Ketulusan Cinta

Ketulusan Cinta
Telepon malam hari


__ADS_3

Sudah beberapa hari Lana tidak masuk kerja sesuai dengan keinginan suaminya agar Ia bisa beristirahat dulu mengingat kandungan Lana yang juga lemah.


Lana sudah merasa bosan karena tidak melakukan kegiatan selain diam di apartment sambil membaca buku dan menunggu suaminya pulang kantor.


Sore itu Lana sudah menunggu Ivan pulang kantor. Ia juga sudah memasakkan masakan kesukaan Ivan, tenderloin steak.


"Ting" suara pintu apartement yang dibuka oleh Ivan.


"Sayang... kok ga salam?" tanya Lana.


"Aah maaf sayang.. aku kira kamu sudah tidur jadi ga mau ganggu". ucap Ivan sambil mengecup pipi Lana.


"Masih sore... masa iya aku tidur sih".


"Aku bersih2 dulu ya.. ". sambil membelai pipi Lana.


"Iya.. habis itu aku tunggu di meja makan ya.. aku masakin kesukaan kamu!"


"Siap bos!!". sambil menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah kurang lebih 30 menit Lana menunggu Ivan, akhirnya kini Ivan sudah selesai bersih2 dan menghampiri Lana yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Tumben lama banget.." Ucap Lana sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maaf sayang.. tadi terasa gerah banget, banyak kegiatan meeting di luar rumah sakit,, termasuk meninjau pembangunan gedung baru". Ivan menjelaskan.


"Ya sudah ayo.. sini.. kita makan, pasti kamu lapar". sambil mengambilkan makanan untuk Ivan.


Mereka akhirnya makan malam dengan penuh keceriaan, sesekali saling menyuapi adalah kebiasaan yang dilakukan pasangan itu sejak perkenalan mereka dulu hingga menikah.


"Sayang... rencananya minggu depan kakek sudah menyiapkan untuk acara resepsi kita". Ucap Ivan sambil duduk di ranjang bersebelahan dengan istrinya.


"hmmm... apa tidak terlalu cepat ya?". menoleh ke arah Ivan.


"Iya sayang... aku juga ga tega lihat kakek sedih kalau kita tolak, ga pa2 deh kita ikutin aja". Ucap Lana penuh pengertian, walaupun sebenarnya Ia merasa tak memerlukan acara resepsi itu. Dalam benak Lana Ia lebih menyukai kesederhanaan.


Sore berganti malam, Lana dan Ivan sudah bersiap menuju peraduan, hingga suara dering ponsel Lana malam itu.


"Ya Halo..." ucap Lana tanpa melihat layar ponselnya.


"Dok.. maaf mengganggu malam2, mau kasih kabar.. " suara di ujung telpon berhenti sejenak.


"Ada apa? ini siapa??" tanya Lana bingung.

__ADS_1


Ivan yang belum tertidur duduk di sebelah Lana dan memperhatikan mimik wajah istrinya. Sedikit berbisik menanyakan pada Lana dan di jawab gelengan kepala.


"Maaf Dok, ini saya Mentari perawat IGD, saya mau mengabari kalau Dokter Shanti kecelakaan". Ucap perawat di ujung telpon dengan terbata.


"Haaah... appaa... !!!" Lana menjatuhkan ponselnya.


"Sayang.. kenapa??? ada apa??? tanya Ivan panik melihat ekspresi istrinya.


"Hiks..hiks.. hiks.. Shanti.. shanti.. sayang... hiks hiks.. " Lana mulai menangis.


"Shanti kenapa??" Ivan menyadari ada yang tidak beres.


"Shanti kecelakaan!!" suara tangis Lana pecah seketika.


"Sayang.. kamu harus tenang.. ga baik buat baby kita kalau mamanya sedih gini" Ivan berusaha menenangkan Lana.


"Aku ke rumah sakit sekarang.. aku ga bisa cuma diam aja di sini!" Lana berdiri dan meraih baju hangatnya.


"Tunggu!! kamu ga boleh sendirian, kita ke rumah sakit sekarang". Ivan meraih kunci mobilnya dan keluar bersama Lana, Ivan tahu ini berat untuk Lana karena Shanti dan Lana sudah seperti saudara.


Di sepanjang perjalanan Ivan berusaha menenangkan Lana, membuat Lana rileks adalah tujuannya karena Ia tahu kandungan Lana masih rentan, sedikit beban bisa berbahaya untuknya.

__ADS_1


__ADS_2