Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Part 194


__ADS_3

Aldo bertemu Juno saat keluar dari Lift.Juno sedang membawa seorang Dokter wanita untuk memeriksa keadaan Khanaya.


Mata Juno tak sengaja melihat sesuatu yang Aldo pegang.


"Maaf Pak Aldo bukan kah itu ponsel Khanaya???"Juno mengenal ponsel milik Khanaya


"Ah benarkah ini milik Khanaya,aku baru saja ingin mencari pemiliknya,aku menemukan nya di meja makan hotel mungkin Khanaya sengaja meninggalkannya".ucap Aldo dengan senyum menggoda ke arah Dokter wanita disamping Juno.


"Tidak mungkin,pasti Khanaya lupa membawanya,berikan saja padaku".Juno meminta Aldo untuk menyerahkan Ponsel Khanaya padanya.


"Aku ingin memberikan nya langsung pada Khanaya,aku ingin menemuinya".Aldo menolak


"Aku manager nya semua yang berhubungan dengan Khanaya harus atas izinku".menatap tajam ke arah Aldo.


Aldo agak ragu namun akhirnya ia pun memberikan ponsel Khanaya pada Juno.


"Aku peringatkan kamu pak Aldo,jangan mendekati dan coba mengganggu Khanaya kalau tak ingin berurusan dengan suaminya".Ucap Juno sebelum berlalu


Aldo hanya menganggap ucapan Juno hanya angin lalu,ia tak merasa takut bahkan ia siap untuk bersaing mendapatkan Khanaya,apalagi ia sudah membuat kekacauan untuk pasutri itu.


Sampai di kamar Khanaya Juno pun mempersilahkan Dokter wanita itu untuk masuk dan memeriksa keadaan Khanaya.

__ADS_1


Dokter wanita bernama Helen itu pun menanyakan keluhan yang Khanaya rasakan.


Dokter Helen tersenyum.


"Apa ada penyakit serius Dokter???"Tanya Juno


Hanna pun ikut khawatir menunggu hasil pemeriksaan Khanaya.


"Ini hal yang biasa dan sering dirasakan seorang wanita hamil".Ucap Dokter Helen


"Hamil"ucap Khanaya,Hanna,dan Juno bersamaan.


"Celupkan saja pada urine mu,kalau ia bergaris merah dua berarti kamu memang sedang hamil".Ucap Dokter Helen sebelum Khanaya berlalu.


"Hanna bantu aku kekamar mandi"Khanaya merasa gugup.


Hanna pun membantu Khanaya menuju kamar mandi dan menunggu hasil Tes dari Khanaya.


Khanaya menangis bahagia saat tes itu menunjukan dua garis merah,dan ia memang sedang hamil sekarang.


"Kak Dev aku hamil".Mengusap perutnya lembut.Khanaya tak menyangka secepat ini ia hamil.

__ADS_1


"Bayi Cappadocia ku".Khanaya sangat bahagia


"Andai mama tau kamu ada diperut mama sayang,mama akan membatalkan kontrak kerja mama disini".Lirih Khanaya entah kenapa ia ingin Devano berada disisinya sekarang.Khanaya ingin memberitahu langsung tentang kehamilannya tanpa melalui sambungan telpon.


"Gimana apa hasilnya??"Tanya Juno antusias saat melihat Khanaya sudah keluar dari kamar mandi.


"Aku hamil Bang,,"Khanaya memperlihatkan tes dengan dua garis merah


"Selamat Naya"Juno memeluk sekilas Khanaya dan Hanna juga ikut bahagia.


"Cepat hubungi suamimu,beritahu kabar bahagia ini".Juno memberikan ponsel Khanaya.


"Ponselku sama Bang Juno".


"Aku mengambil ponselmu dari Pak Aldo,ia menemukan ponselmu yang tertinggal".


Wajah Khanaya berubah menjadi pucat,kenapa ponselnya sampai di tangan pria itu.Bagaimana kalau ia mengangkat panggilan dari Devano.Khanaya Khawatir suaminya salah paham.


Khanaya menghidupkan ponselnya yang mati,Ia melihat banyak panggilan tak terjawab dari suaminya dan satu panggilan di terima.


Perasaan Khanaya semakin tak menentu,ia tak bisa mempercayai pria bernama Aldo itu.kekhawatirannya semakin bertambah saat nomor Devano sama sekali tak bisa di hubungi.

__ADS_1


__ADS_2