
Cahya yang baru sadar kalau Lana tidak ikut makan siang dengan inisiatifnya membawakan Lana makanan ke kamarnya dan juga Cahya ingin melihat keadaan Lana karena saat di perjalanan Lana sudah terlihat lemas dan sedikit pucat.
"tok.. tok.. tok.."
"Lan... Lana.." Cahya mengetuk pintu sambil mencoba memanggil Lana yang ada di dalam kamar.
"Hmmmmm... sebentar" Lana yang terbangun karena suara ketukan pintu berjalan untuk membuka pintu itu.
"Lan... kamu ga pa2? tanya Cahya yang khawatir.
"Aku ga pa2 Ya.., cuma ketiduran sampe lupa kumpul buat makan siang" ucap Lana yang terlihat lesu.
"Ya sudah... ini aku bawakan makan siang buat kamu, cepet di makan soalnya kamu blm makan kan dari tadi?" sambil menyodorkan kotak berisi menu makan siang hari itu.
"Waah makasih ya Ya... aku jadi ngerepotin kamu". sambil menerima kotak makan dari Cahya.
"Jangan lupa nanti habis Asar kita kumpul buat jelasin acara api unggun nanti malam trus besok pagi ada permainan atv", aku balik ke kamar dulu ya" . Cahya berpamitan pada Lana.
Lana menikmati makan siangnya di dalam kamar, setelah itu Ia memasang alarm kembali karena masih merasa mual maka Lana putuskan untuk tidur lagi.
Acara persiapan untuk Api unggun malam hari berjalan lancar, persiapan itu diikuti oleh semua orang termasuk Lana.
Rasa pusing dan mual yang di rasa Lana sudah mulai berkurang bahkan terasa hilang menjelang malam.
__ADS_1
Malam pun tiba, acara api unggun berlangsung dengan meriah, ada yang menyumbang lagu ada pula yang sekedar jadi penonton seperti yang dilakukan Lana sekarang.
"Halo sayang... gimana acara outingnya?". Tanya Ivan di ujung telpon.
"Baik Sayang... acaranya meriah".
"Kamu gimana masih ga enak badan??". Mengingat saat di bus Lana sangat lemas menjawab telpon dari Ivan.
" Aku udah mendingan kok, kemaren mungkin karena mabuk darat aja", kamu gimana di sana acaranya??". Tanya Lana pada Ivan.
"Baik.. semua berjalan lancar, oya nanti aku hubungi lagi ya.. ada yang mencariku di luar, Love you dear..." ucap Ivan mengakhiri telponnya.
"Love you too...". tutup Lana
Ivan merasa lega karena tidak terburu2 untuk ke London dan lagi Ia bisa membawa Lana ke sana untuk memenuhi undangan rekannya itu, Ivan berniat segera kembali dan menyusul Lana ke puncak, selain rindu pada Lana, Ia juga lebih khawatir pada Lana yang sudah beberapa hari ini tidak enak badan.
Malam itu juga Ivan mempersiapkan kepulangannya dan segera menyusul Lana ke puncak. Sementara Lana tidak mengetahui kalau Ivan akan datang menyusulnya.
Tiba2 ponsel Lana berdering,
"Aooo Bu Dir.... !!" sapa Santi di ujung telpon.
"husssh... jangan keras2 ntar ada yang denger!!" geram Lana.
__ADS_1
"Yaaa... ga pa2 donk, emang bener ini!" goda Santi.
"gue belum siap San!, jadi tolong jangan sampe ada yang tau dulu... please... " pinta Lana
"Iyaa... iyaa.. becanda ini.. mana tega gue lihat sahabat gue sedih... oya.. gimana jadi donk outing ama misua?".
"kagak... doi lagi meeting di Bali"
"Oh ya udah ga pa2 kan masih banyak temennya di sana, eh iyaa.. ingat ya.. akhir bulan ini datang ya ke acara nikahan gue!!"
"haah.. kok nikah.. bukannya tunangan dulu?" Lana bingung sendiri.
"Kagak, jadi si Dio dan keluarganya minta langsung nikah aja biar ga nunggu2 lagi katanya". Santi menjelaskan.
"laah trus undangan yang loe kasih gimana??"
"itu ya di ganti.. lagian kalau undangan tunangan itu cm keluarga inti dan beberapa teman dan sahabat aja, lagian gue ama Dio kagak mau kalah gercep donk sama Pak Dir... !!! ha ha ha ha... " ledek Santi ke Lana.
"iiih... awas yaaa... gue diledekin!!. gemes Lana
"ya udah... ya udah... ntar gue kabari tanggalnya buat akhir bulan ini plus jamnya juga.. loe harus dateng!!!"
"iya.. iya... bawel!!"
__ADS_1
Santi dan Lana mengakhiri pembicaraan mereka di telpon, dan waktu sudah larut, akhirnya acara selesai. Semua kembali ke kamar masing2, hanya ada beberapa yang bertugas untuk berjaga.