Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Akhirnya bicara


__ADS_3

"Haaah.. ampuun Paak.. ampuun ga lagi..." teriak Lana saat melihat orang yang berpapasan tadi pagi tiba2 mengejarnya dan membawakan sapu untuknya..


"Kalau jalan lihat jalan..." berkali kali kalimat itu juga di teriakan.


"hah.. hah.. hah.. untung cuman mimpi". Lana terbangun sambil dengan nafas terengah engah.


"Huuuuuh.. kenapa juga mimpiin orang aneh, merusak tidurku aja". Lana menggerutu


akhirnya Lana terbangun dan bersiap siap karena tadi sebelum tidur Ia menerima pesan Santi untuk fitting kebaya sore ini.


akhirnya mereka sudah selesai fitting kebaya wisuda dan bermaksud kembali ke rumah masing2.


"Eh San.. akhir2 ini gue suka dag dig dug gitu"


"Emang kenapa loe, lagi khawatir sesuatu ya? bukannya loe sudah lulus ini sudah koas walaupun kita belum wisuda apalagi neng???". Santi nyerocos kayak petasan.


"Dih.. nih anak kayak petasan. Gue juga belum tau kenapa tapi besok mau coba konsul sama dokter Maya buat EKG"


"Waah segitunya Lan... " Santi geleng2 kepala.


"habisnya setiap ketemu sama tu orang bawaannya kayak marathon gitu ni jantung". Lana pasang tampang serius, karena Ia juga masih bingung akan yang terjadi padanya.


"Whaat the... emang ketemu siapa??"


"Ada orang beberapa kali gue seruduk dia pas jalan, itu juga kagak sengaja San.. tapi udah ketemu beberapa kali, ga tau namanya and ga tau siapa".


"Jangan2 loe falling in love sama tu orang neng". goda Santi


"Masa iya kenal juga kagak, mana terakhir jutek banget dah gitu ngatain gue gini "kalau jalan lihat jalan jangan lihat HP" gitu san ".


" Ha.. ha.. ha ... loe merasa di teror kali ma tu orang".

__ADS_1


"Aah sudah lah.. mungkin karena gue kecapean, besok pokoknya mau cek ke dokter Maya".


Lana memang seorang yang pintar dan cerdas tapi untuk urusan hati memang tidak pernah dia alami, untuk jatuh cinta atau pacaran belum pernah dia rasakan.


Keesokan pagi


"dokter Lana, hari ini direktur ingin bertemu dengan dokter pukul 09.00" perawat jaga menyampaikan pesan dari asisten Rio.


"Oh ya.. terima kasih". Lana tersenyum pada perawat itu.


Lana bergegas menuju ruang direktur di lantai 5 rumah sakit itu.


keluar dari lift, Lana disambut asisten Rio yang langsung menunjukkan ruangan direktur.


"tok.. tok.. tok.." Lana mengetuk pintu itu.


"Masuk". Ivan bersuara


"Silahkan duduk".


Lana duduk di depan Ivan, dilihatnya nama yang tertera dr. Ivan S Raharja, namun iya hanya melihat kursi yang menghadap terbalik membelakanginya.


"dokter ILana Saraswati... sudah berapa lama anda bekerja di sini??" tanya Ivan masih memunggungi Lana


"Saya baru masuk minggu ke 3 dok, maaf apa saya melakukan kesalahan??" tanya Lana bingung takut kalau2 Ia tengah melakukan sesuatu yang tak baik.


"Kapan anda wisuda??"


"Bulan depan dok, di awal bulan minggu pertama". Lana makin bingung


"Hmmm... Oke.."

__ADS_1


"apaan sih nih orang cuma hmmm... oke.. bikin bingung aja". Lana bergumam dalam hati


"Makan malam sama saya nanti jam 20.00, saya tunggu di lobby dan tidak ada bantahan". Ivan tersenyum tipis


"Apa dok?????" Lana tersentak dan berdiri di depan Ivan sambil melongo melihat orang yang membelakanginya saat ini.


"Nanti malam saya tunggu di lobby sesuai yang saya sampaikan, karena saya belum tau dimana rumahmu". ucap Ivan dengan santainya


"Apa-apa an nih orang ngajak makan malam dadakan mana baru kenal, dasar stress". Lana ngedumel sendiri dalam hati tak menghiraukan bahwa yang di umpat adalah atasannya.


"Tapi maaf dok, kita tidak saling kenal dan baru kali ini saya menghadap anda, lalu apa kapasitas saya hingga bisa makan malam bersama anda". Lana masih berusaha sopan karena masih dalam lingkup pekerjaan.


"kapasitasmu adalah kekasihku!"


"Appppaaaaa??" Lana tak habis pikir dengan direkturnya ini, masih tetap berdiri dan melongo


"tak ada bantahan, atau saya batalkan koasmu juga gelarmu di fakultas!"


"mimpi apa gue semalem ketemu direktur aneh bin ajaib kayak gini, kekasih pala peang!!" menggerutu masih dalam hati


"hmmmm... baik dok, saya turuti hanya sebatas makan malam tidak untuk kekasih".


Lana berucap sambil menghela nafas kasar, biar bagaimanapun Ia tak bisa berkutik karena masih koas dan ingin menyelesaikan dengan baik dan menjadi dokter seperti yang ia cita citakan.


"satu lagi.. tidak ada kontak fisik apapun itu, sebatas makan dan mengunyah makanan". Lana menekankan kata makan


"sabar Lan... ujian ini.. ujian.. dasar orang kaya semaunya.. lihat aja ntar kalau sudah selesai koas dan ijazah sudah keluar gue cabut dari sini, ogah ketemu demit macam ni!!". celoteh hati Lana..


"Baik dok.. saya permisi". bergegas mundur dan ingin cepat keluar dari ruangan itu.


"ingat jam 20.00 di lobby". Ivan tersenyum tipis lagi.

__ADS_1


"baik". Lana sambil menghentak kakinya.


__ADS_2