
Setelah selesai makan malam yang romantis kini mereka berdua berjalan kembali ke kamar masing2.
Ivan selalu mengenggam tangan Lana dan sesekali mencium punggung tangannya.
Ketika berhenti di depan kamar Lana, Ivan menatap Lana dengan serius.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu??" ucap Ivan pelan
"Iya apa??"
"Apa kamu sudah benar2 terima aku??"
"kok tanya gitu?? kan tadi sudah jawab lamaranmu!" sambil menunjukkan cincin berlian yang diberika Ivan tadi.
"Kalau gitu kita nikah besok ya?!!" sambil menggenggam erat tangan Lana.
"Apaaaa?? Lana membelalakkan matanya karena kaget.
"Iya.. kalau kamu sudah terima lamaranku, kita nikah besok ya?" ucap Ivan lembut.
"Sayang.. kamu ga lagi bercanda kan??
"Aku ga bercanda, semua sudah aku siapkan, sekarang tinggal menunggu jawabanmu aja!"
Lama Lana terdiam tak menjawab sambil menatap mata Ivan bergantian.
"Kalau kamu ga mau ya ga pa2 aku tunggu kamu siap tapi jangan lama2". Ivan menundukkan wajahnya lesu.
"Aku mau!" lirih Lana, yang membuat Ivan tersentak kaget.
__ADS_1
"Sungguh!" Ivan memegang bahu Lana.
"Iyaaa... sungguh..." Lana menangkup wajah Ivan dengan kedua tangannya.
"terima kasih" sambil memeluk Lana erat.
Ivan melepas pelukannya dan merapikan rambut tipis di pipi Lana.
"Ya sudah besok bersiaplah kita akan akad nikah jam 09.00 pagi".
"Iya.. tapi tolong sementara waktu orang rumah sakit jangan tau dulu ya". pinta Lana ke Ivan.
"Iya.. kita akan mengumumkannya pada saat acara resepsi setelah kita outing ke puncak". Sekarang istirahatlah besok pagi aku tunggu".
"Iya sayang... selamat malam" sambil membuka pintu kamarnya.
"Love you dear..." ucap Ivan pada Lana
Setelah pintu kamar Lana di tutup, Lana menuju tempat tidurnya, Ia merebahkan dirinya di tempat tidur ukuran king zise itu. pikirannya kini melayang jauh.
"hmmmm... gini ya rasanya di lamar and besoknya mau nikah!hmmm.."
Lana terlelap dalam mimpinya hingga Ia lupa kalau tertidur dengan menggunakan gaun yang tadi Ia pakai.
Malam berganti pagi, Lana pun bangun dari tidurnya. Setelah menyelesaikan ibadahnya Ia menunggu terbitnya matahari dengan membuka tirai kamar itu.
Mentari pagi telah menunjukkan diri, lalu tampak oleh Lana suasana pantai yang indah di pagi hari. Tiba2 bunyi bel kamar hotelnya berbunyi.. Lana membukakan pintunya.
"Dokter Lana.." sapa perempuan paruh baya di depan pintu.
__ADS_1
"Iya benar Bu.. ada yang bisa saya bantu??
"Saya kemari atas permintaan bapak Ivan untuk mendandani dokter pagi ini". Jelas Ibu itu pada Lana.
"Oh baik.. silahkan masuk Bu..., mau di kamar atau di ruang tengah??" tanya Lana.
"Di kamar saja dok, ada kaca besar kan?"
"Ada Bu.. mari silahkan". sambil tersenyum ramah ke Lana.
Akhirnya pagi itu Lana dirias dengan secantik mungkin dan membuat sang perias juga takjub melihat Lana yang sangat cantik. Walau dengan riasan flawlessnya pesona Lana tetap terlihat jelas.
"Pantas Pak Ivan kesengsem sama nak Lana, riasan tipis begini aja cantik banget". kata sang perias, Ia menyebut Lana dengan sebutan "nak" karena diminta Lana tadi.
"Ah ibu bisa aja.. saya ini orang biasa Bu, ndak pandai berias". jawab Lana merendah
"ketemu dimana sama Pak Ivan nak?" tanya perias yang sudah biasa mengerjakan riasan untuk beberapa keluarga Raharja.
"panjang ceritanya Bu.. he he he"
"Saya juga baru dikasih tau tadi malam sama Pak Ivan, untungnya saya ada acara merias juga di sini jadi bisa langsung ke sini". jelas perias.
"Ibu pasti sudah lama merias ya.. ini sangat bagus sekali" puji Lana.
"Merias sudah lama nak, apalagi untuk anggota keluarga Raharja, setiap ada acara pasti saya yang merias, sudah jadi customer tetap".
"Oh begitu Bu..." sambil tersenyum.
Acara rias merias Lana sudah selesai, Ia mengenakan kebaya modern klasik yang sudah dibawakan sang perias, Lana terlihat sangat anggun dan cantik.
__ADS_1
Kebaya dengan ekor yang panjang di tautkan di tangan Lana,
saat Lana membuka pintu kamarnya... tiba2...