
ceklek.. bunyi pintu terbuka.. dan Lana membelalakkan matanya tak percaya orang yang dilihatnya di depan pintu memasang wajah cemberut dengan bibir yang dimajukan.
"Saa... santi!!" pekik Lana tak percaya.
"Iyaa gue... dasar jahat ya loe.. masak sahabat sendiri kagak di kasih tau!! huuuhhh sebeeell!!" cerocos santi
"Ma.. maaf.. maaf..." Lana menunduk dan hampir meneteskan air mata.
"Eeith daah... ga boleh nangis!!! pengantin kok nangis!! pokoknya loe utang penjelasan ama gue!!" and jangan sampe loe nangis gara2 gue ntar bisa di jewer gue sama Pak Dir loe tu!!!"
Santi menggandeng tangan Lana, mereka berjalan menyusuri hotel itu.
"Apa loe gugup Lan??" bisik Santi pada Lana
"he em.. sedikit". lirih Lana
"Untung gue ga ada jadwal seminggu ini, semalem sempat kaget ada yang telpon eeh ternyata Pak dir". Santi cengengesan
"Maafin gue karena ga kasih tau loe, ini juga baru kemaren dilamar eeeh sekarang dinikahi".
"Ga apa.. Pak Ivan sudah jelasin semua panjang kali lebar plus e\=mc2, he he he"
"Aaah loe bisa aja.. tapi makasi banget loe dah mau dateng dampingin gue!". Lana menepuk2 pundak Santi.
__ADS_1
"hitung2 gue nyobain jet pribadi donk.. jadi mana bisa gue nolak, apalagi dapet ngerasain hotel semewah ini greeetooong lagii.. ha ha ha!" Santi terbahak
"Santiiiii!!!" Lana mencubit lengan Santi.
"Aauuu sakiit...!!" pekik Santi.
Mereka sampai di lobby hotel dan sudah di sambut sang manager hotel dan mempersilahkan Lana masuk ke dalam limosin yang sudah disiapkan untuk menuju sebuah masjid yang telah disiapkan untuk acara akad nikah mereka.
Santi menemani di dalam mobil, sesekali mereka tertawa bersama, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Lana heran, karena Masjid itu juga terlihat beberapa mobil mewah berjejer di sana.
Lana turun dari mobil, Ia berjalan beriringan dengan Santi, Ia lalu duduk di meja akad yang telah disediakan, di sebelahnya sudah ada Ivan dengan tampannya mengenakan pakaian pengantin pria yang senada dengan yang dikenakan Lana.
Semua telah siap, kini para saksi dipanggil ke depan untuk mendampingi mempelai. Betapa terkejutnya Lana melihat saksi dari pihaknya ternyata Prof. Raka yang menjadi saksinya, sementara di pihak Ivan ada sang kakek yang menjadi saksi.
"Saya pamannya Ivan" lirih Prof Raka pada Lana sambil tersenyum
"terima kasih prof.. " ucap Lana
"jangan panggil Prof panggil Om Raka" sambil membelai lembut kepala Lana.
"I.. i.. iya Om" mata Lana berkaca kaca.
__ADS_1
Prof Raka yang melihat Lana akan menangis, Ia lalu menggelengkan kepala pelan isyarat bahwa Lana jangan menangis.
Sementara di belakang Lana ada Santi yang tak kalah terkejutnya.
"Mamak.. makan nasi tujuh bakul, ini dosen killer ternyata om nya Pak Dir!" gumam Santi dalam hati.
Lalu prof Raka menoleh ke arah Santi dan Santi tersenyum kikuk padanya.
"macam tau aje gue lagi gumamin ni dosen killer main toleh aje!" Santi bergidik ngeri
Semua sudah bersiap di tempatnya masing2. Akad nikah akan segera dilaksanakan, tak lama penghulu datang dan bersiap membacakan akad karena Lana tidak ada siapa2 maka di serahkan pada wali hakim yang tak lain penghulu itu sendiri.
Ivan menjabat tangan penghulu dan mengucapkan akad dalam sekali tarikan nafas. Semua bernafas lega karena mereka kini telah sah menjadi suami istri.
Ivan menyerahkan mas kawin yang sudah disiapkan dan Lana mencium punggung tangan Ivan, lalu Ivan mencium pucuk kepala Lana setelah melafalkan doa.
Senyum terpancar dari semua orang terutama sang pengantin. Tidak lupa mereka mengucapkan selamat pada mempelai.
Acara hari ini hanya dihadiri beberapa orang saja dari keluarga Raharja.
Prof Raka dan sang Kakek berpelukan, Prof Raka tak lupa mencium punggung tangan Kakek Raharja.
"Selamat Pah kita berhasil!!" ucap Prof Raka pada kakek Rajarja.
__ADS_1
"Iyaa.. kita sudah pilihkan yang tepat buat Ivan, sekarang Papa bisa tenang". ucap kakek Raharja dengan senyumnya.
Acara hari itu diakhiri di masjid itu karena mereka akan kembali ke tempat masing2, Santi juga berpamitan pada Lana karena dia juga akan mempersiapkan diri untuk acara pertunangannya.