
"ILana Saraswati!" Dosen memanggil Lana untuk giliran masuk ke ruang sidang, sementara Santi menunggu giliran di depan ruangan itu.
"Duh... deg deg an niih...". Santi komat kamit entah apa yang dilafalkannya.
setelah menunggu kurang lebih 1 jam, Lana keluar dari ruang sidang.
"Eeeh.. gimana Lan..?? loe kok lesu gitu masak loe ga lulus...???Lan.. Lana.. ?? Santi melihat wajah Lana yang di tekuk lesu.
"Lanaaaa... come on.. Lana.. jangan bikin gue penasaran!!! Santi mulai geregetan.
"Gue.. gue.. gue... " Lana menjawab terpatah patah yang semakin membuat Santi geram.
"Gue apa Lan??? please jawab donk!!"
"Hiks.. hiks.. hiks.." suara tangis Lana yang membuat Santi merasa kasihan ke Lana.
"Gueeee... gueee jadi dokterrrrrr!!!!"".
Lana mengguncang bahu sahabatnya yang membuat Santi melongo dan terharu.
"Waaaah selamat yaaa Lana... !!!, gue kirain loe kenapa napa". Santi menyeka air matanya.
"Saudara Santi Nurmaulia" Dosen memanggil nama Santi.
"semangat San... ". Lana memberi semangat sahabatnya yang terlihat pucat pasi karena ujian hari itu.
__ADS_1
Hari itu merupakan hari yang melelahkan tapi juga membahagiakan bagi dua sahabat itu.
Lana dan Santi sekarang sudah menjadi dokter muda, mereka sangat bersyukur.
Sebagai tanda rasa syukurnya Lana dan Santi sepakat menggelar syukuran bersama di sebuah panti asuhan.
sementara itu Ivan sedang berada di rumah sakitnya memulai semua kegiatan untuk akreditasi.
"Bu Cahya tolong bawakan berkas dokter yang akan koas di sini.." perintah Ivan melalui telepon.
Tok.. tok... tok.. suara ketukan pintu Ivan.
"Permisi dok, ini berkas untuk dokter koas kita yang akan dilaksanakan minggu depan, sesuai jadwal yang disampaikan Prof Raka, di situ juga kita mengambil beberapa dokter muda yang berprestasi dan beasiswa". Bu Cahya menjelaskan dengan singkat dan jelas.
" Baik Bu.. terima kasih atas bantuannya, saya lihat dulu tapi minggu depan saya tidak bisa menyambut mereka, saya harap Bu Cahya dan dokter Bram bisa gantikan saya untuk itu".
"untuk sekarang ini dulu Bu.. Ibu bisa kembali kerja lagi". Ivan berterima kasih sambil tersenyum.
"Baik Dok, saya permisi". Bu Cahya membalas senyum Ivan dan keluar ruangan.
"Aduuuh... senyumnya bikin lemes". gumam Bu Cahya dalam hati.
Cahya memang masih muda usianya tak jauh beda dengan Ivan, Ia memang sosok yang pintar dan mudah bergaul, bisa kerja di rumah sakit Ivan adalah karena Ia juga seorang yang berprestasi, dulu Ia juga kuliah di kampus dimana keluarga Ivan juga pemiliknya.
sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangannya, Cahya senyum2 sendiri tanpa sadar Ia berpapasan dengan dokter Bram yang sedari tadi memperhatikan dari jauh.
__ADS_1
"Ehmm.. ehmmm.." dokter Bram membuyarkan senyuman Cahya.
"Eh.. ehmmm... dokter Bram". Cahya sedikit terkejut.
"senyum2 sendiri hati2 looh..."
"Eeeh.. enggak kok, siapa bilang saya senyum2 sendiri??". Cahya berusaha menetralkan raut wajahnya.
"darimana sih??". Dokter Bram menyelidik.
"Oh itu.. saya diminta menyampaikan berkas dokter koas buat minggu depan".
"Oh begitu, lalu bagaimana hasilnya". Dokter Bram berbincang sambil berjalan beriringan dengan Cahya
"Dokter dan saya diminta menyambut mereka, karena Pak Direktur ada pekerjaan lain minggu depan". Cahya menjelaskan.
"Waah.. bagus donk, kita bisa berpasangan". Jawab dokter Bram dengan santainya.
"Eeh.. ehmm apa dok?" Cahya bingung dengan ucapan dokter Bram.
"Eh.. apa??" Dokter Bram cuma tersenyum tipis.
Yaa sebenarnya dokter Bram menaruh hati pada Cahya sudah sejak lama saat pertama Cahya mulai bekerja di rumah sakit itu, namun Cahya tidak menyadari itu karena menurut Cahya dia hanya bekerja di situ dan tak punya maksud mencari jodoh.
Tapi semenjak kedatangan direktur baru, hati Cahya sedikit tergerak.
__ADS_1
Sejak pertama melihat direktur barunya Cahya seperti terhipnotis setiap melihat Ivan.
Baginya sosok Ivan adalah seorang yang luar biasa, dia muda tampan dan berkharisma.