Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
1.61


__ADS_3

"Kamu takut kenapa Kila?"


"Kila takut kalau Kila hamil bibi"


"Kenapa Kila takut bukankah setiap pasangan suami istri itu sangat menginginkan kehadiran seorang anak?" Tanya bibi Siti heran dengan apa yang diucapkan kila.


"Bibi memang benar tapi mana mungkin mas Richo menginginkan anak dariku sedangkan dia tidak pernah mencintaiku" Kila menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Masuk kamu apa Kila?" Bibi Siti tidak mengerti apa maksud Kila jika Richo tidak mencintainya.


Kila terdiam semakin menunduk ia ragu untuk menceritakan pernikahannya dengan Richo pada bibi Siti.


Melihat Kila diam bibi Siti mencoba memberi ketenangan pada Kila ia mengusap lembut rambut Kila dan berbicara pelan pelan padanya.


"Kila jika kamu ada masalah berbagilah dengan bibi siapa tau bibi bisa membantumu. Kamu tidak perlu sungkan pada bibi karena bibi sudah menganggap Kila ini seperti anak bibi sendiri. Bercerita lah nak"


"Sebenarnya mas Richo menikahi ku bukan karena cinta"


Bibi Siti terkejut mendengarnya "Lalu kenapa tuan menikahimu?


"Karena mas Richo ingin anak-anaknya mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang tua yang lengkap"


Kila menceritakan semuanya pada bibi Siti kenapa ia bisa menikah dengan Richo dan bagaimana ia dan Richo menjalankan rumahtangganya selama ini.


Mendengar cerita dari Kila bibi Siti tidak menyangka akan seperti itu karena yang ia lihat Richo begitu perhatian pada Kila. Bibi Siti selama ini berfikir jika Richo memanglah mencintai Kila tapi kini kenyataannya lain Richo tidak pernah mencintai Kila.


"Kila seharusnya dulu kamu tidak usah menerima ajakan tuan Richo untuk menikah walaupun kamu sangat mencintainya"


"Tidak bibi, aku tidak bisa menolaknya aku sangat, sangat dan sangat mencintainya. aku ingin selalu ada disampingnya melihatnya tersenyum dengan bahagia"


"Apa sekarang kamu bahagia dengan pernikan mu ini?' Bibi Siti menggenggam kedua tangan Kila.


"Ia bibi aku bahagia sekali walaupun terkadang sebagai seorang wanita yang normal Kila juga menginginkan pernyataan cinta dari pasangan Kila" Ucap Kila tersenyum.


"Baiklah apapun yang membuatmu bahagia bibi pasti akan selalu mendukungmu. Jadi kamu tidak usah khawatir bibi akan selalu ada untuk membantu mu"


"Terimakasih bibi" Kila memeluk bibi Siti.


"sama-sama nak, bibi menyayangi mu" Bibi Siti membalas pelukan Kila.


"Bibi bisakah bibi membelikan Kila tespek untuk memastikan apakah Kila benar-benar hamil atau tidak?" Kila melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Tentu saja bisa dan bibi akan segera membelikanya diapotik terdekat. walaupun tidak menggunakan tespek bibi sudah yakin kalau kamu hamil"


"kenapa bibi bisa seyakin itu?"


"Karena bibi melihat kamu selalu mual-mual dipagi hari dan juga akhir-akhir ini bibi lihat kamu tidak napsu makan. Tapi Kila tenang saja bibi akan membeli tespek itu supaya lebih yakin" Bibi Siti berdiri dari duduknya.


"Bibi usahakan kalau beli tespek jangan sampai ketahuan orang lain ya..."


"Siap nyonya" Canda bibi Siti tersenyum lebar.


"Ih.., bibi apaan sih!" Kila mencabikkan bibirnya merasa sebal.


"Sudah jangan digituin bibirnya, bibi mau berangkat beli tespek mumpung nyonya besar sedang berkebun ditaman belakang"


"iya bi Kila juga mau mandi" Ucap Kila tersenyum.


"Pantas saja bau acem. Belum mandi sih" ledek bibi Siti sambil terkekeh.


