
Devano dan Aiko pun pamit pulang,berlama-lama diruangan ini membuat Aiko merasa kesal.
Di koridor rumah sakit Aiko berjalan mendahului Devano.
"Aku antar kamu pulang Ai"Ucap Devano
"Nggak perlu aku pulang naik Taksi aja Dev"Tolak Aiko
"Aku akan mengantarmu,jangan keras kepala"Devano menarik tangan Aiko.
"Menyebalkan!!!!!"Umpat Aiko dan ia mulai menangis
"Heiiii Ai jangan menangis disini,lihat orang-orang pada melihat ke arah kita,nanti mereka berpikir aku menyakitimu".Ucap Devano sambil mencoba menenangkan Aiko
"Masa bodoh,aku sedang kesal dan patah hati".Aiko terus saja menangis sepanjang Koridor.
Devano juga merasa kesal dengan sikap Aiko.
"Sekarang kamu sudah tau kan kalau Alden memiliki tunangan,Sebaiknya jangan berharap mendapatkan hatinya lagi"Devano mengingatkan Aiko
"Mereka berdua baru tunangan kan,Aku masih punya kesempatan merebut hati Alden,lihat cara ia menyelamatkanku saat diculik Alden rela terluka demi aku"ucap Aiko dengan sombongnya.
"Menurutku Alden lakukan itu bukan karena kamu spesial"Cibir Devano yang mulai terbuka bahwa Aiko bukan gadis baik yang selama ini ia pikirkan.
__ADS_1
"Aku nggak butuh pendapatmu,Lihat saja Aku akan merebut Alden dari gadis bernama Khansa itu"Ucap Aiko dan ia memilih untuk meninggalkan Devano sendirian.
Aiko merasa Devano tak bisa di andalkan dan di manfaatkan lagi sekarang,ia akan mencoba dengan caranya sendiri.
"Dasar gadis tidak tau berterima kasih"geram Devano
******
Sudah tiga hari Alden masih dalam masa pemulihan dirumah sakit.
Aiko juga hampir setiap hari datang untuk menjenguk Alden,Namun ia hanya bisa jadi penonton kedekatan Khansa dan Alden.
Saat Tisha tak ada, Khansa lah yang menggantikan untuk menyuapi Alden makan,tangannya masih sakit.Jadi Alden tak bisa leluasa bergerak.Alden merasa sangat bahagia dibalik musibah yang menimpanya membuat Ia dan Khansa bisa sedekat ini.
"Aku khawatir sama kamu,bagaimanapun aku yang sudah membuat mu seperti ini harusnya aku yang bertanggung jawab merawat mu".Ucap Aiko tanpa memikirkan perasan Khansa.
"Kamu nggak usah mengkhawatirkan ku,Semua keluarga ku disini,dan yang lebih berhak merawat ku adalah Khansa calon istriku"Ucap Alden tegas membuat Khansa membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan Alden.
Aiko semakin benci pada Khansa dan memilih untuk meninggalkan ruangan Alden.
"Al sepertinya Aiko menyukai loe,kenapa loe berbohong kalau gue adalah calon istri loe"Ucap Khansa pelan.
"Gue ingin Aiko berhenti berharap sama gue Moy,dari dulu gue bilang kan gue sukanya hanya sama loe,nggak akan ada gadis lain yang menggantikan posisimu di hati gue".Ucap Alden tegas.
__ADS_1
Khansa menangis mendengar ucapan Alden,ia terharu Alden masih setia padanya dan sabar menunggu cintanya berbalas.
"Moy jangan nangis,gue nggak bermaksud membentak loe"Ucap Alden yang salah paham
Khansa pun langsung memeluk Alden dan semakin terisak.
"Moy,,,,,," Alden membalas pelukan Khansa dan menenangkan gadis itu dengan mengusap kepalanya.
"Maaf kalau ucapan gue tadi membuat loe menangis Moy,Jujur gue nggak bisa membuang semuanya tentang loe,walau gue sudah berusaha melupakan loe".
"Gue nggak akan biarkan loe lupa sama gue,Sebulan ini nggak ngasih kabar ke gue,gue kira loe udah punya gadis lain di sini,hati gue sakit memikirkan itu Al".Khansa berkata terus terang
"Jadi loe juga merindukan gue,jadi perasaan gue nggak bertepuk sebelah tangan"ucap Alden senang ia menatap wajah Khansa lekat.
"Perlu gue jelasin lagi".Ucap khansa cemberut
"Wajah loe seperti ini gemesin Moy"Alden mencubit pelan pipi Khansa.
Khansa memukul pelan dada Alden.
"Sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat Tan"Celetuk Khanaya saat melihat Alden dan Khansa yang masih duduk berhadapan saling menatap.
Alden dan Khansa pun reflek menjauhkan diri dan tersenyum kecut kearah Khanaya dan Tisha.
__ADS_1
"Lanjutin aja tatap-tatapannya,Mommy dan Khanaya anggap aja patung"Ucap Tisha yang sudah ketularan kata-kata oleh Khanaya.