
Sudah 1 bulan semenjak kepergian calon anaknya juga sahabatnya Shanti. Pagi itu saat sudah selesai sarapan, terlihat santai karena Ivan dan Lana sedang libur kerja, sementara proyek baru yang Ivan tangani sudah berjalan lancar.
"hmmm.. sayang... " ucap Ivan sambil memeluk tubuh Lana dari belakang.
"Apa... " Lana masih sibuk dengan merapikan piring setelah sarapan.
"Sayang..." membalikkan tubuh Lana sehingga sekarang mereka saling berhadapan.
Mereka bertatapan, Lana menatap mata suaminya dan Ivan mendekatkan bibirnya ke bibir Lana. Kini mereka berciuman dengan dalam dan akhirnya saling ******* satu sama lain. Sebuah kerinduan akan sentuhan mereka rasakan karena memang semenjak Lana keguguran, Ivan memberi waktu dan ruang untuk Lana bisa memulihkan psikis dan fisiknya.
Tanpa melepaskan ciuman itu Ivan mengangkat tubuh Lana, di gendongnya ala bridal style, mereka masuk ke kamar dan Ivan merebahkan tubuh Lana di ranjang besar itu.
"bolehkah sekarang??" ucap Ivan dengan mata sendu dan berhasrat.
Lana tersenyum dan mengangguk, akhirnya pagi itu menjadi sarapan romantis keduanya. Sarapan lahir dan batin, Ivan yang sudah lama menahan hasratnya karena pemulihan Lana setelah keguguran seakan membuatnya merasa candu.
Pendingin udara yang sudah di pasang dengan mode paling dingin seakan tak terasa dengan aktifitas mereka yang panas di pagi hari. peluh membasahi tubuh keduanya, nafas yang menderu seakan luapan kerinduan yang dalam.
__ADS_1
Kini hanya suara desahan keduanya yang terdengar, melebihi malam pertama yang pernah mereka lalui, kini tak ada rasa canggung lagi untuk saling meluapkan rasa.
Setelah mencapai puncak bersama yang pertama, Ivan mengulangi lagi dan lagi hingga menjelang tengah hari. Akhirnya terkulai lemas bersama di balik selimut sambil tetap berpelukan dan saling mengecup bibir.
Lana mulai memejamkan matanya, Ivan mengecup bibir Lana dan mencium kening istrinya sungguh suatu kerinduan yang nyata walaupun setiap hari bertemu tapi rasa yang tertahan membuat mereka meluapkannya seolah enggan terpisah dan berhenti.
Hari sudah siang, mereka masih lelap dan berpelukan di balik selimut, Lana mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya, di pandangnya wajah tampan suaminya. di susuri wajah suaminya itu.
"sungguh beruntung aku bisa memilikimu sayang" lirih hati Lana.
"haah.. kenapa kamu bisa tahu yang ada dalam hatiku??" ucap Lana bingung.
"karena kamu belahan jiwaku" ucap Ivan sambil mengecup kening istrinya.
kini Lana mengambil tangan Ivan dan meletakkan tangan mereka berdua di perut Lana, Ivan tersenyum lembut pada istrinya.
"semoga Beliau titipkan kembali malaikat kecil untuk kita". ucap Lana tulus.
__ADS_1
"semoga sayang... kita pasrahkan yang terbaik" Ivan membawa Lana kembali dalam pelukannya.
Ivan dan Lana sudah membersihkan diri mereka dan setelah itu mereka melaksanakan kewajiban kepada sang pemilik hidup.
Lana kembali merebahkan diri di ranjang, Ivan pun sama. Ivan mengambil bahu Lana dan membuat mereka saling berhadapan. Ivan kembali mencium bibir Lana dan melumatnya.
hingga mereka melepasnya karena kehabisan nafas.
"Sayang.. aku lapar..." rengek Lana pada Ivan.
"Ah.. maaf sayang.. karena kamu seperti candu buat aku jadi pingin lagi dan lagi" sambil mencubit gemas hidung Lana dan beranjak dari ranjang.
Akhirnya Ivan pergi ke dapur dan membuatkan makan siang untuk istrinya, Ia sadar kalau Lana sangat lelah karena ulahnya. Ia juga berharap dapat menanamkan benihnya kembali pada Lana, tak lain karena Ia ingin Lana tak larut dalam kesedihannya.
Ivan memasak steak dan pasta untuk makan siang mereka, Ia juga membuat salad buah segar. Mereka menikmati makan siang dengan lahapnya semua karena tenaga yang terkuras setelah aktifitas ranjang yang panas.
Mereka makan dengan tetap saling menyuapi, karena bagi mereka itu adalah kebiasaan baik dengan begitu mereka akan semakin memupuk rasa sayang dan cinta, mereka enggan meninggalkan kebiasaan itu ketika sedang bersama.
__ADS_1