Bibi Siti keluar dari kamar Kila dengan membawa nampan yang berisi piring kotor bekas makan Kila yang tadi dibawa oleh Richo.


Sepeninggalan bibi Siti Kila segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi Kila segera keluar dari kamar mandi dan memakai baju kaos oblong dan celana pendek kesukaannya.


Selesai berpakaian dan sedikit merias diri Kila membereskan kamarnya agar terlihat rapi.


Tok tok tok


"Kila bibi datang" Teriak bibi Siti dari luar kamar


"Masuk aja bibi" jawab Kila dari dalam kamar.


Bibi Siti membuka pintu dan segera masuk kedalam kamar menghampiri Kila yang berdiri didekat meja rias.


"Kila ini tespeknya, cepat pakailah bibi sudah tidak sabar mengetahui hasilnya" Ucap bibi Siti sambil memberikan tespek yang baru saja ia beli.


"Iya bibi sabarlah" Kila tersenyum menerima tespek itu.


Kila masuk kedalam kamar mandi tapi ia hanya mondar-mandir dan belum juga menggunakan tespeknya. Kila takut kalau ia benar-benar hamil dan Richo tidak menginginkan anaknya.


Pelan pelan Kila mencelupkan tespek kedalam urin yang sudah ia tampung didalam gelas.


Sletelah menunggu beberapa menit akhirnya Kila melihat ada 2 garis merah di tespek itu yang artinya saat ini ia tengah hamil.

__ADS_1


Sesaat Kila merasakan bahagia yang luar biasa karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Namun ketika mengingat jika Richo tidak mencintainya ia menjadi cemas takut jika Richo tidak bisa menerima kehadiran anaknya dan tidak bisa menyayangi anaknya seperti Richo menyayangi ketiga anak Sinta.


Sudah empat puluh lima menit bibi Siti menunggu Kila keluar dari kamar mandi, namun yang ditunggu-tunggu tidak juga keluar.


Membuat bibi Siti cemas dan memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi memastikan jika Kila baik-baik saja didalam sana.


Tok tok tok


"Kila apa kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali? cepatlah keluar Kila, jangan membuat bibi cemas" Teriak bibi Siti.


"Iya bibi sebentar" Teriak Kila dari dalam kamar mandi.


Kila yang sudah dari tadi mengetahui hasilnya segera membuka pintu agar bibi Siti tidak mencemaskannya.


Cklek


Pintu dibuka dan Kila segera memeluk bibi Siti, bibi Siti pun balas pelukan dari Kila.


"Bibi Kila hamil" lirih Kila dalam pelukan bibi Siti


"Benarkah itu, coba bibi lihat" Bibi Siti segera melepaskan pelukannya.


"Ini bibi" Kila menunjukan tespek yang ia pegang pada bibi Siti dengan wajah lesu.


bibi Siti mengambil tespek yang diberikan oleh Kila. Ia tersenyum bahagia melihat dua garis merah yang ada di tespek yang ia pegang.


"Selamat nak kamu hamil, bibi bahagia sekali" bibi Siti tersenyum lebar kemudian ia memeluk Kila kembali.


"Kila takut bibi" Kila meneteskan air matanya dipelukan bibi Siti.


"Jangan menangis nak, tuan pasti senang dan bahagia mendengar kabar ini. Kamu tidak perlu mencemaskan sesuatu yang belum tentu akan terjadi" Ucap bibi Siti sambil mengusap-usap punggung Kila.


"Iya bibi" Kila melepaskan pelukannya.


"Bibi bisakah bibi merahasiakan kehamilan ini dari mommy dan juga mas Richo?" Pinta Kila pada bibi Siti sambil memegang kedua tangan bibi Siti.


"Kenapa? Bukankah ini adalah kabar yang membahagiakan?" Tanya bibi Siti mengerutkan keningnya.


"Kila belum siap bibi"


"Baiklah bibi mengerti, tapi kamu jangan lama-lama merahasiakan kehamilan mu itu dari mereka.

__ADS_1


"Iya bibi, terimakasih" Kila sedikit tersenyum.


bersambung.....


__ADS_2