Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Istriku


__ADS_3

Hari sudah semakin siang ketika Ivan dan Lana keluar dari kamar hotelnya untuk kembali ke apartement dan menjenguk ibunya Sarah.


"Sayang.. ayo kita cari makan dulu, tadi kan ga sempat makan gara2 kamu!!" ucap Lana yang sudah tidak bisa menahan laparnya, padahal setelah melakukan aktifitas panasnya dengan Ivan Lana sempat memesan sarapan melalui room service.


"Apa?? makan?? Ah iya.. bentar ya.. kita mampir di restaurant dekat sini ya". Ucap Ivan buru2, Ia tak mau menolak Lana karena takut Lana ngambek lagi. Ivan sebenarnya juga heran beberapa minggu ini Lana memiliki selera makan yang semakin meningkat. Badan Lana juga sedikit berisi.


Setelah sampai di sebuah restaurant dekat rumah sakit, Ivan dan Lana memesan makanan dan menikmati kebersamaan mereka siang itu, Ivan dan Lana memang sedikit sibuk beberapa minggu ini karena itu di waktu mereka bisa libur bersama maka akan begitu menikmatinya.


Setelah selesai makan, Lana sedikit bingung ketika mereka tidak membayar sepeser pun untuk makanan yang dimanakannya.


"Sayang.. kok kamu ga bayar sih??" ucap Lana bingung.


"Ya ga bayar.. kita kan pemiliknya masak bayar" ucap santai Ivan sambil meraih pinggang Lana dan berjalan menuju parkiran.


"Maksudnya restaurant itu jugaaa..."


"Iya.. punya kita.. soft opening minggu ini, aku belum sempat kasih tau kamu sayang.. makanya aku selalu bilang ada proyek baru, maaf ya.. " sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"hmmm.. banyak yang ga aku tau ya.." ucap Lana.


"Sebenarnya aku mau bikin kejutan buat kamu, maaf ya jadi ga bagus kejutannya" ucap Ivan memegang tangan Lana ketika sudah sampai di parkiran.


"Ga pa2 kok, aku sudah sangat bahagia punya suami seperti kamu" ucap Lana sambil memandang suaminya sendu.


Mereka bertatapan kembali dan Ivan memberikan kecupan di bibir istrinya, membuat mata Lana membulat karena terkejut.


"Ih.. apa sih kok di sini cium2 ntar ada yang lihat gimana??" ucap Lana dengan pipi memerah menahan malu.


"he he he.." ucap Ivan sambil membukakan pintu mobil untuk Lana.


Lana masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah semu menoleh ke kanan kiri depan belakang melihat kalau2 ada yang melihat tingkah suaminya tadi. Ia tak bisa membayangkan kalau ada yang lihat. Lana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Wah.. pemandangan yang romantis" seru manager restaurant yang tadi di hubungi Ivan untuk menyiapkan makan siangnya.


Akhirnya Ivan dan Lana meninggalkan restaurant untuk menuju rumah sakit dan menjenguk ibu Rahma. Perjalanan tidak begitu lama karena posisi dari hotel ke restaurant dan ke rumah sakit tidaklah berjauhan.


Mereka berdua sudah tiba di rumah sakit, memasuki lobby rumah sakit dan di sapa beberapa petugas yang sedang berada di depan.


Berjalan sambil tetap bergandengan tangan masuk ke dalam lift menuju lantai 3 dimana ibunya Sarah di rawat.


"tok.. tok.. tok..." Ivan mengetuk pintu kamar 302 itu.


"Iya masuk... " suara Sarah sambil membukakan pintu.


"Ivan.... " suara Sarah terdengar senang ketika melihat Ivan. Dilihatnya pula Lana yang berdiri di belakang Ivan.


"Siang Sar... boleh masuk??" ucap Ivan.


"Si.. siang Van... " entah mengapa ketika melihat Lana, Sarah menjadi gugup.


"Siang dok, silahkan masuk" ucap Sarah, Ia masih belum tahu bahwa Lana adalah istri Ivan pria yang masih di cintainya hingga saat ini.


