangannya.


Saat keluar ruangan Lana memegang dadanya yang juga berdebar tak teratur. Ia berjalan ke arah lift sambil memegang dada kirinya.


"ini apa?? kenapa debarannya hampir sama seperti debaran di dada Ivan tadi??" Lana bergumam sendiri.


Tiba akhirnya jam pulang, Lana terlihat terburu buru menuju parkiran.

__ADS_1


"Lan.. Lana... " Santi teriak karena Lana terburu - buru.


"Eh.. loe San.. ada apaan??


" Ini gue mau kasih undangan ke loe, gue mau tunangan Lan..". Santi tersipu malu


"Whaaaat the..?? sama siapa?? loe kok ga crita2 sih??" Lana cemberut karena merasa ketinggalan berita.


"Loe tau kok orangnya.. "


"bentar2..." Lana membuka undangan itu dan melihat nama calon tunangan Santi. Lana membelalakan matanya.


"Sumpe loe Saannn... jadi juga sama Dio??" Lana kegirangan


"kan Elo sendiri yang nyuruh Dio nembak gue.."


"mamak berani apa... si Dio dengerin kata2 gue... ha ha ha..."Lana terbahak karenanya..


"selamat ya San.. selamat beranak pinak kucingnya ha ha ha".


"kok kucing sih Lan??". Santi heran dengar kata2 kucing.


"Habis tiap dia pingin nanyain loe.. mesti nanya kucing loe dulu.. seperti "Lan kucing2 Santi gimana? kucing Santi sehat ga?... ha ha"


"Ah Elu bisa aja... yang penting harus dateng loe Lan!!".. pinta Santi


"Iye gue usahain". Lana memeluk Santi dan Santi berbisik


" iyee.. bawak pasangan loe ye.. ha ha ha". ledek Santi ke Lana.

__ADS_1


"hmmmm... kalau itu ga janji, udah ya gue buru - buru".. Lana ngeloyor dengan motornya.


__ADS_2