Ivan melangkahkan kakinya masuk di ikuti Lana, mereka sejak di depan pintu sudah melepas genggaman tangan satu sama lain, sesuai dengan permintaan Lana karena Ia belum dikenalkan sepenuhnya ke Sarah. Lana masih ingin menjaga perasaan Sarah.


Ivan sudah berdiri di sebelah ranjang ibu Rahma, mencium tangan wanita paruh baya itu dan tersenyum.


"Tante.. gimana sudah enakan??" ucap Ivan masih dengan senyum tulusnya.


"Ivaan... tante ga tahu kamu juga bisa ada di sini, tante sudah lumayan membaik, di sini perawat dan dokter memperlakukan tante dengan telaten". ucap Bu Rahma pelan.


Bu Rahma senang karena Ivan bisa datang menjenguknya, dulu Bu Rahma sangat ingin Ivan bisa jadi menantunya karena menurutnya Ivan adalah anak yang sopan dan lembut sikapnya.


"Ivan senang tante sudah membaik, nanti mulai diperhatikan makannya ya te.. sekarang di usahakan lebih banyak makan yang rebusan" ucap Ivan tulus karena sudah menganggap Bu Rahma adalah keluarganya.

__ADS_1


"terima kasih nak" ucap Bu Rahma.


"Oya.. saya ke sini juga mau kenalin seseorang sama tante dan Sarah". ucap Ivan sambil menarik tangan Lana mendekat ke arahnya.


"siapa Van?? ucap Sarah, yang hatinya mulai bergemuruh ketika melihat Ivan menarik tangan Lana dengan lembutnya.


"Ini istri saya te.. Sar..., dokter ILana Saraswati" ucap Ivan memperkenalkan Lana.


"Cantik ya.. seperti namanya, salam kenal sayang.. saya mamanya Sarah". ucap Bu Rahma lembut.


"Salam kenal tante..." sambil mencium tangan Bu Rahma.


"Salam kenal Dok.. terima kasih sudah membantu mama saya" ucap Sarah mencoba tegar walaupun hatinya sakit, karena selama ini Ia putus kontak dengan Ivan dan masih mencoba mencari keberadaan Ivan, Ia tak menyangka harapannya pupus begitu saja saat kini bisa berjumpa kembali dengan Ivan.


Lana tersenyum pada Sarah, akhirnya setelah beberapa saat berbincang dengan Bu Rahma mereka meninggalkan ruangan itu, Ivan lega karena sudah memperkenalkan Lana pada Sarah dan ibunya, Ia berharap tidak akan ada lagi salah faham antara mereka.


Sementara di dalam kamar Bu Rahma, Sarah terduduk di sofa dan meneteskan air matanya. Bu Rahma melihat itu dan berusaha menenangkan Sarah.


"Sudah sayang.. mama tahu kenapa kamu menangis, semoga inilah yang terbaik hingga kamu bisa melupakan nak Ivan, biar bagaimanapun kamulah yang pergi meninggalkan Ivan demi cita2 dan karirmu waktu itu, kamu harus menatap masa depanmu lagi". ucap Bu Rahma pelan karena masih sedikit lemah.


"Ini menyakitkan ma.. orang yang selama ini aku cari dan aku ingin minta maaf serta berharap kembali padanya ternyata setelah bertemu dia sudah punya cinta yang lain.. hiks hiks.. " Sarah tersedu di hadapan ibunya yang sedang sakit.


"sudahlah sayang.. huk.. uhuk.." ucap Bu Rahma sedikit terbatuk karena merasa sesak nafas.


"Maafin Sarah ma.. mama ga pa2?? Sarah panggilkan dokter ya??" ucap Sarah panik sambil berjalan ke ranjang.


"Sudah sayang.. mama ga pa2, kamu harus kuat ya" sambil membelai tangan Sarah.


Hari itu ada dua perasaan berbeda di dua tempat berbeda, Ivan yang merasa lega karena sudah menyelesaikan salah faham istrinya. Di sisi lain Sarah dengan perasaan sedihnya karena merutuki dirinya sendiri.


"Van.. aku masih cinta kamu" lirih Sarah duduk di balkon ruang rawat ibunya sambil memandang langit yang penuh bintang.

__ADS_1


__ADS_2